Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 85


__ADS_3

“Papa!” teriak Amel saat masuk ke dalam rumah tempat penyekapan Alin. “Papa harus lihat ini!” Amel mengacungkan selembar kertas kepada Kakek Setyo. “Alin, hamil!” pekiknya kemudian.


Kakek Setyo mengerutkan keningnya, bingung. Namun diterimanya juga kertas yang diulurkan oleh Amel. “Dari mana kau dapatkan ini!?” tanya Kakek Setyo seperti tak percaya. Baru saja beberapa bulan yang lalu ia mengetahui kalau Alin mandul, bagaimana bisa cucunya ini hamil.


“Aku mendapatkannya dari temanku yang bekerja di rumah sakit. Malam kemarin aku dapat kabar kalau Alin masuk rumah sakit. Dan anehnya para Dokter yang merawatnya tidak tahu mengapa dia sampai pingsan. Jadi aku membayar temanku untuk mencari tahu. Inilah hasilnya.” Amel menunjuk kertas putih di tangan Kakek Setyo. “Ternyata Alin hamil, dan berita kehamilannya dirahasiakan oleh Kak Haris. Dia mungkin takut kalau ternyata Alin hanya berbohong tentang kemandulannya. Kita harus memberi tahu keluarga Hazar, Papa. Sekarang ada dua nyawa di tangan kita, Alin dan bayinya. Dengan dua sandera kita bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar, Pa!” seru Amel kegirangan.


Amel merasa sangat bahagia dan gembira. Pertama Yayasan yang akan diwarisi pada anaknya akan tetap aman dan terkendali. Kedua ia akan melihat Alin menderita, karna dia akan dibenci oleh keluarga Hazar sebab kebohongannya akan segera terbongkar. Akhirnya anak sialan yang sering menggagu ketenangannya selama ini akan segara dimusnahkan dari muka bumi. Amel tersenyum senang menatap Alin yang terkulai lemas, terikat di atas kursi kayu. Ia tersenyum membayangkan seperti apa kemarahan Hazar dan keluarganya kepada Alin nanti. Apa mereka akan mengasingkan Alin ke tempat terpencil? Atau membuat Alin menderita di setiap harinya. Oh, apa pun itu, terserah, yang penting ia akan bahagia selama Alin menderita.


Saking bahagianya Amel sampai lupa mengapa obat mandul yang diberikan Angel tak mempan pada Alin.


“Jadi Haris tahu kalau Alin hanya berbohong tentang kemandulan itu?” Kakek Setyo meremas kertas putih di tangannya. Bisa-bisanya ia dibohongi oleh anak dan cucunya seperti ini.


“Iya, Papa. Kak Haris pasti sudah tahu dari awal kebohongan ini. Dokter Qori tidak akan berani membuat rekam medik palsu. Sudah bisa dipastikan kalau Kak Haris ikut andil dalam kebohongan Alin. Papa tahu! Dokter kandungan Alin itu menghilang setelah berita kemandulan Alin tersebar. Pasti Kak Haris juga yang menyembunyikannya!”


***


Alin mengerjapkan matanya, seluruh tubuhnya terasa sangat sakit, tulang-tulangnya serasa remuk semua. Tangan dan kakinya tak bisa ia gerakan. Alin meringis dan kembali memejamkan matanya, tiba-tiba saja perutnya terasa mual karna mencium bau anyir darah.


“Kau sudah bangun!”


Alin menegakkan kepalanya, ia harus menyipitkan matanya untuk memperjelas wajah siapa yang sedang berada di depannya saat ini. “Kakek!” lirihnya parau, suaranya nyaris tak terdengar.


“Ya, aku Kakekmu!” Kakek Setyo menarik dagu Alin, membuat kepala Alin mendongak, sempurna menghadapnya. Kakek Setyo meneliti wajah Alin. “Kau memang benar cucuku. Kau licik dan pembohong sama sepertiku juga."


"Yang membuatku tak suka adalah kenyataan bahwa kau juga anak dari wanita jalang yang tak jelas asal usulnya.”


