Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 43


__ADS_3

Wira merasa risi melihat pundak polos Alin yang terpampang nyata di depan matanya, akhirnya ia menyampirkan jasnya ke pundak Alin.


“Ini sudah malam... nanti kamu masuk angin,” ujar Wira, sambil mengalihkan pandangannya ke lain arah.


“Sok cool banget sih lo!” cibir Alin.


Karna Alin memang merasa sedikit kedinginan ia pun memakaikan jas itu dengan benar, dia bahkan menyematkan kancing jas itu.


Alin terkejut tiba-tiba seseorang menarik tangannya dengan kasar, hingga tubuhnya terhuyung ke arah si penarik.


“Kakak!” pekik Alin. Pergelangan tangannya yang digenggam Hazar terasa sangat nyeri.


Mata Hazar terlihat melotot, dengan rahang yang terlihat mengeras. Dia menarik tangan Alin dengan kasar. Ia mengabaikan suara Alin yang berteriak kesakitan, serta banyaknya mata yang menyaksikan tindakannya itu.


“Kakak lepas...!” Alin masih saja meronta mencoba melepaskan tangannya.


Hazar akhirnya melepaskan tangan Alin setelah mereka sampai di halaman belakang rumah yang sepi. Tapi, ternyata mereka tidak berdua saja di sana, Wira juga ikut menyusul mereka di belakang.


Hazar terlihat tidak suka dengan kehadiran Wira di sana. Namun dia berusaha untuk mengabaikan kehadiran Wira di sana. Hazar melepaskan jas yang dikenakan Alin dengan gerakan kasar.


Wira tidak tinggal diam saat melihat perilaku kasar Hazar pada Alin. Dia pun menepis tangan Hazar dengan kuat, dan melindungi tubuh Alin dari terkaman tangan Hazar.


“Kamu bisa memintanya untuk melepaskan jas itu dengan baik!” ujar Wira.


“Ini bukan urusan kamu!” Hazar mendorong tubuh Wira yang menghalangi pandangannya. Namun Wira tak bergeming dari tempatnya.


Hazar tak dapat lagi menahan emosinya.


BUG!


Sebuah pukulan keras dari Hazar mendarat di rahang Wira. Hingga tubuh Wira terhuyung ke belakang.


“Kakak!...” pekik Alin, dia langsung memasang badan di depan Wira. Air mata Alin sudah berhamburan keluar.


Tindakan Alin yang terlihat lebih memilih melindungi Wira, membuat emosi Hazar semakin membuncah. Dia kembali menarik tangan Alin, namun...


BUG!


Wira melayangkan tinjunya. Tepat mengenai sudut bibir Hazar. Akhirnya perkelahian pun tak dapat dihindari lagi. Alin sudah berteriak-teriak meminta tolong. Namun anehnya tidak ada seorang pun di sana. Kecuali mereka bertiga.


Alin terlihat berlari masuk ke dalam rumah.


Tangan Wira dan Hazar saling mengunci di dada lawan masing-masing dari mereka. Darah segar mengalir dari Hidung dan sudut bibir mereka. Mata mereka terlihat saling memancarkan api kebencian.


“Apa kau sering berlaku kasar pada Alin!” Wira semakin mengencangkan cengkeramannya pada kerah baju Hazar.

__ADS_1


“Dia istriku... mau bagaimanapun aku bersikap padanya, itu bukan urusanmu!”


Wira terlihat menyeringai. “Teruslah bersikap kasar padanya. Saat dia sudah bosan dan merasa tidak sanggup lagi dengan pernikahan bisnis kalian, saat itu... akan lebih mudah dia ku dapatkan!”


Sebuah pukulan dari Hazar kembali menghantam wajah Wira. Namun kali ini Wira terlihat tidak tertarik untuk membalas, dia hanya tersenyum menyeringai pada Hazar. Itu pun mampu membuat emosi Hazar makin tersulut.


“Tuan!” seru Bobi, dia langsung melerai perkelahian yang hampir terulang. Namun dia sedikit kesulitan karna Hazar masih ingin melampiaskan kekesalannya pada Wira. “Tuan... orang-orang di dalam sedang menunggu kehadiran Anda!”


***


Hazar melewati kerumunan dengan langkah lebarnya, dia sama sekali tidak menghiraukan orang-orang yang menatap heran ke arahnya. Bahkan panggilan Kakek dan Papa Alin pun tak digubrisnya.


“Dimana Alin?!” seru Hazar saat ia sampai di depan mobil namun Alin tak juga tampak oleh matanya.


“Nona sudah pergi Tuan,” jawab Pak Sukri.


Hazar langsung berbalik badan, menatap tajam pada Bobi. “Mengapa kau malah di sini? Bukankah kau... aku perintahkan untuk menjaga istriku!” seru Hazar emosi.


Melihat Bobi yang hanya tertunduk sambil berulang mengatakan kata maaf membuat Hazar semakin geram. Hazar menendang kaki Bobi dengan cukup keras. Sakit, namun Bobi masih berusaha untuk tetap berdiri tegap di depan Tuannya itu. Hazar membanting pintu mobil dengan keras. Kemudian berlalu pergi meninggalkan Pak Sukri dan Bobi di sana.


Hazar memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Mengabaikan teriakan dan sumpah serapah pengguna jalan yang hampir terserempet olehnya. Hazar memaki-maki dan membunyikan klakson mobilnya berkali-kali saat jalanan tersendat di lampu merah.


