
“Hiss... Menyusahkan saja!” Rutuk Mala, adik perempuan Luna. Ia baru saja sampai di ruang rawatan Luna, langsung menghempaskan bokongnya di sofa. Tanpa menanyakan kabar Luna terlebih dahulu.
“Pergilah sana! Apa aku meminta kau datang?” Sergah Luna. Meski masih sulit untuk bergerak Luna masih tetap saja bermain games di ponselnya. Sama seperti Mala, Luna juga tidak melirik adiknya sedikit pun.
“Mama yang menyuruhku, kalau aku tidak tidur di sini malam ini Mama akan menarik ATM-ku. Kakak, lagian. Baru batal nikah saja langsung masuk rumah sakit. Apa Kakak segalau ini dicampakkan oleh Kak Hazar.”
“Apa gunanya Mama mengirim kau ke sini? Kau sangat tidak berguna, akan lebih baik kalau Bibi Tifa yang menemani aku di sini.”
“Yang membayar Bibi Tifa adalah Papa. Kakak bukan anak Papa lagi. Jadi Kakak juga bukan majikan Bibi Tifa lagi.”
Mala meraih remote televisi. “Apa tidak ada camilan?” tanya pada Kakaknya.
“Apa kau pikir ini kamar kos-kosan!” Kerling Luna ke arah adiknya.
“Apa Kakak tidak punya pacar? Seharusnya sebelum sakit Kakak cari pacar dulu. Biar ada yang jagain. Bukannya menyusahkan aku terus.” Maya menendang bantalan sofa di sampingnya, kemudian berbaring dengan nyamannya. Mulutnya terus saja berceloteh dengan mata yang tetap menatap layar televisi. “Pesankan aku makanan. Aku lapar.” Sekarang Mala malah merengek minta makan. Ia duduk sambil mengusap-usap perutnya, matanya mengerjap pada Luna.
“Kau bisa memesannya sendiri!” Jawab Luna sambil terus bermain dengan ponselnya.
“Sini... aku yang pesan.” Mala merebut ponsel Luna. “Makan apa kita hari ini?” gumam Mala sambil berselancar dengan ponsel Luna.
“Ke sinikan ponselku!” teriak Luna menatap geram pada adiknya. Tangannya terjulur ingin meraih tubuh Mala yang berdiri tidak jauh darinya, tapi apalah daya tangan tak sampai. “Gunakan ponselmu sendiri!” hardiknya lagi.
“Aku ke sini untuk Kakak. Jadi Kakak yang harus bayar makananku.” Jawab Mala dengan santainya, ia tetap acuh dengan kemarahan kakaknya. “Kakak, mau pesan apa? Aku mau nasi goreng pete, ayam pedas, dan ceker mercon.” Karna tak ada jawaban dari Kakaknya, Mala mengangkat wajahnya. “Kakak, tidak mau?” Malam mengangkat satu alisnya, bibirnya tersenyum senang melihat wajah marah Luna.
***
Pelan-pelan Hazar membuka pintu kamar, ia bernapas lega saat melihat wajah yang dirindukannya tengah terlelap di atas kasur. Hazar melangkah pelan, lalu duduk di sisi ranjang, pergerakannya samasekali tak membuat Alin terganggu. Hazar mengangkat selimut Alin, lalu ikut merebahkan tubuhnya di samping Alin. Semua pergerakan dibuatnya sepelan mungkin, takut akan mengganggu tidur istrinya.
Dengan pelan Hazar menarik Alin ke dalam dekapannya, pergerakannya sempat terhenti sebab Alin mulai terlihat terganggu. Hazar menatap lekat wajah istrinya. Wajah yang dirindukannya ini, kini terlihat pucat dan kelelahan. Pelan Hazar membelai mata Alin yang terpejam dengan jemarinya. Apa yang akan terjadi jika mata ini terbuka nanti?
Hazar menghela napas panjang, sambil membenamkan wajah Alin ke dalam dekapannya. Ia sudah tidak peduli lagi jika pergerakannya akan membangunkan Alin. Merasa masih tidak puas, Hazar kembali menarik wajah Alin dari depannya, detik itu juga ia menghujani banyak kecupan di wajah istrinya itu.
***
“Mama, mau ke mana? Ini masih pagi loh, Ma.” Tanya Papa heran melihat Mama Rosa sudah rapi, matahari bahkan belum terbit.
“Kalau Papa mau kerja ke perusahaan Hazar, jangan menghubungi Karin. Carilah sekretaris yang lain untuk membatu Papa hari ini. Karna Karin akan bekerja dengan Mama mulai hari ini.” Ujar Mama Rosa sambil terus membereskan barang-barang yang berserakan di ruang rawatan Kakek Tomi. Tampilan Mama Rosa memang sudah rapi, seperti mau bepergian.
