Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 30


__ADS_3

“Siapa kalian!” tanya Angel.


“Tadi kau menyebut nama Alin dalam obrolanmu! Apa orang yang akan meminum obat ini adalah Alin?” tanya David. Bibirnya tampak menyeringai, meletakan kertas yang ia rampas tadi ke atas meja.


“Siapa kalian!” Angel kembali bertanya dengan mata melototnya. Tangannya kini mengepal erat. Ia tampak sangat geram dengan dua orang asing di depannya saat ini. Ya! Orang yang merampas suratnya tadi adalah David.


“Sepertinya kita mendapatkan sekutu disini Mama!” ujar David, dengan menarik salah satu sudut bibirnya.


“Apa kau ingin membuat Alin menjadi mandul dengan meminum obat ini?” tanya Amel. Ia menjangkau botol putih yang ditaruh Angel di atas meja.


“Siapa kalian.!” Angel merebut botol itu dari tangan Amel. Sekarang dia sudah tampak ketakutan, sebab ia sudah kedapatan akan berbuat jahat pada Alin.


“Kau tidak usah cemas seperti itu. Kita ada di jalan yang sama!” seru David terkekeh. “Kenalkan aku saudara tirinya Alin dan ini Mamaku.” ujar David, sambil menunjuk Amel Mamanya.


“Apa kalian akan melaporkanku?” tanya Angel ragu.


“Tidak ada untungnya bagi kami jika melaporkanmu.” Ujar David. “Kau teruskan saja rencanamu, kami akan membantumu jika kau kesulitan dan membutuhkan bantuan.” David mengulurkan tangannya. “Kita tim sekarang!” lanjutnya.


Angel terlihat ragu untuk menjabat tangan David.


“Kau bisa mencampurkan obat ini dengan jus buah.” ujar Amel. “Alin menyukai jus mangga, apel dan buah naga.” Lanjutnya.


David kembali menarik uluran tangannya yang tidak di balas oleh Angel.


“Bukankah kalian keluarganya? Mengapa kalian mau mencelakainya?” tanya Angel penuh sidik.


“Keluarga! Cih! Jangan pernah lagi kau menyebutkan itu.”


“Tapi kau sangat tahu dengan jus buah kesukaan Alin.” Angel menatap curiga pada Amel.


“Karna seleranya sangat sama dengan Papanya.” Jawab Amel.


“Nona!” terdengar suara Bibi Yona dari ruang makan. Mereka bertiga pun sontak kaget dan berjalan ke ruang makan.


Mereka mendapati Alin yang sedang duduk di meja makan.


“Ah ternyata Nyonya dan Tuan sudah disini. Saya kira sudah pergi.” ujar Bibi Yona. “apa yang Anda lakukan di dapur Nyonya?”


Pertanyaan Bibi Yona sontak membuat mereka bertiga gelagapan. Angel yang saat itu masih menggenggam satu botol obat, langsung menyembunyikannya di balik punggungnya.


“Tadi aku hanya haus. Jadi aku mencari air minum ke dapur.” Jawab Amel.


“Minuman untuk Anda dan Tuan David sudah di taruh pelayan di meja tamu Nyonya.” Kening Bibi Yona tampak berkerut.


“A-aku hanya ingin jalan-jalan. Ya! Aku hanya penasaran dengan isi rumah ini.” Amel tampak terbata menjawab perkataan Bibi Yona.


“Ada perlu apa kalian kesini?” tanya Alin. Ia menatap Amel dan David bergantian. Ia sama sekali tidak berniat untuk mempersilahkan tamunya untuk duduk.


“Kami kesini ingin minta maaf padamu.” Jawab David ketus.


“Meminta maaf! Apa kau mengalami geger otak saat Kakek memukulimu. Lihatlah, lebam di wajahmu itu membuat kau bertambah jelek.” Alin terkekeh.


Amel dan David dibuat sangat geram oleh sikap Alin. Angel yang menyaksikan itu di buat lega, sebab dia dapat melihat pancaran kebencian dari mata Amel dan David pada Alin.

__ADS_1


“Anda ingin sarapan sekarang Nona? Sebentar saya siapkan.” Ujar Angel. Ia baru bisa tersenyum bebas saat ini.


