Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 37


__ADS_3

“Kau jangan keluar dari mobil! Tunggu aku disini.” Perintah Hazar. Saat mereka telah sampai di ATM. Saat ini istrinya itu hanya memakai kaos dan jaket miliknya, serta celana pendek yang nyaris tidak kelihatan karna tertutup oleh jaket yang kebesaran.


Alin yang sejak tadi memandangi ke luar jendela mobil masih tak menyahuti kata-kata Hazar. Menoleh pun ia enggan.


Hazar hanya bisa menghela napas, kemudian keluar dari mobil.


Tapi bukan Alin namanya jika ia tidak membuat ulah. Belum sampai satu menit Hazar pergi. Dia sudah keluar dari mobil, menghampiri gerobak pedagang sate. Padahal ia tidak memiliki uang sepeser pun sekarang.


“Satenya satu porsi ya pak!” ujar Alin pada pedagang sate. Sekarang ia sudah duduk dengan santainya di tenda pedagang sate, tidak jauh dari tempat Hazar parkir tadi.


Dari tempatnya duduk sekarang Alin dapat melihat Hazar dari kejauhan. Baru saja Hazar membuka pintu mobil, dia kembali menutupnya dengan kesal. Hazar terlihat memperhatikan sekitarnya, seperti mencari sesuatu. Alin sudah menduga siapa lagi yang dicari Hazar kalau bukan dirinya. Namun karna rasa kesalnya pada Hazar masih ada, Alin pun berniat ingin membalas suaminya itu. Alin menggeser tempat duduknya agar lebih tersembunyi, hingga Hazar akan sulit menemukannya.


Ponsel di saku jaket Alin bergetar tanda ada sebuah panggilan masuk, tapi dia hanya mengabaikannya, tidak berniat sedikit pun untuk mengangkat panggilan itu.


***


Hazar yang baru saja menarik uang dari ATM dengan segera kembali ke mobilnya. Khawatir jika Alin akan bosan menunggu lama di dalam mobil. Tapi, baru saja ia membuka pintu mobilnya, rasa geram kembali menggerogoti hatinya. Ya! Istrinya yang keras kepala itu sudah tidak ada lagi disana. Hazar menghembuskan napas dengan kasar, kembali menutup pintu mobilnya.


Hazar mencoba menghubungi nomer Alin. Namun istrinya itu kembali mengabaikan panggilan teleponnya. Karna sudah berusaha mencari Alin di sekitar parkiran, namun tidak bertemu juga. Hazar menanyakan keberadaan istrinya itu pada tukang parkir. Dan beruntung ia mendapatkan jawaban yang ia cari dari Si tukang parkir.


Dengan langkah lebarnya disertai dengan rasa kesalnya Hazar menghampiri tenda penjual sate, tempat dimana istri keras kepalanya itu berada.


“Kau!...” kata-kata Hazar menggantung di udara.


Hazar kembali menghembuskan napasnya dengan kasar, berusaha untuk menahan emosinya dan gejolak amarah di dadanya sekarang. Bagaimana tidak! Dua orang laki-laki hidung belang duduk tidak jauh dari istrinya itu, sekarang tengah menatap istrinya dengan intens.


Alin yang tahu dengan kedatangan Hazar masih memilih cuek, tetap melanjutkan makannya.


“Berdiri!” perintah Hazar. Rahangnya sudah mengeras menahan geram.


“Kakak tidak lihat! Aku sedang makan.” Jawab Alin dengan santainya.


“Kau mau berdiri sendiri atau aku seret!” geram Hazar.


Dua orang pelanggan laki-laki tadi langsung memilih pergi saat melihat amarah di mata Hazar yang sedang menatap tajam ke arah mereka.


Alin menghempaskan sendok di tangannya ke atas meja. Berdiri dengan kesal hingga bangku yang didudukinya terpelanting ke belakang. Kemudian melangkah keluar tenda dengan kesalnya.


Hazar meletakkan dua lembar uang pecahan seratus ribu ke atas meja. Kemudian pergi menyusul langkah Alin.


