
Alin saat itu sedang bersantai di ruangan yang disediakan oleh dokter Rio khusus untunnya. Pada awalnya Alin sempat menolak diperlakukan khusus oleh seniornya, tapi tidak ada yang bisa dia lakuan lagi. Semua dokter dan perawat tidak ada yang berani mendekatinya, mereka selalu berusaha menjaga jarak dari Alin. Mereka selalu merasa tidak pantas untuk berteman dengan anak pimpinan mereka. Kecuali Wira.
Tok!... Tok!...
“Nona Ini saya Qori!” Terdengar seruan dari luar.
“Masuklah.”
“Selamat siang Nona.” Sapa dokter Qori, kepalanya sudah tertunduk sejak memasuki ruangan Alin.
“Duduklah!”
“Oh kamu lagi ada tamu?” Wira muncul dari balik pintu.
“Masuklah! Tidak apa-apa.” ujar Alin saat Wira hendak kembali menutup pintu.
Wira lebih memilih duduk di meja kerja Alin, ketimbang bergabung duduk di sofa dengan Alin dan tamunya.
“Ada apa kau kemari?” tanya Alin pada dokter Qori.
“Saya ingin menanyakan tentang jadwal kunjungan Nona ke bagian kandungan.” ujar dokter Qori ragu. Dia masih tertunduk dengan kedua telapak tangannya masih saling meremas karena gugup.
Alin tampak mengerutkan keningnya. “Apa kau lupa tentang surat perjanjian kita? Apa perlu aku copykan surat itu untukmu?” Alin menatap tak suka pada dokter Qori.
“Tapi... Nona!” Dokter Qori menegakkan kepalanya menatap wajah Alin. Bola matanya tampak gemetar ketakutan. “Tuan Besar kemarin memperingati saya untuk merawat Nona dengan baik, dan Tuan Haris meminta saya untuk melaporkan hasil pemeriksaan pertama Anda Nona.”
Kejadian kemarin masih terekam jelas oleh dokter Qori. Dimana dia diminta untuk menghadap ke ruang pimpinan. Dari awal memasuki ruangan itu dia sudah diintimidasi oleh tatapan garang Kakek Alin, kemudian disertai dengan caci-maki dan disudahi dengan ancaman. Saat itu rasanya dia akan sangat berterimakasih jika saja tiba-tiba ada pembunuh yang datang dan menikam jantungnya saat itu juga. Dia akan memilih mati dalam kedamaian dari pada harus hidup dalam ancaman seperti yang di ucapkan oleh Kakek tua itu.
“Apa kau lupa! Kau bekerja untukku bukan untuk Papa dan Kakekku. Apa kau sudah lupa secepat ini!” seru Alin geram.
“Tapi Nona!” Dokter Qori langsung merosot dari tempat duduknya. Dia bersimpuh duduk dilantai, dengan deraian air mata yang mulai bercucuran. “Pecat saja saya Nona. Saya mohon!”
Wira terlihat terkejut dengan kejadian di depan matanya itu. Dia beralih menatap Alin yang terlihat sangat marah sekarang. Namun dia tetap diam menyaksikan tanpa berkomentar.
Alin menghela napas dan menghembuskannya dengan kesal. “Kau serahkan saja rekam medik pasienmu yang lain. Ganti namanya menjadi namaku! Buat semuanya baik-baik saja.” ujar Alin.
“Tapi Nona. Saya tidak berani membohongi Kakek Anda.”
“Baiklah! aku akan mengunjungi ruanganmu pulang kerja nanti.”
“Baik Nona. Terimakasih Nona!”
“Ya ya! Pergilah sana.”
“Surat perjanjian apa yang kalian bicarakan tadi?” tanya Wira saat hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu.
“Bukan urusan lo!” sembur Alin, dia masih kesal sekarang. “ayo pergi! Gue harus makan makanan yang pedas-pedas saat ini. Biar ngga stres!” seru Alin kesal, kemudian berlalu keluar.
***
“Kamu mau langsung pulang?” tanya Wira saat melihat Alin telah siap dengan tas jinjing di tangannya.
“Ya! Memangnya mau kemana lagi?”
“Bukankah kamu ada janji dengan dokter tadi?”
“Oh ayolah Wira! Sejak kapan Lo jadi suka ikut campur dalam urusan orang lain!” Alin melenggang meninggalkan Wira di belakangnya. Entah mengapa dia sangat malas untuk melakukan segala hal yang sudah di atur oleh Kakeknya.
“Apa kamu tidak mengharapkan kehadiran seorang anak dalam pernikahanmu ini?” Wira menyusul langkah Alin.
__ADS_1
Alin menghentikan langkahnya, sambil berpangku tangan ia menatap Wira penuh sidik.
“Apa makan siang Lo tadi sudah diracuni seseorang?”
“Aku hanya kasihan dengan dokter tadi. Dia terlihat seperti terjebak antara kamu dan Kakekmu.” ujar Wira, dia mengalihkan matanya ke sembarang arah, tidak berani menatap wajah Alin.
“Pppfff...!” Alin terkekeh melihat tingkah Wira saat ini. “Lo suka... sama dokter Qori?” tanya Alin.
“Bukan! Aku hanya kasihan padanya.” Wira menatap Alin dengan tajam. Sekarang wajahnya terlihat serius, tidak ada kebohongan atau keraguan tergambar disana.
Seketika itu tawa Alin pun terhenti. “Tidak ada yang perlu dikasihankan. Dia akan baik-baik saja.”
“Tapi, dia yang akan disalahkan, jika terjadi sesuatu pada kamu dan calon anakmu!”