“Tidak usah. Bibi Fatma yang akan menyiapkan sarapanku.” Jawab Alin cepat. Alin berdiri melangkah mendekati Amel dan David. “kalian bisa jalan-jalan sepuasnya disini, jika kalian masih penasaran dengan isi rumah ini. Angel dari pada kau menganggur tidak ada kegiatan disini, lebih baik kau temani mereka berkeliling.” Lanjut Alin. Bibirnya menyunggingkan senyuman mengejek pada Amel dan David. Kemudian berlalu pergi dari ruang makan.


“Baik Nona.” Jawab Angel. Senyuman masih terukir di bibirnya.


*


“Apa alasan kau ingin membuat Alin menjadi mandul? Apa kau menyukai suaminya?” tanya Amel. Saat mereka bertiga berada di taman belakang rumah Hazar.


“Kalian tidak perlu tahu alasanku.” Jawab Angel.


“Jika kau bisa merebut suaminya maka aku akan sangat berterimakasih akan itu. Karna nasib Alin akan sama seperti Mamanya, dan itu pasti sangat menyenangkan untuk ditonton.” Amel menarik salah satu sudut bibirnya.


Kini mereka telah duduk di kursi taman, hanya David yang masih berdiri, ia menyandarkan punggungnya pada pohon mangga yang menaungi mereka dari panasnya matahari.


“Apa kau merebut Papanya saat Mamanya masih hidup?” tanya Angel.


“Tidak bisakah kau berbicara yang sopan pada Mamaku! Kau tetaplah hanya seorang pelayan di sini.” David sangat geram dengan sikap angkuh dan sombong Angel.


“Kalian bukan siapa-siapa bagiku. Majikanku pun, bukan!.” Angel membalas tatapan sinis David.


“Ya! Aku merebut Haris saat Diana masih hidup. Bahkan saat itu Alin masih berusia empat bulan dalam kandungan Diana.” Ujar Amel. Dia tidak terlalau memikirkan sikap Angel yang tidak sopan padanya.


“Kau cukup hebat.” Jawab Angel.


“Dan kau juga akan terlihat hebat jika merebut suaminya saat dia tengah hamil atau memiliki anak. Karna itu akan membuatnya lebih tersiksa.”


“Lalu apa gunanya kau membuat Alin mandul, kau juga tidak akan bisa memiliki suaminya.” Ujar David menimpali.


“Nyonya Rosa! Dia sangat ingin memiliki cucu. Aku bisa mendekati Hazar melalui dia.”


“Apa dia mau menerima menantu yang hanya seorang pelayan di rumahnya?” David kembali bertanya.


“Nyonya Rosa tidak seperti orang kaya lainnya.” Angel menatap David dengan tajam. “Dia tidak pernah membeda-bedakan status ekonomi orang lain. Bahkan dulu dia bahkan pernah menjodohkan Tuan Hazar dengan pegawai kantornya.”


“Lalu apa kau yakin Hazar akan mau menerimamu?” tanya Amel.


“Tuan Hazar tidak pernah bisa membantah perintah Nyonya Rosa. Karna Nyonya Rosa sangatlah pemaksa jika ia menginginkan sesuatu, dan keinginan terbesarnya saat ini adalah memiliki cucu.” Bibir Angel tampak menyunggingkan seringai liciknya.


“Oh, baguslah ternyata kau masih memiliki peluang.” Ujar Amel.


“Apa Hazar tidak merasa terganggu dengan cara berpakaianmu yang seperti ini?” David kembali bertanya tentang penampilan Angel.


Angel menatap tidak suka pada David yang seperti merendahkannya.


“Apa kau selalu berpakaian seperti ini saat bekerja?” David memperhatikan Angel dari ujung kaki hingga kepala. “kau lebih cocok jadi wanita penghibur.” David kembali menyeringai.


“Dan kau lebih cocok menjadi preman jalanan, dengan wajahmu itu.” Angel membalas seringai David.


