
Setelah dibebaskan dari masa hukumannya Alin berusaha untuk menjalin perannya sebagai istri dari seorang Hazar dengan baik. Yang mana dia harus menuruti dan mematuhi semua ucapan dan perintah dari sang suami.
Selama satu minggu ini Alin masih merasa berat menyesuaikan diri. Jam istirahat malamnya selalu tersita oleh Hazar yang hampir setiap malam mengganggu tidurnya. Setiap pagi Alin selalu terlihat tidak bersemangat, ia jadi sering menguap karna masih mengantuk. Bahkan sekarang dia memiliki lingkaran hitam di kantung matanya. Hazar hampir setiap hari memintanya untuk berhenti saja bekerja, namun Alin selalu menolak. Salah satu alasan Alin bekerja adalah agar dia bisa bebas dan menghirup udara luar. Tidak bisa dibayangkan jika dia harus berhenti bekerja, dia akan terlihat seperti tahanan kelas VVIP. Yang mana hidupnya bergelimang kemewahan, tapi pergerakannya akan selalu dibatasi oleh dinding dan pagar yang kokoh.
“Apa kamu baik-baik saja?”
Wira kembali menanyakan hal yang sama sejak tiga hari belakangan ini. Ia terlihat khawatir dengan keadaan Alin yang terlihat sangat lesu dan tidak bersemangat.
“Sebaiknya kamu istirahat saja.” Lanjut Wira.
“Tidak, Gue baik-baik aja kok. Cuma lagi dalam masa penyesuaian aja.”
Hazar mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan ucapan Alin barusan.
“Apa yang perlu kamu sesuaikan?” tanyanya bingung.
“Lo akan mengerti kalo sudah punya pasangan. Mau Gue atur jadwal kencan Lo sama Sarah!” Alin tampak menyeringai.
Wira tidak menjawab, ia lebih memilih pergi meninggalkan Alin.
“Hei... Lo mau kemana? Gue belum selesai ngomong!” seru Alin, namun Wira samasekali tak menghiraukannya.
Karna ditinggalkan oleh Wira sendirian Alin lebih memilih pergi ke Cafe untuk membeli minuman cokelat hangat. Sekarang dia sangat membutuhkan yang manis-manis untuk mengembalikan gairah hidunya.
“Selamat pagi Nona Alin!”
Alin menoleh ke asal suara, ternyata Dina sekretaris Papanya yang menyapanya.
“Pagi Mbak Dina.” Balas Alin tersenyum ramah. Kembali meneruskan langkahnya menuju Cafe.
“Anu... Nona Alin.” Ujar Dina tidak jelas.
Alin kembali menghentikan langkahnya. “Anu apa Mbak Dina?”
“Anu, Tuan Haris meminta Nona untuk ke ruangannya sekarang.”
“Anu... haruskah sekarang juga Mbak Dina?” Alin meniru cara berbicara Dina. “anu aku baru saja mau ke Cafe untuk membeli cokelat panas. Tidak bisakah nanti saja.” Lanjut Alin.
“Tapi Tuan sudah menunggu Anda Nona. Biar saya saja yang membeli minuman Anda.” Ujar Dina.
“Anu. Baiklah Mbak Dina. Terimakasih, aku akan ke atas sekarang.”
“Baik Nona.”
Alin tersenyum saat melihat Dina jalan terburu-buru menuju Cafe. Selain mengganggu sekretaris Jon, Alin juga sering menggoda Dina sekretaris Papanya itu. Menurut Alin Dina adalah sekretaris yang langka, karna sifatnya yang terlihat agak ceroboh Dina juga sangatlah pemalu orangnya.
__ADS_1
Saat sampai dilantai atas ternyata Papanya tak sendirian di sana. Kakek, manusia tua itu, rasanya sudah cukup lama Alin tidak pernah lagi bertemu dengannya, mungkin sejak ia menikah dengan Hazar.
Alin langsung duduk di sofa tanpa menyapa Kakek atau Papanya terlebih dahulu. Menyandarkan punggungnya dengan nyaman dan menyilangkan kakinya. Meraih ponselnya dari saku jas putih yang ia kenakan. Itu adalah gaya dan kebiasaan Alin jika berhadapan dengan Kakeknya. Entah apalah alasannya, ia selalu malas untuk berhadapan atau sekedar berbicara dengan Kakeknya itu.
“Alin bersikap lebih sopanlah pada Kakekmu!” tegur Papa.
Alin berdecak malas, menurunkan kakinya.
“Ada perlu apa Papa memanggilku? Bicaralah cepat, aku tidak memiliki banyak waktu.” Ujar Alin.
Papa Haris meletakan beberapa lembar undangan di atas meja. “Undanglah beberapa temanmu untuk datang, dan undangan untuk rekan bisnis suamimu sudah dikirim ke kantornya.”
Alin meraih satu undangan dan membacanya. Entah ada yang lucu, tiba-tiba tawa Alin langsung pecah, menggema di ruangan Papanya itu.
“Apa aku Ngga salah baca!” Alin masih tertawa, ia kembali memeriksa undangan tadi. Mungkin tadi dia salah baca pikirnya. Alin melemparkan kembali undangan ditangannya ke atas meja, dan menyudahi tawanya.
“Siapa yang punya ide senorak ini!” ujar Alin. Kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
“Aku sudah menghubungi suamimu dan dia setuju ulang tahunmu kali ini akan di adakan di rumah kita.” Ujar Kakek.
“Apa Kakek tidak memiliki rasa malu sedikit pun!” Alin menatap Kakek dengan tajam.
