Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 41


__ADS_3

“Ayo kita pulang!” seru Alin.


“Mengapa kamu tidak bawa apa-apa?” tanya Wira bingung, sebab Alin hanya melenggang keluar dari ruangan tanpa membawa apa pun.


“Pakaian kita akan di kirim langsung ke rumah Kakek.” jawab Alin.


“Kita! Apa punyaku juga termasuk disana?”


“Tentu!”


Wira langsung bangkit menghampiri kasir.


“Lo mau ngapain?” Alin menyusul langkah Wira.


“Bayar.”


“Sudah gue bayar!” ujar Alin.


Wira tetap melanjutkan langkahnya. “Mabak saya bayar setelan pria yang dipilihnya tadi!” ujar Wira pada Si Mbak kasir.


“Sudah di bayar sama Nonanya Tuan.”


“Uang yang tadi untuk Mbak saja, dan yang ini untuk membayar pakaian tadi!” Wira mengacungkan kartunya pada Si Mbak kasir.


“Ckckck...” Alin masih saja


menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sok keren banget lo! Tapi mengapa ngga sekalian lo bayarin gaun gue?” tanya Alin.


“Gaun kamu bukan urusanku.” Wira berlalu masuk ke dalam mobil.


“Cih!”


*


Sore itu Alin berangkat bersama Wira menuju rumah Kakeknya. Mereka langsung menuju kesana dari rumah sakit. Masih Bobi yang mengantarkan mereka.


Alin begitu terkesima melihat dekorasi ruang tengah rumah Kakeknya saat ini. Ruangan itu telah disulap menjadi ruang pesta yang begitu indah dan serba mewah, terlihat lebih meriah daripada saat perayaan ulang tahun David yang terdahulu.


“Selamat sore Nona!” sapa Bibi Ella.


“Sore Bibi.” Alin membalas sapaan Bibi Ella.


“Bibi sehat?”


“Saya baik-baik saja Nona. Nona terlihat lebih cantik sekarang.” ujar Bibi Ella.

__ADS_1


“Oh ya!” Alin terlihat senyum-senyum masam sambil menangkup kedua pipinya.


“Gaun Nona dan pakaian Tuan Hazar sudah saya siapkan di kamar.”


“Terimakasih Bibi. Tapi setelan di kamarku itu bukan milik Hazar. Tapi milik temanku. Oh ya tolong Bibi siapkan kamar tamu untuknya!” Alin menunjuk Wira yang berdiri di sampingnya.


Bibi Ella terlihat bingung mendengar ucapan Alin barusan. Tapi, dia tetap menjawab Alin. “Baik Nona.”


*


Alin sedang bersiap hendak tidur barang sejenak menjelang acara ulang tahunnya malam nanti. Namun, baru saja dia memejamkan matanya pintu kamarnya di ketuk seseorang dari luar.


“Masuk!...” serunya malas. Kembali duduk di sisi ranjang.


“Nona... ada telepon dari Tuan Hazar!” ujar Bibi Ella. Menyerahkan sebuah ponsel pada Alin.


“Terimakasih Bibi. Apa ini ponsel Papa?”


“Iya Nona.”


“Biar aku yang mengembalikannya pada Papa.”


“Baik Nona.” Bibi Ella pun kembali keluar dari kamar Alin.


Alin berniat hendak kembali tidur. Ia terlebih dahulu mengunci pintu kamarnya. Agar tak ada seorang pun yang bisa mengganggu istirahatnya. Ia memiliki waktu sekitar tiga jam lagi sebelum acara sialan itu dimulai.


*


Alin sedang didandani oleh seorang MUA di kamarnya. Dilantai bawah para tamu undangan telah berdatangan. Suara alunan musik dari orkestra terdengar mendayu sampai ke kamar Alin.


Saat ini Alin memakai gaun hitam yang elegan dan seksi. Dipadu padankan dengan rambut yang disanggul agak tinggi ke belakang, dengan membiarkan beberapa bagian rambut depannya jatuh terjuntai dengan anggunnya.



Alin terlihat sangat memukau dengan gaun yang dikenakannya. Terbukti dari keterpanaan para tamu undangan yang menyaksikan kehadirannya di sana. Ia menuruni tangga dengan langkah anggunnya. Seulas senyum menawan tersemat di bibirnya sekarang.


