
Bik Ratih membawa Alin berkeliling desa dengan berjalan kaki. Tujuan utama mereka saat ini adalah pasar tradisional desa itu. Saat tiba di pasar Alin kembali khilaf, dia menghabiskan semua uang yang diambilnya dari dompet Hazar tadi. Entah apalah artinya berhemat di benaknya.
Alin pun terpaksa harus pulang karna dia sudah tidak memiliki uang lagi. Dengan menjinjing kantong plastik berukuran sedang di masing-masing tangan mereka, Alin dan Bik Ratih pun kembali berjalan menuju Villa.
Jalan yang mereka lewati saat ini berbeda dengan jalan yang mereka lewati saat pergi tadi. Alin melihat beberapa anak-anak sedang bermain air di tepian sungai.
“Bibi apa yang mereka lakukan?” tanya Alin, menunjuk Anak-anak di tepian sungai.
“Mereka sedang menangkap anak ikan Nona.”
“Anak ikan! Sepertinya menyenangkan. Ayo kita kesana Bibi!.”
Alin langsung berjalan dengan langkah lebar menghampiri tepian sungai. Bik Ratih pun terpaksa mengikutinya. Alin langsung bergabung dengan anak-anak tadi. Sungai dengan air yang jernih, tidak terlalu dalam hanya sebatas lutut orang dewasa dan luasnya tidak sampai tiga meter. Membuat Alin kembali lupa diri. Ia berendam dengan sepuasnya sambil bercengkerama dan sesekali tertawa bersama anak-anak desa.
Alin pulang dalam keadaan basah kuyup, bibirnya sudah sedikit membiru kulit telapak tangannya sudah berkerut kedinginan. Ia berjalan sedikit tergesa sambil mendekap kedua tangannya.
Hazar yang saat itu sedang duduk di balkon kamarnya tampak terkejut melihat keadaan istrinya saat itu. Ia langsung menyambar handuk dan berlari ke lantai bawah.
“Apa yang terjadi?” tanya Hazar cemas, sambil menyelimuti Alin dengan handuk yang dibawanya.
“Nona tadi bermain di sungai Tuan.” Bik Ratih yang menjawab.
Mata Hazar langsung melotot menatap Alin.
“Kakak marahnya nanti saja! Aku sangat kedinginan.” Alin mendekap handuk semakin kuat. Bibirnya tampak bergetar menahan dingin.
Hazar langsung membawa Alin masuk ke kamar mandi.
“Mengapa Kakak membawaku kesini? Aku sudah sangat kedinginan.” ujar Alin.
“Diam! Dan duduklah!” Hazar menekan pundak Alin, memaksanya untuk duduk di dalam bathtub.
Alin merasa sedikit nyaman setelah dimandikan oleh Hazar dengan air hangat.
“Aku tadi membeli dalaman di pasar. Tapi dimana belanjaanku tadi.” Alin memeriksa sekeliling kamar, mencari kantong belanjaannya tadi. “Apa masih di bawah!” gumamnya.
“Mau kemana lagi kau?” tanya Hazar.
__ADS_1
“Mengambil kantong belanjaanku tadi Kakak!” Alin menghela napas, sudah cukup puas dia di omeli selama mandi tadi, dan sepertinya kekesalan suaminya itu masih belum mereda.
Hazar menghampiri pintu kamar dan langsung menguncinya.
“Kakak! aku harus ke bawah mengambil baju yang aku beli dipasar tadi!” seru Alin.
“Kau tidak membutuhkan baju saat ini.”
Alin mulai merasakan gelagat tidak enak. Wajah Hazar tampak menyeringai. Alin mendekap kedua tangannya di dada, sambil mengambil langkah mundur.
“Kakak...!!! Hemmm....”
Hazar langsung ******* bibir Alin. Mengangkat tubuh istrinya itu dan membaringkannya ke atas kasur. Tanpa melepaskan pagutannya, tangan Hazar bergerak melepaskan ikatan jubah mandi di pinggang Alin. Alin sudah kalah telak dia tidak bisa menghindar lagi. Dia hanya bisa pasrah dan mengikuti permainan suaminya itu. “Ini juga bisa di anggap sebagai tindakan penghangat alami.” Gumam Alin dalam kepasrahannya.
*
Alin masih malas untuk bangun dan melepaskan pelukannya dari tubuh Hazar. Ia benar-benar merasa sangat nyaman saat ini. Rasa dingin di tubuhnya sudah hilang tak bersisa. Telah berganti dengan kehangatan yang menenangkan. Mata Hazar masih terpejam, sepertinya dia sangat kelelahan saat ini. Dengkuran halus dari hidungnya masih terdengar oleh Alin.
