
Hazar.
Tidak sama seperti kebanyakan pria pada umumnya. Yang pandai merayu dan mengungkapkan isi hatinya. Ia adalah pribadi yang kaku, bahkan ia juga tidak terlalu terbuka pada Mama dan Papanya. Dalam pikirannya dengan menikahi Alin saja sudah cukup untuk membuktikan rasa sayang dan cintanya pada wanita itu.
Saat Hazar berusia dua puluh tujuh tahun (Lima tahun yang lalu). Keluarganya di undang oleh Papa Haris untuk makan malam di rumah Kakek Setyo. Saat itu kakek Tomi baru saja di bolehkan untuk pulang setelah menjalani rawat inap hampir tiga minggu lamanya. Karna Papa Harislah yang merawat kakek Tomi secara langsung. Maka kakek Tomi pun sangat senang dengan undangan itu, ia mengajak Papa Adi, Mama Rosa dan Hazar untuk ikut serta memenuhi undangan dari dokter yang sudah merawatnya itu.
Saat maka malam itu, keluarga Hazar di jamu oleh kakek Setyo dan Papa Haris dengan berbagai hidangan mewah. Malam itu hanya David yang diperkenalkan kepada keluarga Hazar. Tidak ada Alin di sana, bahkan bayangannya pun tak tampak malam itu.
Ponsel Hazar berdering tanda ada sebuah panggilan masuk. Ia pun meminta izin untuk menerima panggilan telepon. Hazar berjalan sambil berbicara dengan orang di seberang telepon, hingga tanpa ia sadari kakinya menuntun langkahnya ke tempat Alin. Hazar berdiri mematung menatap pemandangan yang agak janggal di depannya.
Seorang wanita yang baru saja melompati pagar di samping rumah itu, kemudian ber jalan dengan mengendap-endap seperti maling. Hazar hanya menyaksikan kejadian itu dari tempatnya. Tak disangka ternyata Si Wanita berjalan mendekat ke arahnya.
“Aww...!” Alin tidak sengaja menyeruduk perut Hazar. Karna ia berjalan dengan mata yang melirik entah kemana. “Sorry!” seru Alin, sambil mengusap-usap kepalanya. Dia hanya melirik Hazar sebentar kemudian melanjutkan langkahnya, masih dengan cara mengendap-endap.
“Nona!” pekik seorang pelayan yang melihat Alin.
“Uussst...!” Alin meletakan jari telunjuknya di bibir tanda menyuruh si pelayan untuk diam. “Apa Papa ada di rumah?” bisik Alin.
“Apa Alin sudah pulang, Bibi?!”
Mata Alin terbelalak. Ia langsung menghambur keluar dari dapur, saat mendengar suara Papanya. Ia bersembunyi di belakang Hazar. Tangannya menggenggam erat baju belakang Hazar.
“No-Nona Alin... mungkin sudah Tuan.” jawab Si Pelayan gugup.
Haris menyadari keberadaan Hazar di sana. “Loh... Nak Hazar!” Haris melangkah mendekati tempat Hazar berdiri.
Saat Papa Haris mendekat Hazar langsung menempelkan bahu kanannya kesisi pintu. Membantu menyembunyikan Alin di belakangnya. Hazar bingung untuk apa dia membatu wanita ini. Dan ini samasekali bukan dirinya.
“Om!”
“Apa telefonnya sudah selesai? Mari masuk... yang lainnya sudah menunggu.”
“Iya Om. Saya akan masuk sebentar lagi.”
“Baiklah! Om duluan.” Papa Haris kembali keluar dari dapur.
__ADS_1
“Huuhh... Hampir saja!” Alin bernapas lega, setelah Papanya menjauh.
Hazar merasakan ada sesuatu yang membentur punggungnya. Ia pun memutarkan lehernya.
Ternyata Alinlah yang membentur-benturkan kepalanya pada punggung Hazar.
Alin kembali menghela napas. “Makasih!” ujar Alin. Kemudian berlalu pergi dari sana, tanpa melirik Hazar sedikit pun.
Hazar memandangi punggung Alin sampai menghilang di balik dinding. Hazar merasa ada yang aneh pada dirinya. Ia sangat tidak suka disentuh oleh orang asing, tapi ia tidak merasakan itu pada Alin.
Sejak hari itu ada beberapa kali pertemuan yang tak terduga di antara mereka. Namun hanya Hazar yang menyadari itu.
Mereka pernah bertemu di dalam lift hotel.
Duduk berhadapan di sebuah Cafe meski dengan meja yang berbeda, jarak antara mereka tidaklah terlalu jauh. Namun Alin terlihat samasekali tidak mengenalinya.
Karna keberadaan Alin yang terlalu mencolok dari kebanyakan wanita yang berada di sekitarnya membuat Hazar menjadi penasaran. Ia meminta jasa seorang detektif swasta untuk mencari tahu tentang Alin.
