Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 68


__ADS_3

“Arrgghh...!” Hazar mengacak-acak rambutnya sendiri. Sudah berkali-kali ia menghubungi nomer Papa Adi dan Papa Haris, tapi nomer keduanya masih di luar jangkauan.


“Kau! Jaga istriku baik-baik, jangan sampai dia keluar dari ruangan ini sebelum aku balik, mengerti!”


Melepaskan para preman yang sudah hampir mencelakai istrinya tentu itu bukan hal yang paling diinginkan Hazar. Keempat preman itu harus ia habisi dengan tangannya sendiri, makanya dia tidak melaporkan kejadian ini pada polisi. Tapi mengapa Papa Adi dan Papa mertuanya malah mengusir seluruh anak buahnya dari gudang penyekapan? Tanpa memikirkan kondisi kesehatan tubuhnya sendiri Hazar pun langsung hendak ke vila malam itu juga.


“Baik, Tuan.”


“Ingat! Jangan sampai dia keluar dari ruangan ini, apa pun yang terjadi!” kecam Hazar terakhir kali sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan ruang rawatannya.


Sesaat setelah mobil yang ditumpanginya meninggalkan rumah sakit, Hazar langsung membuang armsling yang bertengger di pundaknya. Selama dalam perjalanan ia masih mencoba menghubungi nomer Papa Adi dan Papa Haris.


***


Mengekspresikan bentuk sebuah cinta, kasih, dan sayang pada setiap orang tentu berbeda. Dengan menjaganya, membuatnya tak kekurangan satu apa pun, membahagiakannya, menjamin masa depannya, bahkan ada pula yang mau mengorbankan hidup mereka hanya untuk orang-orang yang mereka kasihi hidup denga bahagia.


Begitu pun dengan cinta kasih seorang ayah terhadap putrinya.


Haris, dulu dia adalah anak pembangkang terhadap Kakek Setyo. Tak pernah sekali pun perkataan Kakek Setyo yang mau didengarnya. Ia benar-benar tidak bisa dikendalikan.


Hingga kelemahannya muncul saat melihat bayi kecilnya dan Diana dirampas paksa oleh Kakek Setyo. Sejak saat itu ia pun jadi penurut dan selalu mau mendengarkan perkataan Kakek Setyo, selama keselamatan putrinya terjamin. Mulai dari tinggal di rumah papanya, melibatkan diri di Yayasan keluarga, dan menjadi putra kebanggaan bagi ayah yang sejak dulu dibencinya. Semua itu dilakukannya demi keselamatan Alin, anak yang sangat dicintainya.


Melihat putri kecilnya yang tumbuh menjadi anak yang manis dan manja. Itu membuat Haris merasa khawatir dan ketakutan, ia menginginkan putrinya tumbuh menjadi anak yang kuat dan mandiri. Jadilah ia mendidik putri kecilnya dengan caranya sendiri. Ia pun terpaksa harus bersikap tegas dan keras terhadap putri kecilnya. Dan itu berhasil membuat putrinya menjadi wanita yang kuat, yang takkan pernah bisa dikendalikan oleh siapa pun. Meski pun berisiko putrinya itu akan membencinya untuk selamanya.


Perasaan Haris sangat kacau saat mendapatkan notifikasi darurat dari Tami. Yang menandakan kalau keadaan putrinya sedang tidak baik-baik saja. Beruntung saat itu ia sedang bersama dengan besannya, jadi Haris tak sempat kehilangan akal. Saat itu juga ia dan besannya terbang ke vila tempat di mana putrinya berada. Perasaannya masih belum lega saat mendapat kabar bahwa putrinya baik-baik saja, ada Hazar di sana yang menjaga putrinya, meski hanya mengalami luka ringan, dan hanya nyaris dilecehkan oleh empat orang preman.


DAM!!! Melecehkan putrinya?


Meskipun hanya nyaris. Belum sempat terjadi. Tetap saja berita itu membuatnya gelap mata, darahnya terasa mendidih dan siap diledakkan saat itu juga. Anak yang sudah dibesarkannya dengan sepenuh hati, susah payah ia menjaga dan melindungi putri kecilnya hingga sebesar ini. Dengan gampangnya keempat kampret itu ingin melecehkan putrinya yang berharga! Menguliti mereka hidup-hidup juga tak akan bisa menghapus rasa marah Haris sekarang.


