
Saat ini Alin dan Hazar sedang berada di ruang makan. Hazar sudah hampir separuh menghabiskan makanan di piringnya, berbeda dengan Alin, yang sejak tadi masih melototi Bibi Fatma yang berdiri tidak jauh darinya.
“Cepat habisi makananmu!” Perintah Hazar. Dia baru menyadari kalau istrinya ternyata belum juga menyentuh makanannya.
Alin mendengus “Biarkan Bibi Yona dan yang lainya pergi. Apa Kakak harus di pandangi terus setiap makan?”
Hazar mengalihkan pandangannya “Bibi pergilah ke belakang.” Ujar Hazar.
“Baik Tuan”
“Cih, Kakak tahu! Bibi Yona dan yang lainya, tidak mau lagi mendengar kata-kataku sekarang, bahkan Bibi Fatma pun juga ikut-ikutan!” Ujar Alin saat hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu.
“Mungkin mereka tertular dengan sifatmu yang pembangkang.” Jawab Hazar dengan santainya. Kembali melanjutkan makan malamnya.
“Aku bukan pembangkang. Aku hanya tidak suka di atur-atur dan di kekang.” Alin sudah terlihat kesal.
“Ya! Terserah kau saja.” Hazar sedang malas berdebat. Dia tidak mau mengacaukan suasana hatinya, yang sedang damai dan tenteram saat ini.
“Lalu apa yang akan Kakak lakukan?”
“Kau mau aku melakukan apa? Memecat mereka semua!” Tanya Hazar lagi.
“Bukan!” Alin malah dibuat bingung, dia juga tidak tahu apa yang harus di lakukan Hazar. Tidak mungkinkan dia meminta agar Bibi Yona dan yang lainya harus patuh padanya “Ah...! Sudahlah.” Alin meracau sendiri.
“Apanya yang sudah?” Tanya Hazar bingung.
“Tidak, lanjutkanlah makan malam Kakak.” Ujar Alin “Aku akan keluar setelah ini.” Lanjutnya.
“Siapa yang mengizinkanmu untuk pergi keluar!?” Hazar menatap tajam pada Alin.
“Apa aku harus mendapatkan izin terlebih dahulu, baru boleh pergi keluar?” Alin kembali menjatuhkan sendok yang hampir masuk ke mulutnya. Membalas tatapan tajam Hazar.
Hazar menghela napas. Memang tidak ada ketenangan saat ia bersama Alin, selalu ada saja pertengkaran yang akan timbul “Apa yang akan kau lakukan di luar malam-malam begini?”
“Banyak, aku mau beli camilan, jalan-jalan dan masih banyak yang bisa aku lakukan di luar saat ini.” Ujar Alin.
“Kau bisa melakukan semuanya besok pagi.” Ujar Hazar.
__ADS_1
“Aku juga bisa melakukannya sekarang! Tidak harus menunggu besok pagi” Alin masih tidak mau kalah.
“Baikalah, akan aku antar kau dan Bibi pengasuhmu keluar dari rumah ini, malam ini juga!”
“Apa Kakak mengusirku!” Teriak Alin. Dia sudah berdiri dan berkacak pinggang menantang Hazar.
“Aku tidak mengusirmu. Bukankah kau sendiri yang mau pergi keluar malam ini juga. Aku hanya menuruti kemauanmu saja.” Jawab Hazar dengan santainya “Apa kau mau makan dulu sebelum aku antar? Kau mungkin akan sulit untuk mencari makan malam-malam begini, ditambah banyaknya barang-barang yang harus kau bawa.” Hazar menyandarkan punggungnya dengan nyaman “Ah iya, aku hampir lupa menyampaikannya padamu. Kemarin aku sempat bertemu dengan Kakekmu, anak buahnya sudah mengosongkan apartemen yang dulu kau huni, katanya apartemen itu akan di huni oleh adik laki-lakimu. Dan barang-barangmu dia titipkan padaku, apa kau sudah memeriksanya?” Tanya Hazar. Ada senyuman kemenangan yang terukir di bibirnya, saat melihat perubahan ekspresi wajah Alin.
“Aku akan ke kamar Bibi Fatma” Alin langsung berbalik badan. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi saat ini.
“Duduk!” Perintah Hazar cepat.
Alin memejamkan matanya, kedua tangannya mengepal erat, kedua kakinya langsung membeku saat mendengar perintah Hazar. Ia sangat malu saat ini.
“Kakak!” Pekik Alin. Ia terjingkat kaget, saat mendapati Hazar telah berdiri di depanya saat ia membuka mata, tangan Hazar dengan cepat menahan tubuhnya yang hampir terjatuh.
“Apa dengan menuruti kata-kataku, akan membuatmu mati?” Hazar menjentikkan jarinya ke kening Alin.
“Aww!!!” Pekik Alin. Dia berusa melepaskan tangan Hazar yang menahan pinggangnya. “Lepas!” Muka kesal Alin tampak memerah, dengan matanya yang masih melotot menatap Hazar.
“Apa ini sakit!” Hazar mengusap kening Alin dengan jempolnya.