“Gue baik-baik saja! Dan tentang calon anak, Gue bahkan belum hamil. Kalaupun terjadi sesuatu dengan Gue dikemudian hari, Gue yang akan di buang... bukan dokter Qori.” Alin kembali melanjutkan langkahnya.
“Maksud kamu apa?!” Wira menahan tangan Alin.
“Apa Lo belum tahu... arti pernikahan dalam keluarga orang kaya?” Alin menghela napas. Kemudian melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Wira dengan kebingungannya.
*
Tiga hari sudah berlalu sejak kepergian Hazar keluar kota. Selama itu pula Alin tidak pernah mendengar kabar tentang Hazar, dia juga tidak terlalu peduli sebenarnya. Tapi, hari ini adalah pengecualian. Karna hari ini adalah hari ulang tahunnya. Alin baru saja diberitahu oleh Sekretaris Jon untuk langsung bersiap sepulangnya dia dari rumah sakit, karna acara ulang tahunnya akan tetap dirayakan di rumah Kakeknya. Sudah berkali-kali Alin menghubungi nomer Hazar, tapi nomer suaminya itu selalu diluar jangkauan.
PRENKK...!!!
Alin melempar ponselnya dengan kesal, hingga benda pipih itu bercerai berai dilantai. Alin mengepalkan tangannya dengan kuat, matanya terlihat sudah berkaca-kaca.
Alin keluar dari ruangannya dengan tergesa-gesa. “Apa kalian melihat dokter Wira?” tanyanya pada seorang perawat di IGD.
“Dokter Wira sedang berada di ruang obat Nona.”
“Wira!” Alin berteriak.
“Ada apa? Mengapa kamu berteriak.”
Alin langsung menghampiri Wira. “Lo ikut gue saat pulang nanti!”
“Kemana?”
“Ke acara ulang tahun gue... Tapi, kita harus pergi sekarang.” Alin langsung menarik tangan Wira keluar dari ruangan itu. Perawat yang ada disana hanya diam menyaksikan.
“Sekarang lagi jam kerja! Kita mau kemana memangnya?” tanya Wira heran, sekarang Alin telah menyeretnya keluar dari rumah sakit.
“Dimana mobil lo?”
“Itu!” Wira menunjuk mobilnya yang terparkir di halaman rumah sakit.
“Nona!...” Bobi menghampiri Alin dan Wira. “Anda mau pulang sekarang?”
“Tidak! Aku akan pergi sebentar.” ujar Alin.
“Akan saya siapkan mobil Anda Nona.”
Alin menghela napas dan menghembuskannya dengan kesal. Dengan adanya Bobi saat ini membuat rasa kesalnya pada Hazar makin bertambah.
“Cepatlah siapkan! Kau tidak lihat... aku sedang buru-buru sekarang!” hardik Alin.
“Memangnya kita mau kemana sekarang?” tanya Wira bingung.
__ADS_1
“Lo juga...diamlah! jangan banyak omong!” sembur Alin.
Wira pun diam, dia tidak berkomentar lagi meski tangannya yang digenggam Alin terasa agak nyeri. Karna, Alin semakin mengencangkan genggamannya disana.
*
“Mengapa kita kesini?” tanya Wira, saat mobil yang dikendarai Bobi telah terparkir di depan sebuah butik.
“Untuk membeli bahan bangunan.” Ketus Alin.
“Cepat keluar!”
“Selamat datang Tuan, Nona!” sambut seorang pegawai butik. “Ada yang bisa Kami bantu Tuan, Nona?”
“Aku sedang mencari sebuah gaun untuk perayaan ulang tahunku nanti malam.” ujar Alin.
“Mari saya antar Anda untuk melihat gaun koleksi kami Nona.”
“Lo... tunggu gue disini!” Alin menarik Wira memaksanya untuk duduk di sofa di tengah ruangan itu.
“Apa kalian tidak memiliki yang lain dari ini?” tannya Alin. Karna gaun yang dia lihat sekarang tidak ada yang sesuai dengan keinginannya.
“Gaun seperti apa yang Anda cari Nona?”
“Gaun yang bisa membuatku menjadi pusat perhatian. Harus elegan dan seksi tentunya.” ujar Alin.
“Silakan Anda duduk dulu Nona. Akan saya siapkan gaun Anda.”
“Tolong panggilkan temanku tadi.”
“Baik Nona.”
“Siapkan juga pakaian untuknya.”
“Baik Nona.”
***
“Untuk apa aku mencoba pakaian ini?” Wira terlihat enggan mencoba pakaian yang disodorkan Alin padanya.
“Sudah coba saja! Apa lo mau gue yang membantu lo berganti pakaian?”
Dengan malasnya Wira pun terpaksa menurut.
“Hmmm..... ngga cocok!” Alin menilai penampilan Wira, saat Wira telah keluar dari ruang pas dengan setelan jas pilihannya tadi. “Coba yang ini!” Alin kembali menyodorkan setelan yang lainnya pada Wira.
“Ganti!”
“Ganti!”
“Ganti!”
Kejadian yang serupa terus terulang, Alin selalu meminta Wira untuk mengganti pakaiannya. Karna tidak ada yang cocok menurutnya. Hingga Wira pun menyerah dan tidak mau lagi mencoba pakaian apa pun itu.
“Aku sudah capek, dan tidak mau lagi! Aku akan menunggu kamu di luar.” Wira langsung keluar dari ruangan itu.
Alin hanya mengerjapkan matanya melihat kepergian Wira dari sana.
“Jadi bagai mana ini Nona?” tanya pegawai butik, yang masih memegang beberapa setel pakaian yang harus di coba Wira.
__ADS_1
“Aku ambil setelan pertama yang dicobanya tadi saja!” ujar Alin. Kemudian melenggang keluar menyusul Wira.