Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 67


__ADS_3

“Apa kau tidak bisa lebih cepat!” teriak Hazar pada Bobi yang saat itu tengah mengendarai mobil menuju rumah sakit terdekat. Hazar sangat mencemaskan keadaan istrinya, luka di daerah lutut Alin tak henti-hentinya mengeluarkan darah. Ditambah lagi tubuh istrinya itu terasa dingin dan pucat.


Dengan menggunakan tangan kirinya yang tak terluka Hazar menguatkan dekapannya pada tubuh lemah istrinya. Ia mengabaikan semua rasa sakit di tubuhnya sendiri.


Setelah setengah jam lebih mereka berkendara, barulah mereka sampai di rumah sakit terdekat. Bobi langsung meloncat turun dan membuka pintu mobil. Tanpa menunggu perintah dari Hazar, Bobi langsung mengangkat tubuh Alin keluar dari mobil.


Hazar pun hanya bisa menghela napas melihat tubuh istrinya dibopong oleh Bobi, ia tidak bisa berbuat banyak sekarang, jangankan untuk mengangkat tubuh istrinya, berjalan saja ia membutuhkan bantuan orang lain sekarang. Ya, setelah tadi ia berkelahi menghadapi empat orang preman sekaligus. Ia mendapati beberapa luka di sekitar perut, pinggang dan lengannya.


Hazar tetap berdiri di samping ranjang Alin, ia terus saja memantau semua tindakan dokter terhadap istrinya. Setelah Alin dinyatakan baik-baik saja dan telah dipindahkan ke kamar rawatan, barulah Hazar mau menerima pertolongan dari dokter untuk mengobati lukanya sendiri.


*


Alin mengerjapkan matanya, kelopak matanya terasa sangat sulit untuk dibukanya. Silaunya cahaya lampu membuat tangan Alin refleks terangkat untuk menghindari cahaya yang menyilaukan matanya.


“Anda sudah sadar, Nona!?”


Alin melihat ke arah suara. “Bobi!” gumamnya. Alin baru teringat dengan apa yang baru saja terjadi. “Di mana Kak Hazar?” Alin langsung hendak bangkit, namun Bobi dengan cepat mencegahnya.


“Tuan Hazar sedang ditangani oleh tim dokter, Nona sebaiknya istirahat saja dulu, dokter juga perlu memeriksa Anda, Nona.”


“Aku tidak kenapa-napa!” Alin menepis tangan Bobi yang mencegatnya.


Bobi hanya bisa menghela napas, ia tidak bisa berbuat lebih terhadap istri Tuannya itu. Ia pun hanya bisa diam dan pasrah saat melihat Alin melepaskan jarum infus dengan paksa dan sembarangan.


“Biarkan aku masuk!” Alin kembali berbicara pada Bobi saat di depan ruang operasi.


“Ini diluar wewenang saya, Nona.”


“Hubungi Papaku, dia pasti mengenal direktur rumah sakit ini.” Alin semakin mendesak tidak sabar, ia sangat menghawatirkan keadaan suaminya sekarang. Sebab terakhir kali ia melihat suaminya itu sudah bersimbah darah di depannya.

__ADS_1


“Sebaiknya kita menunggu di luar saja, Nona. Kehadiran Anda di ruang operasi mungkin akan mengganggu konsentrasi para dokter di dalam!” Bobi masih berusaha untuk menenangkan istri Tuannya itu.


“Kesinikan ponselmu!” Alin masih belum mau menyerah.


Alin berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang operasi sambil terus mencoba menghubungi nomer papanya. Sialnya, nomer papanya terus saja di luar jangkauan. Hingga akhirnya Alin pun menyerah, ia memilih duduk di kursi besi yang berbaris rapi di depan ruang operasi. Sambil terus melantunkan banyak doa untuk kesembuhan dan kelancaran operasi suaminya.


“Nona sebaiknya Anda menunggu di ruangan Anda saja, Nona. Tuan Hazar akan marah jika melihat Anda menunggunya di sini.” Bobi terlihat makin khawatir melihat kondisi Alin yang terlihat makin pucat.


Alin mengabaikan Bobi, ia samasekali tidak menggubris kerisauan Bobi.


Tak lama setelah itu pintu ruang operasi pun terbuka, Alin langsung menghambur menghampiri pintu.


“Kak Hazar!” Alin langsung bersimpuh di lantai tepat di depan kursi roda Hazar. “Kakak tidak kenapa-napa?” Alin langsung berurai air mata melihat kondisi Hazar, tangan kanan suaminya sekarang terlihat diikat menggunakan Armsling (penyangga tangan patah), dan tubuh suaminya sekarang dililiti oleh perban, semua terpampang nyata di depannya, sebab baju pasien hanya bisa disampirkan di pundak suaminya itu.