Tiba-tiba Hazar menarik tubuh Alin untuk lebih mendekat padanya, ia mencium kening Alin yang terlihat memerah karna jentikannya tadi. Rasa dingin dari sentuhan bibir Hazar, membuat Alin membeku di tempatnya.
“Apa masih sakit?” Tanya Hazar. Bibirnya terlihat tersenyum menatap Alin saat ini.
“Apa yang Kakak lakukan!” Alin tersentak dari lamunannya.
Hazar melepaskan Alin dari dekapannya “Duduk dan makanlah dengan tenang.” Ujarnya. Kembali duduk di tempatnya tadi “Jika kau masih mau membangkang. Aku tidak akan menyuruh Bibi Yona dan yang lainya untuk pergi saat kita makan, dan kau akan terus di awasi oleh Bobi, kemana pun kau pergi” Ancam Hazar.
Alin menghentakan kakinya dengan kesal, kembali duduk ke tempatnya tadi.
*
Bibi Fatma kembali terkekeh untuk yang ke sekian kalinya. Sementara Alin masih diam dan melotot sebal ke arahnya.
“Mau sampai kapan Nona berdiam diri seperti itu?” Tanya Bibi Fatma. Alin masih berdiri berpangku tangan di tengah kamarnya, tanpa berbicara apa pun.
__ADS_1
“Apa Bibi senang sekarang!” Ketus Alin.
“Apa saya terlihat sedang senang sekarang Nona?” Bibi Fatma mengulum senyumnya. Melangkah mendekati Alin.
“Iya, Bibi terlihat sangat senang setelah menusukku dari belakang!” Seru Alin.
“Saya tidak pernah menusuk Anda dari belakang Nona” Bibi Fatma merengkuh lengan Alin, mengajaknya untuk duduk di sisi ranjang.
Alin membuang muka “Cih! Sudah ketahuan masih saja Bibi mau berkilah. Masalah kartu yang Hazar berikan padaku, bagaimana bisa itu ada pada Bibi?” Hidung Alin tampak kembang kempis saat ini.
“Saya mengambilnya pada malam Nona pingsan. Nona juga mengatakan pada saya kalau Nona tidak akan mau menerima uang Tuan Hazar lagi. Jadi ya, saya ambil saja kartu itu saat saya melihatnya di atas meja kamar Nona, saya hanya khawatir nanti kartu itu bisa hilang, saya langsung menyerahinya pada Mbak Karin malam itu juga. Saya tidak pernah menghianati Nona” Bibi Fatma kembali terkekeh. Membuat Alin bertambah kesal.
“Lalu mengapa Bibi tidak bilang padaku, kalau Bibi lah yang mengambil kartu itu, dan memberinya pada Mbak Karin.”
“Apa saya harus memberi tahu Nona!”
“Ya, Bibi Harus memberi tahuku apa pun yang Bibi lakukan.”
“Akan saya lakukan ke depanya Nona.” Jawab Bibi Fatma.
“Lalu apa maksudnya, Bibi menceritakan kalau aku merampok sekretaris Jon waktu itu? Bibi tahu itu sangat memalukan.”
“Tentang itu.” Bibi Fatma terdiam sesaat, meraih tangan Alin “maafkan saya Nona, saya keceplosan waktu itu.” Bibi Fatma bukannya merasa bersalah, malah cengengesan menatap Alin.
“Akan aku maafkan untuk kali ini saja” Muka Alin masih tampak kesal. “Tapi dengan syarat!”
“Apa syaratnya Nona?”
“Izinkan aku tidur disini malam ini.” Alin langsung berbaring membelakangi Bibi Fatma. “Aku sangat malu untuk bertemu Kak Hazar saat ini.” Ujar Alin. Bukan hanya pada Hazar, Alin juga merasa malu pada pelayan yang berada di dapur saat itu, mereka pasti juga mendengar yang di katakan Hazar, tentang pemindahan barang-barangnya oleh Kakeknya, yang tampak seperti di gusur itu.
Tok! Tok!
“Nona!” terdengar suara Bibi Yona dari luar.
“Hiks.” Alin menjambak rambutnya “Belum juga sepuluh menit.” Rutunya. Sudah bisa di pastikan, Bibi Yona datang pasti untuk menyampaikan, kalau Hazar sedang menunggunya. “Bibi katakan kalau aku sudah tidur” Wajah Alin tampak memelas “Aku sudah dikurungnya seharian, aku sudah tidak sanggup lagi Bibi.” Alin menatap Bibi Fatma dengan mata sayunya, kepalanya menggeleng-geleng memohon bantuan Bibi Fatma.
Bibi Fatma berjalan menuju pintu “Nona Alin sudah tidur Bibi.” Ujar Bibi Fatma, saat pintu sudah terbuka.
__ADS_1
“Kalau begitu kau tidurlah di kamar sebelah. Tuan Hazar akan tidur di sini.”
Kata-kata Bibi Yona barusan terdengar jelas oleh Alin “jadi inilah alasannya memindahkan kamar bibi Fatma” Rutu Alin.