Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 32


__ADS_3

“Apa Kak Hazar ingin mengajakku makan siang disini?” tanya Alin saat dia dan Karin telah sampai di tempat tujuan.


“Iya Nona.”


“Tentu dia mengajakku kesini untuk makan. Kan tidak mungkin dia mengajakku untuk tidur di restoran ini.” Ujar Alin, kemudian terkekeh sendiri.


Karin yang dapat mendengar ocehan Alin hanya diam, dia tidak berkomentar sedikit pun. Hanya bibirnya yang sedikit terkembang.


“Mengapa kau ada disini?” tanya Alin pada Bobi yang berdiri di pintu masuk restoran.


“Bukankah kau di perintahkan oleh Kak Hazar untuk menjemput Mama Wira?” lanjut Alin.


“Iya Nona, tamu Anda sudah menunggu di dalam. Mari saya Antar.”


Alin mengangguk, wajahnya tampak berbinar. Ternyata orang yang akan di temuinya adalah Mama Wira, bukan Hazar. Bobi memimpin jalan untuk Alin menuju ruangan dimana Mama Wira telah menunggunya.


“Silakan Nona!” Bobi membukakan pintu untuk Alin. “Tuan Hazar akan sampai sebentar lagi.” Ujar Bobi saat Alin hendak melangkah masuk.


“Dia juga kesini! Untuk apa?” Alin bertanya dengan suara yang agak keras saking terkejutnya dia, perihal Hazar yang juga akan datang kesana.


“Tuan akan makan siang bersama Anda dan tamu Anda Nona.” Karin yang menjawab, sebab Bobi terlihat masih bingung untuk menjawab Pertanyaan Alin.


“Iya, itu masalahnya Mbak Karin. Mengapa dia harus makan bersama Kami? Kan masih banyak restoran lainya.!” Alin tampak merengut tidak suka.


Bukan hanya Bobi, Karin pun juga ikut bingung ingin menjawab apa sekarang.


Alin menghela napas melangkah masuk ke dalam ruangan.


“Nak Alin!” Mama berdiri untuk menyambut kedatangan Alin.


“Mama!” Alin menghampiri Mama, Mencium pipi kanan dan kiri Mama. Kemudian langsung duduk di samping kursi yang diduduki oleh Mama tadi.


Mama mengerutkan keningnya. “Mengapa Nak Alin tampak tidak semangat seperti ini?” ujar Mama. Menyusul duduk di samping Alin.


“Hazar akan bergabung bersama kita nanti Mama.”


“Suaminya Nak Alin?”


“Iya Mama.” Alin kembali menghela napas.


“Bagus kalu begitu. Mama kan belum pernah bertemu dengannya.” Mama malah terlihat senang mendengar kedatangan Hazar.


“Mama pasti akan menyesal setelah ini.” Ujar Alin.


Di atas meja hanya ada tiga gelas dan satu teko air disana. Menu makan siang belum dihidangkan. Alin meraih gelas yang sudah terisi air putih. Meminumnya dengan kasar.


Terdengar suara pintu terbuka. Alin tidak mengetahui siapa yang datang sebab posisinya sekarang membelakangi pintu.


Mama mengalihkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Mama langsung berdiri saat mengetahui siapa yang datang. Alin masih duduk dengan nyamannya, tidak memedulikan siapa yang masuk.


Bobi langsung menarik kursi di depan Alin, mempersilahkan Hazar untuk duduk. Bobi menyusul berdiri di samping Karin saat Hazar telah duduk dengan nyamannya.


Hazar hanya memperhatikan Mama Wira sebentar, memberi isyarat untuk menyuruh Mama kembali duduk. Tidak ada sambutan keramahan saat itu.


Mama duduk dengan gerakan kaku. Karisma yang dipancarkan Hazar membuatnya merasa kecil, kepalanya langsung tertunduk, tidak berani menatap Hazar lebih lama.


Hazar semakin geram saat melihat pakaian yang Alin kenakan saat ini, mini dress tanpa lengan dan sangat pas di tubuh istrinya itu, sampai memperlihatkan setiap lekukan di tubuh istrinya itu.


Alin tersenyum tipis melihat tatapan tajam Hazar padanya. Sepertinya rencananya membuahkan hasil.


“Apa Mama sudah menyesal?” Alin berbisik pada Mama.