“Usstt...!” Hazar langsung bangkit dari kursi roda, merangkul pundak istrinya. “Bangunlah! Lututmu bisa infeksi jika duduk di lantai. Aku tidak kenapa-napa. Bangunlah!” Hazar membelalakkan matanya menatap Bobi, seolah ia berkata, mengapa membiarkan istrinya menunggu di luar sini?


Tapi siapa yang bisa mencegah Alin jika sudah berkehendak.


“Tidak apa-apa, jangan menangis,” Hazar mengusap-usap kepala Alin yang berada dalam dekapannya, sesekali ia juga meninggalkan kecupan di pucuk kepala istrinya itu. “Usstt... jangan nangis.” Hazar malah terlihat seperti mendiami seorang anak kecil, karna Alin tak henti-hentinya menangis dan bergelayutan menempel padanya. Haruskah ia merasa sedikit lega sekarang, karna baru kali ini Alin mau menempel begini dengannya.


Para dokter, perawat, dan Bobi samasekali tak dianggap keberadaan mereka di sana oleh Alin. Ia terus saja menangis sambil mendekap tubuh suaminya yang bertelanjang dada.


“Aku tidak bisa mengendongmu sekarang, tadi aku tidak sengaja melukai tanganku. Apa kau bisa berjalan ke ruangan kita?” tanya Hazar setelah ia rasa tangisan Alin mulai mereda dalam dekapannya. "Kita sedang dilihati banyak orang sekarang." sambung Hazar.


Alin menarik wajahnya dari dada Hazar, ia mengangguk menyanggupi pertanyaan Hazar. Namun air matanya masih terus mengalir.


“Sudahlah, jangan menangis lagi,” Hazar mengusap air mata istrinya.” Apa ada yang sakit?” tanya Hazar sedikit membungkuk agar bisa menatap wajah pucat istrinya.


Alin menggeleng, “Tidak ada,” jawabnya.

__ADS_1


Hazar kembali menarik Alin ke dalam dekapannya. “Baguslah, ayo, kita pergi,”


Kamar rawatan Alin dan Hazar telah di siapkan oleh Bobi. Sesuai dengan permintaan Hazar, kamar rawatan mereka di satukan, beruntung kamar president suite sedang kosong saat itu.


“Mengapa menungguku di depan ruang operasi? Seharusnya kau tetap istirahat di sini.” ujar Hazar sambil menyelimuti Alin dengan selimut. “Kau bahkan belum memakan makananmu! Makan dulu.” Hazar hendak mengambil nampan yang berisi makan malam milik Alin.


“Aku tidak lapar,” Alin malah makin mengencangkan dekapannya pada pinggang Hazar. Membuat Hazar makin kesulitan untuk berdiri. “Apa Mbak Tami baik-baik saja?” tanya Alin tiba-tiba, sebenarnya dia sangat takut mendengar kabar tentang Tami. Tapi ia tetap harus menanyakan tentang Tami, walau jawaban buruk yang akan diterimanya nanti. Setelah Tami banyak berkorban untuknya, setelah ia menyaksikan sendiri tubuh Tami yang bergelimpangan darah terletak tak berdaya di atas aspal.


Hazar menghela napas panjang, dan memperbaiki posisi tidurnya. Dia bisa menangkap kesenduan dari raut wajah istrinya sekarang. “Dia baik-baik saja. Pak Sukri sudah lebih dulu membawanya ke sini.” Hazar kembali membelai rambut Alin. “Kau lihat, Tami bukanlah orang yang tepat untuk menjagamu. Hari ini kau hampir saja celaka, dan dia hampir saja kehilangan nyawanya.” Hazar mengangkat dagu Alin, membuat wajah itu menatap padanya. “Mulai sekarang, Bobi yang akan menjagamu. Dia yang akan mengantarmu ke mana pun, dan dia akan terus bersamamu, kapan pun dan dimana pun itu. Jangan membantah lagi.” Tegas Hazar.


*


Malamnya saat Alin sudah tertidur, Hazar meminta dokter untuk membuka infus di tangan kirinya. Sebab ia sangat kesulitan untuk bergerak, sementara tangan kanannya masih harus diikat dengan armsling.


“Di mana kau menyekap mereka?” tanya Hazar pada Bobi saat mereka tengah mengobrol di balkon ruang rawatan.


“Di gudang vila Nona Alin, Tuan.”


Hazar menyipitkan matanya menatap curiga pada Bobi. “Ada apa?” selidiknya.


“Anu, Tuan, baru saja Rafi menelepon katanya Tuan Adi dan mertua Anda, menyuruh mereka pergi dari sana, Tuan.” Jawab Bobi sedikit gugup.


“Apa! Jadi siapa yang menjaga mereka di sana!?” teriak Hazar histeris. Bobi nyaris saja digamparnya.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2