
Hazar melirik jam di dinding kamar, sekitar dua jam lagi dia harus berada di bandara. Ia harus pergi ke luar Kota selama beberapa hari untuk menyelesaikan masalah kantornya. Mata Alin masih terpejam rapat, bulu matanya yang lentik masih tampak basah oleh air mata. Hazar hanya memandanginya dari tempatnya berdiri, setelah itu masuk ke ruang ganti untuk menyiapkan segala keperluannya selama di luar kota.
Sekitar jam enam sore Karin dan Pak Naf telah sampai di rumah utama. Mereka sedang menunggu Hazar di ruang kerja.
“Selamat sore Tuan” Sapa keduanya saat Hazar datang.
Hazar langsung duduk di sofa, Pak Naf dan Karin pun ikut duduk setelahnya.
“Karin kau tinggallah di sini selama aku pergi, dan urus segala keperluan istriku”
“Baik Tuan”
“Kalau tidak ada pekerjaan yang terlalu penting di kantor, kau cukup bekerja dari sini saja” Lanjut Hazar.
“Baik Tuan”
Hazar keluar kota saat ini untuk mengurus masalah perusahaan Kakeknya dan di temani oleh Pak Naf, selaku sekretarisnya di perusahaan Kakeknya. Dan menyerahkan urusan rumah dan kantornya kepada Karin, sekretarisnya di perusahaan yang ia rintis sendiri.
Sebenarnya Hazar sangat berat untuk meninggalkan rumah saat ini, namun masalah yang dihadapi oleh perusahaan Kakeknya tidak dapat ia undur lagi harus segera di bereskan. Dan meninggalkan Karin di sisi istrinya adalah pilihan yang bijak, karna Karin adalah orang yang sangat perfect dalam hal pekerjaan.
“Dan mintalah Bibi pengasuh istriku untuk tidur di kamar atas, Alin pasti akan mencarinya saat bangun”
“Baik Tuan”
***
“Bibi!” Suara Alin terdengar lirih. Dia langsung mendapati wajah Bibi Fatma saat ia membuka matanya. Bibi Fatma duduk di lantai di samping ranjang dengan kedua tangan yang menggenggam erat tangan Alin.
“Nona!” Seru Bibi Fatma riang, ia membelai pipi Alin dengan lembut “Apa perut Nona masih sakit?” Bibi Fatma beralih menyentuh perut Alin.
Alin menggeleng “Tidak sakit” Jawabnya lirih.
__ADS_1
“Apa Nona membutuhkan sesuatu? Nona ingin makan sesuatu? Nona ingin makan apa? Biar Bibi buatkan!” Tanya Bibi Fatma.
Alin kembali menggeleng “Aku haus Bibi”
“Oh haus! Sebentar saya ambilkan Nona” Bibi Fatma berdiri mengambil air minum yang sudah di sediakan di atas meja dekat sofa.
“Bagaimana Bibi bisa kembali lagi kesini?” Tanya Alin setelah dia duduk dan minum.
“Bibi tidak pernah pergi dari sini Nona. Tuan Hazar hanya memindahkan kamar Bibi ke lantai bawah” Jawab Bibi Fatma, kemudian duduk di sisi ranjang di samping Alin. Meraih tangan Alin dan menggenggamnya “Tuan Hazar sangat cemas melihat Nona pingsan, dia terlihat sangat mengkhawatirkan Nona” Bibi Fatma menatap dalam mata Alin “Tuan Hazar tidak sama seperti Tuan Haris dan Tuan Besar Kakek Nona. Dia sangat berbeda”
“Bibi lihat sendiri bagaimana dia memperlakukan aku, beda dari mananya!?” Suara Alin terdengar lebih keras. Dia membuang muka tidak mau menatap Bibi Fatma.
Bibi Fatma menghela napas “Tuan Hazar memindahkan kamar saya, agar Nona lebih mudah memanggil saya saat Nona membutuhkan sesuatu. Bukankah ini tandanya Tuan Hazar sangat peduli pada Nona. bahkan Tuan Hazar sudah mengizinkan Nona kembali bekerja. Dia tidak lagi mengekang Nona, Nona bisa kembali bebas beraktivitas seperti biasanya” Ujar Bibi Fatma.
“Cih! Peduli kata Bibi. Dia memindahkan kamar Bibi ke rumah utama agar dia lebih mudah mengawasi aku” Pada suara Alin masih terdengar nada kebencian. Alin menatap Bibi Fatma “Dan masalah kembali bekerja mungkin dia memang sudah tidak mau lagi memberiku uang” Lirih Alin.
