Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 38


__ADS_3

Jika bagi kebanyakan laki-laki menemani wanitanya berbelanja adalah hal yang paling membosankan. Itu tidak berlaku bagi Hazar. Justru Alin lah yang merasa bosan sekarang. Bagaimana tidak! Baju yang ia beli harus Hazar yang memilih dan harus sesuai dengan selera Hazar.


“Ini, ini, ini dan ini.”


Hazar menunjuk beberapa pakaian yang masuk dalam kriteria pilihannya. Berlengan panjang, longgar, serta menutupi bagian leher. Mbak-Mbak pemilik toko dengan sukarelanya menuruti semua ucapan Hazar, dengan gerakan cepatnya mengasingkan pakaian yang di tunjuk oleh Hazar, senyuman di bibirnya tak pernah redup dari awal kemunculan Hazar tadi.


Sementara Alin lebih memilih duduk di sofa yang disediakan oleh pemilik toko untuk pengunjungnya, tepat berada di depan ruang ganti. Sekarang Alin sudah memakai baju dan celana panjang, sesuai dengan pilihan Hazar tentunya. Wajahnya tampak merengut, Sejak semua baju pilihannya tadi dengan entengnya di lempar Hazar ke sembarang arah. Sesekali dia mencibir dan merutuk ke arah Hazar yang dengan hikmatnya memilih baju untuknya.


“Ayo! Kita pergi.” Hazar mengulurkan tangannya pada Alin.


“Ck!” Alin mengerlingkan matanya dengan malas. Ia langsung berdiri, mengabaikan uluran tangan Hazar, dan keluar dari toko tanpa menunggu Hazar.


Kejadian yang sama kembali terulang di restoran. Semua menu makanan yang di pilih Alin kembali di batalkan oleh Hazar.


“Kau tidak boleh lagi makan makanan yang terlalu pedas. Itu tidak baik untuk kesehatan.”


Itu alasan yang di terimanya dari mulut Hazar, saat dia mengemukakan protes.


Alin hanya menghabiskan separuh makanan di piringnya. Tiba-tiba saja perutnya merasa tidak nyaman. Alin menghembuskan napas dengan malas, meletakan kembali sendok ditangannya ke atas piring.


“Habiskan makananmu!” perintah Hazar.


“Aku sudah kenyang.” Alin menjauhkan piring dari hadapannya.


“Kau jangan seperti anak kecil. Habiskan!” Mata Hazar sudah melotot.


Alin kembali menghela napas, dengan malasnya dia kembali menyuapkan nasi ke mulutnya.


“Uwweeek...!”


Alin membekap mulutnya, tiba-tiba saja perutnya bergejolak. Tenggorokannya terasa penuh, sepertinya ada sesuatu yang hendak keluar dari sana. Alin berlari ke toilet di belakang restoran.


Hazar terlihat panik melihat Alin yang muntah tidak henti-hentinya. Sambil mengusap-usap punggung Alin, dia berteriak pada pelayan restoran yang berdiri di belakangnya, untuk segera menghubungi dokter.


Alin terkulai lemah setelah mengeluarkan semua isi perutnya.


Hazar mendudukkan Alin di kloset, menyandarkan kepala Alin ke perutnya. Ia menyeka mata dan hidung Alin yang terlihat berair menggunakan tisu yang dimintanya pada pelayan tadi. Karna, dia tidak mau menyeka wajah istrinya dengan tisu yang sudah tersedia di toilet itu. Kemudian dia meminta Alin untuk berkumur-kumur.


“Apa sudah tidak sakit lagi?”


Hazar berjongkok untuk menyeka mulut Alin. Wajahnya masih terlihat cemas.


Alin menggeleng-gelengkan kepalanya, matanya masih saja terpejam.


“Aku mau pulang!” lirih Alin.


“Pak, dokternya sudah sampai!” ujar pelayan yang tadi diperintahkan Hazar untuk menghubungi dokter.

__ADS_1


Hazar menggendong Alin membawanya keluar dari toilet.


Pelayan tadi menuntun langkah Hazar menuju sebuah ruangan yang mana di dalamnya terlihat masih kosong, hanya terdapat sebuah sofa panjang di sana. Hazar membaringkan tubuh Alin di atas sofa, kemudian menyusul duduk, meletakan kepala Alin di pahanya.


***


Hazar memacu mobilnya sedikit kencang. Sesekali ia mengalihkan matanya menatap Alin yang sudah tidur dan terkulai lemah di sampingnya. Meski sedang khawatir tapi ada juga rasa kesal dihatinya saat ini.


Bagaimana dia tidak kesal. Istrinya itu sekarang sedang masuk angin karna sudah berendam di dalam sungai selama berjam-jam lamanya.


Dokter tidak memberikan resep obat pada Alin. Dia hanya menyarankan untuk meminum teh jahe hangat, dan istirahat yang cukup.


Saat sampai di Villa Mang Iman dan Bik Ratih telah menunggu mereka di depan pagar.


“Apa Nona baik-baik saja Tuan?” tanya Bik Ratih khawatir. Wajah Alin terlihat sangat pucat olehnya.


“Dia hanya masuk angin Bik. Apa yang saya minta tadi sudah Bibik siapkan?” tanya Hazar. Kini dia sudah membaringkan Alin di atas kasur.


“Sudah Tuan, sebentar saya ambilkan.” Bik Ratih kembali keluar dari kamar.


