Alin & Hazar

Alin & Hazar
87


__ADS_3

Seluruh keluarga sedang berkumpul di ruang kerja Hazar. Kakek Tomi, Papa Adi, Mama Rosa, Papa Haris, dan Bibi Fatma pun juga dimintai oleh Hazar untuk ikut serta dalam perundingan dini hari itu.


Setelah beberapa waktu tadi mereka telah melalui detik-detik yang menegangkan.


Menantikan seorang Dokter kandungan yang tengah melakukan beberapa pemeriksaan terhadap Alin yang masih belum sadarkan diri sejak tadi diselamatkan dari pinggir jurang.


Meski cemas semua orang tetap merasa bersyukur sebab Alin masih bisa diselamatkan sebelum benar-benar mencapai bibir jurang. Percobaan bunuh diri yang kedua kalinya dilakukan oleh Alin.


“Nona Alin dan bayinya baik-baik saja, Tuan.” ujar Dokter setelah selesai melakukan pemeriksaan pada Alin.


Semua orang tampak bernapas lega. Mama Rosa langsung menghampiri ranjang. Sambil menangis Ia membelai dan mencium kening Alin. “Maafkan Mama. Karna terlalu lama menemukan kalian.” Ratapnya.


Sementara itu, tidak jauh dari tempat Alin berbaring, tepatnya berdiri di belakang Papa Haris, berjarak sekitar dua meter dari ranjang. Bibi Fatma hanya bisa menatap Alin dengan sendu. Sedari tadi wanita paruh baya itu tak henti-hentinya menangis. Ingin rasanya ia menghambur memeluk tubuh nan terbaring lemah itu. Meninggalkan banyak kecupan di wajah pucat dan lebam itu. Namun apalah arti dirinya di tempat ini. Ia hanyalah pelayan di rumah ini.


“Tapi ada baiknya bila kita lakukan pemeriksaan di rumah sakit. Agar kita tahu pasti bagaimana keadaan kandungan Nona Alin, Tuan.” terang Dokter menatap pada Papa Haris yang berdiri di samping Hazar.


“Hmmm... persiapkan semuanya. Besok dia akan aku bawa ke rumah sakit.” Papa Haris mempersilahkan Dokter wanita paruh baya itu untuk keluar dari kamar. Mama Rosa pun mengikuti langkah besannya untuk keluar, meninggalkan Hazar dan Alin di sana. Dengan berat hati, Bibi Fatma pun terpaksa meninggalkan kamar Alin.


Cukup lama Hazar berdiam diri di kamar sambil memandangi istri yang terbaring lemas di atas kasur, dengan pikiran yang sedang menerawang entah kemana. Hazar menghela napas panjang dan berat sebelum kemudian beranjak ke luar dari kamar.


“Bibi, ikutlah ke ruang kerjaku,”


Kepala Bibi Fatma langsung terangkat. Ia menatap tak percaya pada Hazar. Apa ia salah dengar? Atau apa ia sudah berbuat salah? Ia hanya akan diam di sini, ia tidak akan meminta izin untuk ikut masuk melihat Nona Alin. Kesempatannya yang tadi saja sudah lebih dari cukup. Ia tidak akan serakah, ia hanya akan menunggu di luar sini, takutnya kalau-kalau saja Nona Alin membutuhkan sesuatu.


“Alin baik-baik saja,” Hazar seperti melihat kecemasan dari raut wajah Bibi Fatma. “Bibi harus ikut ke ruang kerjaku. Mama dan Papa juga akan ada di sana. Bibi Yona yang akan menjaga Alin di sini.”


“Ba-baik, Tuan.”


Hazar menatap satu persatu wajah orang-orang yang berkumpul di ruang kerjanya. Sekarang sudah pukul tiga dini hari dan mereka semua sama belum ada yang bisa beristirahat. Semuanya tampak lelah dan kusam. Raut semuanya pun tampak sama. Semua diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


Hazar meletakan sebuah amplop coklat ke atas meja. Ia masih diam dalam waktu yang cukup lama. Hingga membuat semua orang makin penasaran dengan isi amplop itu.


“Alin minta cerai,”


Kalimat Hazar berhasil membuat semua orang tersentak kaget.


Detik kemudian terdengar suara isakan Mama Rosa yang mengisi kesunyian.

