Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 73


__ADS_3

Alin masih memerhatikan Hazar dari jauh. Tadi dia dimintai pindah oleh Hazar. Sekarang ia sedang duduk di atas ranjang, sementara si yang punya ranjang tengah sibuk dengan beberapa dokumen di sofa.


Banyak dokumen yang bertebaran di atas meja, sementara Hazar terlihat sedang sibuk dengan laptopnya.


Alin melihat jam dinding, sudah hampir tengah malam. Namun Hazar masih sibuk dengan pekerjaannya. Suaminya itu memang tidak pernah sadar akan waktu jika sedang bekerja. Dan ini adalah salah satu hal yang tak disukai Alin dari Hazar.


“Ini sudah malam, Apa Kakak tidak akan istirahat?” tanya Alin setelah menghampiri tempat Hazar.


Jangankan untuk menjawab, sekedar mengalihkan mata dari layar laptop pun Hazar enggan.


Alin menghela napas, tangannya terkepal dengan erat. Seolah mengumpulkan keberaniannya untuk memecahkan kebekuan Hazar. Detik berikutnya, Alin langsung merampas laptop dari pangkuan Hazar.


“Apa yang kau lakukan!?” Hazar menatap tajam pada Alin.


Alin berdehem berusaha mengatasi rasa gugupnya. “Ayo, kita tidur. Aku sudah mengantuk,” Alin memberanikan diri untuk menatap mata Hazar.


Kening Hazar berkerut, menatap Alin dengan penuh rasa heran.


“I-ini sudah malam. Kakak, harus beristirahat.”


“Kau mau tempat tidurmu?” Hazar menunjuk sofa yang didudukinya dengan, dengan mata yang tak lepas melototi Alin.


“Eh...” Alin kebingungan untuk menjawab Hazar. Bukan ini yang dia inginkan. Tujuannya tadi hanya ingin Hazar beristirahat dan mereka akan tidur seperti malam kemarin, tapi Hazar malah menunjuk sofa sebagai tempat tidurnya. Apa Hazar juga tidak mau lagi berbagi kasur dengannya?


“Kakak, masih marah padaku? Aku kan sudah meminta maaf, apa lagi yang Kakak marahkan padaku!” seru Alin kesal. Ia bisa mati jika berlama-lama seperti ini. Terkurung dalam satu ruangan dengan bayi besar yang sedang merajuk. Ini adalah ujian terberat dalam hidupnya.


Hazar mengalihkan matanya. Ia meraih sebuah dokumen dari atas meja, dan membacanya. Ia mengacuhkan Alin yang masih berdiri di sampingnya.


Alin menepis tangan Hazar, kemudian menjatuhkan dirinya di pangkuan Hazar. Sama seperti yang Hazar lakukan siang tadi, Alin m****t paksa bibir suaminya.


Tiga menit berlalu, Alin melepaskan pagutannya. Alin kembali merasa kecewa, sebab Hazar samasekali tak membalas ciumannya tadi. Suaminya itu masih hanya diam dan tak bereaksi.


Hazar mengusap sudut bibirnya yang basah karna ulah Alin. Ia memang sengaja diam dan membiarkan Alin berbuat semaunya. Ia sedang berusaha untuk tegar dan kuat dari godaan yang dilancarkan oleh istrinya itu. Kali ini ia memang harus bersikap tegas dengan menghukum Alin seperti ini. Ia pun juga penasaran sejauh mana kesungguhan istrinya itu.


Sebenarnya Hazar sudah berkali-kali goyah sejak tadi siang. Ia merasa sangat kasihan melihat Alin yang kecapean dan tertidur di sofa. Ia sempat berniat hendak menyelimuti dan memindahkan Alin ke atas ranjang, namun urung, sebab ia telah bertekat hendak menghukum istri liciknya itu. Ia juga sempat goyah saat mendapati wajah murung istrinya, tapi batinya kembali tersadar, bahwa istrinya sedang dalam masa hukuman sekarang. Ia memilih bekerja di sofa pun tujuan sebenarnya adalah agar Alin bisa tidur di ranjang, tapi Alin malah menunggunya untuk tidur bersama. Jika ia menurut dengan ajakan Alin, tentu masa hukuman juga akan berakhir. “Tidak, ini terlalu cepat,” batin Hazar.


