
Sebuah rumah besar bertingkat dua, dengan halaman yang luas, dan ada beberapa wahana mainan anak-anak di sana. Dikelilingi oleh beberapa pohon buah-buahan, seperti mangga, jambu dan belimbing. Terdapat tiga mobil yang ditutupi oleh body cover terparkir di depan rumah. Dan sebuah kain putih yang terlihat menutupi sesuatu di baliknya.
“Tempat apa ini?!” tanya Alin saat turun dari mobil. Karna suasana hatinya yang sedang dongkol pada Hazar segala sesuatu tampak rumit dan kacau olehnya. “Apa aku harus berjalan melintasi halaman yang luas ini?” Alin sudah mengeluh, padahal dia hanya harus berjalan kaki sepanjang seratus meter saja.
“Mengapa tidak kau turunkan aku di depan sana saja!” sembur Alin saat melihat Bobi juga ikut turun dari mobil dan berdiri tidak jauh darinya.
“Nona sebaiknya kita masuk sekarang,” ujar Bibi Fatma sambil menggandeng tangan Alin untuk masuk ke pekarangan rumah itu. Karin dan Bobi mengikuti di belakang.
“Lalu bagaimana dengan ibu Bibi?”
“Kita bisa kesana setelah ini,”
“Cih... aku benci Hazar! Selalu saja menyusahkan orang dan berbuat semaunya,” Alin terus saja merutuk sepanjang langkahnya.
Alin semakin mengerut saat melihat Hazar yang juga sedang melintasi halaman, melangkah mendekat ke arahnya.
“Kau sudah datang,” sambut Hazar saat melihat kedatangan Alin. Sekarang mereka berdiri tepat di tengah Halaman rumah.
“Menurut Kakak!” ketus Alin, dia sudah melipat kedua tangannya. Menatap sinis pada Hazar.
Hazar terkekeh menatap wajah Alin yang terlihat berkerut. “Mengapa kau selalu saja begini,” Hazar mengacak-acak rambut Alin.
Alin menepis tangan Hazar dari kepalanya.
“Ck... apaan sih!” rutu Alin sambil membenahi rambutnya. “Tempat apa ini?” lanjutnya.
“Kau akan segera tahu,” Hazar menarik tangan Alin, menempatkan Alin berdiri tepat di depannya. Ia yang sekarang berada di belakang Alin melingkarkan kedua tangannya di pinggang Alin. Mereka sama-sama menatap lurus ke arah rumah. “Apa kau sudah siap?” tanya Hazar.
“Kakak lepas! Ini sangat memalukan,” ujar Alin.
“Tidak ada siap-siapa di sini. Mengapa kau harus malu.”
Alin melihat sekeliling. Memang benar hanya tinggal mereka berdua di sana. Bibi Fatma, Karin dan Bobi entah kemana perginya.
“Kemana mereka?” tanya Alin keheranan.
“Jangan hiraukan mereka!” Hazar memutar wajah Alin untuk kembali menatap lurus ke depan.
“Happy birthday sayang...” ucap Hazar di telinga Alin.
Belum sempat Alin tersadar dari ucapan Hazar barusan, ia kembali dikejutkan oleh kain putih yang perlahan tersingkap dan memamerkan tulisan... ♡RUMAH SINGGAH MAMA DIANA♡
Alin mematung, merasa ini hannyalah mimpi.
Masih terasa bagai mimpi. Tapi air mata yang mengalir di pipinya terasa sangat nyata. Tiba-tiba saja ia tidak bisa berkata-kata, kerongkongannya terasa kering dan gersang. bahkan sesak di dadanya sekarang pun membuatnya sulit untuk bernapas.
__ADS_1
Hazar memutarkan tubuh Alin menghadap padanya. Membawa tubuh kaku itu ke dalam dekapannya.
Alin tak kuasa lagi menahan sesak di dadanya hingga tangisannya pun pecah.
Hazar menepuk-nepuk halus punggung Alin. Tangisan istrinya itu tak jua reda. Baju bagian depannya pun telah basah oleh air mata Alin. Namun ia tetap membiarkannya dan tidak berniat untuk mendiamkan tangisan itu.
