
Meski baru hanya kata persetujuan cerai, itu telah berhasil mengubah seluruh dunia Alin. Dadanya terasa makin sakit dan sesak. Rasa sakit ini semakin bertambah berkali lipat setiap harinya. Bibi Yona, para pelayan, kamar tidur, rumah dan seisinya terasa asing bagi Alin.
Alin menganggap sebab dirinyalah Kakek Tomi, Papa Adi dan Mama Rosa pergi dari rumah itu. Ya, siapa yang mau tinggal serumah dengan wanita pembohong seperti dirinya. Kebohongan yang telah ia perbuat tidak akan ter maafkan. Mungkin ini lebih baik, karna ia pasti tidak akan sanggup menghadapi Kakek Tomi dan Mama Rosa setelah kebohongannya terungkap. Ia memang pantas untuk di tinggalkan.
Lalu bagaimana dengan Hazar?
Hazar. Suaminya itu hanya bisa ia jumpai di saat jam sarapan dan makan malam saja. Dan kehadiran Hazar di saat-saat jam makan itu malah semakin membuat Alin tersiksa. Bagaimana tidak, pemandangan saat di meja makan masih seseram dan sekaku sarapan pagi itu. Pagi saat ia baru saja sadar dari tidur panjangnya. Dan sejak saat itu juga Hazar tidak pernah lagi berbicara padanya. Jangankan untuk bercengkerama, menatapnya saja Hazar sudah tak sudi.
Pisah ranjang? Ya, itulah yang terjadi. Hazar juga tak pernah lagi menyambangi kamar mereka. Kamar itu sekarang telah berubah menjadi kamar Alin, bukan kamar mereka lagi. Seluruh barang-barang dan pakaian Hazar sudah di pindahkan sejak beberapa hari yang lalu. Alin hanya bisa menatap nanar ke arah lemari pakaian Hazar yang telah kosong. Ia benar-benar sendiri sekarang. Kembali menjadi makhluk asing di antara penghuni rumah.
Malam kian larut, namun mata Alin masih enggan untuk tertidur. Ia berjalan dengan langkah pelan keluar dari kamar. Alin berhenti di anak tangga paling atas. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Alin mendesah resah dan merutuki dirinya sendiri. “Apa yang aku lakukan?” Alin memukul kepalanya sendiri. Ia benar-benar telah lupa diri. Bagaimana bisa ia keluar malam-malam begini untuk mencari kamar baru Hazar. Ya, hingga saat ini, ia masih tidak tahu kamar mana yang dipakai Hazar sekarang.
Dengan langkah beratnya Alin kembali masuk ke dalam kamar.
Di saat-saat kesendirian tak jarang Alin selalu menangis. Hidupnya terasa benar-benar telah berakhir. Tak ada satu pun lagi orang yang tinggal di sisinya. Semua sudah pergi dan menjadi orang asing. Ternyata hidup bebas tak seindah yang ia bayangkan. Sepertinya kali ini ia memang akan di bebaskan untuk selama-lamanya. Ia tak tahu apa rasa sakit ini akan tetap bertahan, atau akan menghilang setelah ia pergi meninggalkan rumah ini besok.
Kemarin di hari kedua setelah kabar persetujuan cerai dari Hazar. Karin kembali membawa berita mengejutkan kepada Alin.
“Apa!” pekik Alin dengan mata terbelalak tak percaya. “Kakek dan Tante Amel sekarang jadi buronan!? Dan... apa tadi? Papaku sekarang sedang terbang ke luar negeri untuk mengurus masalah David yang ternyata jadi pecandu narkoba! Anak sia lan itu... ”
“Iya, Nona. Karna itu, Tuan Haris meminta Anda untuk mengurus Yayasan selama kepergiannya.”
“Apa aku sudah gila! Aku masih waras, Mbak Karin. Untuk apa aku mengurus Yayasan terkutuk itu!”
