Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 77


__ADS_3

Hazar merasa sedikit lega, bebannya terasa lebih ringan saat ia telah menceritakan semuanya pada Mama Rosa. Ia merasa tak lagi sendirian, ada Mama Rosa, Papa Adi, dan Papa Haris yang selalu mendukung dan menguatkannya. Sekarang bukan hanya dia, tapi mereka berempatlah yang akan menjaga Alin dan buah hatinya. Dengan segenap rasa kelegaan ini ia langkahkan kakinya menuju tempat orang terkasihnya. Alin dan calon bayi mereka.


Hazar naik ke atas ranjang, ikut berbaring di samping istrinya. Ia menyentuh perut Alin yang masih datar. Jantungnya bergetar hebat tatkala tangannya menyentuh kulit Alin. Ia merasa tak percaya kalau ada buah hatinya di dalam sana.


Hazar kembali duduk, ia menyibak lebar-lebar selimut Alin. Ia sedikit menyingkap baju bawah Alin. Untuk kedua kalinya, jantungnya kembali bergetar. “Kau harus tetap sehat di sini. Jangan menyusahkan Mamamu.” Bisik Hazar di perut Alin. Matanya berkaca-kaca, ia merasa sangat bahagia sekarang.


Hazar tidak bisa tidur, matanya masih setia melototi wajah Alin, dan tangannya tak pernah lepas dari perut Alin.


*


“Kakak!” Alin menepuk-nepuk pipi Hazar. “Kakak! Bangunlah. Ayo, kita pulang.” Rengeknya.


Hazar membuka matanya yang baru saja terpejam setengah jam yang lalu. “Ada apa?” tanya Hazar parau. Ia langsung duduk. Kesadarannya langsung pulih sepenuhnya, raut wajah tampak cemas. “Apa ada yang sakit?” tanyanya sambil menggenggam tangan Alin.


Alin menggeleng, “Aku mau pulang, di sini sangat bau.” Ujar Alin dengan wajah mengernyit.


“Hmmm. Ya, kita pulang sekarang.” Tanpa meminta persetujuan dari Dokter terlebih dahulu, Hazar langsung mengiyakan permintaan istrinya. Hari yang masih gelap pun tak menjadi penghalang baginya untuk menuruti kemauan istrinya itu. Hazar meninggalkan kecupan di kening Alin, kemudian turun dari ranjang.


*


“Mau ke mana?” tanya Hazar pada Alin. Mereka baru saja sampai di rumah, dan Alin malah berbelok ke arah dapur. Bukan ke kamar mereka.


“Aku mau ke dapur. Aku lapar.” Ujar Alin sambil mengusap perutnya.


“Mau makan apa? Kau tunggu di kamar saja.” Hazar mengalihkan pandangannya pada Bobi.


“Bangunkan Bibi Fatma.” Perintahnya.


“Tidak usah!” cegah Alin cepat. “Aku hanya ingin makan buah-buahan.”


Dan saat itu, Bibi Fatma yang ternya memang belum bisa tidur karna mencemaskan keadaan Alin, pun keluar dari kamarnya.


“Anda ingin makan apa, Nona? Akan saya siapkan segera.”


“Bibi sudah bangun? Apa aku mengganggu?” Alin menatap Bibi Fatma dengan rasa bersalah. Ini masih terlalu pagi untuk terbangun.


“Tidak, Nona. Saya memang sudah bangun dari tadi. Sebutkan saja apa yang Anda inginkan? Apa bubur bayam?” Desak Bibi Fatma tak sabaran. Ia sangat bersyukur sekarang, melihat Alin dalam keadaan baik-baik saja. Saking senangnya, dia bahkan lupa menyapa Hazar yang juga ada di sana. Matanya tak bisa lepas dari Alin.


“Apa Bibi tidak bisa tidur semalaman, karna aku!”


Bibi Fatma menggeleng, namun sesuatu yang sejak tadi mengganjal di tenggorokannya seketika terlepas, menimbulkan rasa panas yang menjalar ke hidung dan matanya.


Alin berhambur memeluk Bibi Fatma. Tangisannya pecah di balik punggung Bibi Fatma. “Maafkan aku. Aku hanya bisa menyusahkan Bibi selama ini.”


*


“Berhentilah menangis.” Hazar mengusap air mata Alin untuk ke sekian kalinya. Sekarang ia tengah duduk di safa kamar mereka, sambil mendekap tubuh Alin yang tak henti-hentinya menangis sejak tadi. “Kau, mau tidur di kamar Bibi Fatma?”


Alin menggeleng, “Bibi Fatma tidak akan bisa beristirahat, jika aku tidur di sana.” Alin mengangkat kepalanya dari dada Hazar.


“Carikan koki lain untuk menyiapkan sarapan pagi ini. Biarkan Bibi Fatma beristirahat sebentar.” Pinta Alin, mata sembabnya menatap sendu pada Hazar.


“Iya, akan aku carikan. Sekarang bukan hanya Bibi Fatma yang perlu beristirahat.” Hazar mengangkat tubuh Alin, memindahkannya ke atas ranjang, lalu ia pun turut berbaring di sana.


