Alin & Hazar

Alin & Hazar
88


__ADS_3

Mencekam. Keheningan yang tercipta di ruang makan terasa amat mencekam bagi Alin. Muka kaku dan datar Hazar seolah membekukan semua yang ada di ruangan itu. Sejak awal tadi tak ada yang bersuara di antara mereka.


Tadi Alin sempat hendak protes dengan pelayan yang menghidangkan menu sarapan. Mengapa bukan Bibi Fatma yang menyiapkan sarapannya? Namun itu hanya sebatas angannya saja. Ia tetap diam dan bungkam. Tak berani bersuara. Ternyata suaminya itu memang sedang marah sekarang.


Diamnya Hazar adalah bukti nyata bahwa kejadian kemarin bukanlah hanya mimpi semata.


Alin tertunduk, tak berani menatap wajah Hazar.Dengan gerakan kaku Alin terpaksa menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Getir dan pahit. Alin mengunyah makanannya dengan pelan, dan menelannya dengan susah payah. Alin hendak menghela napas panjang karna ia merasa sangat sesak sekarang. Namun itu tak berani dilakukannya. Ia sangat takut untuk bersuara sekarang.


Diamnya Kak Hazar lebih menakutkan dari apa pun.


Alin terlonjak kaget saat tiba-tiba saja Hazar berdiri, tanpa sadar ia malah ikutan berdiri meski saat itu ia sedang hendak menyuap sarapannya.


Tanpa kata Hazar langsung meninggalkan ruang makan.


Akhirnya Alin bisa bernapas lega. Ia kembali terduduk lemas dan menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Ini terlalu berat baginya. Mungkin akan lebih baik jika Hazar marah dengan memaki-makinya atau dengan memukulnya, itu akan terasa lebih baik dari pada harus didiamkan seperti saat ini.


*


Alin mendesah gelisah untuk yang kesekian kalinya. Ia benar-benar merasa risau sekarang. Tak ada satu hal pun yang bisa ia lakukan. Ia benar-benar sendiri. Tak ada satu orang pun yang bisa ia tanyai dan diajak bicara. Mama Rosa, Papa Adi, Kakek Tomi, bahkan Bibi Fatma pun juga ikut menghilang entah kemana. Dan yang terlebih membuatnya kesal adalah ponsel. Benda pipih miliknya itu masih belum juga dijumpainya.


Alin kembali berdecak kesal, ia sangat berharap untuk bisa tidur dengan tenang untuk mengistirahatkan pikirannya yang pusing, namun matanya masih enggan untuk tertidur. Meski sudah dua jam lebih ia berbaring di atas kasur sambil sesekali membolak balikan badannya untuk mencari posisi yang nyaman, semua itu percuma. Sebab ia masih terjaga hingga siang datang.


Dihukum dengan tidak diberi makan selama satu minggu, mungkin terasa lebih baik dari pada ia harus makan dengan suasa mencekam seperti sarapan tadi pagi.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu yang tiba-tiba, membuat Alin terlonjak kaget. Ia langsung duduk dan merapikan rambut dan pakaiannya.


Tunggu! Untuk apa ia berbuat seperti ini. Apa ia mengharapkan kalau Kak Hazarlah yang datang? Tidak-tidak! Jika itu Kak Hazar, mengapa harus ketuk-ketuk pintu segala.


“Masuk!” seru Alin malas. Ia kembali terduduk lemas di sisi ranjang.

__ADS_1


“Selamat siang, Nona!”


“Siang, Mbak Karin.” Alin memaksakan bibirnya untuk tersenyum. “Apa yang aku harapkan,” gumamnya dalam hati. Kecewa.


***


Mendapatkan kebebasan hidup ternyata tak seindah yang ia bayangkan. Ini adalah kali kedua. Pengalaman pertama kebebasan yang ia dapatkan adalah saat berhasil kabur dari Hazar dulu. Selama hampir satu minggu ia habiskan untuk hidup bebas di villa Mama Diana. Senang? Apa ia bahagia? Tidak! Ternyata semua tidak sama seperti yang ia bayangkan. Selama satu minggu ia mencoba menghibur diri. Memaksakan keadaan untuk bahagia. Melakukan semua hal yang menyenangkan. Keluyuran bebas sesuka hatinya, melakukan hal apa pun yang tidak pernah bisa ia lakukan selama ini. Tapi... tetap saja, semua terasa hampa.


Momen ketika ia mendapati Hazar di sampingnya saat ia bangun dari tidur, terasa bagai mimpi saat itu. Tiba-tiba hatinya menghangat. Kehampaan menghilang begitu saja, tergantikan oleh rasa suka cita. Hingga otak cerdasnya tak terpikirkan bagaimana bisa Hazar tahu alamat villa itu. Tak mau momen itu cepat berlalu ia pun berpura-pura hendak kembali memejamkan matanya. Namun semua buyar saat mendengar sapaan Hazar. Ternyata kala itu suaminya sudah bangun dan menyadari pergerakan matanya. Dan Ia terpaksa bersikap ketus saat itu. Karna, akan tidak lucu jika ia langsung menampakkan ekspresi bahagianya pada Hazar.


Sekarang ia kembali mendapatkan kebebasan yang ternyata tak mengenakan itu. Sejak tiga puluh menit yang lalu. Saat Karin memberitahunya tentang persetujuan cerai dari Hazar. Hazar yang akan menceraikannya saat setelah bayi mereka lahir besok. Sama seperti permintaannya pada pesan suara kemarin. Hazar bersedia mengabulkan permintaannya. Hazar juga telah menuruti semua keinginannya dalam pesan suara kemarin. Namun, mengapa seperti ini? Ia malah jadi kacau dan resah. Semua terasa salah, bukan seperti ini yang ia harapkan.