Papa Adi mengerutkan keningnya. “Memangnya apa yang mau Mama kerjakan bersama Karin?”
“Bukan urusan, Papa!”
“Apa yang mau kau kerjakan?” tanya Kakek Tomi.
“Papa sudah bangun?” Mama Rosa mendekati ranjang Kakek Tomi. “Aku ada urusan sebentar. Papa tahu, ternya Alin masih bisa hamil, Papa!” seru Mama Rosa dengan mata berbinar.
Raut wajah Kakek Tomi berubah murung. “Kau jangan terlalu memaksa Alin.” suara Kakek Tomi terdengar lirih. “Biarkan rumah tangga mereka berjalan seperti apa adanya.”
“Aku tidak pernah memaksa Alin, Pa. Aku berbicara yang sebenarnya. Kalau Alin, memang sudah baik-baik saja. Sebentar lagi Papa Akan memiliki cicit.”
__ADS_1
“Yang dikatakan Rosa memang benar, Pa. Sekarang Papa harus cepat sembuh, Papa harus tetap sehat agar bisa melihat anak-anak Hazar kelak.” Papa Adi ikut menimpali, sebab Kakek Tomi terlihat masih tidak mempercayai omongan Mama Rosa.
Kakek Tomi tetap diam tak bereaksi.
*
“Apa sudah kau amankan?” tanya Mama Rosa pada Karin. Mereka sekarang sedang berada di rumah, lebih tepatnya ruang kerja Hazar.
“Sudah, Nyonya. Ini rekaman dari hari pertama Nona Alin tinggal di rumah ini.” Karin mengarahkan layar laptop pada Mama Rosa.
Tangan Mama Rosa terkepal kuat saat ia melihat sendiri video rencana busuk trio cecunguk di dapur rumahnya.
“Cih! Dia menyukai Hazar?” Mama Rosa berdecak kesal saat mengetahui apa penyebab Angel mencelakai Alin seperti itu. Ternya kepala koki di rumahnya itu menyukai anaknya.
“Sepertinya ini akan menarik!” Mama Rosa menarik sudut bibirnya, sebuah ide berlian baru saja muncul di benaknya.
“Di mana anak laki-laki ini sekarang?” tanya Mama Rosa pada Karin, sambil menunjuk wajah David di layar laptop.
“Dia sedang kuliah di luar negeri, Nyonya.”
“Apa ada cara membuatnya kembali ke negara ini? Akan lebih baik jika dia aku habisi dengan tanganku sendiri!”
“Saya dengar dia dipaksa oleh Tuan Setyo untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, Nyonya. Dan Mamanya juga tidak menyetujui itu. Tapi, mereka tidak berani membantah Tuan Setyo.”
“Baguslah, Kakek Setyo bukan masalah untukku.” Mama Rosa tersenyum sinis membayangkan rencana balas dendamnya.
“Sebentar, Nyonya. Sepertinya itu Angel.” ujar Karin sambil berjalan ke arah pintu.
Mama Rosa menatap ke arah pintu, menanti tamunya.
“Masuk!” Karin meminta Angel untuk masuk ke dalam ruangan.
Angel muncul dengan membawa sebuah nampan berisikan dua cangkir teh hangat.
“Silakan, Nyonya.” ujar Angel saat meletakan cangkir teh untuk Mama Rosa. Suaranya dibuat selembut mungkin, hingga membaut telinga Mama Rosa dan Karin gatal-gatal olehnya.
“Terimakasih.” Mama Rosa tersenyum menyeringai pada Angel. “Hmmm... Angel,”
Saat baru saja mendengar Mama Rosa memanggil namanya tanpa bertanya terlebih dahulu, membuat Angel bahagia, ia pun langsung menyahuti. “Iya, Nyonya.” sahutnya kegirangan.
“Nanti malam saya akan mengundang besan saya untuk makan malam di sini, jadi tolong kamu siapkan semuanya.”
***
Alin mengerjapkan matanya, rasa hangat dan nyaman bak berada dalam dekapan seseorang membuatnya malas untuk bangun, ia pun kembali memejamkan matanya, sambil mempererat pelukannya pada guling nan hangat itu.
“Kau, sudah bangun?”
Alin terlonjak kaget, rasa hangat dan nyaman yang tadinya mengundangnya kembali ke alam mimpi tiba-tiba saja berubah menjadi kejutan yang tak pernah dibayangkannya. Bagaimana bisa Hazar ada di sini? Ini sangat mustahil, tapi ini juga bukan sekedar mimpi, sebab cengkeraman tangan Hazar di pinggangnya terasa sangat nyata.
