
“Apa dia menyusahkanmu?” tanya Hazar saat mereka sudah kembali ke kamar mereka. Sekarang ia sedang duduk bersandar di atas ranjang, dengan satu tangannya menyelusup masuk ke dalam baju Alin yang duduk bersandar di dadanya. Dadanya terasa menghangat tiap kali menyentuh kulit perut Alin.
Alin yang sedang fokus menonton televisi, hanya menjawab dengan gelengan kepala.
“Kapan perutmu membesar?” Tangan Hazar merayap di perut Alin. “Apa masih lama?”
“Kakak! Geli...” Alin menahan pergerakan tangan Hazar. “Hisss... Lepas!” Alin berusaha untuk mengeluarkan tangan Hazar. Alin mengerling sebal ke arah Hazar, sebab usahanya tidak berhasil tangan Hazar bahkan tak beranjak dari sana. “Mana ponsel, Kakak?” ketus Alin.
Hazar meraih ponselnya yang tersimpan di atas meja kecil di samping ranjang, tangan yang satunya masih betah di perut Alin.
“Baca ini.” Alin menunjukkan sebuah artikel perkembangan janin pada Hazar.
“Aku sudah tahu tentang itu,”
“Lalu mengapa Kakak masih bertanya kapan perutku membesar!” Alin terlihat makin kesal. Jadi Kak Hazar sengaja hanya ingin menggagunya?
“Berhentilah berwajah seperti ini.” Hazar mencubit hidung Alin yang sedang kembang kempis karena sedang marah. “Kau tahu, aku sekarang sedang berusa menahan diri. Jadi jangan memancingku.”
“Menahan diri!?” Alin berkerut bingung.
“Ya! Dokter bilang kau tidak boleh terlalu sering olahraga kasur.”
“Baguslah,” Wajah Alin tiba-tiba berbinar.
Alin tersentak kaget, sebab sekarang Hazar telah berhasil membaringkan tubuhnya dan mengimpitnya. “Kakak!” pekik Alin. “Bukankah sudah tidak boleh.” Alin menahan dada Hazar dengan kedua tangannya.
“Satu-dua kali belum bisa dikatakan sering.” Hazar menyeringai licik. “Aku masih boleh melakukannya.”
Tanpa bisa dicegah, Hazar kembali melancarkan aksinya.
*
“Di mana Alin?” tanya Mama Rosa saat melihat Hazar hanya sendirian datang ke ruang makan.
“Dia masih tidur,”
Mama Rosa menatap Hazar penuh sidik. “Kamu, masih ingat kata-kata Dokter kemarin, Hazar?”
“Kata yang mana?”
“Bukan kamu kan, yang membuatnya tertidur?”
“Maksud, Mama?”
Wajah berkerut Hazar membuat Mama Rosa geram. Anak semata wayangnya itu tiba-tiba saja menjadi orang bo doh yang tak faham dengan apa yang ia katakan saat ini.
“Bibi, bisa tinggalkan kami, sebentar!”
“Baik, Nyonya.”
Mama Rosa kembali menatap Hazar. Masih dengan tatapan penuh kekesalan. “Kamu tidak menidurinya sampai dia kelelahan ’kan?”
Hazar mengangkat satu alisnya. “Ya, aku menidurinya,” jawab Hazar dengan entengnya.
__ADS_1
Plak! Mama Rosa memukul pundak Hazar dengan kuat.
“Mama!”
“Apa kamu tidak dengar apa yang dikatakan Dokter kemarin. Kamu tidak boleh melakukan itu terlalu sering! Usia kehamilan Alin masih terlalu dini, Hazar! Huh.” Mama Rosa memijat pelipisnya. Kepalanya terasa sangat pening.
“Ada apa, Ma?”
Papa Adi dan Kakek Tomi baru masuk ke ruang makan. Keduanya tampak heran menatap Mama Rosa yang terlihat meringis.
Bukannya menjawab Papa Adi, Mama Rosa malah melangkah ke luar. “Mama Ke atas sebentar.” Pamitnya.
“Kenapa mamamu?” Papa Adi masih penasaran.
Hazar mengedikkan bahu, tanda ia juga tidak tahu mamanya kenapa.
*
Mama Rosa masuk ke kamar Hazar dengan gerakan pelan. Ia menghembuskan napas gusar saat melihat Alin tertidur pulas dengan dililiti selimut tebal. Menantinya itu terlihat sangat lelap, namun ia harus membangunkannya untuk memastikan sesuatu.
“Alin... Sayang!” Mama Rosa mengusap kening Alin.
Alin mengerjapkan matanya. “Mama...” gumamnya parau.
“Kamu tidak apa-apa, Sayang?”
Alin hendak bangkit, namun gerakan cepat dicegah Mama Rosa. “Kamu tiduran saja. Tidak ada yang sakit ‘kan?” Mama Rosa menatap cemas.
“Hmmm...” Alin menggeleng. Sekarang matanya sudah terbuka sempurna.
