Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 13


__ADS_3

“Aku akan menginap di sini!” Alin duduk “ Kita lihat seperti apa dia akan memarahiku. Kalau hukumannya lebih berat dari hukuman Kakek, Aku akan mencari suami baru, atau aku akan menjebak sekretaris Jon untuk tidur denganku” Ujar Alin. Kembali berbaring di kasur Bibi Fatma.


Bibi Fatma menggeleng-gelengkan kepalanya.


***


“Di mana Dia sekarang?” Tannya Hazar pada sekretarisnya. Dia baru saja sampai di rumah. Tapi istrinya tidak ada di kamar. Padahal sudah jam sepuluh malam.


“Nona masih di rumah sakit Tuan” Jawab Karin.


Hazar menghela napas, memejamkan matanya “kau pergilah pulang!” Ujar Hazar pada Karin.


“Baik Tuan”


Hazar kembali masuk ke kamarnya, kemudian menghubungi nomer Bobi, orang yang dia utus untuk mengikuti istrinya ke mana pun itu.


“Sepertinya Nona sudah tidur Tuan” Jawab Bobi saat ditanya oleh Hazar apa yang sedang di lakukan oleh istrinya. Hazar sekarang sudah sampai di rumah sakit tempat istrinya berada, dia datang untuk menjemput istrinya yang keras kepala itu. Sekarang sudah lewat tengah malam dan tidak ada tanda-tanda kemunculan istrinya di rumah.


Bobi menuntun langkah Hazar ke ruangan Bibi Fatma “Ini tuan ruangannya” Bobi menunjuk sebuah pintu putih di sampingnya, kemudian mengetuk pintu tersebut.


Dua menit kemudian, pintu ruang rawatan Bibi Fatma terbuka dari dalam.


Mata Bibi Fatma melotot melihat siapa yang datang ke ruangannya malam-malam begini “Tu-tuan” Bibi Fatma membungkukkan badannya. Mempersilahkan Hazar untuk masuk.


Hazar mendapati Alin yang sedang tertidur pulas di atas satu-satunya ranjang pasien di ruang VIP itu, “lalu di mana pasien yang sebenarnya akan tidur” Batin Hazar.


Di atas meja terdapat banyak sampah makanan ringan, dan dua kotak Mie cup yang tinggal kuahnya saja masih terlihat mengeluarkan uap.


“Nona. Nona Alin” Bibi Fatma mengguncang-guncangkan tubuh Alin.


“Hmmm...” Alin hanya menguman merubah posisi tidurnya, kembali terlelap.


“Bangun! Aku tahu kau belum tidur” Hazar menyuruh Bibi Fatma untuk menjauh dari ranjang.


Alin menggigit bibir bawahnya, dalam hati dia merutuki Hazar bagai mana bisa dia tahu kalau ia sedang pura-pura tidur. Alin memukul kepalanya dengan halus menggunakan kepalan tangannya, belum bergeming dari tempatnya, masih berusaha pura-pura tidur.

__ADS_1


“Bangun! Atau aku siram!” Ancam Hazar.


Alin bangkit dan duduk dengan wajah kesalnya, melototi Hazar yang berdiri di dekatnya. Kemudian dengan gerakan kasar turun dari kasur mengambil tasnya di atas sofa.


“Bibi aku pulang dulu, subuh nanti aku bakalan kesini lagi untuk jemput Bibi” Alin memeluk Bibi Fatma.


“Iya Nona, hati-hati di jalan” Bibi mengusap punggung Alin.


Mereka tidak tampak seperti Nona dan pengasuhnya, malah seperti anak dan ibunya.


Alin menghentakan langkahnya, keluar dari ruangan Bibi Fatma tanpa menunggu Hazar. Saat tiba di teras rumah sakit, Bobi sudah menunggu di depan Mobil Hazar, Alin terus melangkah hendak berjalan ke parkiran. Mengabaikan Bobi yang sudah membukakan pintu mobil untuknya.


Hazar menghela napas “Berhenti! Mau kemana kau? Masuk ke mobil ini sekarang juga” Perintah Hazar. Dia sudah terlihat kesal menghadapi Alin.


Alin menghentikan langkahnya, mengacungkan kunci mobil “Aku bisa pulang sendirian”


“Masuk! Atau perlu aku seret” Rahang Hazar sudah tampak mengeras menahan geram.


Alin terpaksa menuruti perintah Hazar. Entah mengapa ia merasa sedikit takut dengan tatapan Hazar sekarang. Sangat berbeda saat dia membantah Kakeknya, tidak ada rasa takut sedikit pun. Tapi sekarang nyali menciut saat Hazar menatap tajam ke arahnya.