Keesokan harinya, tanpa dimintai kedua kalinya Alin sendiri yang datang ke rumah sakit. Bukan sebagai Dokter magang, tapi sebagai pengganti Direktur sementara. Meski sedang kalut dengan masalah yang dihadapinya, Alin masih tetaplah Alin yang dulu. Ia bekerja bukan untuk membantu Papa yang masih dibencinya, tujuan utamanya adalah pelarian. Mungkin dengan menyibukkan diri ia akan bisa melupakan sedikit masalah hatinya ini. Namun, telah satu minggu berlalu.
Gagal! Ia kembali gagal menghibur diri. Mengganggu Sekretaris Jon dan Wira bahkan tak mengenakkan lagi baginya.
__ADS_1
“Makan dulu,” Wira menyodorkan sendok pada Alin.
Alin menggeleng dengan muka lesunya. “Gue lagi ngga nafsu.” Alin berdiri dan melangkah menuju meja kerja papanya.
Wira menghela napas panjang, kembali meletakkan sendok ke atas meja. Ia menatap prihatin pada Alin yang sekarang sedang sibuk membaca sebuah dokumen di meja kerja Direktur. Ia sebenarnya berniat hendak menghibur Alin. Mengajak makan di luar atau apa pun itu, yang pokoknya bisa mengubah muka lesu itu sedikit bergairah. Namun ia tak pandai dan segan untuk mencoba. Akhirnya ia makan sendiri, tentunya semua makanan yang masuk ke dalam mulutnya terasa hambar. Karna ia makan sambil sesekali menatap ke arah Alin. Ia memang belum tahu masalah apa yang sekarang Alin hadapi, namun sudah bisa ia tebak kalau teman satu-satunya itu tengah memiliki masalah. Ia tak berniat untuk bertanya, karna ia tahu Alin pasti enggan berbagi dengannya kali ini. Karna biasa Alin akan bercerita meski tanpa ia pinta.
“Kamu, masih belum punya ponsel? Tadi Mama nanya kabar, kamu.”
“Belum,” jawab Alin singkat, matanya masih fokus pada lembaran dokumen di tangannya. Selama satu minggu ini Alin memang masih belum juga menemukan ponselnya.
“Mama sekarang jadi kepala pelayan di rumah singgah. Suami kamu yang minta.” Wira mencoba mencari materi obrolan untuk menghilangkan kecanggungannya. Karna sejak tadi Alin seperti mengacuhkan keberadaannya di sana. Padahal ia juga malas untuk bertemu Alin, karna akan banyak mata yang melihatnya. Namun ia terpaksa datang ke lantai sebelas ini karna mamanya memaksa menitip bekal untuk makan siang Alin.
Meski Wira sudah berusaha untuk membuka obrolan di antara mereka, Alin masih saja diam tak berkomentar. Dalam keadaan normal, mungkin berita yang disampaikan Wira tadi akan sangat membahagiakan baginya. Namun sekarang tak ada satu pun yang bisa mengembalikan keceriaannya. Hati dan pikirannya telah membeku. Tak ada lagi rasa kebahagiaan, yang tertinggal hannyalah perih dan penyesalan.
Tok! Tok!
“Anda memanggil saya, Nona.”
“Belikan aku ponsel,”
“Baik, Nona.”
Setelah Dina keluar dari ruangan Direktur, Wira pun berdiri. Ia mengambil sebuah pena dari atas meja dan menuliskan nomer ponsel mamanya di sana. “Ini nomer Mama, dan ini... jangan lupa dimakan. Mama sudah capek-capek membuatnya.” Wira meletakan kertas yang bertuliskan nomer mamanya di atas kotak bekal makan siang Alin. Lalu tanpa pamit ia langsung melangkah ke luar.
Alin menatap kepergian Wira. Setelah pintu kembali tertutup ia beralih menatap kotak bekal yang tersimpan di atas meja. Ingatannya kembali pada Hazar. Dulu ia dan Hazar pernah bertengkar di rumah sakit karna ia makan siang dengan Wira. Itulah sebabnya ia enggan menemani Wira makan. Jika dipikir-pikir ia malah menjadi istri penurut sejak pertengkaran ini. Ia menjadi takut dan selalu memikirkan Hazar di setiap kegiatannya. Alin tiba-tiba saja tertawa sumbang. “Sudah terlambat dan percuma,” gumamnya pilu. Hubungannya dengan Hazar telah tampak ujungnya. Dan ia baru sadar dan baru mau menuruti kata-kata suaminya. Inilah yang dikatakan penyesalan, datangnya di akhir bukan di awal.