“Di mana preman itu sekarang?” geram Haris. Saat ini dia dan Adi masih berada di udara, di dalam helikopter.


“Di gudang vila tempat Alin menginap. Kita ke rumah sakit sekarang, Alin dan Hazar ada di sana.” Jawab Adi.


“Tidak!” jawab Haris cepat. “Kita langsung ke vila!”


Adi hanya bisa mengangguk sambil menatap bingung, tapi tetap meminta si pilot merubah tujuan mereka.


*


“Pergi kalian semua!” geram Haris saat sampai di depan gudang. Ia mengusir semua anak buah Hazar yang berjaga di sekitar vila.

__ADS_1


Rafi dan kawanannya terlihat kebingungan, terlihat enggan meninggalkan tawanannya.


Empat orang perampok tadi tengah terikat di kursi kayu di tengah-tengah gudang yang pengap dan berdebu. Bentuk wajah mereka sudah tak berbentuk, hidung dan mulut mereka sudah mengeluarkan darah.


“Pergilah!” Akhirnya Adi ikut bersuara. “Aku yang akan bertanggung jawab.” Lanjut Adi meyakinkan Rafi dan kawanannya.


Belum sempat Rafi dan kawanannya menutup pintu gudang.


BUG! BUG! PRENKK! PRENKK!


Suara gaduh langsung terdengar disertai dengan suara rintihan empat kawanan preman.


Adi sontak terbelalak melihat pemandangan di depan matanya. Bagaimana bisa Haris si dokter ramah dan penuh kelembutan melabrak keempat preman tanpa ampun seperti orang kerasukan. Belum lepas rasa keterkejutan Adi, Haris telah berdiri di depannya dan kemudian melewatinya begitu saja keluar dari gudang.


Adi mengerjapkan matanya melihat empat preman yang tadinya berbaris rapi di atas kursi, sekarang berhamburan di lantai. Kursi-kursi kayu yang mereka duduki tadi pun sudah melebur tak berbentuk.


Haris kembali masuk ke dalam gudang beberapa menit setelahnya, ia masuk dengan membawa sebuah pisau bedah di tangan kanannya.


“Hei, Haris apa yang ingin kamu lakukan?” Kali ini Adi tidak diam, sebab Haris sudah terlihat kehilangan kendali, dan ingin bereaksi dengan pisau bedah di dalam gudang yang remang dan berdebu ini. Adi menahan tangan Kanan Haris dan bermaksud ingin mengambil alih pisau bedah.


“Jangan halangi aku!” Haris menatap tajam pada Adi. Napasnya masih terdengar memburu, terbuang dengan cepat dan pendek.


***


Hazar melewati kerumunan, berjalan menuju pintu utama vila. Ia terus celingukan mencari seseorang yang kiranya ia kenali, dan bisa bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi sekarang. Tapi setelah ia mencapai pintu vila, ia masih belum mengetahui situasi apa sebenarnya ini.


“Papa!”


Mata Papa Adi sontak terbelalak melihat kemunculan Hazar, “Uussst...!” Papa Adi menarik tangan Hazar untuk menjauh dari kerumunan. “Mengapa kau bisa di sini? Bukankah kau terluka cukup parah kata Bobi?” Papa Adi menelusuri tubuh Hazar dengan mata elangnya. “Kau tidak kenapa-napa?” tanya Papa Adi lagi.


Hazar mengerutkan keningnya melihat tingkah papanya yang berbicara berbisik-bisik seperti itu. “Papa kenapa? Dan mengapa di sini bisa banyak orang? Di mana preman-preman itu?” Bukannya menjawab Hazar malah mencerca papanya dengan banyak pertanyaan.


Papa Adi terdengar menghela napas panjang, dan menatap ke arahnya. “Itu ambulans diperuntukkan untuk mengangkut preman-preman itu. Mereka sudah dieksekusi oleh mertuamu.” Papa Adi terlihat geleng-geleng kepala. “Mereka berempat sudah mati suri. Mungkin, mati adalah cara terbaik untuk melepaskan kutukan mereka.”