Belum sempat Hazar membenarkan posisi tidurnya dengan sempurna, tangan Alin sudah menarik dan melingkar di perutnya. Hazar menyelipkan lengan tangannya di bawah kepala Alin, menjadikannya sebagai bantal untuk istrinya. “Tidurlah.” Hazar mendekap erat tubuh Alin.


*

__ADS_1


Alin mengerjapkan matanya, menatap Hazar sekilas, kemudian duduk dan melirik jam dinding. Alin meregangkan otot-ototnya yang kaku. “Sudah siang,” gumamnya. Alin turun dari ranjang, dan berniat untuk ke kamar mandi.


Namun baru lima langkah ia meninggalkan kasur, ia kembali berbalik. Ternyata ada yang terlupakan olehnya.


Cup! Alin meninggalkan sebuah kecupan di bibir Hazar. Ternyata hanya itu yang terlupakan. Setelah itu Alin kembali melangkah ke kamar mandi.


Melihat Hazar yang tidur lelap, membuat Alin enggan untuk membangunkan suaminya itu. Kini sudah agak siang, dan sudah terlalu telat jika suaminya ke kantor.


“Mama, mau pergi?” tanya Alin saat melihat Mama Rosa di lantai satu, mertuanya itu telah rapi dan menenteng tas jinjing.


“Kamu sudah bangun, sayang!” Mama Rosa menangkup wajah Alin. Meninggalkan ciuman di pipi kiri dan kanan Alin. “Mama mau pergi sebentar. Apa ada yang ingin kamu titipkan? Kamu sedang mau makan apa... gitu! Biar Mama belikan.”


Alin mengerutkan keningnya. Tidak biasanya Mama Rosa seperti ini. “Tidak ada, Ma.” Jawabnya masih dengan raut kebingungan.


“Pikirkan dulu... Mau rujak buah? Atau makanan yang asam-asam lainnya!” Mama Rosa malah ngotot meminta Alin berpikir.


Alin semakin kebingungan. “Hmmm... Aku titip...” Alin berpikir sejenak. “Rujak saja, Ma.” Jawabnya seperti tidak yakin. Karna ia memang sedang tidak menginginkan sesuatu. Tapi karna Mama Rosa seperti memaksa Alin pun terpaksa memilih rujak.


Bibir Mama Rosa terkembang sempurna. Ia meraih tangan Alin dan membelai punggung tangan menantunya. “Baiklah, sayang. Kamu baik-baik di rumah. Jangan sampai kecapean seperti kemarin.”


Meski merasa aneh dengan situasi saat ini, Alin pun tetap mengiyakan pesan Mama Rosa. “Iya, Ma. Mama juga hati-hati di jalan.”


*


“Mbak Karin!” sapa Alin saat melihat Karin sedang berada di ruang tengah berbincang dengan Bibi Yona.


“Selamat siang, Nona.” Sapa Bibi Yona dan Karin. Setelah mendekat pada Alin.


“Siang, Bibi.” Alin tersenyum pada Bibi Yona. Lalu mengalihkan matanya pada Karin. “Apa Mbak Karin sedang menunggu Kak Hazar?”


“Tidak, Nona.”


“Ada yang bisa saya bantu, Nona?” tanya Karin.


“Tidak ada, Mbak. Aku pergi dulu.”


“Anda, mau ke mana, Nona!” Cegat Karin saat melihat Alin hendak keluar dari rumah.


Alin menatap Karin dengan keheranan. “Aku hanya mau ke taman. Hidungku sedang sensitif dengan bau ruangan.” Jawabnya.


“Mari, saya antar, Nona.”


“Tidak usah. Aku hanya mau ke taman depan. Apa Mbak Karin tidak punya kegiatan lain?”


“Tidak ada, Nona. Jadwal saya sedang kosong sekarang. Mari, saya antar.” Jawab Karin dengan tampang kakunya.


Melihat Karin yang seperti tidak bisa dicegah, Alin pun tak berkomentar lagi. Ia melangkah duluan keluar dari rumah. Diikuti oleh Karin dan Bibi Yona.


“Apa ada keluhan lain, Nona.” Tanya Karin saat Alin telah duduk di kursi taman.


Alin tergelak. “Apa Mbak Karin sekarang sudah jadi dokter? Pake nanya keluhan segala.”


“Anda, mau sarapan apa, Nona?”


“Oh, ayolah, Mbak Kari.” Alin menatap kesal pada Karin. “Biarkan Aku duduk dengan nyaman sebentar. Tanpa harus ditanya-tanya.”


“Tapi, Anda, belum sarapan, Nona.”

__ADS_1


Alin menghela napas, jengah. “Apa Kak Hazar yang meminta, Mbak Karin, untuk membuntutiku!?”


“Tidak, Nona.”


“Ya, sudah, kalau tidak.” Alin menepuk kursi di sampingnya. “Bibi, dan Mbak Karin, lebih baik duduk saja.”


“Nona, ini sudah hampir jam makan siang. Anda, harus makan sesuatu sekarang.”


