
Alin mengerjapkan matanya, tidurnya kembali terusik. Siapa lagi kalau bukan Hazar yang mengganggunya. Sambil bergumam Alin mencoba menjauhkan wajah Hazar dari wajahnya. Alin masih merasa mengantuk, matanya bahkan terasa sangat sulit untuk dibuka.
Alin mengalihkan posisi tidurnya membelakangi Hazar. Ia benar-benar sedang tidak mau diganggu sekarang. Tapi Hazar masih juga sibuk di balik punggungnya.
“Kakak, berhentilah! Aku masih mengantuk.”
“Biar aku gantikan bajumu. Ini akan tidak nyaman kau gunakan saat tidur.” Tangan Hazar telah bersiap di resleting baju Alin.
Alin mengalihkan posisi tidurnya menjadi menelentang, mata merahnya menatap Hazar dengan berang. “Jangan lakukan apa pun!” geram Alin, kemudian matanya kembali tertutup rapat.
Hazar menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tergelak, tak percaya, sebab hanya dalam waktu beberapa detik dengkuran halus Alin sudah kembali terdengar olehnya. Hazar meninggalkan sebuah kecupan di kening Alin, kemudian menyelimuti tubuh istrinya itu.
Hazar kembali keluar dari kamar, ia harus kembali meneruskan pekerjaannya yang tertunda. Tadi ia langsung pulang saat menerima telepon dari Bobi yang mengatakan kalau Alin mengeluh kecapean, dan sekarang jam istirahat makan siang sudah hampir habis. Ia harus kembali ke kantor. Sebelum ke luar ia terlebih dahulu menyimpan sepatu Alin ke dalam lemari.
“Kau sudah pulang?” tanya Kakek saat melihat Hazar turun dari tangga.
“Cuma sebentar, Kek. Sekarang aku mau kembali lagi ke kantor.” Hazar berjalan menghampiri tempat duduk Kakek. Tapi dia hanya berdiri, tidak ikut duduk di sana.
“Apa ada yang tertinggal? Tidak biasanya kamu pulang di jam kantor seperti ini.” Mama Rosa ikut bergabung duduk di sofa bersama Kakek.
Hazar mendelik menatap mamanya. “Mama bawa ke mana saja istriku tadi siang?”
“Kita, hanya ke mol.” Jawab Mama dengan santainya.
“Lain kali, tidak akan aku izinkan, Mama, membawanya pergi berbelanja. Lihatlah, sekarang dia sangat kecapean karna ulah, Mama.”
“Ini bukan salah, Mama. Istrimu sendiri yang memimpin jalan saat kita belanja tadi. Barang belanjaannya mungkin lebih banyak dari Mama,” protes Mama Rosa, tidak terima dituduh sembarangan oleh Hazar. Karna memang benar Alinlah yang paling bersemangat saat mereka berbelanja tadi.
Setelah kepergian Hazar, Mama Rosa langsung ke luar dari rumah. Tujuannya sekarang adalah garasi mobil. Karna orang yang sedang dicarinya pasti berada di sana sekarang.
Mama Rosa berjalan dengan langkah lebarnya, tangannya terkepal dengan erat, seolah-olah ia ingin melabrak siapa pun yang dijumpainya. Sapaan tukang kebun pun tak dihiraukan olehnya.
“Kau!” Mama Rosa langsung berseru kencang saat orang yang dicarinya telah dijumpainya.
Bobi yang saat itu sedang duduk bersantai dengan dua orang rekannya pun sontak terkejut. Mereka langsung berdiri dan menyapa majikannya.
“Selamat siang, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?” Sapa Bobi.
“Heh, kau, samasekali tidak bisa membantu!” Mama Rosa menunjuk wajah Bobi dengan berang. “Apa yang kau laporkan pada Hazar? Hingga dia marah padaku!”
“Saya hanya melaporkan tentang kegiatan Nona Alin, Nyonya.”
“Lalu mengapa dia malah menuduhku yang membuat Alin kecapean!” sembur Mama Rosa berapi-api. Ia benar-benar tidak terima disalahkan oleh Hazar.
