
“Mengapa ini bisa sampai terluka?” Mama baru menyadari ada yang janggal di muka Alin. “Siapa yang membuat ini?” Mama menyentuh pipi Alin yang terluka.
“Bukan hal penting.” Alin menurunkan tangan Mama dari wajahnya, Menggenggam tangan itu dengan erat.
“Apa ini perbuatan suamimu!” suara Mama terdengar mengeras.
“Bukan itu perbuatan Mama dan adik tirinya.” Wira yang baru datang menjawab pertanyaan Mamanya.
“Apa! Seharusnya kamu mempertemukan Mama dengan mereka, bukan dengan Bibi pengasuhmu yang cerewet itu!” Mama berkacak pinggang.
“Apa Mama mau melabrak mereka?” Alin tampak bersemangat melihat ekspresi Mama saat ini.
“Tentu! Mereka harus Mama beri pelajaran.”
“Mama tidak perlu melakukan itu. Mama tirinya harus dirawat di rumah sakit sekarang, karna ulahnya!” Wira menunjuk wajah Alin.
“Oh ya! Baguslah.” Mama tersenyum senang. “apa yang terjadi padanya?” tanya Mama.
“Alin membuat kuku kakinya hancur. Hingga, tadi dia harus di operasi untuk mencabut kuku kakinya.”
“Baguslah! Mengapa hanya kuku kaki? Tidak sekalian saja kuku tangannya!” seru Mama.
“Mama benar, yang melukaiku kuku tangannya bukan kakinya!” Alin menimpali ucapan Mama.
“Akan kita balas besok!” Mama mengacung-acungkan tangannya.
Alin mengangguk-angguk mengiyakan. Karna asyiknya mereka bercengkerama sambil makan, hingga membuat Alin lupa waktu. Ponsel yang ia simpan di dalam tas pun bergetar. Alin merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya.
Mata Alin terbelalak“Jam delapan!” Alin melempar ponselnya ke atas meja. Tidak berani mengangkat panggilan telepon. Mukanya tampak sedikit memucat. “Mama!” lirihnya.
***
Alin turun dari mobil dengan tergesa, langsung menerobos masuk ke dalam rumah. “Dimana Kak Hazar?” tanya Alin pada pelayan yang di jumpainya.
“Tuan sedang di ruang makan Nona.”
Alin kembali berlari. Menata napasnya sebentar di pintu ruang makan, lalu melangkah mendekati Hazar yang sedang makan, ditemani oleh Bibi Yona, Bibi Fatma, Angel dan beberapa pelayan lainya. Alin menatap Bibi Fatma yang tertunduk, tidak mau menatapnya.
“Kakak!” Alin duduk di samping Hazar, menyentuh lengan kiri Hazar di atas meja. Alin menggigit bibir bawahnya. “mengapa aura di sekitar sini terasa sangat mencekam.” Batin Alin. Dia merasa sangat ketakutan saat ini.
Hazar tidak menggubris keberadaan Alin, dia masih sibuk dengan makanan di piringnya. Alin semakin bingung apa yang harus dia lakukan di saat situasi seperti ini. Alin berpikir dengan memejamkan matanya, kedua kakinya bergetar di bawah meja.
“Nona! ini mau saya taruh Dimana?”
Bagai angin surga, kedatangan Bobi dengan kotak makanan yang di kepak oleh Mama Wira tadi. Wajah Alin langsung berbinar. Ia menemukan sebuah alasan mengapa sampai pulang terlambat.
__ADS_1
Alin langsung berdiri mengambil kotak makanan dari tangan Bobi. “Kakak aku membawa makanan untukmu!” bibir Alin terkembang sempurna.
Hazar masih tak bergeming, menoleh pun tidak.
“Kakak aku terlambat pulang karna aku sedang belajar memasak untukmu!” Alin kembali duduk, menyentuh lengan Hazar. “Kata orang, salah satu impian para suami adalah mencicipi makanan buatan istri mereka. Apa Kakak tidak mau mencobanya?”
“Ah terserahlah. Tidak akan ada yang tahu apa niatku memasak tadi”
Tiba-tiba Hazar mengangkat tangan kirinya, seperti hendak memukuli Alin. Mata Alin refleks terpejam, dengan kepala tertunduk. Ia telah pasrah jika Hazar mau memukulinya.
Lima detik...
Sepuluh detik...
“Mengapa tidak sakit? Bahkan hembusan angin pun tak terasa.” Batinya. Alin membuka matanya secara perlahan.
“Kalian pergilah! Dan kunci semua pintu!” perintah Hazar.
“Tidak!” Alin berteriak. Ia menggapai tangan kiri Hazar yang masih menggantung di udara. “Kakak biarkan mereka disini.” Alin memohon dengan wajah sendunya, ia semakin ketakutan. Akan semakin berbahaya jika hanya mereka berdua di ruangan itu.
Hazar menyipitkan matanya menatap Alin, keningnya pun tampak berkerut. “Bukankah biasanya kau selalu menyuruh mereka pergi saat kau akan makan?”
“Tidak untuk sekarang. Biarkan mereka tetap disini!.” Seru Alin.
Alin menatap para pelayan yang masih berdiri mematung dengan kepala yang tertunduk. Alin menghela napas, sepertinya memang tidak ada lagi harapan untuknya.
“Pergilah!” Hazar kembali bersuara.