Mama tidak menyahut, masih diam dengan posisinya.

__ADS_1


“Apa makanannya masih lama?” Alin bertanya pada Karin yang berdiri tidak jauh di belakang Hazar. Ia masih mengabaikan Hazar yang menatapnya dengan tajam.


“Sebentar lagi makanannya akan datang Nona.”


“Pindah tempat dudukmu!” perintah Hazar. Ia semakin geram karna Alin masih mengabaikannya.


Mama semakin menciut saat mendengar suara bariton Hazar.


“Mengapa harus pindah?” Alin masih bersikap cuek.


Hazar tidak menjawab. Membuat Alin penasaran dan menatap pada Hazar. Alin menghela napas memejamkan singkat kedua matanya. Kalau sudah menatap mata Hazar hati akan gundah dengan mudahnya.


Alin berdecak, berdiri dan pindah duduk ke samping Hazar.


“Bobi! Kau tunggulah diliar!” perintah Hazar. Saat menyadari dress yang dikenakan Alin hanya menutupi sebagian pahanya.


“Baik Tuan.” Bobi langsung melangkah keluar.


Alin menyandarkan punggungnya, menyilangkan kakinya dengan nyaman. Hingga dress yang dikenakannya makin tersingkap ke atas.


Suasana di ruangan itu kembali mencekam. Mama sangat berharap waktu dengan cepat berlalu. Ia meremas kedua tangannya yang basah oleh keringat.


Pintu kembali terbuka Angel datang bersama beberapa pelayan membawa beberapa menu hidangan. Mata Alin langsung terbelalak, melihat hidangan makan siang yang terpampang di depanya.


“Wah Angel! Kau juga berbakat menjadi dukun. Lihatlah kau sangat tahu apa yang aku inginkan saat ini.” Alin mengacungkan jempolnya pada Angel.


“Tuan Hazar yang meminta saya menyiapkan ini Nona.” Jawab Angel dengan muka datarnya.


“Oh.”


Alin hanya ber oh dan tidak berkomentar lagi. Ia segera bersiap menyantap lobster di depannya. Namun gerakannya terhenti saat melihat Mama hanya diam tak bergeming.


“Mengapa Mama hanya diam? Mama tidak suka?” tanya Alin.


“Ck! Kakak tidak lihat. Mama sangat tidak nyaman dengan keberadaan Kakak disini. Bagaimana kalau Kakak pindah ruangan saja!” ujar Alin.


“Tidak Nak Alin!” pekik Mama. Wajahnya tampak panik sekarang. “Mama akan makan sekarang.”


Hazar tidak berkomentar. Rahangnya tampak semakin mengeras menahan geramnya saat ini.


“Turunkan kakimu!” perintah Hazar.


“Mengapa dengan kakiku?”


Hazar mempertajam tatapannya. Itu berhasil, kaki Alin menurun dengan sendirinya.


Alin sudah menghabiskan makanannya. Sementara Mama hanya menghabisi separuh. Itu pun Mama memaksakan perutnya untuk menerima makanan itu. Semua makanan yang terhidang di depannya sekarang terlihat seperti bongkahan batu.


“Mengapa tidak Mama habiskan? Apa tidak enak?” tanya Alin.


“Ini sangat enak Nak Alin. Mama hanya sudah kenyang saja, tadi sebelum berangkat Mama sudah makan di rumah.” Jawab Mama berbohong.


“Oh begitu! Karna Mama bilang ini enak akan aku bungkuskan untuk Mama bawa pulang.”


“Tidak usah Nak Alin.” Jawab Mama cepat.


“Angel, bisakah kau buatkan menu yang sama tiga porsi lagi? Dan tolong bungkuskan dengan baik.” Ujar Alin pada Angel yang terlihat sudah masam sekarang.


“Baik Nona.”


“Mengapa banyak sekali Nak Alin.” Mama merasa semakin tidak enak.


“Dua untuk Mama dan Wira, satunya lagi untuk Bibi Fatma.” Ujar Alin. Ternyata dia masih teringat dengan Bibi pengasuhnya itu.

__ADS_1


Karin menghampiri Mama Wira. “Mari ikut saya keluar sebentar Nyonya.”


Mama tidak bertanya mengapa. Dia langsung berdiri saat mendengar ajakan Karin. “Baik, Mari Buk.” Mama terlihat sangat bersemangat untuk keluar dari ruangan itu.


