
Alin tadi sempat merasa khawatir, Bibi Fatma akan menolak tinggal bersamanya lagi. Sebab kejadian sepuluh tahun silam masih membekas jelas di ingatannya.
Dimana saat itu mendiang mang Bakri suami Bibi Fatma sedang di rawat karna sakit keras. Alin yang baru pulang dari sekolah, langsung mampir ke rumah sakit untuk menjenguk. Saat sampai di depan IGD Alin melihat sebuah pemandangan yang janggal, seorang ibu-ibu menangis memohon agar dokter segera memberi pertolongan kepada suaminya, yang sedang kesulitan untuk bernapas. Namun dokter dan perawat hanya acuh tak menghiraukan si ibu. Padahal keadaan IGD saat itu sedang lengang, hanya ada dua orang pasien, itu pun sudah di tangani oleh mereka. Dua orang dokter yang berdiri di depan si ibu malah asik dengan obrolan mereka, tanpa memedulikan si ibu. Empat orang perawat duduk berhadap-hadapan, mengobrol sambil melipat kain kasa (kain pembalut luka, yang berbentuk seperti jaring-jaring), juga tak menghiraukan si ibu. Karna merasa geram Alin pun merekam semua kejadian itu dengan ponselnya, lalu menyebarkannya di internet lengkap dengan nama-nama dokter dan perawat yang ada di Video, tak ketinggalan Alin juga menambah keterangan tentang nama rumah sakit dan alamat tempat kejadian.
Karna ulahnya itulah citra rumah sakit menjadi buruk, Papanya yang saat itu menjabat sebagai direktur rumah sakit tempat kejadian mendapat banyak hujatan dari masyarakat. Kakeknya orang pertama yang mendapat laporan, bahwa cucunyalah yang membuat kekacauan di rumah sakitnya langsung naik pitam. Dia mengurung Alin selama dua tahun di dalam rumah, ke sekolah pun Alin tak diperbolehkan olehnya, dan Bibi Fatma pun terkena imbasnya. Suaminya yang sedang dirawat di usir dari rumah sakit, dan dia di pecat dari pekerjaannya sebagai pengasuh Alin.
Sejak saat itu Alin tidak pernah lagi bertemu dengan Bibi Fatma. Orang yang sudah dia anggap sebagai keluarganya. Orang yang menjadi saksi hidup, bagaimana Mamanya di perlakukan dengan tidak adil oleh Papa dan Kakeknya.
***
Hari pernikahan pun datang. Bibi Fatma tidak di perbolehkan oleh dokter untuk keluar dari rumah sakit, Alin pun tak dapat berbuat banyak, kesembuhan Bibi Fatma harus di utamakan.
Alin yang sejak pagi memaksakan bibirnya untuk tersenyum pun merasa lelah. Para tamu undangan tak henti-hentinya berdatangan. Alin sudah sampai pada titik jengahnya, ia sudah tak sanggup lagi. Laki-laki yang berdiri di sampingnya pun tak menghiraukannya, bahkan mereka tak berbicara apa pun sejak pagi. Alin melambaikan tangannya pada staf WO yang berada tidak jauh darinya.
“Ada yang bisa saya bantu Nona?”
“Antarkan aku ke kamar” Pinta Alin.
“Tapi Nona, acaranya belum selesai” Staf WO tampak kebingungan.
“Apa kau mau menyuruhku mati berdiri di sini seharian!” Ketus Alin kesal.
“Ada apa sayang?” Mama Rosa mendekat.
“Aku mau istirahat Tante” Jawab Alin, dengan melembutkan suaranya.
“Mari sini Mama antar ke kamar kalian”
“Tidak usah Tan_ eh Ma, biar Mbak ini saja. Teman-teman Mama pasti lagi nungguin” Jawab Alin cepat.
“Ya sudah. Kamu lebih baik istirahat juga Zar, biar Papa dan Mama yang urus tamu-tamu kantor”
“Hmmm” Jawab Hazar dia malah sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
“Kau mau kemana?” Tanya Alin pada staf WO yang mengantarnya ke kamar.
“Saya mau kembali ke tempat acara Nona”
“Apa kau mau menyuruhku mati kepanasan, dengan menggunakan gaun ini semalaman?”
“Akan saya bantu Anda melepaskannya Nona!”
“Ya! Memang itulah gunanya kau aku ajak kemari”
Staf WO mengacung-acungkan kepalan tangannya di balik punggung Alin.