Dulu sekali, saat ulang tahun Alin yang keenam, Bibi Fatma memberikan sebuah buku diary Mama Diana kepadanya. Buku bersampul warna pink dengan bertuliskan ♡Princess Alin♡. Separuh isi dari buku itu bertuliskan cerita tentang Mama Diana waktu masih gadis, sebelum menikah dengan Papa Haris. Dan separuhnya lagi berisikan tentang kisah dan impian Mama Diana untuk mereka bertiga, Papa, Mama dan Alin dimasa depan.
Membuat sebuah Rumah singgah adalah salah satu impian Mama Diana waktu masih menjadi mahasiswa kedokteran. Tapi impian itu belum terwujud saat Mama Diana masih hidup. Alin pun juga berangan-angan ingin mewujudkannya. Tapi, Alin tidak mau memakai uang Kakak atau Papa yang sangat dibencinya. Alin ingin mewujudkan impian Mamanya dengan uang hasil dari kerja kerasnya sendiri. karna itu sampai sekarang ia masih belum bisa mendirikan sebuah rumah singgah untuk Mamanya, karna dia selalu berada dalam kekangan Kakek dan papanya.
***
Perlahan tangisan Alin telah berubah menjadi isakan. Hazar menarik wajah Alin dari dekapannya. Hazar mengusap sisa air mata Alin, kemudian meninggalkan sebuah kecupan di kening istrinya itu.
Hazar mengangkat tubuh Alin, membawanya masuk ke dalam rumah. Isakan Alin masih saja terdengar disertai dengan suara seretan ingus sekali-kali.
Saat memasuki rumah, mereka langsung disuguhkan oleh hamparan luas isi rumah, dengan belasan pintu yang berjejer di bagian kanan mereka, hanya terdapat dua pintu di sisi kiri, dan deretan sofa yang tertata rapi tampak seperti loby sebuah hotel mewah.
“Minumlah...” Hazar menyodorkan sebotol air mineral pada Alin, setelah mendudukkan istrinya itu di sofa.
Hazar kembali menyandarkan kepala Alin ke dadanya, dengan satu tangan yang terus membelai kepala Alin.
Dua orang pelayan tampak keluar dari pintu kamar di sisi kiri. Mereka membungkuk kepada Hazar dan terus berjalan keluar dari rumah.
Hazar kembali mengendong Alin. “Mau kemana?” tanya Alin bingung.
Hazar membaringkan tubuh Alin ke atas kasur, kemudian menyusul berbaring di samping Alin.
“Tidurlah,” ujar Hazar mengencangkan dekapannya pada tubuh Alin, dan membenamkan bibirnya di kepala Alin.
*
Setengah jam kemudian Hazar kembali keluar dari kamar, setelah memastikan Alin tidur dengan nyamannya.
Hazar keluar dari kamar dengan ber telanj*ng dada, karna baju yang dipakainya tadi telah basah oleh air mata Alin. Saat membuka pintu Bobi sudah menunggunya di sana. Bobi mengulurkan sebuah tas berisi handuk dan pakaian Hazar.
“Dokter Wira sudah menunggu Anda, Tuan.” ujar Bobi.
Hazar dapat melihat Wira yang duduk sendirian di sofa terdekat dengan pintu masuk.
“Terimakasih,” Hazar mengeluarkan bajunya dari dalam tas, kembali menyerahkan tas tadi pada Bobi. Hazar kembali berjalan sambil memakaikan bajunya.
Wajah mereka berdua masih sama lebamnya. Wira tidak berdiri untuk menyambut kedatangan Hazar. Dia masih saja duduk bersilang kaki dengan nyamannya.
Hazar duduk di sofa yang berhadapan dengan Wira, hanya sebuah meja kaca yang membuat jarak di antara mereka sekarang. Mata mereka saling menatap tajam, tidak ada tanda-tanda keramahan di antara keduanya.
__ADS_1
Bobi meletakan sebuah map di atas meja di depan Wira.
