
“Sebaiknya Nona tidurlah di kamar Nona. Siapa tahu Tuan Hazar akan kembali nanti malam, jadi Nona bisa merayunya untuk mengembalikan kartu magic yang Nona lempar dengan sombongnya kemarin” Bibi Fatma terkekeh sembari menurunkan anak tangga.
Alin mendengus dengan terpaksa kembali masuk ke kamarnya. Ia menatap uang dua juta yang di tinggalkan oleh Bibi Fatma.
“Bibi tidak mau menerima uang ini. Lebih baik Nona saja yang simpan, siapa tahu Nona akan membutuhkannya nanti” Kata Bibi Fatma saat mereka hendak keluar dari kamar tadi.
Alin pun menyadari dia sedikit kesusahan saat tidak memiliki pegangan uang di dompetnya.
“Bagaimana jika sekretaris Jon tidak mau lagi datang saat aku telepon, pasti gawat!” Alin bergidik ngeri saat membayangkannya. Ia langsung rebahan di kasur, meraih ponselnya “Tidak ada salahnya jika aku meminta uang pada Hazar!” Alin mengangguk sendiri “Selama dia belum menceraikanku, aku masih tanggung jawabnya untuk di nafkahi” Alin mencari beberapa cara merayu suami di g**gle “Wow!!! Sepertinya sangat banyak istri durhaka sepertiku di luar sana” Alin langsung bangun dan duduk “Lihatlah sangat banyak cara-cara merayu suami. Apa mereka juga kekurangan uang sepertiku! Kasihan sekali. Ckckck” Decak Alin “Lihatlah tulisan ini sudah di baca oleh berjuta orang dan ada ribuan komentar. Tidak seperti NOVEL INI yang hanya di baca oleh tiga orang saja dan tak ada satu komentar pun yang muncul” Author terkekeh.
“Siapa yang menulis tulisan ini! Mengapa semua saranya membuat wanita terlihat murahan seperti ini” Alin melempar ponselnya sembarangan, kembali rebahan “Apa yang harus aku lakukan... Hmmm....” Alin bergumam dan meracau sendiri, kembali meraih ponselnya “Akan aku cari cara yang agak bergengsi, yang tidak terlalu murahan seperti tadi” Alin kembali sibuk dengan ponselnya “Arrgghhhh....” Alin menjambak rambutnya “Mengapa mereka kurang kreatif dalam memikirkan caranya! Mengapa tulisan mereka sama saja” Alin terlihat semakin kesal, sudah belasan tulisan yang ia baca dengan berbeda penulis, namun isi dari tulisan yang ia baca sama saja.
***
“Nona!. Nona! Ayo bangunlah cepat, Nona akan terlambat pergi bekerja” Bibi Fatma menepuk halus punggung Alin.
“Hmmm...” Alin hanya menggumam.
“Nona akan dimarahi oleh rekan yang lainya jika Nona datang terlambat”
“Aku tidak mau bekerja lagi Bibi. Biarkan Hazar saja yang mencari uang” Alin membuka matanya sebentar, kembali menutupnya lagi “Ternyata sangat sulit mencari uang. Aku harus meminta maaf pada Kakek, karna sudah menghambur-hamburkan uangnya, yang dia cari dengan susah payah” Gumam Alin dengan mata yang masih terpejam.
“Benarkah Nona akan meminta maaf pada Tuan Besar!?” Suara Bibi terdengar sangat riang.
Alim membuka matanya dengan sempurna “Tapi bohong!” Alin menyengir lalu bangun dan duduk.
Muka berseri Bibi Fatma langsung padam mendengar kata Alin barusan “Nona bersiaplah, Bibi akan menyiapkan sarapan Nona”
Setelah kepergian Bibi Fatma Alin langsung masuk ke kamar mandi, dan bersiap untuk pergi bekerja.
“Selamat pagi Nona!” Seperti biasa Bibi Yona dan Karin telah menunggu Alin di lantai bawah.
“Pagi juga Bibi, Mbak Karin” Balas Alin, kali ini ia langsung menuju ruang makan tanpa di suruh oleh orang lain.
Saat Bibi Fatma menyiapkan sarapannya ke piring, Alin mulai lagi membuka mulut untuk menginterogasi para pelayan dan Karin “Hmmm... Mbak Karin sampai kapan akan terus mengawasiku?” Tanyanya.
__ADS_1
“Saya tidak pernah mengawasi Anda Nona”
“Lalu apa yang Mbak Karin lakukan sekarang!”