Alin memejamkan matanya. Ia sudah pasrah dengan apa pun yang akan terjadi. Suasana makin terasa lengang dengan mengecilnya suara langkah kaki para pelayan yang semakin menjauh.
“Kakak! Sungguh aku tidak sengaja pulang terlambat.” Alin berdiri, kembali meraih tangan Hazar. Mata Alin sudah berkaca-kaca, dia bahkan tidak tahu, mengapa dia bisa setakut ini pada Hazar. “perasaan aku hanya terlambat pulang satu jam, dan tidak melakukan dosa besar. Mengapa bisa separah ini.” Alin membatin.
Hazar melepaskan pegangan tangan Alin di lengannya.
“Kakak.” Lirih Alin.
“apa dia sangat marah? Sampai tidak mau aku sentuh.”
Alin tersentak kaget saat Hazar tiba-tiba menarik tangannya sedikit kuat, hingga dia terjatuh dan duduk di pangkuan Hazar.
“Kakak!” Alin terbelalak dan hendak bangkit, namun tidak bisa karna sekarang Hazar menguncinya.
“Kau tampak sangat ketakutan.” Hazar menyeringai. “Tapi kau selalu melakukan kesalahan yang sama secara berulang.” Hazar merapikan rambut Alin yang berantakan. “Kau bahkan sampai berkeringat dingin seperti ini.”
“Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Jawab Alin cepat. Dia membiarkan Hazar berbuat semaunya dengan wajahnya.
__ADS_1
“Kalau pun kau ingin mengulanginya tidak apa-apa.” Ujar Hazar.
“Tidak Kakak! Aku janji tidak akan mengulanginya.”
“Terserah kau saja. Karna kau memiliki alasan yang masuk akal kali ini, akan aku beri kau keringanan untuk memilih hukumanmu.”
“Tidak bisakah Kakak memaafkanku kali ini saja?”
“Kau mau memilihnya sendiri atau aku yang memilihnya?”
“Cuci piring! Hukumannya aku akan mencuci piring setelah Kakak selesai makan!”
“Itu bukan hukuman. Apa kau mau aku memecat semua pelayan disini, dan kau yang akan mengambil alih seluruh pekerjaan mereka, itu baru setimpal dengan dosa yang kau perbuat.”
Alin mengerlingkan matanya. “Dosa! Aku hanya membuat kesalahan kecil dan itu secara tidak sengaja. Kakak terlalu berlebihan mengatakan kalau itu dosa!”
“Aku akan meminta Papa Haris untuk meliburkanmu selama satu bulan.”
“Kakak, aku bahkan belum sampai seminggu ini masuk kerja. Bagaimana bisa aku diliburkan satu bulan!” Alin sudah cemas. Kalau sampai dia tidak masuk kerja, maka dia tidak akan bisa keluar dari rumah Hazar. Insting alami wanita penggodanya kembali muncul. Alin mengalungkan kedua tangannya pada leher Hazar, ekspresi wajahnya dibuat semanis mungkin, dengan kedua mata yang mengerjap manja.
“Jauhkan tanganmu dari tubuhku!” hardik Hazar.
Karna nada suara Hazar yang terdengar tidak main-main, Alin secara refleks menjatuhkan tangannya. Mukanya kembali tertunduk.
“Cih! Kau menyuruhku menjauh, lalu mengapa tanganmu masih mengunci pinggangku!” Alin membatin geram.
Tangan Hazar yang tadinya memeluk pinggang Alin, kini berpindah menyentuh dagu Alin, mengalihkan wajah yang tertunduk itu untuk menatap ke arahnya.
“Dari mana kau mendapatkan luka ini?” tanya Hazar. Menyentuh plester bening di pipi Alin.
“Aku tidak sengaja melukainya.” Alin menjauhkan tangan Hazar dari lukanya. “Kakak makanlah kembali. Aku juga lapar.” Alin sangat tidak ingin Hazar tahu, tentang bagai mana keluarganya memperlakukannya selama ini. Karna menurutnya itu hanya akan membuatnya tampak menyedihkan, dan dia sangat tidak ingin dikasihani oleh orang lain.
Alin hendak bangkit dari pangkuan Hazar, namun masih tidak bisa, karna kedua lengan Hazar kembali mengunci tubuhnya. Hazar dapat melihat kesenduan dari wajah Alin. Karna itu dia tidak mau memperpanjang masalah luka Alin. “Kau tahu! Tubuhmu ini bukan lagi milikmu tapi ini sudah menjadi milikku. Jika kau tidak bisa menjaganya dengan baik akan aku kurung kau selamanya.”
“Ya, terserah Kakak! Mari kita makan aku sudah lapar.”
“Panggilkan Bibi pengasuhmu!” perintah Hazar.
“Untuk apa!” mata Alin membulat. Menatap curiga pada Hazar. “apa Kakak akan mengusirku?!” serunya.
Hazar menghela napas, melepaskan tangannya dari pinggang Alin. “Berdirilah, kau sangatlah berat!”
“Cih, siapa suruh aku duduk di sana.” Rutu Alin. Ia berdiri dan duduk di kursinya. “Kakak mau kemana?” tanya Alin saat melihat Hazar berjalan menuju dapur. Karna Hazar tak menjawabnya, Alin pun ikut berdiri mengikuti langkah Hazar.
Hazar terlihat mencari sesuatu. “Apa yang Kakak cari?” Alin masih mengekori punggung Hazar.
__ADS_1