“Mbak Karin mau kemana?” Alin ikutan berdiri.


“Duduk!” perintah Hazar, dia sudah menahan tangan Alin.


Mama langsung keluar dengan tergesa, dia takut jika Alin akan bertanya atau memanggilnya, yang mana itu akan membuatnya semakin lama berada di ruangan terkutuk itu.


*


“Apa kau sudah puas!”


Hazar ikut berdiri, karna Alin bersikeras tidak mau duduk. Hazar menarik pinggang Alin hingga tidak ada lagi jarak antara mereka.


“Lepas!” Alin berusaha mendorong dada Hazar, namun itu sia-sia, Hazar bahkan tak bergeming dari pijakannya.


“Kau terlihat sangat bersenang-senang hari ini.” Hazar menguatkan dekapan tangannya pada pinggang Alin.


“Apa yang Kakak maksud?” Alin masih berusaha melepaskan diri. Ia sangat ketakutan saat ini. Genggaman tangan Hazar di pinggangnya terasa semakin mengencang.


“Dari mana kau dapatkan pakaian murahan ini!”


“Tentu aku beli. Tidak mungkin aku merampoknya dari butik. Kakak lepaskan!” Alin kembali menggeliat mencoba melepaskan dekapan tangan Hazar di pinggangnya.


“Tangan Kakak menyakitiku!” Seru Alin.


“Bukan sudah pernah aku bilang, bahwa tubuh ini sudah menjadi milikku! Mengapa masih kau pertontonkan untuk banyak orang!” Hazar menarik dagu Alin, hingga wajah istrinya itu terangkat dan dapat ia pandangi dengan leluasa. “kau mau aku membakar semua pakaianmu, hingga kau tidak perlu lagi berpakaian, dan kau akan aku kurung selamanya dikamar!” Hazar menarik salah satu sudut bibirnya.


“Memangnya apa yang salah dengan pakaianku ini? Bukankah ini terlihat bagus aku kenakan?”


“Akan semakin bagus jika kau lepaskan sekarang!”


Tangan Hazar yang semulanya berada di pinggang Alin bergerak merayapi bagian punggung Alin, dan berniat hendak membuka resleting dress yang berada di bagian punggung istrinya itu.


“Kakak! Aku tidak akan memakai baju ini lagi!” Alin menggigit bibir bawahnya. Ia merutuki dirinya sendiri. Mengapa dia begitu gampangnya di taklukan oleh Hazar. Nyalinya selalu menciut jika menghadapi suaminya itu.


Hazar terkekeh mendapati raut kesal Alin saat ini. “Kau sangat gampang dibuat takut, tapi kau selalu saja berulah.” Hazar menyeringai, melepaskan tubuh Alin dari dekapannya.


Alin langsung menjauh saat Hazar melepaskannya. Ia berbalik badan hendak melangkah keluar.


“Pakai ini!” Hazar melemparkan jas yang tadi dia kenakan pada Alin.


Tangan Alin gelagapan menangkap lemparan Hazar. “Ini bukan gayaku!” Alin merutuk, namun di pakainya juga jas Hazar yang terlihat kebesaran di badannya.


“Apa kau tidak bisa memakinya dengan baik!” Hazar kembali menjadi kesal saat melihat Alin hanya melampirkan saja jas itu ke bahunya.


Alin berdecak dengan malasnya di benahinya juga jas suaminya itu. Hazar merampas jas dari tangan Alin. “masukan tanganmu!” perintahnya.


Saat Hazar tengah mengancingkan jasnya yang sekarang dikenakan oleh istrinya itu. Pintu diketuk seseorang dari luar.


“Masuk!” perintah Hazar.


Karin muncul dari balik pintu, dengan selembar selimut tipis di tangannya.


“Ini Tuan!” Karin mengulurkan selimut yang dibawanya pada Hazar. Kemudian kembali keluar.


“Untuk apa ini?” Tanya Alin saat melihat Hazar mengembangkan selimut.


“Untuk menutupi kemilikanku!” ujar Hazar, kemudian melingkarkan kain selimut itu pada pinggang Alin dan menguncinya agar tidak terlepas.


“Kakak terlalu berlebihan.”

__ADS_1


Hazar segera menepis tangan Alin yang hendak melepaskan ikatan kain di pinggangnya.


__ADS_2