Alin & Hazar

Alin & Hazar
97


__ADS_3

Alin duduk terkulai lemas di kursi ruang tunggu. Sekarang Papa dan David adik tirinya sedang berada di ruang operasi. Keduanya diduga mengalami kecelakaan di jalanan sepi dekat dengan rumah pelarian Kakek Setyo dan Amel.


Meski hubungan mereka tidak baik, tapi tetap saja Alin merasa resah, dan merasa tidak tenang dengan apa yang telah terjadi pada papanya.


“Kamu yang sabar, Sayang.” Mama Rosa duduk di samping Alin. Menarik Alin ke dalam dekapannya. Meski Alin tidak menangis, Mama Rosa tahu bahwa menantunya ini tengah bersedih. Lihatlah muka kaku menantunya ini, bagaikan tengah kehilangan jiwanya.


Setelah selesai berbicara dengan beberapa anggota kepolisian, Hazar pun ikut bergabung dengan istri dan mamanya.


Hazar membelai kepala Alin yang masih berada dalam dekapan Mama Rosa. “Aku harus ke ruang jenazah, sekarang. Kamu, mau ikut?”


Kepala Alin terangkat, ia menatap tak percaya pada apa yang baru saja Hazar ucapkan.


Hazar berjongkok, menggenggam erat tangan Alin. “Kakek Setyo dan Tante Amel meninggal.” ujar Hazar dengan sangat hati-hati.


Seketika itu jua air mata Alin jatuh tak terbendung.


●●●


Hazar menghela napas panjang untuk yang kesekian kalinya. Sudah berkali-kali ia meminta Alin untuk istirahat namun istri keras kepalanya itu tak mau mendengarkan ucapannya. Ia sangat tahu kalau Alin sedang berduka dan bersedih dengan apa yang telah menimpa keluarganya, tapi ia tidak mau melihat Alin memaksakan diri seperti ini.


Lihatlah, sedari tadi tak henti-hentinya orang berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa atas kematian Kakek Setyo dan Tante Amel. Dan Alin sebagai satu-satunya keluar yang bisa hadir di sana pun harus meladeni semua tamu yang datang. Wajah istrinya itu terlihat sangat pucat dan kelelahan, namun tetap saja menolak untuk beristirahat.


“Setidaknya aku harus melepaskan kepergian mereka dengan baik. Seumur-umur aku belum pernah berbuat baik pada mereka. Mau sejahat apa pun Kakek padaku, dia tetaplah kakekku yang seharusnya aku hormati.”


Setelah mendengar ucapan Alin barusan, Hazar tak tahu lagi harus berbuat apa. Ia membawakan makanan dan minuman, namun sedikit pun tak tersentuh oleh Alin.


Sore harinya terjadi kegaduhan di rumah duka. Kakek Fandi (Ayah Tante Amel) tiba-tiba saja datang dan mengamuk sambil berteriak dan menyumpah serapahi Alin.


“Ini semua salah, kau!” seru Fandi berapi-api menunjuk wajah Alin. “Kau dan ibumu sama-sama wanita pembawa sial, kalau saja kalian tidak ada di muka bumi ini, anak dan cucuku pasti baik-baik saja sekarang!”


“Dasar wanita j*l*ng!!!”


PLAKK! Sebuah tamparan mendarat di pipi Alin.

__ADS_1


Hazar yang saat itu sedang berada di luar untuk menjawab panggilan telepon dari rumah sakit pun berlari masuk saat mendengar suara kegaduhan. Dan betapa murkanya ia saat melihat jejak sebuah tamparan di pipi pucat istrinya.


***


Setelah lewat jam sepuluh malam dan orang-orang yang datang pun mulai sepi. Alin terlihat duduk bersandar di sudut ruangan, Hazar pun kembali meminta Alin untuk makan.


Alin menggeleng lemah, mendorong tangan Hazar yang hendak menyuapinya.


Operasi Papa Haris dan David telah selesai, dan mereka telah dipindahkan ke ruang rawatan. Kabar buruknya Papa Haris sedang koma sekarang, dan Hazar tidak berani menyampaikan berita sedih ini pada Alin. Ia meminta para Dokter untuk merahasiakan kondisi Papa Haris pada Alin. Ia tidak mau melihat istrinya semakin terpuruk dalam kesedihan. Ia berjanji akan memberitahu Alin secepatnya, tapi tidak sekarang waktunya.