Alin memainkan jari telunjuknya di dada bidang Hazar yang polos, seperti menuliskan sesuatu di sana. Hingga Hazar merasa terganggu karna ulahnya itu.
“Kakak!” panggil Alin.
“Aku tidak mau acara ulang tahunku di rayakan di rumah Kakek!” ujar Alin.
“Hemm...” Hazar kembali hanya bergumam, dan mendekap tubuh Alin, membenamkan wajah istrinya itu ke dadanya.
“Kakak! Aku benar-benar tidak mau!” seru Alin, suaranya sudah naik satu oktaf. Ia sangat tidak suka dengan respons Hazar yang hanya bergumam tidak jelas.
“Lalu kau mau acaranya dirayakan dimana?”
“Disini saja!” jawab Alin.
“Ulang tahunmu masih seminggu lagi. Dan aku harus masuk kantor.”
“Apa urusan kantor itu lebih penting dari pada aku!!?”
“Hemm...”
__ADS_1
Alin mendongakkan kepalanya, mendorong dada Hazar untuk menjauh darinya. Ada raut kekecewaan di wajahnya sekarang. Ia menatap kesal pada Hazar yang masih enaknya memejamkan mata.
“Tinggalkan saja aku disini. Aku akan pulang minggu besok, setelah ulang tahunku.”
“Tidak bisa!”
“Mengapa tidak bisa! Kakak uruslah perusahaan kebanggaan Kakak itu. Aku akan tetap disini!”
Alin hendak bangkit, tapi tiba-tiba Hazar malah menghimpit tubuhnya, membuatnya susah untuk bergerak.
“Apa yang Kakak lakukan! Pergilah sana!” Hardik Alin. Ia membuang muka tidak mau menatap wajah Hazar. Mukanya sudah memerah menahan kekesalan di dadanya.
“Sebutkan! apa alasannya kau tidak mau menghadiri acara itu?”
Hazar mengapit dagu Alin. Mengalihkan wajah itu untuk menatapnya. Hazar tertegun saat mendapati wajah sendu Alin dengan mata yang terlihat sudah berkaca-kaca.
Hazar menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahi Alin, kemudian membenamkan bibirnya disana, Hazar mempertahankan posisi itu agak lama. Hingga ia merasakan tubuh Alin sedikit berguncang disertai dengan suara isakan yang semakin mengeras.
Hazar kembali menjatuhkan tubuhnya di samping Alin, kembali menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya, dan menghadiahkan banyak kecupan di kepala istrinya itu.
“Akan aku pikirkan kembali tentang acara itu.” ujar Hazar.
Alin tidak menjawab, ia semakin membenamkan wajahnya di dada Hazar. Tangisannya terdengar semakin mengeras.
***
Sore itu Hazar terpaksa harus pergi ke ATM. Semua uang di dompetnya telah tandas dalam kurun waktu yang sangat singkat oleh istrinya itu. Sebenarnya dia sangat malas untuk keluar dari pekarangan Villa, tapi mau bagai mana lagi. Tidak ada seorang pun yang bisa ia perintahkan sekarang. Di sana hanya ada Mang iman dan Bik Ratih, pasangan paruh baya yang tidak terlalu paham dengan dunia ke ATM an. Karna itu Mama Rosa selalu memberi gaji mereka dengan uang tunai/ cash.
“Aku ikut!” ujar Alin, saat melihat Hazar tengah bersiap hendak pergi. Ia sebenarnya masih kesal dengan Hazar. Tapi, mau bagai mana lagi. Ia tidak mau hanya berdiam diri di Villa itu sendirian.
“Bersiaplah cepat.”
“Aku tidak punya baju.” Ketus Alin. Sejak siang tadi sampai sekarang Alin masih belum juga mengenakan pakaian. Dia menghabiskan waktunya dengan bermain ponsel di atas kasur, dengan selimut tebal yang melilit tubuhnya.
Hazar menghela napas, membuka lemari pakaiannya. “Pakai ini sementara. Nanti akan aku belikan baju untukmu.” Hazar melempar baju kaosnya pada Alin.
“Tapi aku masih mau ikut!. Aku tidak mau disini sendirian.” Alin menjauhkan baju yang dilempar Hazar tadi.
__ADS_1
“Kau bisa pergi dengan memakai baju itu! Atau kau mau pergi tanpa memakai apa pun?”