***


Setelah pergi meninggal Amel dan David di ruang makan, Alin kembali masuk ke kamarnya. Ia masih malas untuk melakukan apa pun. Tadi sebelum masuk ke kamar dia berpesan kepada Bibi Yona untuk mengantarkan sarapannya ke kamar saja.

__ADS_1


Alin duduk di sofa menyalakan televisi dan meraih ponselnya. Ia hanya sibuk dengan ponsel di tangannya, mengabaikan televisi yang entah apa gunanya ia nyalakan sejak tadi.


Tok! Tok!...


Bibi Fatma muncul dari balik pintu dengan membawa sebuah nampan di tangannya.


“Apa Nona menunggu lama?” tanya Bibi Fatma, sambil meletakan nampan di atas meja.


“Tidak, mengapa Bibi bisa lama?”


“Katanya tidak, tapi bertanya juga!” ujar Bibi Fatma.


Alin meletakan ponselnya, meraih sendok dan bersiap hendak menyantap sarapannya.


“Tadi saya bertemu dengan Nyonya Amel dan Tuan David di bawah. Apa Nona tidak mau menemui mereka?”


“Aku sudah menemui mereka tadi. Apa mereka masih disini?” tanya Alin ia telah sibuk dengan sendok dan mangkuk sarapannya.


“Iya mereka masih disini. Sepertinya mereka cukup dekat dengan ibu Angel.” Ujar Bibi Fatma.


“Hemm... biasanya spesies yang sama memang gampang akrab.” Alin menyengir sebentar kembali memasukkan sesuap bubur ke mulutnya.


Bibi Fatma hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Mengapa susunya belum Nona minum?” tanya Bibi Fatma saat melihat gelas susu Alin yang masih penuh dan utuh.


“Aku tidak suka, rasanya sangat tidak enak.”


“Nona tidak boleh begitu, Tuan Hazar sudah payah membuatkannya untuk Nona.”


“Aku tidak pernah memintanya untuk membuatkan susu untukku.”


Bibi Fatma berdiri mendekati nakas. Membawa gelas susu ke meja dekat Alin.


“Nona Harus menghargai usaha Tuan Hazar. Nona tahu semua pelayan di bawah dibuat iri oleh Nona. Tuan Hazar pasti sangat mencintai Nona, sampai harus dia sendiri yang turun tangan untuk membuatkan susu untuk Nona.” Ujar Bibi Fatma, matanya tampak menerawang sambil senyum-senyum masam.


“Jika membuatkan susu adalah ungkapan cinta. Berarti pelayan Cafe tempat aku biasa memesan susu juga mencintai aku Bibi.” Mata Alin mengerjap manja. “apa aku harus membalas cinta Si Pelayan itu Bibi!” lanjut Alin.


“Apa Nona sudah selesai? Saya akan kembali ke bawah.” Nada suara Bibi Fatma terdengar ketus.


Alin terkekeh melihat Bibi pengasuhnya yang merajuk. “Akan aku habisi susu ini Bibi.” Ujar Alin, ia meraih gelas susu dan meminumnya dalam satu tarikan napas. Wajah Alin tampak mengernyit saat meletakan gelas susu yang sudah kosong ke atas meja. “Kalau besok Bibi saja yang membuatkan susu untukku. Buatan Kak Hazar sangat tidak enak!” ujar Alin, sambil mengusap sudut bibirnya.


“Rasanya tidak enak karna Nona meminumnya saat susu itu sudah dingin, rasanya akan enak jika Nona langsung meminumnya saat masih panas.”


“Ah, terserahlah. Pokoknya Bibi saja yang buatkan besok.”


“Ada perlu apa Nyonya Amel dan Tuan David kesini Nona?” Bibi Fatma baru teringat perihal kedatangan mantan majikannya itu.


“Aku juga tidak tahu, dan tidak ingin tahu Bibi.” Ujar Alin.


Terdengar Bibi Fatma menghela napas. “Saya akan ke bawah Nona.” Bibi Fatma mengemasi mangkuk dan gelas kotor.


“Apa Bibi mau menanyakannya langsung pada Tante Amel dan David?”


“Tidak Nona. Saya juga tidak ingin tahu apa urusan mereka kesini.”

__ADS_1


__ADS_2