Bobi mengerutkan keningnya, ya, mana dia tahu! Yang menuduh siapa, coba? Hazar, bukan dia.
“Awas, Kau! Heh.” Mama Rosa langsung berbalik badan dan pergi dari sana.
Bobi tercengung, ia menatap dua rekannya. Sama seperti dia. Kedua rekannya juga sedang tercengung sekarang.
__ADS_1
*
Sorenya, setelah baru bangun tidur, Alin langsung membongkar barang belanjaannya. Tadi ia membeli beberapa baju untuk Bibi Fatma, dan baju itu harus diberikannya sore ini juga. Karna malam nanti mereka akan makan malam di luar.
Setelah menemukan semua barang-barang untuk Bibi Fatma, Alin pun turun ke lantai bawah. Ia langsung menerobos masuk ke dalam kamar Bibi Fatma.
“Bibi!” serunya dengan kencang.
Alin menghela napas saat mendapati kamar Bibi Fatma yang kosong. Tak ada penghuninya di sana. Alin meletakkan barang belanjaannya ke atas kasur, lalu keluar dari kamar. Sekarang tujuannya adalah dapur. Pasti Bibi Fatma ada di sana sekarang.
***
Alin telah bersiap di kamarnya. Sebentar lagi mereka akan makan malam di luar. Tadi siang Alin sangat bersemangat dan sangat tidak sabaran menanti malam tiba. Tapi sekarang ia malah terlihat loyo dan malas untuk bergerak.
“Kau baik-baik saja?” tanya Hazar yang baru saja keluar dari ruang ganti. Ia mendapati Alin yang sedang duduk di sisi ranjang dengan wajah pucat dan berkeringat.
“Hmmm...” Alin mengangguk, berbohong. Ia tidak mau acara makan malam ini batal hanya karna kepalanya yang sedikit pusing.
Hazar berjongkok di depan istrinya, ia menempelkan punggung tangannya pada kening Alin.
“Jika kau merasa kurang enek badan, kita batalkan saja makan malamnya.”
“Tidak!” Jawab Alin cepat. “Aku baik-baik saja. Kakak lihat sendiri aku samasekali tidak panas.”
Hazar menghela napas, memang benar tubuh Alin tidak terlalu panas. Tapi ia bisa melihat kalau istrinya itu sedang tidak baik-baik saja.
Hazar berdiri dan duduk di samping Alin. Ia menarik kepala Alin dan disandarkannya ke dadanya. Ia tahu kalau Alin sangat bersemangat saat menceritakan kalau mereka akan makan malam di luar, karna itu ia juga tidak mau membatalkan makan malam ini seenaknya. Lagian ia juga akan selalu berada di dekat Alin, jadi dia tidak perlu terlalu khawatir.
“Iya, sebentar. Kau tunggu saja di bawah.”
Hazar tidak mendengar sahutan dari Alin, mungkin istrinya itu sudah pergi dari sana.
Hazar kembali menempelkan ponsel ke telinganya. Meneruskan pembicaraannya yang sempat terputus karna Alin.
“Halo, Pa. Maaf tadi ada Alin di sini.” Ternyata orang yang dihubungi Hazar adalah Papa Haris. Ia tengah berkonsultasi pada Papa Haris mengenai kesehatan istrinya. Hazar menceritakan apa saja keluhan Alin sejak siang tadi. Tentu saja keluhan itu ia dapatkan dari laporan Bobi tadi siang. Yang mengatakan Alin tidak berselera makan, wajah pucat, dan kelelahan. Tak lupa ia juga menceritakan keadaan Alin saat ini.
“Papa belum bisa memastikannya. Akan lebih baik jika dia mau diperiksa besok.” Jawab Papa Haris. “Jangan terlalu cemas. Ini bisa saja menjadi kabar baik untuk kita.”
“Maksud, Papa?” Bukannya merasa lega, Hazar malah makin bingung mendengar ucapan Papa Haris.
“Besok saja, kita bicarakan.”
*
Hazar semakin heran melihat tingkah Alin. Selama dalam perjalanan tadi Alin mengeluh dengan bau mobil yang mereka tumpangi, kemudian istrinya itu selalu mengendus-endus punggungnya, hingga tempat duduknya pun didesak oleh Alin. Tak lama setelah itu, Alin kembali mengeluh dengan dinginnya AC mobil.