__ADS_1


Kakek Tomi, Papa Adi dan Papa Haris masih diam tak bereaksi. Sementara Bibi Fatma terlihat kosong. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Namun detik kemudian air matanya jatuh tak terbendung. Ia buru-buru mengusap air matanya. “Nona Diana...” batinya lirih. Bibi Fatma berulang kali mengusap air matanya yang terus berjatuhan. Dadanya terasa amat sesak bagai diimpit oleh sebongkah batu besar. Ia menggigit bibirnya dengan kuat. Berusaha untuk tak bersuara. Karna ia sadar, ia bukanlah siapa-siapa di tengah perkumpulan itu.


“Lalu... apa keputusanmu?” suara Kakek Tomi memecahkan keheningan yang tercipta. Kini semua mata menatap pada Hazar. Menantikan jawaban.


Bukannya menjawab pertanyaan Kakek Tomi, Hazar malah meletakkan ponselnya ke atas meja. “Kemarin Alin juga mengirim pesan suara untukku.”


“Aku meninggalkan sesuatu di laci meja kerja, Kakak. Aku harap Kakak akan langsung menandatanganinya setelah menemukan surat itu.”


“Waktu itu Kakak pernah bertanya, apakah aku pernah bahagia dengan pernikahan ini? Jawabannya tidak! Aku samasekali tidak pernah bahagia dengan pernikahan ini. Hari-hari yang aku jalani tidak ada yang berubah. Semua sama saja saat aku masih sendiri, saat sebelum kita menikah. Aku harus hidup dengan penuh tekanan, dan harus patuh pada si Tuan yang memberi aku makan. Heh,” Alin terdengar tertawa sumbang. “Jika dipikir-pikir aku hampir sama dengan binatang peliharaan. Aku harus tetap patuh agar terus kalian beri makan.”


“Aku sangat benci pada Kakek Setyo dan Papa Haris. Aku rasa Kakak sudah tahu akan itu. Setelah beberapa waktu mengenal Kakak, aku mulai tahu kalau Kakak adalah orang yang sama seperti Papa dan Kakekku. Dan tidak ada alasan bagiku untuk tidak membenci Kakak.”


“Tentang anak ini... aku akan memberikannya pada Kakak jika dia lahir nanti. Jadi... ceraikan aku. Kakak pernah berkata waktu itu kalau Kakak akan membebaskan aku, jika aku memberikan Kakak seorang anak.”


“Dan satu lagi, Jangan mencariku! Setelah anak ini lahir, aku sendiri yang akan menyerahkannya pada Kakak. Kakak tidak perlu cemas. Aku tidak akan menuntut apa pun dari Kakak.”


“Sampaikan permohonan maafku pada Kakek Tomi, Papa Adi, dan Mama Rosa. Aku telah banyak berbohong pada mereka. Aku juga berterimakasih pada mereka. Karna merekalah aku bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga. Jangan beritahu mereka tentang kehamilan ini. Untuk terakhir kalinya, bisakah Kakak berbohong untukku? Mereka pasti akan sangat membenciku kalau tahu aku sudah berbohong selama ini. Jangan beritahu mereka sampai anak ini lahir.”


“Jangan, Tuan!” seru Bibi Fatma tiba-tiba. Semua orang sontak terkejut melihat Bibi Fatma yang tiba-tiba berlutut di atas lantai. “Jangan, Tuan. Jangan ceraikan Nona Alin...” ratapnya memohon.


Papa Adi menghela napas panjang, ia menengadah agar air mata yang telah terkumpul di pelupuk matanya tak tumpah. Masalah pernikahan anaknya ini memang tak berkesudahan.


Seolah mengerti, Karin mendekat dan membantu Bibi Fatma untuk kembali duduk di tempatnya tadi.


Bibi Fatma mengusap kedua pipinya dengan cepat. “Maaf, Tuan.” Isaknya parau. Sebelum kembali bersuara, Bibi Fatma menatap ke arah Papa Haris, detik kemudian ia kembali tertunduk. “Maafkan Nona Alin, Tuan. Nona Alin sebenarnya juga sangat mencintai, Anda. Hanya saja dia tidak tahu akan itu. Tuan, dan Nyonya pasti sudah tahu bagaimana masa kecil Nona Alin. Hidupnya terlalu kelam untuk melihat, dan mengetahui apa itu kasih dan sayang. Karna terlalu membesar-besarkan rasa bencinya terhadap Tuan Setyo dan Tuan Haris, dia sampai menganggap semua laki-laki itu sama. Masanya telah terhenti sejak usianya lima tahun. Pikirannya masih sama seperti anak-anak balita. Dia hanya menginginkan kebebasan. Terbebas dari orang-orang dewasa yang telah membelenggunya.” Kedua tangan Bibi Fatma yang tersimpan di atas lutut semakin terkepal erat. Mendikte cerita kehidupan Alin membuat hatinya terasa perih. Dia yang menyaksikannya saja sehancur ini. Lalu... bagaimana dengan Alin kecil?