Godaan terberatnya adalah saat ini, yang mana Alin dengan antengnya duduk di pangkuannya, bukan hanya tangan Alin yang melingkari lehernya, kaki Alin pun ikut serta melingkar di pinggangnya. Sebenarnya ia juga ikut menikmati ciuman istrinya tadi, tapi ia tidak berniat untuk membalas. Ia tetap bersikap acuh, dan mendiami istrinya.


Dengan mengabaikan Alin yang masih berada di pangkuannya, Hazar pun kembali memeriksa dokumen yang masih di genggamnya. Ia pun terpaksa harus memutar lehernya agar bisa membaca file di tangannya. Ini adalah cara pengalihan yang dilakukannya untuk tetap mengacuhkan Alin.


Kembali gagal usaha yang telah Alin lakukan. Ia sangat putus asa sekarang. Ia sangat merasa bersalah, ia sedih, dan takut.

__ADS_1


Tapi, karna Hazar tidak mengajukan protes pada posisi duduknya, Alin pun merasa enggan untuk beranjak, meski pun Hazar mengacuhkannya ia merasa sedikit lega karna Hazar tak mengusirnya dari sana.


Alin mendekap tubuh Hazar dengan kuat, hingga membuat Hazar kesulitan bernapas. Namun Hazar tetap membiarkan itu, ia masih bisa bernapas meski pun sulit. Tubuh Hazar meremang saat Alin mengendus-endus di ceruk lehernya, disusul dengan hembusan hangat napas Alin menerpa permukaan kulit lehernya. Ia merasa sangat tidak nyaman akan itu. Tapi, ia harus tetap menjalankan misi awalnya untuk tetap mengabaikan Alin. Sekarang bukan hanya eratnya dekapan Alin yang membuatnya kesulitan bernapas.


Menit berikutnya Hazar benar-benar mengakhiri misinya. Ia benar-benar tidak kuasa mendiami Alin, saat tiba-tiba saja ia sudah mendengar isakan Alin dari balik punggungnya. Disusul dengan bergetarnya tubuh Alin yang sedang mendekapnya.


“Aku sudah meminta maaf, mengapa Kakak masih marah padaku?” isak Alin, nada suaranya terdengar lirih, hingga meruntuhkan pertahanan Hazar.


Hazar menghela napas panjang, sebelum kemudian ia melepaskan lingkaran tangan Alin yang melilit lehernya. Dokumen yang tadi dipegangnya telah berhamburan di lantai.


Alin menundukkan kepalanya sedalam mungkin agar Hazar tidak melihat wajah menyedihkannya yang penuh dengan penyesalan. Namun itu percuma, sebab Hazar masih bisa melihat wajahnya yang tepat berada di depan suaminya itu. Alin makin terisak saat mendapati Hazar yang sedang menatapnya, namun tetap diam seperti tadi. Alin hendak pergi dari sana, namun tidak bisa, karna Hazar malah semakin kuat mencengkram lengannya.


“Lepas!” pinta Alin sambil membuang muka ke sembarang arah.


“Kau sudah menyesali perbuatanmu!?” Hazar masih berusaha untuk bersikap tegas pada Alin, meskipun ia sendiri sangat tidak tahan melihat istri yang sangat dicintainya terlihat menyedihkan seperti ini.


Alin tidak menjawab, mengangguk atau pun menggeleng. Ia malah berusaha untuk melepaskan diri dari Hazar. Air matanya makin bercucuran deras hingga menetes ke baju Hazar.


Hazar melepaskan tangan Alin, bukan untuk membebaskannya, tapi untuk kembali menarik tubuh bergetar itu ke dalam dekapannya. Detik itu juga tangisan Alin makin terdengar keras dan memilukan.


