Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 59


__ADS_3

Hazar pulang ke rumah saat itu hanya untuk mengambil beberapa helai pakaiannya. Setelah itu ia kembali pulang ke apartemen. Ia begitu malas menempati rumahnya jika tidak ada Alin di sana. Tapi, sebelum itu ia terlebih dahulu membuat larangan untuk Bibi Fatma keluar dari pekarangan rumahnya, dan juga larangan bagi tamu wanita untuk masuk ke dalam rumahnya, baik itu kenalan Mamanya sekali pun, atau siapa pun itu. Dua orang anak buah Bobi sudah ditugaskan untuk memantau dan menyadap ponsel milik Bibi Fatma. Karna, Alin pasti akan menghubungi Bibi kesayangannya itu.


Saat sampai di lobby apartemen, Karin sudah menunggunya di sana.


“Selamat siang, Tuan.” Sapa Karin.


“Ada apa?”


“Ini laporan tentang si pengirim surat pada Anda dan Nyonya Rosa bulan lalu, Tuan.” Karin mengulurkan sebuah amplop coklat pada Hazar.


“Suruh Bobi datang ke sini sekarang juga.” Hazar langsung masuk ke dalam lift setelah menerima amplop dari Karin.


***


Luna.


Dia adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ia berprofesi sebagai model, dan belum terlalu terkenal, sebab ia baru pemula di dunia permodelan. Wanita cantik ini juga memiliki sipat keras kepala dan susah untuk diatur, ia juga seusia dengan Alin. Sejak menginjak usia dua puluh tahun, ia tinggal sendirian di apartemen hadiah ulang tahun dari Kakak laki-lakinya. Ia memiliki seorang ibu yang selalu mendukung apa pun kemauannya, tapi tidak dengan papanya. Papanya selalu memaksakan anak-anaknya untuk menuruti semua kemauannya. Papanya juga menentang pilihannya yang ingin menjadi model, tapi karna sikap keras kepalanya ia tetap mewujudkan mimpinya meski tak dianggap anak lagi olah papanya. Uang jajannya pun juga dihentikan, dan ia tidak izinkan lagi untuk pulang ke rumah.


Dan suatu hari dengan ajaibnya, papa yang sudah mencampakkannya itu unjuk gigi di depan apartemennya, datang dengan tanpa rasa bersalah dan malu sedikit pun. Ia pun sempat menduga-duga ada apa gerangannya hingga papanya tersesat ke apartemennya. Dan ternyata kabar perjodohanlah yang menerangkan jalan papa menuju apartemennya.


Ia memang sudah mengenal Hazar sejak kecil, mereka sering bertemu di berbagai acara keluarga. Ia juga mengetahui sikap dingin dan kaku Hazar terhadap orang lain. Meski sering bertemu dan memiliki ikatan keluarga, Hazar masih tetap menjaga jarak darinya dan dengan sepupu-sepupu lainnya. Sebab itulah ia langsung menolak perjodohannya dengan Hazar, tapi papanya malah bertindak semaunya.


“Mama akan ikut maunya, Kakak. Pasti banyak cara untuk membatalkan perjodohan ini tanpa harus memohon pada Papa,” ujar Mama Anne saat Luna berkeluh kesah pada mamanya.


Seperti mendapat penerangan dan dukungan penuh dari sang Mama, Luna pun melancarkan aksinya.


Ide untuk dipertemukan dengan Alin adalah cara pertamanya. Ia sendiri meminta Tante Rosa untuk mempertemukannya dengan istri pertama Kak Hazar. Ia sudah memiliki niat terselubung dari pertemuan itu. Dan ia berhasil, siangnya setelah ia bertemu dengan Alin, perjodohannya dan Hazar langsung dibatalkan oleh Tante Rosa. Ia bahkan tidak mengharapkan hasilnya secepat ini.

__ADS_1


Sebelum mengakui kesalahannya pada Tante Rosa, ia terlebih dahulu meminta izin untuk datang ke rumah Hazar. Ia langsung menyebar luaskan berita bahwa dia adalah calon istri Hazar. Niatnya adalah membuat Hazar marah besar, jika saja dengan menghasut Alin ia tidak berhasil. Tapi nyatanya rencananya berhasil dan sukses. Tapi masih ada satu hal yang sangat ditakutinya sekarang, bagaimana kalau Hazar tiba-tiba saja datang, dan menyalahkan dia atas menghilangnya Alin! Tidak, tidak, itu akan menjadi akhir dari hidupnya. Manusia kaku itu pasti akan mengubah dunianya menjadi neraka, karna gilanya Hazar sepuluh kali lipat lebih gila dari papanya.


Luna sudah menyiapkan diri untuk disumpah serapahi oleh papanya. Ia tahu, papanya pasti tahu semua kelicikannya dalam membatalkan perjodohan itu dan papanya pasti akan marah besar padanya. Dan hari yang dinantikannya pun tiba. Pagi-pagi sekali papanya sudah membuat keributan di depan pintu apartemennya.


“Bagaimana bisa kau membatalkan pernikahanmu dengan Hazar! Apa kau sudah gila!” bentak Deri (papanya Luna) pada anaknya.