Alin duduk dengan kebingungan. Mengapa dengan Mama dan Kak Hazar? Keduanya tampak sama-sama berkerut.
“Tidurlah lagi.” Hazar membelai kepala Alin.
Alin menatap Hazar, kemudian beralih menatap Mama Rosa. “Ada apa, Ma?” Alin masih kebingungan.
“Tidak ada apa-apa. Tidurlah lagi.”
Bukan Mama Rosa, tapi Hazar lah yang menjawab.
Hazar menarik tangan Mama Rosa. “Ayo, Mama. Biarkan Alin istirahat,” ujarnya.
Alin masih kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ia menatap punggung Hazar dan Mama Rosa sampai hilang di balik pintu.
Alin perlahan turun dari ranjang, ia menyibakkan selimutnya, namun detik kemudian ia kembali menutup selimut. Mata Alin terbelalak menatap awas pada pintu, sebab ia kembali mendengar derap langkah mendekat. Saat ini ia hanya menggunakan kaos longgar yang dipakai Hazar semalam, tanpa celana. Akan gawat jika Mama Rosa yang kembali masuk ke kamar, dan melihatnya seperti ini.
“Tidak jadi tidur?”
Oh, Alin bernapas lega, sebab Hazar seorang lah yang muncul, tanpa Mama Rosa.
“Di mana, Mama?”
“Mama Di ruang makan. Kau mau mandi?”
__ADS_1
Alin mengaguk, dan hendak berdiri. Namun...
“Biar aku bantu.” Hazar langsung mengangkat tubuh Alin.
“Kakak, aku bisa sendiri!”
“Aku tetap mau membantu.” Hazar tak peduli, tetap meneruskan langkahnya.
“Mama tadi kenapa?” Alin kembali bertanya saat Hazar membalutkan handuk ke tubuhnya, ia telah selesai dimandikan oleh Hazar.
“Dia hanya ingin melihatmu. Dia cemas sebab kau tidak ikut sarapan.”
“Hannya itu?” Alin merasa tidak puas mendengar jawaban Hazar.
“Ya,” Hazar menatap Alin penuh sidik.
“Memangnya apa yang kau harapkan?”
Alin cepat menggeleng. “Tidak ada.”
“Aku tadi hanya mengatakan kalau kita semalam melakukan itu dua kali. Dan aku tidak tahu, Mama Tiba-tiba saja marah dan memukulku.”
Plak! Alin yang saat itu hendak melangkah keluar kamar mandi, cepat berbalik dan menampar pundak Hazar. Wajahnya tiba-tiba memerah karena malu.
“Mengapa Kakak mengatakan itu pada, Mama!” Pekik Alin.
“Mama bertanya, makanya aku jawab.”
“Hiks...” Alin menatap kesal pada manusia yang sekarang berdiri di depannya itu. Wajah lempeng yang seperti merasa tak berdosa itu sangat mengesalkan. Hingga ingin rasanya ia menjambak rambut hitam itu. Alin mendengus kesal, ia menghempaskan pintu kamar mandi dengan kuat. Membuat Hazar yang hendak ikut keluar, pun tersentak kaget.
Setelah menyelesaikan sarapannya Alin bergegas hendak kembali ke kamarnya di atas, meninggalkan Hazar yang masih berkutat dengan sendok dan piring. Ia akan sangat malu Jika bertemu dengan Mama Rosa sekarang. Ia masih tidak habis pikir, bagaimana bisa Hazar berkata seterbuka itu pada Mama Rosa. Dan ditambah lagi tadi Hazar juga bercerita kalau kemarin Mama Rosa telah melihat rekaman CCTV yang menayangkan video mereka sedang...
“Aaahhh....” Alin menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir rasa kesal bercampur malu. Mengapa Hazar harus menceritakan semua itu pada Mama Rosa? Langkah Alin makin lebar dan cepat menaiki tangga.
“Alin.”
Tangan Alin terkulai lemas. Itu suara Mama Rosa.
“Kamu mau ke mana, Sayang? Duduklah sebentar.”
Alin menyengir, salah tingkah. Hal yang sejak tadi ia hindari, malah terjadi. Dengan langkah gontai ia berbalik mendekati Mama mertuanya.
***
Tiga hari kemudian...
Pagi itu Alin dan Hazar masih bersiap-bersiap di kamar, mereka hendak turun sarapan di bawah. Namun sebelum mereka sempat keluar dari ruang ganti, pintu kamar mereka malah digedor-gedor dari luar.
Mereka saling bertatapan, siapa di luar? Pikir keduanya.
Tidak mungkin itu Bibi Yona, sebab gedoran itu cukup kuat dan memekakkan. Gedoran itu malah seperti tabuhan genderang peperangan.
“Alin, Hazar! Cepat keluar!” Teriak Mama Rosa dari depan pintu.
__ADS_1
Hazar cepat melangkah ke arah pintu. Suara Mama Rosa terdengar seperti orang panik. Pasti sesuatu telah terjadi. Dari nada suara Mama Rosa, sudah bisa Hazar pastikan, kalau itu bukan kabar baik.