Alin kembali menangis dalam kesendiriannya. Ia selalu menyerukan nama Hazar dan kata-kata maaf di setiap isaknya. Dulu ia bisa dengan mudah meminta maaf pada Hazar. Ia bisa memeluk, mencium dan menggoda Hazar untuk menghapus jarak yang tercipta karna pertengkaran mereka. Tapi sekarang, Hazar sudah terlalu jauh untuk ia raih. Karna kecerobohan dan sifat kekanak-kanakannyalah semua ini terjadi.
__ADS_1
“Bibi... mungkin tidak akan seberat ini jika Bibi ada di sini.” Racau Alin dalam tangisannya. Tiba-tiba saja ia merindukan Bibi Fatma. Orang yang sudah satu minggu ini tak dijumpainya. Kabar dan keberadaan Bibi Fatma pun masih belum diketahui Alin. Sebab ia masih belum bisa menghubungi nomer Bibi pengasuhnya itu.
***
Wira mengerutkan keningnya, menatap heran pada Alin yang sekarang duduk di dalam mobilnya. Ia yang tadi hendak berniat menjalankan mobil pun urung, sebab kedatangan Alin yang tiba-tiba.
“Ada apa?” tanya Wira bingung sebab wanita yang sekarang duduk di sampingnya itu malah diam dan menatap lurus ke depan. Mengacuhkan dirinya yang sedang bingung.
“Kamu, mau ke rumahku?” Wira kembali bertanya, sebab Alin masih diam dan acuh.
Wira menghela napas panjang. Tanpa bertanya lagi ia langsung melajukan mobilnya. Wira berdecak sambil menggelengkan kepalanya saat melihat empat mobil hitam mengikuti mobilnya.
“Antar aku pulang,” Saat mobil sudah jauh meninggalkan rumah sakit, barulah Alin bersuara.
“Hmmm...” Tanpa menoleh atau pun bertanya pada Alin, Wira langsung memutar arah. Wira melirik kaca spion, dilihatnya keempat mobil tadi juga ikut berputar arah. “Kotaknya taruh di belakang saja,” ujar Wira. Karna ia melihat Alin tampak sedikit kerepotan duduk sambil memeluk kotak bekal yang tadi dibawanya untuk makan siang Alin.
“Tidak usah,” jawab Alin singkat.
Dua puluh menit terasa lama oleh Wira. Ia harus menempuh perjalanan panjang dan sunyi dalam mengantar si Tuan Putri yang sedang galau pulang ke istananya. Ia pikir tugasnya akan berakhir dengan mengantar Tuan Putrinya pulang dengan selamat sampai rumah. Namun, ternyata tidak.
“Itu... bukannya_!” Mata Wira langsung terbelalak saat melihat pemandangan di depan matanya. Ia beralih menatap Alin yang masih duduk di sampingnya. Ternya Alin juga tengah melihat pemandangan yang sama.
Tuan Hazar dan seorang gadis seumuran mereka turun dari mobil yang sama. Yang lebih mengejutkan tangan si gadis sekarang tengah memeluk lengan Tuan Hazar dengan manjanya. Lalu keduanya sama-sama melangkah masuk ke dalam rumah.
Tangan Wira terkepal erat memegang setir mobil. Napasnya terlihat memburu. Matanya memancarkan api kemarahan. Dengan gerakan cepat ia kembali menyalakan mobilnya, dan berniat hendak membawa Alin pergi bersamanya. Namun...
“Terimakasih,” Sebelum Wira kembali menjalankan mobil, Alin buru-buru melompat ke luar. Meletakan kotak bekal. Tanpa melirik Wira ia langsung berjalan dengan langlah cepat masuk ke dalam rumah.
__ADS_1