“Saya hanya menjalankan perintah Tuan Hazar Nona”
“Hmmm... ya! Kalau seandainya aku tiba-tiba sakit perut, dan saat itu juga ada keperluan mendesak di perusahaan. Siapa yang akan Mbak Karin awasi terlebih dahulu?”
“Saya akan mendahulukan kesehatan Anda Nona”
“Mengapa begitu!?”
“Karna Anda adalah prioritas utama saya saat ini Nona, kesehatan, kenyamanan dan keselamatan Anda”
“Aku sekarang sedang merasa tidak nyaman” Ujar Alin.
“Apa yang membuat Anda tidak nyaman Nona?” Karin terlihat agak cemas.
“Aku merasa sangat tidak nyaman, karna kalian pelototi seperti ini saat aku makan. Hazar, eh maksudku Kak Hazar, dia bahkan membiarkan pelayan pergi saat kami makan berdua waktu itu”
“Baik Mbak Karin” Jawab Bibi Yona.
“Kalian bahkan tidak bergerak saat aku perintahkan” Sungut Alin “Mengapa Mbak Karin masih di sini?” Tanya Alin heran sebab karina masih berdiri di tempatnya, sementara Bibi Yona dan yang lainya sudah pergi.
Bibi Fatma menghela napas “Cepatlah makan sarapan Anda Nona! Anda akan telat jika terus mengurusi Mbak Karin” Bibi Fatma menaruh sendok ke tangan Alin.
Alin menatap Bibi Fatma sebentar kembali menatap Karin di depanya “Sudah berapa lama Mbak Karin bekerja dengan Kak Hazar?” Alin masih terus bertanya, mengabaikan Bibi Fatma yang terus mendesah di sampingnya.
“Delapan tahun Nona”
“Oh, cukup lama. Mengapa tidak Mbak Karin saja yang diajak pergi oleh Kak Hazar? Mengapa dia malah membawa Pak Naf?”
“Tuan Hazar keluar kota untuk mengurus perusahaan Kakeknya Nona, sedangkan saya adalah sekretarisnya di perusahaan yang Tuan rintis sendiri” Jawab Karin.
Mata Alin terbelalak “Jadi dia mengurusi dua perusahaan sekaligus!”
__ADS_1
“Iya Nona”
“Ckckck, aku bahkan tidak tahu tentang itu. Mengapa hanya Kak Hazar yang tinggal di sini, mengapa Mama, Papa dan Kakeknya tidak tinggal disini juga?” Alin makin mencondongkan badanya ke depan.
“Anda bisa menanyakannya langsung pada Tuan Hazar Nona”
“Kalau begitu berapa banyak uang yang dihasilkan oleh Kak Hazar per bulannya?”
“Anda juga bisa menanyakannya langsung pada Tuan Nona”
Alin kembali menyandarkan punggungnya, ia sangat kecewa mendengar jawaban Karin.
“Apa Mbak Karin mengenal mantan pacar Kak Hazar? Seperti apa mereka?” Alin kembali antusias bertanya.
“Nona sarapan Anda akan dingin kalau Anda terus-terusan menginterogasi Mbak Karin” Ujar Bibi Fatma lagi.
Alin kembali memindahkan sendok di tangannya pada Bibi Fatma “Kalau begitu Bibi saja yang suapi aku! Aku masih memiliki banyak pertanyaan pada Mbak Karin” Alin kembali menatap Karin. Dan tersenyum mekar.
“Tidak baik makan sambil berbicara Nona” Cegah Bibi Fatma.
“Apa Mbak Karin sibuk hari ini? Mari kita berteman mulai sekarang!” Alin mengulurkan tangannya.
Karin tidak langsung menerima uluran tangan Alin “Apa maksudnya Nona?” Tanyanya.
“Apa Mbak Karin tidak memiliki teman?”
“Ada Nona. Tapi Anda tidak bisa saya jadikan teman”
“Hei! Ayolah Mbak Karin. Apa sifat semua sekretaris harus seperti ini? Selalu kaku dan penyendiri”
“Saya akan menunggu Anda di luar Nona” Pamit Karin, karna sepertinya istri dari Tuanya itu tidak akan selesai sarapan jika ia terus berada di sana.
Alin mendengus melihat kepergian Karin, ia mencibir saat mendapati Bibi Fatma tengah menertawakannya.
“Selesaikanlah sarapan Nona dengan baik” Bibi Fatma kembali memindahkan sendok ke tangan Alin.
__ADS_1