“Tidak ada yang perlu aku malukan. Kau tetaplah cucu yang ku asuh dan kubesarkan. Dan orang-orang hanya mempercayai itu.”
Alin pergi dari ruang Papanya tanpa membawa selembar undangan pun. Dia merasa semakin geram dengan Kakeknya yang masih saja memanfaatkan dirinya untuk keuntungan Yayasan sialan itu. Ya! Diacara ulang tahun itu pasti Kakeknya akan melakukan pertemuan bisnis dadakan, dengan memanfaatkan Hazar suaminya untuk membawa beberapa teman bisnisnya ke acara itu.
Sudah dua puluh empat kali ia berulang tahun, baru kali ini keluarganya mengadakan pesta untuknya. Di tahun-tahun yang telah lalu bahkan ucapan selamat pun tak didapatkannya dari mulut Kakek dan Papanya itu. Sekarang setelah dia menjadi istri dari seorang Hazar, Kakeknya berlagak seperti sangat memedulikannya dan itu membuat Alin semakin merasa benci dengan Kakek tua itu.
“Antarkan aku ke tempat Kak Hazar!”
Ujar Alin pada Bobi saat mereka telah berada di dalam mobil. Jam kerjanya telah usai beberapa menit yang lalu.
“Baik Nona.”
Saat sampai di ruangan Hazar ternyata Hazar sedang ada pertemuan dengan rekan bisnisnya. Karna bosan menunggu di ruangan kerja Hazar yang sama membosankannya baik itu di rumah mau pun di perusahaan keluarganya kemarin. Alin pun lebih memilih menunggu Hazar di Cafe yang terletak bersebelahan dengan kantor suaminya itu. Tanpa berpamitan pada bawahan Karin yang menyambutnya di pintu tadi.
Alin memilih duduk di bagian sudut Cafe, menghadap ke dinding dan membelakangi orang-orang. Suasana hatinya sangat kacau saat ini. Memikirkan bagai mana caranya agar acara ulang tahun yang disiapkan Kakeknya itu bisa dia gagalkan. Satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya kini adalah membujuk Hazar, untuk tidak datang ke acara si alan itu. Tapi dia tidak terlalu yakin dengan idenya itu. Hazar sangat sulit untuk di bujuk dan di ajak bekerja sama.
Alin memejamkan matanya, menghela napas dan menghembuskannya dengan kasar.
Ponsel yang ditaruh Alin di atas meja berdering, ada panggilan telepon dari Hazar. Alin hanya diam memandangi ponselnya yang bergetar tak henti-hentinya. Diam sebentar lalu kembali berdering lagi. Sudah bisa di pastikan Hazar pasti sedang marah sekarang karna dia mengabaikan panggilannya. Hingga seorang pelayan Cafe mendatangi mejanya untuk mengantarkan pesanannya.
“Terimakasih!” Alin langsung berdiri meraih minuman pesanannya dan ponselnya yang masih saja berdering. Kemudian berjalan keluar Cafe.
“Nona!” panggil Karin, yang ternyata sudah menunggunya di lobby. Wajah Karin tampak sedikit mengerut, mungkin dia sudah kena semburan kemarahan dari Hazar.
__ADS_1
Alin menyerahkan beberapa cangkir minuman yang di belinya tadi pada Karin, menyisakan dua cangkir minuman di tangan kirinya.
“Maaf! Apa kau kena marah oleh Kak Hazar?”
“Tidak Nona!” jawaban Karin sudah pasti bohong. “Mari saya antar ke ruangan Tuan Nona. Tuan Hazar sudah menunggu Anda.”
Saat memasuki ruangan Hazar, Alin langsung di sambut oleh tatapan kemarahan suaminya itu. “Dari mana saja kau!” geram Hazar.
Alin tidak menjawab, dia hanya mengangkat dua cangkir minuman ditangannya. Seperti memberi jawaban bahwa dia baru saja dari Cafe.
Alin meletakan dua cangkir minuman itu ke atas meja lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa.
“Ada perlu apa kau kemari?” Hazar kembali bertanya.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya merasa bosan di rumah.” Alin mengeluarkan cangkir minuman dari kotak jinjingnya. “Apa Kakak masih sibuk? Minumlah. Aku akan pulang sebentar lagi, setelah menghabiskan ini.” Alin mengangkat cangkir miliknya.
Hazar tidak berkomentar. Dia hanya menatap tajam pada Alin yang terlihat tidak seperti biasanya.
“Ayo pergi!”
Alin mengerutkan keningnya. “Pergi kemana? Bukankah Kakak masih banyak pekerjaan?”
Hazar tidak menyahut, ia menggapai tangan Alin dengan terpaksa Alin pun ikut berdiri, dan menurut saja saat Hazar menyeretnya keluar.
“Siapkan mobilku!” ujar Hazar pada Karin yang sedang duduk di meja kerjanya.
Karin langsung berdiri. “Baik Tuan.”
Hazar masih menggenggam tangan Alin menariknya masuk ke dalam lift.
Saat sampai di luar kantor Pak Sukri dan Bobi sudah bersiap hendak membukakan pintu mobil untuk Tuannya, namun kembali di tutup oleh Hazar.
“Kalian pulanglah dulu.”
Hazar membukakan pintu depan di samping kemudi. Tangan Alin masih di genggamnya.
“Masuk!” perintahnya pada Alin.
“Kita mau kemana?” tanya Alin saat Hazar sudah duduk di belakang kemudi.
“Diamlah! Lebih baik kau tidur saja.”
“Tidur? Apa perjalanannya akan memakan waktu yang lama?”
“Iya.”
__ADS_1