“Diamlah, kau, sudah aku maafkan.” Hazar menarik Alin dari depannya, mengusap wajah basah istrinya meski sedikit kesulitan karna Alin berusaha untuk menyembunyikan wajahnya. Usapan Hazar ternyata percuma, sebab air mata istrinya makin keluar deras dan membasahi wajah sendu itu. “Sudah diamlah, aku sudah memaafkanmu.” Hazar menyibak anak-anak rambut yang berhamburan di wajah Alin. Kemudian dia menghadiahkan banyak kecupan di wajah istrinya itu.


Dan pada saat itu Mama Rosa menerobos masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. “Haz_!” Suara Mama Rosa tertahan di udara. Ia begitu terkesiap melihat apa yang sedang Alin dan Hazar lakukan di atas sofa. Ia pun langsung berbalik badan untuk menghindari pemandangan kotor itu. Pikiran Mama Rosa langsung beterbangan ke mana-mana.


“Kakak, lepas!”


“Mama sudah pergi, santai saja.” Ujar Hazar yang tak tahu malu. Memang benar hanya mereka berdua di sana, Mama Rosa langsung keluar begitu masuk tadi.


PLAK!


Alin dengan sengaja menampar lengan kanan Hazar yang terluka dengan penuh kekesalan. Hingga membuat si empunya mengaduh kesakitan. Alin tak membuang waktu, ia langsung meloloskan diri, ketika Hazar sedang fokus dengan rasa sakitnya.


*


“Di mana Alin?” tanya Mama Rosa saat kembali masuk ke ruangan Hazar, ia tidak melihat keberadaan Alin di sana.


“Dia sedang di kamar mandi,” jawab Hazar dengan suara kesalnya. “Apa Mama, tidak bisa mengetuk pintu sebelum memasuki ruangan orang lain!” seru Hazar kesal.


“Ini bukan sepenuhnya salah Mama. Kalian juga bersalah, mengapa kalian berbuat seperti itu di rumah sakit. Sangat tidak sopan!” cerca Mama Rosa tidak mau kalah, ia sedikit berbisik, karna takut kedengaran oleh Alin. “Tapi, mengapa Alin menangis? Apa kamu memaksanya untuk berhubungan!?” Mata Mama Rosa sontak melototi wajah Hazar.


Hazar berdecak malas, ternyata orang tua seperti mamanya ini masih memiliki pikiran nyeleneh seperti itu. “Ada perlu apa Mama ke sini malam-malam begini?” Hazar mencoba keluar dari topik pembicaraan yang tak mengenakan.

__ADS_1


“Jadi, benar? Kamu memaksanya hingga dia menangis seperti tadi! Sadar, Hazar! Sabar, kamu baru saja berbaikan dengannya, tidak perlu memaksanya seperti itu. Bagaimana jika dia kembali berusaha untuk lari darimu, kamu sendiri yang akan rugi.” Repet Mama Rosa merasa benar sendiri.


Hazar menghela napas, jengah. Apa dia terlihat seperti laki-laki kurang ajar yang memperkosa istrinya sendiri? Bagaimana bisa mamanya menuduhnya seperti ini. “Aku hanya sedang memberinya pelajaran, agar dia tidak akan bisa lari dariku,”


“Pelajaran apa yang kamu maksud? Sekarang bukan saatnya kamu bersikap sok keren di depan istrimu. Ingat, kamu adalah pihak yang bisa saja kehilangan istrimu sewaktu-waktu. Apa kamu mau Alin kembali kabur dan bersembunyi darimu!” seru Mama penuh kekesalan. Ia memang sangat tahu sipat anak semata wayangnya ini, selalu bersikap sok keren, sok tegar. Tidak pernah mau mengalah dan selalu berbuat semaunya.


Raut wajah Mama Rosa langsung berubah manis saat melihat pintu kamar mandi terbuka. Seperti tidak pernah melihat kejadian tadi, tanpa canggung Mama Rosa langsung menghampiri Alin. “Kamu tidak apa-apa, sayang?” Mama Rosa menangkup wajah sebab Alin.