Hazar semakin kebingungan mendengar ucapan papanya barusan. “Apa maksud Papa?”


“Kau!” Papa Adi menatap Hazar dengan penuh keseriusan. “Berhati-hatilah pada Alin. Dia juga seorang dokter sama seperti Haris. Dia juga bisa membuatmu mati suri.”


Semakin banyak Papa Adi berbicara, Hazar malah makin bingung dibuatnya. “Apa yang sedang Papa bicarakan? Berbicaralah yang jelas, memangnya kenapa dengan Papa Haris? Dan mengapa aku harus berhati-hati pada Alin?”


“Kau tidak lihat keempat preman itu sudah dilumpuhkan semua senjata mereka oleh Papa Mertuamu. Hanya dalam waktu beberapa menit mereka sudah kehilangan gairah dan semangat hidup. Mereka akan menjalani hari-hari mereka seperti zombi atau seperti kucing tanpa taring.” Papa Adi kembali menatap Hazar. “Haris sudah mengambil masa depan mereka.” Ujar Papa Adi lirih. Papa Adi kembali menghela napas. “Mereka berempat sekarang impoten.”

__ADS_1


Mendengar ucapan terakhir papanya, Hazar baru mengerti. Ternyata Papa Haris sudah membalaskan perbuatan keempat preman itu. Balas dendamnya sudah tersosialisasi dengan baik dan benar oleh mertuanya. Ternyata yang dikhawatirkannya tadi tak terjadi. Tapi mengapa ekspresi papanya malah murung seperti ini?


Hazar menatap papanya. “Lalu apa yang Papa cemaskan seperti ini?”


“Kau tidak takut? Haris bisa melumpuh senjata keempat preman itu hanya dalam hitungan menit! Berarti istrimu juga bisa berbuat seperti itu terhadapmu!”


Hazar menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap tidak percaya pada papanya. Bagaimana bisa papanya ini berpikiran buruk terhadap Alin.


“Haris melakukan semuanya di depan mata Papa, Hazar. Papa bahkan lihat sendiri dengan mudahnya dia menancapkan pisau bedah di perut bawah para preman itu! Dan saat Papa bertanya apa tujuannya?” Papa Adi membulatkan matanya menatap Hazar. “Dengan midahnya dia bilang, ini balasan karna mereka sudah berani melecehkan putriku!” Papa Adi menirukan suara Papa Haris. “Kamu juga sedang dalam bahaya sekarang. Papa dengar dulu kau sering mengurung Alin. Bagaimana kalau Alin mengadukan ini pada papanya?”


Hazar menghela napas jengah, Papa Adi terlihat sangat menyebalkan di matanya sekarang.


“Hazar!”


Mata Papa Adi sontak terbelalak mendengar suara Papa Haris yang memanggil nama Hazar.


“Mengapa kamu bisa di sini?”


“Papa!” Berbeda dengan ekspresi Papa Adi, Hazar malah terlihat santai dan tenang saja. Ia bahkan menyongsong langkah Papa Mertuanya itu.


“Kamu baik-baik saja?”


“Aku baik, Pa.”


Hazar terkejut, karna tiba-tiba saja Papa Haris memeluknya. “Terimakasih! kamu sudah menyelamatkan Alin tadi. Papa tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Alin jika kamu tidak ada di sana.” Papa Haris menepuk punggung Hazar. Ia sangat berterimakasih terhadap menantunya ini.


“AaUU...!” Hazar sedikit mengaduh kesakitan karna lengannya yang terluka terimpit oleh dekapan Papa Haris.


Papa Adi tidak tinggal diam, dia langsung menghampiri Hazar. “Kamu tidak kenapa-napa?” Papa Adi menarik Hazar untuk sedikit menjauh dari Papa Haris. Traumanya terhadap Papa Haris masih terasa pekat dan kental, ia sangat menghawatirkan keselamatan Hazar sekarang.


Hazar dan Papa Haris menatap penuh heran pada perubahan sikap Papa Adi.






__ADS_1


__ADS_2