Hazar menutup semua jendela di kamarnya dengan rapat. Kemudian menghubungi nomer Bobi, meminta Bobi untuk segera datang ke sana.


“Ini Tuan!” Bik Ratih muncul dengan membawa segelas teh jahe hangat, dan sebuah piring kecil.


“Apa ini?!” tanya Hazar. Menunjuk piring kecil yang dibawa Bik Ratih.


“Apa ini harus dicampurkan dengan air teh?” tanya Hazar lagi.


“Ya enggak lah Tuan!.” Bik Ratih terkekeh. “ini harus di kerokan ke punggungnya Nona Alin.”


Hazar tidak berkomentar lagi meski dia masih belum paham dengan yang di ucapkan oleh Bik Ratih.


Hazar duduk di sisi ranjang. “Alin! Bangunlah, kau harus minum air hangat dulu.”


“Hmmm... aku akan meminumnya nanti.” Alin menjauhkan tangan Hazar dari pipinya.


“Minumnya nanti saja Tuan. Biar Nona saya kerok dulu saja.” ujar Bik Ratih.


*


“Bibik Stop!” pekik Hazar. Dia langsung menjauhkan tangan Bik Ratih dari punggung Alin. “Bibik akan menyakitinya kalau begini. Lihatlah ini sudah memar! Apa Bibik ingin membunuhnya.” Hazar menatap marah pada Bik Ratih.


“Hmmm... Kakak diamlah!.” Hardik Alin, dia merasa terganggu oleh pekikan Hazar. “Bibi teruskan, Ini sangat nyaman.” gumam Alin dengan mata yang masih terpejam.


Bik Ratih tampak ragu, ingin meneruskan atau menghentikan kerokan itu. Dia menatap Hazar yang masih saja terlihat berang padanya.


Alin menghela napas, dengan malasnya ia membuka matanya. Ia mendapati Hazar yang juga ikut berbaring di sampingnya. Suaminya itu sekarang terlihat sangat marah pada Bik Ratih.

__ADS_1


“Bibi ini sudah malam, Bibi istirahatlah.” ujar Alin. Ia membalikkan badannya yang semulanya tengkurap menjadi terlentang. Ia bangun dan duduk sambil mendekap selimut di dadanya. “Terimakasih Bibi.” Alin mengambil alih uang koin di tangan Bik Ratih.


“Ba-baiklah Nona! Selamat beristirahat.”


“Iya Bibi juga! Selamat beristirahat.”


PLAK!!!


Alin menampar lengan Hazar yang tiba-tiba saja melingkar di pinggangnya. “Singkirkan tangan Kakak!” Alin menatap garang pada Hazar. “Kakak sangat tidak sopan, melototi orang tua.” ujar Alin.


“Seharusnya kau berterimakasih padaku. Kau hampir saja dibunuh oleh Bik Ratih. Untung saja aku tidak ketiduran tadi!”


“Ckckck...!” Alin berdecak menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aaww!!” Alin menjerit, karna Hazar tiba-tiba saja menarik rambutnya, hingga membuatnya kembali terlentang di kasur.


Hazar menarik tubuh Alin ke dalam dekapannya. “Tidurlah! Kau harus banyak beristirahat.” kata Hazar dengan santainya selelah menjambak rambut istrinya itu.


“Kakak lah yang ingin membunuhku, bukan Bibi Ratih!” Alin berusaha melepaskan diri. “Kakak tahu ini sangat sakit!”


“Kau hampir setiap hari menjambak rambutku, dan aku rasa itu samasekali tidak sakit.” Hazar menyeringai. “Kau ingin membalasku?” Hazar meletakan tangan Alin ke atas kepalanya. “balaslah sepuasmu.” lanjutnya.


“Cih!” Alin menjauhkan tangannya dari kepala Hazar.


***


Dering telepon berbunyi nyaring, memenuhi langit-langit kamar. Sementara si penghuni masih nyenyak dalam tidurnya.


“Kakak! Angkatlah. Ponsel Kakak sangat mengganggu!” gumam Alin, matanya masih enggan terbuka.


Hazar hanya bergumam malas. Tetap membiarkan ponselnya berdering.


“kakak!!!” pekik Alin. Kini tangannya juga ikut serta membangunkan Hazar.


“Hmmm...” Hazar melepaskan tangan Alin dari daun telinganya. Kemudian tangannya merayap mencari sumber dari bunyi yang mengganggu tidurnya. Hazar mengangkat panggilan telepon tanpa melihat sia yang menghubunginya, dia terlalu malas untuk membuka mata. “Halo!” jawabnya parau.


“Hazar!” terdengar teriakan Mama Rosa dari seberang telepon. Hazar secara refleks menjauhkan ponsel dari telinganya. “Kamu pergi bulan madu kok ngga ngabarin Mama sih!”


Hazar menghela napas. “Ada apa Mama meneleponku sepagi ini?”


“Apa Alin ada disana?”


Hazar mengalihkan kepalanya. kasur di sampingnya sudah kosong.


“Dia lagi dikamar mandi.” jawab Hazar malas.


“Apa Alin sudah telat?”


“Dia sedang cuti sekarang. Jadi dia tidak akan telat.” jawab Hazar sekenanya.

__ADS_1


“Bukan telat yang itu!!!” hardik Mama.


__ADS_2