Puk! Puk! Puk! Tak kuasa menahan sakit dan sesak, Bibi Fatma memukul dadanya dengan kuat. Ia semakin kalut dan terisak. “Beri Nona Alin waktu untuk mengetahui apa yang sebenarnya yang dia harapkan, Tuan. Beri dia waktu untuk memahami perasaannya sendiri. Maafkan Nona Alin, Tuan. Maafkan dia. Tolong beri dia waktu sebentar saja, Tuan.”


*


*


*


Alin mengerjapkan matanya. Kepalanya terasa pusing, Ia juga merasa nyeri di bagian lengan kirinya. Sambil meringis, Alin melihat sekeliling.


Kamar? Bagaimana bisa ia ada di kamar Hazar?

__ADS_1


Jurang! Ya, ingatan terakhir kalinya ia ada di depan jurang dan... ada seseorang yang berteriak memanggil namanya. Apa itu Kak Hazar?


Mata Alin langsung membola saat ia kembali mengingat kejadian dini hari itu. Tangannya langsung terangkat menyentuh perutnya. “Apa dia masih ada?” Alin langsung bangkit dan turun dari ranjang. Karna saking paniknya Alin langsung berlari keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Alin menghentikan langkahnya saat melihat bibi Yona dan seorang pelayan tengah menunggunya di depan tangga.


“Selamat pagi, Nona!” sapa Bibi Yona.


“Pagi?” Kening Alin tampak berkerut. “Bibi sekarang hari apa?” tanyanya.


“Sekarang hari Sabtu, Nona.”


“Sabtu! Jadi... aku tertidur selama satu hari?” gumam Alin. Alin kembali menyentuh perutnya. Mulutnya sudah terbuka hendak kembali bertanya pada Bibi Yona, namun kembali ia tutup. Ini bukan saatnya ia bertanya tentang kehamilannya pada orang lain. Ia akan terlihat buruk jika bertanya pada orang lain setelah apa yang kemarin ia lakukan di depan jurang.


Alin melihat sekeling, rumah besar itu terasa kosong, hanya ada mereka bertiga di sana.


“Apa Anda mencari Tuan Hazar, Nona?” tanya Bibi Yona seolah tahu apa yang Alin pikirkan.


“Hmmm...” Alin mengangguk.


“Tuan sedang di ruang kerjanya, Nona. Mau saya antarkan ke sana, Nona?”


“Ti-tidak usah, Bibi!” Jawab Alin cepat. “A-aku akan ke atas dulu.” Alin langsung berbalik badan dan kembali menaiki anak tangga.


*


Alin duduk di sisi ranjang dengan gelisah. Ia masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa semua terasa tenang-tenang saja. Seolah kejadian kemarin hannyalah mimpi buruk yang ia alami dalam tidurnya.


“Bayinya masih ada di sini!” Gumam Alin yakin sambil menyentuh perutnya. Sebab ia samasekali tidak merasa nyeri di sana. Dari yang ia tahu waktu kuliah dulu, orang-orang akan merasa nyeri setidaknya selama beberapa hari jika sudah mengalami keguguran. Sedangkan ia tidak merasakan apa pun di sini. “Ah! Sekretaris Jon!” Alin tiba-tiba teringat pada Sekretaris Kakeknya itu. Pada kejadian malam itu Sekretaris Jon juga ada di sana. “Di mana ponselku?” gumam Alin sambil mencari-cari ponselnya.


Tok! Tok! Tok!


Alin menghentikan kegiatannya. “Masuk!” serunya sambil melihat ke arah pintu yang masih tertutup. “Ada apa, Bibi?” tanya Alin saat Bibi Yona telah berdiri di bingkai pintu kamar.


“Nona, sekarang waktunya sarapan. Tuan Hazar sudah menunggu di ruang makan.”


“Baiklah, aku akan ke bawah.”


Alin memejamkan matanya, kepalanya kembali terasa berdenyut. Ia masih bingung dengan kejadian kemarin. Jika kejadian itu nyata, bagaimana bisa Kak Hazar masih bersikap baik padanya. Jelas-jelas kemarin ia mengirim pesan suara yang berisikan ancaman pada suaminya itu. Seharusnya Kak Hazar sedang marah besar sekarang.

__ADS_1


“Aarrrgghhh...!” Alin mengacak-acak rambutnya. “Di mana ponsel sialan itu? Mengapa dia harus hilang di saat-saat seperti ini!?” racau Alin.


*


__ADS_2