Sekarang Bibi Yona yang bersuara.


“Aku akan makan bersama Kak Hazar. Nan...ti, Bibi.”


***


Ternyata orang yang ingin dijumpai oleh Mama Rosa adalah Angel, dan Amel. Ya, bertepatan pada malam Alin dirampok saat di vila dulu. Mama Rosa mengundang Amel untuk makan malam di rumah utama. Sejak malam itu Mama Rosa lebih dekat pada keduanya. Mereka sering membuat janji untuk sekedar makan atau minum bareng. Dan ini adalah pertemuan keempat mereka. Misi balas dendam Mama Rosa ternyata sudah dimulai.


“Bagaimana pekerjaan barumu, Angel?”


“Lancar dan baik, Nyonya.”


“Ya, aku sudah mendengarnya dari Rani. Dia sangat banyak memuji kinerjamu!”


Rani, adalah sahabat Mama Rosa yang juga memiliki bisnis dibidang kuliner.


Pemecatan Angel secara tiba-tiba tentu akan menimbulkan kecurigaan, dan pemutusan hubungan antara mereka. Dan itu tentunya akan mengacaukan rencana balas dendam yang sudah disiapkan oleh Mama Rosa. Karna tak ingin rencana balas dendamnya berantakan, Mama Rosa pun membuat drama baru untuk Angel. Yang membuat Angel seolah-olah hanya sedang dipindah tugaskan selama satu tahun untuk membantu bisnis sahabatnya. Setelah itu ia akan kembali diperkerjakan untuk Hazar.


“Nyonya, apa saya boleh kembali bekerja di rumah utama?” Pinta Angel tiba-tiba. “Saya bisa membagi waktu saya, Nyonya, antara restoran ibu Rani dan rumah utama. Dulu saya juga bolak-balik antara restoran dan rumah utama. Dan saya tidak pernah mengecewakan Tuan Hazar. Saya selalu datang tepat waktu, dan saya selalu ada saat dibutuhkan.” Angel menatap Mama Rosa penuh kesungguhan. Ia sangat berharap bisa kembali bekerja di rumah utama. Karna, jika ia tidak bekerja di rumah itu, ia samasekali tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Hazar. Dan itu sangat menyiksanya.


Mama Rosa memasang wajah sedihnya, karna tiba-tiba saja perutnya menjadi mual saat menatap wajah Angel.


“Maaf, Angel. Saya tidak bisa membuat keputusan di sini. Kamu sudah menandatangani surat perjanjian dengan Rani. Dan dia sudah mengontrak semua waktumu selama setahun penuh.” Mama Rosa memberi jeda sejenak. “Rumah utama masih baik-baik saja tanpa kamu. Lebih baik kamu fokus saja pada restoran Rani. Dan kembali ke rumah utama tahun depan.”


“Ya! Menurut aku, juga baiknya begitu.” Amel ikut menimpali obrolan Mama Rosa dan Angel. “Apa kau kekurangan uang? Hingga memohon-mohon seperti ini. Bekerja di dua tempat itu rempong! Mendingan sudahi satu-satu saja.” Lanjut Amel dengan santainya.


“Iya, saya setuju dengan pendapat Jeng Amel. Lebih baik kamu kerjakan satu-satu saja.” Mama Rosa tersenyum ke arah Amel. Ia sangat berterimakasih sekarang. Karna Amel telah membantunya untuk menolak permintaan Angel.


Mata Angel melotot ke arah Amel. Tangannya terkepal erat menahan rasa geramnya. “Mengapa orang tua bodoh ini harus ada di sini!” batin Angel.


“Oh, iya, hampir saja saya lupa!” seru Mama Rosa tiba-tiba. Kemudian ia merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Ia mengeluarkan tiga buah kotak kecil dari sana. “Saya baru saja dapat kiriman dari sahabat saya yang di luar negeri. Ini obat untuk awet muda, kulit kenyal, atau apalah katanya.” Mama Rosa membagikan kotak itu pada Angel dan Amel. “Dia mengirim banyak, saya bagikan untuk kalian juga.”


Mata Amel sontak terbelalak melihat merek yang tertera di kotak pemberian Mama Rosa. “Ini pasti sangat mahal, Jeng!” serunya girang. Amel menatap kagum, karna merek di kotak itu cukup terkenal di luar negeri. Amel langsung membuka kotak miliknya.


“Angel, kamu tidak suka?” tanya Mama Rosa sebab Angel hanya dian memandangi kotak.


“Saya sangat suka, Nyonya. Terimakasih.”


“Iya, sama-sama. Ayo, diminum sekarang!” ujar Mama Rosa, sambil membuka kotak miliknya.


“Apa harus semuanya?” tanya Amel saat melihat aturan pemakaian pada sisi kotak.


“Iya, ini hanya empat tablet, dan juga kecil-kecil. Tidak terlalu susah menelannya.” Ujar Mama Rosa. Ia meminum vitaminnya miliknya terlebih dahulu, agar tidak terlalu mencurigakan. “Ayo, Angel, diminum!”


“Iya, Nyonya.”


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2