“Aku baik-baik saja, Ma.” Alin memaksakan senyum kakunya, ia sangat merasa malu pada Mama Rosa sekarang. Bagaimana tidak, dia yang tadi berada di atas Hazar, sangat terlihat jelas jika ialah yang sedang berusaha menggoda Hazar. Mama Rosa pasti berpikiran buruk tentangnya.


“Kamu terlihat sangat kelelahan, kita pulang ke rumah saja malam ini. Ada Bobi yang akan menjaga Hazar di sini. Kamu juga perlu istirahat.”


“Eh,” Alin terlihat bingung ingin menjawab apa. Apa Mama Rosa sedang berusaha menyelamatkan Hazar darinya? Apakah perbuatannya tadi seburuk itu, hingga Mama Rosa mengajaknya pulang malam itu juga, agar ia tidak mengganggu istirahat Hazar.


“Alin akan tetap di sini, bersamaku!”


Mata Mama Rosa melotot ke arah Hazar, dengan bibir yang komat-kamit tanpa suara. Hazar bisa mengerti akan itu, sudah bisa dipastikan mamanya pasti sedang menyumpahinya dengan komat-kamit itu, tapi ia tetap acuh, lebih memilih menatap Alin.


Hazar menepuk sofa di sampingnya, tanda meminta Alin untuk segera duduk di sana.


Bagaikan buah simalakama. Alin bingung, dia baru saja berbaikan dengan Hazar. Jika dia menuruti kemauan Mama Rosa, Hazar pasti akan kembali kecewa padanya. Tapi, jika ia menuruti kemauan Hazar, ia merasa sangat malu pada mertuanya itu. Mama Rosa pasti akan berpikiran yang tidak-tidak padanya.


Dengan penuh keraguan, Alin kembali menatap Hazar. Ternya suaminya itu juga sedang menatapnya. Hazar kembali menunjuk sofa di sampingnya dengan gerakan mata. Meminta Alin untuk segera duduk di sana.


“Mama, duduk dulu. Biar aku ambilkan minum.” Ujar Alin kemudian, tidak mungkin dia langsung duduk di samping Hazar, sementara Mama Rosa masih berdiri di sana.


“Tidak usah repot-repot, kamu juga duduk saja.” Mama Rosa menarik tangan Alin untuk ikut duduk di sofa.


Alin kembali dirundung kegalauan. Mama Rosa menariknya untuk duduk di sofa yang berhadapan dengan Hazar. Alin sangat tahu pasti Hazar akan memintanya untuk pindah.


Dan benar saja, saat matanya tak sengaja bertabrakan dengan mata Hazar, jantungnya langsung berdetak tak karuan, karna Hazar sedang melototinya dengan ekspresi yang menakutkan. Alin memejamkan matanya, mengapa ia harus terjebak di situasi seperti ini. Kedua ibu dan anak itu seperti sengaja menyiksanya.


Mama Rosa menyadari kerisauan Alin yang duduk di sampingnya. Ia kembali komat-kamit saat mendapati Hazar yang ternyata sedang melotot ke arah Alin. “Sayang, bersiaplah, kamu harus pulang bersama Mama.” Ujar Mama Rosa pada Alin. Ia memang harus melindungi menantunya ini dari terkaman manusia pembangkang dan menyebalkan yang duduk di depannya sekarang.


Ajakan Mama Rosa barusan membuat Alin kembali merasa malu dan salah tingkah. Tapi, Hazar adalah orang yang paling ditakutinya saat ini. Dengan mengumpulkan segala keberanian dan mengesampingkan rasa malunya, Alin pun menolak ajakan Mama Rosa. “A-aku di sini saja, Ma. Menemani Kak Hazar.”


Hazar tersenyum penuh kemenangan.


Sedangkan mantra Mama Rosa tak habis-habisnya dari tadi. Ia masih komat-kamit penuh kekesalan pada Hazar.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2