Wira yang berada di antara tamu undangan terlihat tidak berkedip dari tadi. Ia seakan tersihir dengan kecantikan yang terpancar dari Alin malam ini.


Kedatangan Alin di sana langsung di sambut oleh Kakek dan Papanya. Kakek memperkenalkan Alin dengan beberapa sahabatnya. Alin hanya menanggapi itu dengan dingin. Dia hanya sesekali tersenyum dan mengangguk. Sangat tidak tertarik untuk menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh para orang tua disana.


Akhirnya Alin di izinkan oleh Papanya untuk keluar dari kerumunan teman-teman Kakeknya. Dia terlihat celingukan mencari seseorang.


“Lo lagi mencari suami lo?” David dan Amel menyeringai, menghampiri Alin. “Sepertinya suami lo ngga bakal datang malam ini!” lanjut David.


“Gue lagi ngga nungguin dia. Gu_”

__ADS_1


“Kamu disini!” Wira memotong kata-kata Alin.


“Kalian terlihat cocok bersama.” ujar Amel, menatap sinis pada Alin dan Wira.


“Terimakasih.” jawab Wira. Lalu dia menarik tangan Alin untuk menjauh dari Amel dan David.


“Mengapa lo berterima kasih sama dia?!” tanya Alin bingung. Tetap membiarkan Wira menyeret tangannya keluar dari kerumunan.


“Aku sudah lapar dari tadi.” Wira menarik kursi untuk diduduki Alin. “Tunggu disini biar aku ambil makanannya sebentar.”


Alin hanya mengangguk dan menurut duduk di kursi yang ditarik Wira tadi. Meja mereka terletak paling sudut, agak jauh dari kerumunan.


Tak lama kemudian Wira muncul dengan membawa dua piring Steik ditangannya.


“Makanlah!” ujar Wira, ia menyusul duduk di samping Alin.


“Terimakasih.”


Wira terdengar berkali-kali menghela napas. Setiap daging yang dipotongnya selalu melayang masuk ke mulut Alin. Hingga potongan terakhir pun juga melayang. Tidak ada sesuap pun yang masuk ke mulutnya. Wira menghempaskan garpu dan pisau di tangannya dengan geram.


Alin terjingkat kaget, saat garpu yang dihempaskan Wira mengeluarkan bunyi dentingan yang cukup nyaring.


“Mengapa... lo masih lapar?” tanya Alin dengan polosnya. “Nih! Makan aja punya gue, gue lagi ngga nafsu.” Alin menggeser piringnya mendekat pada Wira.


Wira terlihat menyipitkan matanya menatap Alin dengan keheranan, dan penuh dengan rasa ketidak percayaan. Wira menyandarkan punggungnya. Masih menatap pada Alin.


“Mengapa? Lo baru tahu kalo gue ini orang baik!” Alin mengerjap-ngerjapkan matanya dengan manja.


“Apa kamu tidak mau pergi ke toilet atau kemana pun?” tanya Wira. Ini adalah cara halusnya untuk menyuruh Alin pergi dari sana.


“Mengapa? Apa lo mau kentut?” tanya Alin tak mengerti, mengapa Wira tiba-tiba menyuruhnya untuk ke toilet. “Lo mau kentut... kalo iya lepasin aja disini... kata orang kalo kentutnya orang tampan tidak akan bau! Kita buktikan sekarang. Kalo kentut lo bau berarti lo tidak tampan. Kalo kentut lo tidak bau lo tetap tidak tampan. Jadi lepaskanlah!” Alin berkata yakin, dia bahkan sudah melipat kedua tangannya di atas meja. Menatap wajah Wira.


*


Terdengar suara keributan dari arah pintu. Namun Alin dan Wira tidak terlalu menanggapinya. Wira masih setia berada di samping Alin. Karna ia merasa kasihan dengan otak miring Alin. Jadi, dia memutuskan untuk tetap menemani wanita itu selama pesta berlangsung. Acara pemotongan kue ulang tahun belum dimulai, kata Kakek dia sedang menunggu kedatangan seseorang, jadi acara pemotongan kuenya di undur beberapa menit lagi.


Alin terkejut tiba-tiba seseorang menarik tangannya dengan kasar, hingga tubuhnya terhuyung ke arah si penarik.


“Kakak!” pekik Alin. Pergelangan tangannya yang di genggam Hazar terasa sangat nyeri.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2