Cuih!!! Alin meliur ke arah wajah Kakek Setyo. Wajahnya tampak memerah menahan amarah. Ia meronta berusaha melepaskan ikatan di tangannya. Alin selalu emosi setiap kali Kakek Setyo mengungkit masa lalu Mama Diana. Rasanya ingin sekali ia menginjak-injak seringai wajah tua nan menjijikkan di depannya ini.


Kakek Setyo melepaskan tangannya dari dagu Alin dengan kasar. Beruntung ia dapat menghindar dari air liur Alin. “Meskipun kau anak dari wanita tak jelas itu, kau tetap berguna bagiku. Tidak sia-sia aku memberimu makan selama ini. Karna kau, aku bisa mengendalikan Haris. Dan karna kau juga aku mendapatkan saham secara Cuma-Cuma dari keluarga suamimu.” Kakek Setyo menyeringai, kemudian duduk di kursi kayu yang berhadapan dengan Alin. Ia duduk dan menyilangkan kakinya.


“Lebih tepatnya bukan karna kau, aku mendapatkan saham itu. Tapi karna anak dalam kandunganmu itu.”


Mata Alin sontak terbelalak. Bagaimana bisa Kakek lampir ini tahu kalau ia sedang hamil?

__ADS_1


Dan apa tadi! Kakek Tua ini mendapatkan saham dari keluarga Hazar karna janin yang sedang dikandungnya?


Berarti Mama Rosa sudah tahu tentang kehamilannya.


“A-apa Mama Rosa tahu... kalau aku sedang hamil?” lirih Alin.


“Ya, mereka pasti sudah tahu sekarang.”


Punggung alin yang tadinya sempat menegang dan tegak karna emosi pada Kakek Setyo, seketika kembali terkulai lemas. Air matanya menetes tak terbendung. Rasa sakit di seluruh tubuhnya terkalahkan oleh rasa takut dan bersalahnya pada keluar Hazar. Apa yang harus ia katakan pada mertuanya nanti. Apa pun alasannya ia tetap menjadi orang yang paling bersalah di sini.


Kakek Setyo tergelak, melihat Alin yang tiba-tiba menangis. “Apa kau takut, karna kebohonganmu sudah terbongkar?"


"Sudah... Terima saja. Ini karma untukmu karna sudah membohongi banyak orang. Dan ini juga kutukan untukmu! Kutukan keturunan. Ibumu juga terbuang saat dia hamil.”


“B*NGS*T!!! LEPASKAN AKU!” teriak Alin sambil merontak lebih keras hingga kursi yang didudukinya hampir terjengkang, kalau saja tidak cepat dipegangi oleh preman bayaran Kakek Setyo.


PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Alin. Pipi kirinya terasa panas dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.


“Sekarang bukan saatnya kau berkata kasar padaku!” kecam Kakek Setyo sambil mencengkeram dagu Alin dengan kuat. “Jangan memancing emosiku. Kau bisa saja terbunuh malam ini.” Kakek Setyo melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar. “Bius, dia. Dia sangat mengganggu kalu terbangun. Mungkin saja dia akan terbunuh sebelum aku mendapatkan tebusannya.”


Kakek Setyo menatap geram pada anak buahnya yang satu itu. “Apa pedulimu pada anak yang dikandungnya! Cepat lakukan sesuai perintahku!”


BRAKK!!! Saat orang suruhan Kakek Setyo hendak membius Alin tiba-tiba saja ada suara keributan dari luar. Kakek Setyo, Amel dan beberapa orang preman bayaran langsung keluar dari rumah.


Pagar kayu setinggi pinggang orang dewasa telah roboh dan jatuhan ke tanah karna diterobos paksa oleh sebuah mobil hitam. Tiga orang preman bayaran yang berjaga di sekitar pagar jatuh dan terpelanting tertabrak mobil. Setelah mobil berhenti terlihat dua orang laki-laki turun dan menghajar para preman yang berlari mendekati mereka.