Bibi Fatma dibuat terkekeh mendengar kalimat terakhir Alin, apalagi saat melihat raut wajah Nonanya yang sendu karena menyadari kebangkrutanya “Nona takut jika Tuan Hazar tidak lagi memberi Nona uang?” Tanya Bibi Fatma.
“Hahaha...” Tawa Bibi Fatma kembali pecah “Lalu apa yang akan Nona lakukan sekarang? Gaji dokter tidak akan cukup untuk menghidupi kita bertiga!” Bibi Fatma mengulum senyumnya menggelengkan kepala. Ternyata Nona kecilnya belum cukup dewasa.
“Aku akan mengadukan Tante Amel pada Kakek, Kakek pasti tidak tahu kalau kartu itu tidak ada padaku lagi!” Alin berseru riang.
Karna dia sudah menemukan jalan keluar tentang cara mendapatkan kembali kartunya.
“Kalau Nona meminta kartu itu pada Kakek Nona, Tuan David dan Nyonya Amel pasti akan menertawakan Nona” Bibi Fatma berdehem “Apa suamimu tidak punya uang untuk menafkahimu lagi? Atau dia sudah mulai mengabaikanmu!” Bibi Fatma meniru cara bicara Tante Amel.
Alin mengerutkan wajahnya sedih, yang dikatakan oleh Bibi Fatma barusan ada benarnya juga. Harga dirinya di pertaruhkan di sini.
“Aku akan giat bekerja agar bisa menghasilkan banyak uang” Alin menyentuh tangan Bibi Fatma “Bibi tenang saja, aku pasti akan mendapatkan uang yang banyak!” Alin berseru yakin kepalanya mengangguk-angguk “Sekarang aku akan beristirahat, aku harus bangun pagi-pagi untuk mencari uang” Alin kembali berbaring “Bibi pergilah ke kamar Bibi, Bibi juga harus beristirahat”
“Baik Nona” Bibi Fatma melangkah keluar “Selamat beristirahat Nona” Ucap Bibi Fatma sebelum menutup pintu.
__ADS_1
Setelah pintu di tutup Alin kembali bangkit, berjalan agak tergesa ke arah sofa “Apa Hazar sudah mengambil kartu itu” Gumamnya sambil mencari-cari di sekitar sofa tempat ia melemparkan kartu pada Hazar “Heh, katanya peduli! Tapi kartu itu diambilnya juga” Alin merutu sebab tidak menemukan benda yang dia cari. Dengan langkah gontainya Alin kembali ke atas kasur.
Setelah kepergian Bibi Fatma dari kamarnya Alin tak bisa tertidur lagi, sebab dia harus memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa memiliki satu saja dari empat kartu Magic yang pernah di pegangnya. Akhirnya Alin pun memilih sekretaris Jon sebagai jalan pintas utama.
“Selamat pagi Nona!” Sapa Bibi Yona dan Karin. Saat Alin telah bersiap hendak berangkat kerja.
“Pagi Bibi, pagi Mbak Karin” Alin hendak melangkah ke arah pintu.
“Nona sarapan Anda sudah disiapkan oleh pelayan dan Bibi Fatma” Ujar Karin, mengikuti langkah Alin yang hampir mencapai pintu.
“Aku akan sarapan di rumah sakit”
“Sebaiknya Anda sarapan di rumah saja Nona, ini perintah Tuan Hazar” Ujar Karin.
“Jika aku menolak, apa dia akan menceraikanku?” Alin menatap Karin “Jika iya, aku akan sarapan di rumah sakit saja” Alin melangkah kan kakinya hendak keluar.
“Nona lebih baik Anda sarapan di rumah saja. Bibi sudah menyiapkan makanan kesukaan Nona!” Bibi Fatma yang baru muncul dari belakang langsung menarik tangan Alin “Nona sekarang lagi tidak punya uang, mau bayar pake apa sarapan Nona nanti?” Bisik Bibi Fatma.
Alin mendengus, membiarkan Bibi Fatma menyeretnya ke ruang makan.
“Apa aku harus menunggu dia dulu?” Tanya Alin, ia tidak mendapati Hazar di ruang makan.
“Anda boleh sarapan sekarang Nona” Ujar Karin.
Alin mengerutkan keningnya “Apa Mbak Karin yakin! Bagaimana kalau dia menganggapku lancang karna telah berani mengacaukan sarapannya”
“Apa maksud Anda Tuan Hazar Nona?”
“Ya! Siapa lagi”
“Tuan Hazar sekarang sedang keluar kota Nona”
__ADS_1
“Keluar kota! Lalu mengapa kalian memaksaku sarapan di sini sekarang!?” Alin sudah kembali berdiri.