Saat sampai di rumah, Bibi Yona dan beberapa pelayan tampak sedang menunggu kedatangan mereka. Alin sangat bersyukur akan itu, karna ia masih merasa takut jika harus berdua saja saat emosi suaminya masih terlihat. Alin membelokkan langkahnya ke arah dapur.


“Ada yang Anda perlukan Nona?” Tanya Bibi Yona, mengikuti langkah Alin.


“Aku hanya ingin mengambil air minum Bibi” Jawab Alin.


“Nona duduk saja, biar saya ambilkan sebentar”


Alin menghela napas, sebenarnya dia tidak haus dia hanya mencoba lari dari pandangan Hazar. Langkah Bibi Yona tak dapat di cegahnya.


“Kalian pergilah ke belakang” Perintah Hazar saat Alin sudah menghabisi air minum yang di bawakan oleh Bibi Fatma.


“Baik Tuan” Para pelayan pun merasa ada sesuatu yang janggal.


Saat hanya tinggal mereka berdua di dalam rumah yang besar itu, ketakutan Alin semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


“Aku akan tidur di kamar bawah” Ujar Alin, dia sudah berdiri hendak melangkah pergi.


“Tidur di kamar atas!” Tegas Hazar.


“Tidak mau, aku mau tidur sendiri” Alin sudah melangkah agak jauh.


Hazar menyambar tangan Alin, menariknya dengan kasar menuju tangga “Lepas!” Alin berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Hazar.


Hazar tak menghiraukan pekikan Alin, masih terus melangkah menuju kamar mereka. Hazar melepaskan tangan Alin dengan kasar saat mereka sampai di dalam kamar.


“Mengapa kau sangat keras kepala!” Geram Hazar. Dadanya naik turun mencoba menahan emosinya saat ini. Matanya melototi Alin dengan tajam.


“Karna aku tidak suka kau atur-atur” Suara Alin tak kalah tingginya dari suara Hazar. Balik menatap tajam mata Hazar. Rasa takutnya seketika menghilang saat ia diperlakukan dengan kasar oleh Hazar.


Hazar menyipitkan matanya “Jadi! kau tidak suka di atur!” Bibir Hazar menyeringai, ia melangkah mendekat pada Alin.


Alin kembali ketakutan saat melihat seringai Hazar, ia mundur saat Hazar melangkah mendekatinya. Alin tidak dapat bergerak lagi, kakinya sudah membentur ranjang. Sekarang tidak ada lagi jarak antara mereka, Alin bahkan dapat merasakan hangatnya hembusan napas Hazar di wajahnya.


“A Apa yang kau inginkan?” Tanya Alin terbata.


“Anak! Jika kau ingin bebas dan tak ingin di kekang, lahirkan seorang Anak untukku, setelah itu kau akan aku lepaskan” Bisik Hazar di telinga Alin.


Deg!


Tubuh Alin membeku. Apa kisah Mamanya akan kembali terulang padanya. Ternyata Hazar memang sama seperti Papa dan Kakeknya.


Hazar menahan tengkuk Alin dengan sentakan kasar, membenamkan bibirnya pada bibir Alin, awalnya hanya sentuhan biasa, karna tak ada penolakan dari Alin, Hazar menyesapnya bibir itu untuk beberapa saat. Mendorong halus tubuh Alin hingga berbaring di atas kasur.


Hazar kembali melancarkan aksinya.


Tubuh Alin masih membeku, hati dan pikirannya terasa kosong, ia bahkan tak menghiraukan Hazar yang makin bersemangat menggerayangi tubuhnya. Tangan Alin mengepal erat, air matanya terus mengalir dari sudut kelopak matanya yang terpejam.


Hazar menghentikan aksinya ia merasa aneh, mengapa Alin hanya diam, tubuh Alin bahkan tak bergerak dan terasa kaku. Hazar mengangkat wajahnya. Tubuhnya terpaku menatap wajah Alin yang berlinang air mata, dengan mata yang tertutup rapat. Hasratnya langsung hilang seperti tisu tipis yang terendam air, melebur dengan sendirinya.


Hazar bangkit dari tubuh istrinya, dibenahinya pakaian istrinya yang tersingkap, matanya terpejam saat memandangi tangan istrinya yang memutih karna mengepal erat. Diraihnya selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Kemudian berlalu ke luar dari kamar.

__ADS_1


Tangisan Alin langsung pecah saat mendengar bunyi pintu yang tertutup, tubuhnya berguncang dengan hebatnya.


__ADS_2