Kakek Setyo menyipitkan matanya guna mempertajam penglihatannya sudah rabun jauh. Ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang yang sedang berkelahi melawan orang-orang bayarannya. Perkelahian sengit itu berpusat pada dua orang asing, yang melawan belasan orang suruhannya.


“Papa, itu Kak Haris!” pekik Amel.


“Haris! Bagaimana bisa dia ke sini!”


Ya! Mobil hitam yang menabrak pagar kayu dengan brutal adalah mobil Sekretaris Jon. Tanpa diperintahkan oleh Papa Haris, dia sendiri yang nekat menghancurkan pagar rumah tempat Alin disekap.

__ADS_1


*


Karna Papa Haris dan Sekretaris Jon bukan pemeran utama dalam sebuah film laga, dan mereka juga bukan petinju yang hebat. Akhirnya mereka berdua berhasil dikalahkan oleh orang bayaran Kakek Setyo yang berjumlah lebih banyak dari mereka.


Dengan tangan yang sudah terikat Papa Haris dan Sekretaris Jon digiring ke dalam rumah. Papa Haris terluka di bagian belakang kepalanya. Terlihat ada darah yang masih mengalir membasahi kaos bagian belakangnya.


Sementara Sekretaris Jon, ia terluka di bagian wajah dan kakinya.


“Alin!” Papa Haris merontak hendak melepaskan diri dari preman yang menggiringnya saat melihat Alin yang duduk terikat di kursi kayu. Wajah Alin tampak pucat, dan ada sisa darah yang sudah mengering di wajah putrinya itu. Mata Alin tampak merah dan berair, ada kemarahan serta kebencian yang tergambar dalam tatapan nan tajam itu.


Sesampainya di depan Kakek Setyo. Papa Haris dan Sekretaris Jon di paksa berlutut. Papa Haris masih meronta hendak menengok ke belakang di mana putrinya terikat. Namun ia masih kalah tenaga dari preman yang memegangnya. Ia dipaksa untuk menghadap pada Kakek Setyo.


Kakek Setyo menatap Papa Haris sebentar, kemudian beralih pada Sekretaris Jon. “Setelah seharian kantor kacau, mengapa baru sekarang kau muncul. Dan apa ini! Kau mau sok jadi pahlawan?” Bentak Kakek Setyo pada Sekretaris Jon.


“Aku akan bertanya padamu. Kalau aku bertanya pada Haris, dia pasti tidak akan menjawab.” Kakek Setyo berdiri menghampiri Sekretaris Jon. “Dari mana kalian tahu kalau aku ada di sini? Dan siapa saja yang tahu alamat ini!? ”


“Tuan!” Seorang preman bayaran muncul dari balik pintu, mendekat pada Kakek Setyo dengan membawa ponsel Sekretaris Jon di tangannya. “Tuan, sebaiknya kita pergi dari sini.” Si preman menyerahkan ponsel yang dipegangnya pada Kakek Setyo. “Sepertinya mereka bukan hanya berdua saja yang tahu alamat ini.”


“Kurang ajar!” umpat Kakek Setyo. “Jadi kau yang melacak keberadaanku!”


PLAKK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sekretaris Jon yang sudah lebam. "Habisi dia!" seru Kakek Setyo geram.


“Papa!” Kini Amel sudah berani bersuara. Setelah sejak tadi ia hanya bisa diam karna tak berani berbuat apa pun sebab takut pada Haris. “Ini sudah lebih dari satu jam. Mengapa keluarga Hazar masih belum juga menghubungi Papa?”


***


“Jangan pernah kakek mengubah keputusan Kakek. Tetap biarkan Yayasan keluarga Alin hancur. Dan jangan pernah memberikan uang, saham atau apa pun itu pada orang yang menculik Alin!” seru Hazar berang saat mengetahui kalau Kakek Setyo meminta saham sebagai penebus Alin dan bayinya.


"Hazar!" pekik Mama Rosa, tak percaya.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2