__ADS_1
Alin hendak bangkit, tapi tiba-tiba saja Hazar menarik wajahnya dan membenamkan ciuman yang cukup lama di bibirnya. Seluruh persendian Alin dibuat lumpuh olehnya, hendak merontak pun Alin tak kuasa dibuatnya.
Alin yang awalnya hanya diam dan menerima semua perlakuan Hazar terahapnya, pun perlahan dan pasti membalas perbuatan Hazar. Tangannya perlahan menyusuri pundak Hazar, dan berakhir dengan mengalungkan tangannya pada leher suaminya itu.
Hazar sempat tertegun beberapa detik saat mendapatkan respons dari Alin. Namun itu tak berlangsung lama, ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Ini adalah sebuah keberkahan menyambut hari barunya, ternyata tak sia-sia saja ia begadang semalam untuk memikirkan bagai mana ia harus bersikap, jika Alin masih menolaknya dan kembali mencoba menjauh darinya.
“Bersikap lembutlah padanya.” Ini adalah saran singkat yang ia dapatkan dari Papa Adi semalam. Papanya memang selalu bisa diandalkan dalam masalah apa pun.
***
“Apa kau tidak sekolah hari ini?” tanya Luna pada Mala. Matahari telah lama menampakkan diri, namun sang adik masih terlihat bermalas-malasan di sofa ruangannya.
“Aku akan libur hari ini. Mama sudah meminta izin pada wali kelasku.” Mala bangkit dan menatap wajah kakaknya. “Akan lebih baik jika Kakak dirawat sampai ujian akhir semesterku.” Mala tersenyum lebar, hingga hampir menampakkan seluruh barisan giginya.
“Pergi kau, sana!” teriak Luna, botol air mineral telah siap mengudara dan lepas landas di kepala Mala, namun terhenti sebab pintu ruangannya malah diketuk dari luar, dan terbuka.
Seorang dokter beserta dua orang perawat masuk, dan langsung menghampiri ranjang Luna.
“Ini, Dokter.” Seorang perawat menyerahkan hasil pemeriksaan terakhir Luna pada sang Dokter.
Luna tersenyum ramah pada si Dokter kaku, yang kemarin juga memeriksanya, tapi respons yang ia dapatkan sama saja seperti yang kemarin. Ia diacuhkan lagi.
Melihat si Pasien yang tersenyum-senyum masam karna diabaikan, seorang perawat pun maju, lebih mendekat ke ranjang Luna.
“Selamat pagi, Bu Luna,” sapa salah seorang perawat yang terlihat lebih tua itu, disertai dengan senyuman ramah khas ibu-ibu. “Bagaimana kabarnya hari ini? Apa sudah merasa baikan?” lanjut si Perawat.
“Agak mendingan, Suster. Ini sudah tidak sakit lagi.” Luna mengerak-gerakkan kakinya yang kemarin terkilir.
“Jangan terlalu sering bergerak,” suara si dokter langsung saja membuat Luna menghentikan kegiatannya. Si dokter terlihat membalikkan lembaran kertas. Si dokter pun mulai membacakan hasil dari pemeriksaan yang Luna lakukan pagi tadi, tak lupa pula si dokter menyampaikan unek-unek berupa larangan beserta beberapa saran untuk pemulihan Luna.
“Mungkin lusa besok, Anda, sudah boleh pulang.” Ini berupa kalimat penutup dari si dokter.
Saat si dokter hendak undur diri dari ruangan itu, tiba-tiba saja langkahnya dicegat oleh seorang bocah.
“Dokter! Kakakku ini adalah anak buangan, dia sudah tidak terdaftar lagi di kartu keluarga kami. Jadi biarkan dia dirawat di sini sampai benar-benar pulih, karna tidak akan ada orang yang menjaganya nanti.” Mata Mala berbinar dan mengerjap maja menatap si dokter, ekspresinya tidak sesuai dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Mala seperti melirik sesuatu pada jas putih yang dikenakan oleh si dokter. “Dokter Wira, perkenalkan nama aku Mala.” Mala mengulurkan tangannya, tersenyum lebar pada dokter Wira.
Bukannya membalas uluran tangan Mala, Wira malah mengernyit heran menatap bocah di depannya ini.
“Tolong tuliskan nomer dokter di sini.” Karna merasa uluran tangannya diabaikan oleh Wira, Mala masih tidak menyerah. Ia malah mengulurkan ponselnya sekarang. “Aku tidak tahu harus menghubungi siapa jika tiba-tiba saja nanti Kakakku kejang atau berhenti bernapas.” Lanjut Mala.
Kedua perawat tadi sontak terkekeh mendengar ucapan Mala barusan.
Wajah Luna bahkan sudah merah padam menahan malu dan amarahnya. “Apa kau sudah gila!” geram Luna menatap berang pada Mala.
*
*
*
__ADS_1