Wira hanya melirik map itu sebentar. Kemudian kembali menatap Hazar. “Ada urusan apa Anda memanggil saya kesini?” tanya Wira. Nada suaranya masih kurang ramah, tapi sudah lebih sopan daripada semalam.
“Bacalah...” Hazar menunjuk map dengan matanya.
Wira tertawa sumbang kembali meletakan map ke atas meja. Setelah ia selesai membaca surat penawaran kerja sama untuk mengelola rumah singgah Mama Diana. “Apa Anda tidak diberitahu oleh Tuan Setyo, kalau saya sudah dipindahkan ke tempat yang jauh,” ujarnya.
Hazar mengerutkan keningnya. “Maksudmu?” tanyanya.
“Mungkin bisa dibilang hukuman, dari kejadian semalam,” Wira menarik salah satu sudut bibirnya. “Dan hari ini adalah hari terakhir saya di kota ini. Tapi, bukan hari terakhir untuk saya menemui Alin. Apa saya bisa menemui Alin sebelum pergi?” tanya Wira.
Hazar menyipitkan matanya menatap Wira lebih tajam. “Jadi... kau akan pergi?!”
“Ya! Karna saya belum terlalu kuat untuk membantah Tuan Setyo.”
“Jadi... kau terpaksa?!”
“Bukan terpaksa. Saya hanya sedang mengikuti arus dan tetap berjalan di jalan yang aman.”
Hazar terkekeh. “Kau tidak perlu menemui istriku saat ini. Cukup katakan kalau kau setuju dengan itu,” Hazar menunjuk map. “Mungkin kau bisa menemuinya setiap hari.” lanjut Hazar.
Wira menyandarkan punggungnya. Menatap ragu pada Hazar. “Anda yakin... dengan yang Anda ucapkan barusan?” sidik Wira.
“Masalahmu dengan Kakek Setyo akan aku uruskan. Kau hanya perlu menyetujui isi surat itu.” ujar Hazar.
“Apa Anda tidak salah tentang yang ini juga?! Apa Anda tidak takut, pernikahan bisnis kalian mungkin saja akan cepat berakhir, dengan adanya saya di samping Alin. Ah... yang saya maksud dengan kalian disini adalah Anda dan Tuan Setyo.”
Hazar terlihat diam di tempatnya. Ia terlihat masih bingung untuk mencerna ucapan Wira barusan. Matanya masih menatap Wira dengan tajam.
“Kau berbicara seolah mengatakan, kalau pernikahanku dengan Alin hannyalah sebuah kontrak kerja sama.” Hazar menatap penuh ketidak sukaan pada Wira.
“Ya! Bukankah itu benar?” Wira masih saja menyunggingkan seringainya pada Hazar.
“Terserah kau mau berprasangka seperti itu. Yang harus kau ketahui bahwa Alin tetaplah istriku. Dan kau jangan pernah melewati batasanmu yang hannyalah orang baginya.”
“Untuk saat ini saya memang hannyalah orang asing. Kita tidak tahu untuk kedepannya.”
“Tujuanku memilihmu untuk mengurus rumah singgah ini juga termasuk itu. Aku juga penasaran apa kau bisa mengambil Alin dariku.” ujar Hazar.
“Baikalah... akan saya terima tawaran ini.” Wira berdiri dari duduknya. “Urusan Tuan Setyo juga akan saya serahkan pada Anda. Saya permisi,” ujar Wira kemudian berlalu pergi.
Saat baru sampai di depan pintu Wira kembali membalikkan badannya. “Dalam dunia bisnis kalian, apa sebutannya untuk tempat memproduksi suatu barang?” tanya Wira.
Hazar mengerutkan keningnya. Bukan karna tidak memahami pertanyaan Wira, Hazar hanya sedang memprediksi kemana arah tujuan pertanyaan Wira barusan.
__ADS_1
“Maksudmu pabrik!”
“Hmmm... mungkin!" Wira menyeringai. "Apa yang akan kalian lakukan jika pabrik itu tidak bisa memproduksi barang yang kalian inginkan... Apa kalian akan membuangnya?” Wira kembali bertanya.