Saat telah duduk dibangku kemudi rasa kesal Hazar masih belum reda. Ditambah sikap uring-uringan Alin yang makin menjadi, Alin masih saja melihat ke luar jendela sedikit membelakanginya.


“Duduklah dengan benar!” ujar Hazar.


Alin masih tak bergeming dari posisinya.


“APA KAU TIDAK MENDENGARKU!...”


Hazar menyentakan sandaran bangku Alin, hingga sandaran bangku itu menjadi datar, membuat Alin langsung terbaring olehnya. Tidak sampai disitu kini Hazar telah menindih sebagian tubuh Alin. Hazar melayangkan tinjunya ke dinding mobil tepat di samping Alin. Napasnya terdengar memburu dan terbuang dengan kasar. Wajahnya tampak memerah dan mengaras.

__ADS_1


“Sebenarnya apa maumu!” geram Hazar, matanya menatap tajam pada Alin.


Alin terpaku, dia hanya diam mematung. Menatap ke dalam bola mata Hazar yang tepat berada di atasnya sekarang. Tidak ada rasa takut sedikit pun saat itu, walau pun bunyi pukulan Hazar tadi berdenging di telinganya.


Tangan Alin terangkat tanpa dia sadari. Menangkup kedua pipi Hazar. Dia dapat merasakan rahang Hazar yang mengeras. Napas Hazar yang terbuang dengan kasar masih terus menerpa wajahnya yang berada di bawah Hazar.


“A-aku hanya lapar...”


Jawaban itu lolos begitu saja dari mulut Alin.


Kemarahan Hazar langsung memudar. Seluruh otot dan persendiannya dibuat lumpuh saat mendengar jawaban polos istrinya itu. Hazar menghela napas, kemudian menjatuhkan kepalanya di bahu Alin.


Alin mengusap-usap punggung Hazar. Detak jantung Hazar yang tak beraturan pun terasa olehnya. Perlahan napas Hazar pun sudah mulai teratur, namun masih belum bangkit dari atas tubuhnya.


***


“Persiapkan dirimu!” Kakek melempar sebuah tiket ke atas meja, tepat di depan David. “Kau sudah aku daftarkan kuliah di luar negeri.” lanjut Kakek.


“Apa maksud Papa?” Pekik Amel, mukanya tampak cemas. “David akan tetap tinggal disini. Dia akan melanjutkan kuliahnya disini juga!” ujarnya.


“Dimana dia akan tinggal dan dimana dia akan melanjutkan kuliahnya. Itu bukan urusanmu!” bentak Kakek.


“Papa tidak akan bisa menyingkirkan David. Dia adalah satu-satunya pewaris yayasan Papa!” seru Amel menggebu.


“Dia bukan satu-satunya lagi. Jika Alin melahirkan cicit untukku, anaknya juga akan menjadi calon pewarisku!” Kakek tampak menyeringai licik. “dan anaknya juga akan menjadi pewaris Taesan Grup. Maka yayasanku akan semakin berkembang dan meluas.” lanjut Kakek terkekeh.


“Kemana dia! Mengapa dia tidak mengangkat teleponku!” Amel mondar mandir di samping ranjang, sambil menggigit ujung kukunya.


Pada panggilan ke lima Angel baru mengangkat telepon Amel.


“Halo!” Angel menjawab dengan ketus.


“Mengapa kau lama sekali mengangkat teleponmu? sembur Amel. Suaranya sudah bergetar ketakutan.


“Aku tadi sedang mandi. Ada apa kau meneleponku?”


“Apa kau sudah membuat Alin meminum obat itu?!”


“Dia sudah meminumnya tujuh kali. Memangnya kenapa?”


“Apa obatmu itu benar-benar manjur?” tanya Amel mendesak.


“Mana aku tahu! Apa kau juga mau meminumnya?”


“Tambahkan dosisnya. Buat dia benar-benar tidak bisa memiliki keturunan!” seru Amel geram.


“Mengapa suaramu seperti diburu hantu saja?” Angel merasa curiga.