Hampir satu jam waktu yang dibutuhkan Hazar untuk sampai di rumahnya. Ia langsung menghambur turun. Alin! Istrinya itu, masih tak ia dapati di dalam kamar.


“Nona Alin belum pulang sejak pagi tadi Tuan.” jawaban Bibi Yona saat ia menanyakan keberadaan istrinya.


*


Kakek Setyo meminta Sekretaris Jon untuk mencari tahu apa yang terjadi. Dia merasa sangat dipermalukan dengan kejadian tadi.


“Sepertinya Nona Alin dan Tuan Hazar sedang bertengkar Tuan.” jawab Sekretaris Jon.


“Apa dia juga berkelahi dengan Alin?!”


“Tidak Tuan. Tuan Hazar berkelahi dengan teman Nona Alin, dokter Wira!”


“Di mana bocah itu sekarang?”


“Dokter Wira juga sudah pulang Tuan.”


“Apa Alin memiliki hubungan spesial dengan bocah itu?”


“Dari yang saya dengar mereka hanya berteman Tuan.”


“Cih...” Kakek menarik salah satu sudut bibirnya. “Kau pikir ada yang namanya teman di antara laki-laki dan wanita dewasa! Ternyata darah pelacur wanita itu menurun pada Alin.” ujar Setyo dengan seringainya.

__ADS_1


Kakek Setyo tampak sedang berpikir, ia berjalan mondar mandir di ruang kerjanya.


“Kau pindahkan bocah itu ke tempat yang jauh. Buat Alin tidak bisa lagi menemuinya. Aku tidak mau ada masalah sebelum Alin melahirkan.” ujar Kakek pada Sekretaris Jon.


“Tapi Tuan, Anda sudah menanda tangani surat perjanjian dengan dokter Wira!”


“Kau hanya perlu memberinya uang!” teriak Kakek, menatap berang pada sekretaris Jon.


“Baik Tuan.” jawab Sekretaris Jon.


***


Semalam Alin tidak pulang ke rumah Hazar. Ia lebih memilih menginap di Hotel. Alin hanya berdiam diri duduk di sisi ranjang. Pandangan matanya terlihat kosong, entah apa yang sedang dipikirkannya. Hingga pagi datang menjelang pun, Alin masih tetap terjaga.


Saat pagi hari Alin pun memutuskan untuk pulang ke rumah Hazar. Dia harus pergi bersama Bibi Fatma, untuk mengunjungi ibu Bibi Fatma nanti siang. Alin masih tampak seperti semalam hanya rambutnya yang berubah, sekarang rambut hitamnya yang sebahu itu dibiarkannya tergerai bebas.


Alin masuk ke dalam rumah dengan langkah gontainya. Ia bertemu dengan Bibi Yona, Bibi Fatma dan beberapa pelayan lainnya di ruang tengah. Ekspresi wajah mereka tampak berbeda dari sebelumnya. Alin sudah bisa menebak, pasti Si Tuan Muda telah mengamuk semalaman. Terbukti, beberapa barang-barang tampak berserakan di lantai.


Alin menghela napas, kemudian menyerahkan jas Wira yang dipakainya semalam pada Bibi Fatma. “Bibi tolong dicuci ya!” lirihnya.


Kemudian melangkah ke lantai atas.


Alin tidak mendapati Hazar di sana. Karna tubuhnya yang terlalu kelelahan Alin pun langsung tidur. Ia langsung merebahkan badannya di atas kasur tanpa mengganti bajunya terlebih dahulu.


*


Hazar memejamkan matanya, sudah berkali-kali ia menghela napas. Suara Alin yang bisa di dengarnya dari ruang kerja, membuat ia merasa sedikit lega. Karna, setidaknya Alin tidak lari darinya. Sama seperti Alin, dia juga terjaga semalaman. Hazar memutuskan untuk tidak langsung menemui Alin saat itu. Ia juga merasa takut dengan emosinya sendiri, takut jika nanti ia kembali berbuat kasar pada Alin.


Setelah merasa cukup lama menenangkan diri Hazar pun keluar dari ruang kerjanya. Tidak ada siapa pun di sana. Kecuali, Bibi Fatma yang terlihat sengaja menunggunya di depan pintu.


“Tuan!” panggil Bibi Fatma.


Hazar hanya melirik Bibi Fatma sekilas. Ia tidak menyahut, tetap meneruskan langkahnya.


Bibi Fatma masih berusaha untuk berbicara meski Hazar mengabaikannya. “Kemarin adalah hari peringatan kematian Nona Diana, Mamanya Nona Alin.” ujar Bibi Fatma.


Langkah Hazar terhenti, ia sempat mematung di tempatnya selama beberapa detik.


“Nona Diana mengalami pendarahan yang hebat... saat melahirkan Nona Alin. Hingga nyawanya tak ter tolongkan.” Suara Bibi Fatma sudah mulai terdengar berat. “Karna itu... Nona Alin tidak pernah mau merayakan hari ulang tahunnya.” lanjut Bibi Fatma. Kini suara isakannya sudah terdengar oleh Hazar.


Hazar membalikkan badannya, menatap tak percaya pada Bibi Fatma. Kisah singkat yang didengarnya barusan, sangat berbeda dari cerita detektif swasta yang dulu pernah ia minta untuk menyelidiki Alin. Sosok gadis remaja yang telah mencuri perhatiannya dulu.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2