Hal terbodoh juga pernah Hazar lakukan. Ia menanyakan tentang perasaannya pada g**gle. Ia sendiri bingung dengan apa yang dia rasakan. Segala apa yang diungkapkannya, g**gle selalu memberi jawaban. Bahwa ia sedang jatuh cinta. Karna berleha-leha bukan sifatnya, Hazar pun langsung memberitahu Mama Dan Papanya, kalu ia mau menikahi seorang wanita yang bernama Alin itu.
Kecewa! Sempat Hazar rasakan, saat lamarannya ditolak Papa Haris. Namun satu hari kemudian ia langsung mendapat restu dari calon mertuanya itu, setelah ia berusaha untuk meyakinkan si bapak yang punya anak itu.
Hazar sedang mencoba melupakan. Tapi, dua hari kemudian Kakek Setyo datang menemuinya.
“Alih hanya sedang kecapean hari itu. Dia ketiduran setelah merayakan kelulusannya bersama teman-temannya. Dan sekarang dia sedang berlibur ke luar kota. Dia akan menemuimu setelah pulang nanti.” Ujar Kakek Setyo hari itu.
Tentu Hazar tidak mempercayai omong kosong itu. Tapi karna menghargai seorang Kakek, ia pun hanya tersenyum dan mengangguk sebagai tanda bahwa ia mendengar semua kata-kata Kakek itu.
Malamnya setelah pertemuannya dengan Kakek Setyo. Ia langsung mendapat kabar yang mengejutkan.
“Alin dan keluarganya sudah menentukan hari pernikahan kalian.” Ujar Mama Rosa girang, sambil mengulurkan sebuah berkas padanya. “Selamat, sayang! Akhirnya Mama akan memiliki menantu dalam bulan ini. Mama sudah tidak sabar ingin menimang cucu!” seru Mama Rosa.
Hazar hanya tersenyum kecut, ia tahu ada yang salah dengan semua ini. Tapi karna ia juga tidak ingin menolak pernikahan itu, ia pun menyetujuinya. Memang ini yang ia mau.
Lima hari kemudian, ia mendapat kabar bahwa calon istrinya itu melakukan percobaan bunuh diri. Hazar sempat berprasangka kalau Alin bunuh diri karna terpaksa menikah dengannya. Ia tidak mempercayai berita yang beredar di publik yang mengatakan Alin bunuh diri karna tidak bisa menolong Bibi Pengasuhnya. Tapi karna rasa ingin memiliki lebih mendominasi, membuat Hazar abai akan semua itu. Ia tetap menginginkan Alin menjadi istrinya.
__ADS_1
Saat malam pertama pernikahannya, sebenarnya Hazar tidak memiliki pekerjaan saat itu. Tapi untuk menutupi rasa gugupnya ia pun meminta pekerjaan dari Karin dan Pak Naf. Hingga ia harus begadang semalaman. Malam itu hanya sedikit berkas yang harus diperiksanya, pada waktu normal mungkin hanya satu sampai dua jam berkas itu bisa saja tuntas. Tapi ia membutuhkan waktu sampai enam jam menyelesaikan semuanya. Karna matanya lebih sering menatap kasur daripada layar laptop.
***
“Apa masih lama?” tanya Hazar tak sabar, rasanya sudah cukup lama ia berada di dalam mobil, tapi belum juga sampai di vila Mama Diana.
“Masih sekitaran tiga jam lagi, Tuan.” jawab Pak Sukri sedikit cemas. Muka Tuannya sudah terlihat tidak sabaran.
Hazar menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Ia sangat khawatir saat ini. Bagaimana kalau Alin menolak untuk kembali bersamanya, apa yang harus ia lakukan? Apa dia harus bersikap egois seperti dulu, yang tidak mementingkan perasaan Alin. Yang terpenting istrinya itu kembali ke sisinya.
*
“Kita sudah sampai, Tuan.” Ujar Pak Sukri setelah satu menit yang lalu ia sudah memarkirkan mobil ke dalam halaman vila. Namun Tuannya malah diam saja di dalam mobil.
Pak Sukri pun membuka pintu mobil untuk Hazar.
Hazar langsung tersadar dari lamunannya. Ia memandangi sekitar.
“Jam berapa sekarang?”
“Jam delapan, Tuan.”
Hazar turun dari mobil, bertepatan dengan terbukanya pintu vila dari dalam. Seorang wanita keluar dari sana, dan langsung mendekat ke arahnya.
“Selamat malam, Tuan.”
Hazar tidak menyahut, ia malah diam saja sambil menatap pintu vila yang dibiarkan terbuka.
“Silakan masuk, Tuan. Nona Alin sudah tidur.” Ujar Tami, seperti mengerti dengan apa yang sedang diperhatikan Hazar.
“Tidur?” ulang Hazar mengerutkan keningnya, ini masih terlalu sore untuk tidur.
“Iya, Tuan, Nona Alin sudah tidur sejak sore tadi.”
*
__ADS_1
*
*