“Pokoknya kau tambahkan saja dosisnya. Semakin banyak dia meminum obat itu akan semakin baik untuk kita. Dan kalau perlu buat semua orang cepat tahu kalau dia tidak bisa menghasilkan keturunan!”

__ADS_1


“Akan aku tambahkan saat dia pulang nanti.”


“Pulang? Memangnya dia kemana?”


“Mana aku tahu. Papaku saja tidak tahu kemana mereka pergi.” Kini suara Angel yang terdengar kesal.


“Papamu? Memangnya kenapa dengan Papamu?” tanya Amel bingung.


Angel menghela napas. “Papaku seharusnya adalah orang yang paling tahu dimana Hazar berada. Karna Papaku adalah Sekretarisnya.” jawab Angel malas.


“Terserahlah! Pokoknya buat anak sialan itu benar-benar tidak bisa menghasilkan keturunan!”


Amel langsung memutuskan panggilan telepon.


“Mama!”


David muncul dari balik pintu kamar. Dia langsung menghempaskan bokongnya ke atas kasur. Wajahnya tak kalah kusutnya dari wajah Mamanya. Amel menyusul duduk di samping David.


“Kamu tenang saja. Tidak lama lagi kamu akan diberi jabatan oleh Kakek tua itu.” Amel menyeringai. “dia pasti akan memperlakukanmu dengan baik, saat dia tahu bahwa Alin tidak akan bisa memberikannya cicit.”


“Tapi sebelum itu terjadi, aku sudah dikirim Kakek ke luar negeri Mama!” jawab David gusar.


Amel menghela napas. Dia juga sedang memikirkan bagai mana caranya anak kesayangannya itu tidak jadi di kirim ke luar negeri.


“Apa aku pura-pura sakit saja!” Ide konyol itu langsung muncul di kepala David.


“Papamu akan tahu, kalau kamu hanya pura-pura sakit.”


***


Setelah memutuskan panggilan telepon dari Amel, Angel keluar dari kamarnya, berniat hendak mengambil air minum ke dapur.


“Apa Papa masih tidak tahu kapan Tuan Hazar akan kembali?” tanya Angel pada Pak Naf (Papanya), yang saat itu sedang makan sendirian di meja makan.


“Kau berhentilah berharap pada Tuan Hazar.” Pak Naf meletakan sendok di tangannya ke atas meja. Menatap prihatin pada anak sematang wayangnya itu. “Tuan Hazar sangat mencintai Nona Alin. Kau hanya akan terluka jika masih berharap padanya.”


“Papa tahu apa! Apa Tuan Hazar sendiri yang bilang kalau dia mencintai wanita itu?” Angel terlihat tidak suka dengan ucapan Papanya tadi.


“Dia memang tidak memberitahu orang-orang secara langsung. Kau bisa lihat sendiri, bagaimana Tuan Hazar sangat perhatian pada Nona Alin.”


“Itu hanya Obsesi sesaat saja!”


“Tuan Hazar bukan orang yang seperti itu. Dia selalu konsisten dengan pilihannya. Dia sendiri yang meminta Nyonya Rosa untuk menjodohkannya dengan Nona Alin.” ujar Pak Naf.


Mata Angel langsung terbelalak mendengar ucapan Papanya barusan.


“Apa maksud Papa! Tuan Hazar sama sekali tidak tertarik untuk mengenal perempuan selama ini! Dari mana dia tahu tentang Alin kalau tidak Nyonya Rosa yang memaksanya!” Tangan Angel mengepal dengan kuat. Menatap marah pada Papanya. Kemudian pergi meninggalkan dapur.


Pak Naf hanya bisa menghela napas memandangi punggung Angel yang menghilang di balik dinding. Angel adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki sekarang. Istrinya sudah kabur dari rumah itu sejak dua puluh tahun yang lalu. Dari informasi yang dia dapatkan kalau istrinya itu kabur bersama laki-laki lain, meninggalkan dia dan Angel yang saat itu baru berusia sepuluh tahun.

__ADS_1


__ADS_2