Saat Alin keluar dari kamar mandi, ia mendapati Hazar yang sedang duduk di sofa sibuk dengan laptopnya, sepertinya suaminya itu kembali di sibukkan dengan urusan kantor. Padahal dia belum mandi dan berganti baju.
“Apa kau sedang menggodaku?” Tanya Hazar saat melihat Alin hanya menggunakan sehelai handuk di depanya.
“Apa kakak tergoda?” Alin berkacak pinggang, terlihat menantang. Ia mengurungkan langkahnya yang hendak mengambil baju ganti.
“Tidak” Hazar kembali fokus pada layar laptopnya.
Karna merasa sangat lelah Alin pun langsung membaringkan tubuhnya di kasur, tanpa memedulikan Hazar yang masih sibuk dengan laptopnya.
Tok tok tok !!!
Seseorang mengetuk pintu kamar mereka. Hazar menegakkan kepalanya, di lihatnya Alin sudah tertidur pulas di atas kasur. Dengan malasnya Hazar berdiri membuka pintu. Ternyata Pak Naf, mantan sekretaris Papanya yang kini ia percayai untuk mengurus perusahaan Kakeknya.
“Selamat Malam Tuan, maaf jika saya mengganggu Anda” Pak Naf menyerahkan beberapa dokumen pada Hazar.
“Malam Pak, maaf meminta Anda datang malam-malam begini”
“Tidak apa-apa Tuan. Ini memang tugas saya. Apa ada yang bisa saya bantu lagi Tuan” Tanya Pak Naf, sebab ia dapat melihat kekhawatiran dari raut wajah Tuan Mudanya itu.
“Untuk saat ini tidak ada, Terimakasih”
__ADS_1
“Baiklah Tuan. Selamat malam”
Hazar menutup pintu kamarnya, kembali duduk di tempatnya tadi, membuka beberapa dokumen yang baru saja dia terima dari Pak Naf. Tepat pukul tiga pagi Hazar baru menyudahi pekerjaannya. Pergi ke kamar mandi, setelah selesai mandi Hazar membereskan gelas-gelas kotor bekas kopinya, menyusun dokumen-dokumen yang berserakan. Akhirnya ia memutuskan untuk beristirahat sejenak. Membaringkan tubuhnya di atas kasur, bersebelahan dengan Alin yang sudah tertidur sejak tadi.
*
Alin mengerjapkan matanya, ia merasa terganggu oleh sinar matahari yang masuk melalui celah-celah jendela kamar. Matanya menyipit menyapu sekeliling ruangan. Ia mendapati Hazar yang tidur di sampingnya.
Alin bangun secara perlahan takut jika gerakannya akan mengganggu tidur Hazar. Entah jam berapa suaminya itu tertidur, sebab waktu ia ke kamar mandi semalam suaminya itu masih sibuk dengan laptopnya.
Alin memungut pakaian kotor Hazar yang berserakan di depan pintu masuk kamar mandi “Apa susahnya sih! Tinggal di lempar ke keranjang juga” Rutunya. Sambil memasukkan pakaian kotor ke keranjang.
Hazar terbangun karna mendengar suara ketukan pintu, ia menyipitkan matanya melirik jam di atas nakas. Melihat ke samping, kosong entah kemana Alin perginya. Kemudian bangkit membuka pintu.
“Selamat siang Tuan” Seorang Room Boy datang mengantar sarapan, atau lebih tepatnya disebut makan siang, karna sekarang sudah jam sebelas siang.
“Bukan saya yang memesan ini” Ujar Hazar.
“Istri Anda yang berpesan kepada kami Tuan. Untuk mengantarkan sarapan Anda pada jam ini Tuan”
“Bawa masuk” Hazar duduk di samping ranjang, meraih hpnya yang ia simpan di atas nakas, ia melihat ada sebuah memo “Aku ke rumah sakit” setelah membacanya Hazar kembali menempelkan kertas memo tadi ke tempat semula. Kemudian masuk ke kamar mandi.
Saat selesai mandi ponselnya bergetar tanda ada sebuah panggilan masuk. Ia menghentikan kegiatannya yang sedang mengeringkan rambutnya.
“Ada apa?” Tanya Hazar, saat ponselnya telah ia tempelkan ke telinganya.
Karin sekretarisnya yang menelepon.
“Maaf Tuan, saya hanya ingin menanyakan apakah pertemuan siang ini saya batalkan saja Tuan?”
“Jam berapa pertemuannya?”
“Jam dua Tuan”
__ADS_1
“Saya akan berangkat ke kantor sekarang” Ujar Hazar.