“Iya, aku memang sudah gila, dan aku akan semakin gila jika Papa tetap memaksaku untuk menikah dengan manusia beku seperti Kak Hazar. Apa Papa tidak bisa mencarikanku laki-laki lain saja! Masih banyak laki-laki lain di luar sana, mengapa harus Kak Hazar yang aku nikahi?” Luna balas berteriak pada papanya.


“Tidak ada laki-laki sesempurna dan sekaya Hazar di luar sana. Kau akan memiliki banyak uang dan disegani banyak orang jika kau menjadi Nyonya di keluarga itu.”


“Aku tidak menginginkan semua itu. Uang! aku bisa mencarinya sendiri, bahkan tanpa Papa kasih, uangku sudah lebih dari mencukupi untuk kehidupanku!”


“Kau hanya akan menjadi model rendahan jika terus-terusan seperti ini! Pekerjaanmu itu samasekali tidak dihargai oleh banyak orang.”


“Biarkan saja, ini hidupku! Dan aku bahagia. Aku samasekali tidak membutuhkan pendapat orang lain tentang pekerjaanku!”


“Ya, itulah yang aku mau selama ini, Papa.” Gumam Luna sambil menutup pintu apartemennya.


***


Mungkin karna kualat, karna telah menjadi anak durhaka terhadap papanya, Luna terjatuh tanpa sebab di lantai kamar mandi yang masih kering. Luna berkali-kali mengusap dan memijit kakinya, berharap tindakannya itu bisa sedikit menghilangkan rasa nyeri yang amat sangat ia rasakan sekarang, tapi itu tidak berhasil, kaki dan pinggangnya malah semakin sakit saat digerakkan.


Saat itu pula ia merasa sedikit sedih dan kesepian hidup sendirian di apartemen, tak ada satu orang pun yang bisa menolongnya sekarang. Berteriak pun percuma, karna tak akan ada orang yang bisa mendengar jeritannya. Luna menyeret kakinya yang sakit keluar dari kamar mandi. Ia sangat kesusahan menjangkau ponselnya yang ia letak di atas meja makan. Dengan tetap mempertahankan ikatan handuk di tubuhnya sambil duduk bersimpuh di lantai, dan membutuhkan sedikit perjuangan, Luna pun akhirnya berhasil meraih ponselnya. Luna langsung menelepon ambulans untuk meminta pertolongan.


Sepuluh menit akhirnya tim medis pun sampai di apartemen. Beruntung ada seorang perempuan di antara empat tim medis yang datang. Luna pun di bantu berpakaian oleh si Mbak tim medis. Dan langsung dibawa ke rumah sakit setelahnya.


Stelah melewati beberapa pemeriksaan, dokter pun mendiagnosis Luna mengalami keretakan pada tulang panggul dan terkilir di pergelangan kaki kanannya. Ia harus menjalani perawatan selama beberapa hari di rumah sakit. Luna pun setuju dan bersedia untuk dirawat inap selama beberapa hari sesuai dengan saran dokter.

__ADS_1


Sebelum dipindahkan ke kamar rawatan, Luna terlebih dahulu harus mendaftarkan diri di loket pendaftaran. Di saat inilah Luna bertambah sedih, sebab ia hanya sendirian di sana. Jangankan untuk ke ruang administrasi, untuk sekedar merubah posisi tidurnya saja ia kesusahan sekarang.


Luna hanya tinggal berdua dengan seorang dokter laki-laki yang sejak tadi merawatnya, perawat yang membantu si dokter telah keluar duluan dari bilik Luna. Sementara si dokter masih berdiri di samping tempat tidur sambil menuliskan sesuatu di kertas rekam medis Luna.


“Dokter, tunggu!” Luna menjulurkan tangannya, menahan jas putih yang dikenakan oleh dokter bermuka datar itu.


“Ada yang bisa saya bantu?” tannya si dokter.


“Tentang pendaftaran di loket pendaftaran, bisakah dokter saja yang membantu saya?” Luna tampak cengengesan. “Saya hanya sendiri di sini. Jangankan untuk pergi ke ruangan lain, untuk turun dari ranjang saja saya kesusahan, dokter.” Lanjut Luna mengiba, sekaligus memohon.


Si dokter melepaskan pegangan tangan Luna dari jasnya. “Akan saya panggilkan perawat untuk membantu, Anda. Saya permisi.” Si dokter langsung menghilang dari balik tirai pembatas antara bilik pasien.


“Cek!...” Luna berdecak sebal. “Sombong banget tuh cowok, gue kutuk baru tahu rasa lo!” Luna mencibir ke arah si dokter menghilang.


***


Hazar langsung menarik punggungnya dari sandaran sofa, air mukanya langsung berubah marah, ia begitu tidak percaya dengan apa yang dibacanya sekarang. Ia bahkan berkali-kali membaca berkas laporan itu, dan tetap saja ia masih tidak mempercayainya.


Hazar melempar berkas laporan yang diterimanya dari Karin. Ternya si pengirim adalah orang yang tidak pernah disangka-sangkanya selama ini.


“Bawa wanita ini ke sini sekarang juga!” perintah Hazar pada Bobi menunjuk berkas hasil penyelidikan detektif swasta yang dibayarnya.


“Baik, Tuan.” Bobi langsung bergerak ke luar.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2