“Karna Tuan Hazar ingin memastikan bayinya baik-baik saja. Beliau meminta Nona, untuk tetap tinggal di rumah ini sampai melahirkan besok. Nona bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala. Tuan Hazar tidak akan melarang Anda untuk melakukan apa pun, selama itu tidak membahayakan kandungan , Anda.”


Kata-kata keramat itu telah berhasil mematikan jiwanya.


“Nona! Nona, kita telah sampai, Nona.”


Kening Alin berkerut saat mendapati tiga mobil hitam yang berjejer rapi di belakang mobilnya. Sekitar delapan orang laki-laki bertubuh kekar dan beberapa orang Dokter telah bersiap menyambutnya di teras rumah sakit. Meski merasa kurang nyaman dengan sambutan itu, Alin tetap diam. Ia sedang tidak bertenaga untuk berkomentar sekarang.


Sesampainya di depan sebuah ruangan yang tertera nama dr. Yuanita di salah satu sisi pintu, Alin pun berbalik badan. Rasanya ini harus ia dihentikan. “Apa kalian juga akan ikut masuk ke dalam?”


Eh! Para Dokter yang membuntuti langkah Alin pun saling pandang. Tidak tahu harus menjawab apa.


Alin beralih menatap Karin yang berdiri di sampingnya. “Bukankah ini terlalu berlebihan!” geram Alin menunjuk ke arah delapan orang laki-laki berseragam hitam.


“Maaf, Nona. Mereka adalah anggota kepolisian yang ditugaskan untuk menjaga Anda. Ini semua demi keselamatan Anda. Kakek dan Mama tiri Anda masih belum ditemukan sampai sekarang. Tuan Hazar hanya khawatir jika sewaktu-waktu mereka akan muncul dan mencelakai Anda, lagi.”


*


Usai memeriksa kandungannya Alin tidak langsung pulang. Ia meminta waktu pada Karin untuk membiarkannya beristirahat sebentar di ruang kerjanya.

__ADS_1


“Aku mau sendiri,” ujar Alin saat Karin hendak ikut serta masuk ke dalam ruang kerjanya.


“Baik, Nona. Saya akan menunggu Anda di luar.” Karin mengambil langkah mundur dan menutup pintu.


Alin menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Ia benar-benar merasa kacau. “Bukan seperti ini yang aku inginkan,” gumamnya.


Alin menghela napas panjang. Tangannya terangkat menyentuh dadanya yang terasa nyeri. Air mata Alin tiba-tiba berderai. “Sakit...” ratapnya parau. Alin duduk sambil memeluk kedua lututnya. Ia sedang berusaha untuk mencari kekuatan. Rasanya nyeri di dadanya kian menjadi-jadi seiring dengan tangisannya yang tak berkesudahan. Rasa nyeri ini bermula saat Karin menyampaikan pesan Hazar di kamar tadi. Tentang persetujuan cerai. Tangan Alin semakin erat memeluk lutut. Semakin ia mengingat kata-kata Karin. Semakin bertambah pula rasa nyeri di dadanya.


Setelah berhasil menguasai dirinya, setelah tangisnya mereda. Alin menyentuh perutnya yang masih datar. Ia tak membenci, tapi ia juga tak menyayangi janin ini. Ia masih tak yakin dengan perasaannya sendiri. Sebab ini tak pernah ada dalam bayangannya, dan tak pernah terpikir bahwa ia akan mengandung anak dari seorang Hazar. Laki-laki yang sama seperti Kakek dan Papa Haris.


Menggugurkan kandungan bukanlah hal yang sulit bagi Alin. Namun perasaan bersalahnya pada Kakek Tomi dan Mama Rosa, dan juga rasa ketidak tega an lah yang membuatnya menjanjikan akan melahirkan bayi ini dengan selamat. Akal sehatnya masih ada, yang membuatnya tak tega untuk membunuh sesuatu yang telah bernyawa.


Alin kembali mengingat kejadian di ruang Dokter Yuanita tadi.


“Usia kandungan Anda telah memasuki minggu kesembilan, Nona.”


Alin memejamkan matanya. Itu dua bulan yang lalu. Ternyata yang dikhawatirkannya pagi itu nyata terjadi. Pagi di villa Mama Diana.


Alin menatap layar komputer yang menampilkan gambar rahimnya. Seketika ada desiran halus yang menggetarkan jiwanya yang sedang resah. Gambar gumpalan yang tak jelas itu berhasil memporak porandakan perasaannya. Ia semakin tak mengerti dengan perasaannya saat ini. Namun satu perasaan yang meraja, yaitu rasa penyesalan.


Alin menatap sendu ke arah Karin yang terlihat fokus mendengarkan penjelasan Dokter Yuanita. Sekretaris suaminya itu terlihat sesekali mengangguk mengiyakan ucapan Dokter. Seharusnya Hazar yang duduk di sana! Alin menghela napas panjang. Sebenci inikah Hazar padanya? Hingga untuk menemaninya memeriksa kehamilan pun Hazar sudah tak sudi. Karna merasa jengah berada di sana, sementara Dokter dan Karin terlihat masih asik dengan layar komputer yang menampilkan hasil pemeriksaannya tadi. Ya, Karin harus memahami dan mengetahui sekecil apa pun keadaan kandungan Alin. Karna nanti sudah pasti ia akan melaporkan semuanya kepada Hazar.


“Aku ke bawah dulu!”


Ucapan Alin barusan membuat Karin dan Dokter Yuanita kompak ikut berdiri.


“Lanjutkan saja...”


“Tidak, Nona. Kami sudah selesai.” Jawab Karin cepat.


Karin masih sempat mengangguk ke arah Dokter Yuanita sebelum kemudian mengantar Alin ke luar dari ruangan.

__ADS_1


__ADS_2