“Aku tahu kalau kamu sedang sedih, tapi kamu juga butuh makan, Alin. Ingat kamu tidak sendirian lagi memakai tubuh ini. Ada anak kita di sini, dan dia juga butuh nutrisi dari kamu.”


Alin masih diam, dan makin tenggelam dalam kesedihannya. Ia kembali teringat dengan kata-kata Kakek Fandi, memang benar apa yang dia katakan. Semua ini memang salahnya. Kalau saja ia tidak ada, Mama Diana pun mungkin masih hidup sekarang. Kalau saja ia tidak ada, keluarga besar Kakek Setyo pun tidak akan sehancur ini. Ini memang salahnya, dan semua kekacauan ini memang bermula dari dirinya.


Alin kembali terisak, air matanya kembali mengalir deras. Tubuh hangus Kakek Setyo dan Amel kembali tergambar di benaknya. Keduanya mati dalam keadaan yang sangat mengenaskan.


“Aku tidak bisa lagi bersabar,” ujar Hazar, ia berdiri dan menggendong Alin dalam pangkuannya. Dengan langkah lebar dibopongnya Alin menuju rumah sakit yang berada di gedung sebelah rumah duka.


***


“Apa Alin sudah tidur?” Mama Rosa muncul dari balik pintu.


Hazar mengangguk, “Mama belum pulang?”


“Mama akan menginap di sini. Kamu istirahatlah sebentar, biar Mama yang jaga Alin.”


Hazar menggeleng, “Mama lebih baik pulang. Mama juga butuh istirahat,” tolak Hazar.


“Mama sudah istirahat tadi.”


Drrttt! Ponsel Hazar bergetar tanda ada sebuah notifikasi panggilan masuk.


“Papa!” Kening Hazar berkerut, ada perlu apa papanya menelepon semalam ini.

__ADS_1


“Ah, iya.” Mama Rosa baru teringat akan sesuatu. “Tadi, sebelum Mama ke sini papamu mendapat telepon dari anak buah Bobi.


Sepertinya ini masalah orang yang mengamuk tadi siang. Mung_” Suara Mama Rosa tertahan, sebab Hazar sudah menerobos ke luar dari ruangan. Mama Rosa hanya bisa geleng-geleng kepala, sepertinya Hazar akan kembali mengamuk malam ini. Kasihannya orang itu, siapa juga yang suruh mencari masalah pada Hazar.


***


Esok harinya Hazar mengajak Alin untuk ke taman belakang rumah sakit, guna mencari udara segar dan untuk sedikit menghibur istrinya yang tak bersuara sejak kemarin.


Hazar memindahkan Alin untuk duduk di bangku taman, kemudian ia menyimpan kursi roda ke samping, dan ikut duduk di samping Alin. Hazar sudah berusaha menghibur Alin, dengan mengacaknya bicara dan lain sebagainya, namun Alin hanya merespons dengan anggukan dan gelengan saja. Akhirnya Hazar menyerah, ia pun ikut diam duduk di samping Alin.


“Maaf. Apa kamu yang bernama Alin?”


Seorang wanita cantik berambut sebahu, menghampiri tempat Alin dan Hazar.


Hazar mendongak untuk melihat siapa orang yang baru saja menanyakan istrinya itu.


Sementara Alin hanya acuh, matanya masih terlihat kosong memandang ke kejauhan.


“Aku Nara, sahabatnya David.” Nara mengulurkan tangannya pada Alin.


Alin melirik Nara sebentar, kemudian ia kembali acuh.


“Maaf, istri saya sedang tidak mau diganggu,” usir Hazar secara halus.


“Ada hal penting yang mau aku bicarakan.” Nara kembali bersuara, mengabaikan ucapan Hazar.


“Maaf, mungkin lain kali saja.” Tolak Hazar. Muka Hazar sudah terlihat tidak senang memandang pada Nara.


Dua orang bodyguard sudah mendekat dan hendak menyeret Nara.


“Ini tentang David, kamu harus tahu, dan kamu harus mendengarkan cerita ini!” seru Nara dengan suara lantang, sebab kedua tangannya sudah ditahan oleh bodyguard.


“Biarkan, dia,” ujar Alin tiba-tiba, matanya masih menatap ke kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2