Hazar menghela napas panjang, ia tidak berkomentar, tetap membiarkan Alin berbuat semaunya, dan menuruti semua kemauannya.
“Kakak!” Satu menit setelah AC mobil dimatikan, Alin kembali memanggil Hazar.
__ADS_1
“Hmmm...” Hazar hanya bergumam, menanti keluhan apa lagi yang akan Alin ajukan.
“Aku masih kedinginan.” Keluh Alin dari balik punggung Hazar.
Hazar mengangkat tangan kirinya, agar lebih mudah memindahkan kepala Alin yang berada di punggungnya ke dalam dekapannya.
“Aku tidak minta dipeluk,” protes Alin. Tapi ia malah melingkarkan tangannya pada pinggang Hazar.
“Diamlah, apa kau mau aku tinggalkan di sini!”
Alin diam, tidak menjawab. Ia sekarang malah sibuk mengendus-endus dalam dekapan Hazar.
Hazar menatap Alin dengan tatapan tak terbaca. Ia benar-benar heran melihat tingkah istrinya itu.
*
Suasana makan malam mereka pun terasa hangat dan menyenangkan. Meskipun Bibi Fatma masih terlihat kaku, ia tetap berusaha untuk tidak terlalu menampakkan kegugupannya. Bahkan dalam perbincangan yang terselip saat mereka makan, Bibi Fatma pun terbilang cukup banyak berbicara.
Satu-satunya orang yang merasa tidak nyaman adalah Alin. Sejak memasuki restoran tadi ia sudah mulai merasa pusing dan mual. Sama seperti siang tadi. Tapi ia tidak mau orang lain tahu akan itu. Alin mengernyit, menahan rasa pusing dan mual yang semakin menjadi karna aroma menusuk dari makanan yang terhidang di depannya. Semakin lama ia pun tidak bisa lagi menahannya. Ia pun pamit hendak pergi ke toilet.
“Aku temani,” Hazar sudah berdiri dari duduknya.
“Tidak usah, Kakak. Aku hanya pergi ke toilet.”
“Kalau begitu, aku juga ingin pergi ke toilet.” Hazar telah melangkah terlebih dahulu, meninggalkan Alin yang terlihat kesal karena ulahnya.
Semua orang yang ada di sana pun ikut terheran-heran melihat tingkah Hazar.
*
Sesampainya di toilet, Alin langsung memuntahkan semua makanan yang masuk ke perutnya. Dan itu memakan waktu yang cukup lama, hingga hampir seluruh tenaganya terkuras. Alin terduduk dengan napas yang tersengal-sengal, kepalanya makin terasa pusing. Ia pun menyandarkan kepalanya pada dinding.
“Alin!” seru Hazar dari luar pintu. “Kau, baik-baik saja?”
Alin membuka kelopak matanya yang semula tertutup. Ia masih berada di dalam toilet restoran, khusus wanita, bagaimana bisa Hazar menyusulnya ke sana.
“Alin!” Sekarang seruan Hazar diiringi dengan gedoran pintu yang cukup keras.
Alin kembali menghela napas panjang, tenaganya benar-benar telah terkuras habis. Untuk sekedar berdiri dan membuka pintu saja ia sudah tidak sanggup.
“Apa Alin benar ada di dalam sana?” Sekarang suara Mama Rosa yang tertangkap oleh pendengaran Alin. “Kemana perginya pelayan tadi!? Mengapa dia begitu lama mencari kuncinya!” Seru Mama Rosa kesal. Sebab sudah dari tadi ia menunggu pelayan restoran yang sedang mencari kunci cadangan toilet.
Mendengar repetan Mama Rosa, Alin pun merasa tidak enak, ia berusaha mengumpulkan tenaganya untuk berdiri.
CKLEK!
Alin langsung tersandar ke dinding sesaat setelah membukakan pintu. Kepalanya makin terasa pusing, dan penglihatannya menjadi kelam. Ia masih bisa mendengar suara keributan, sebelum kemudian ia jatuh pingsan.
*
__ADS_1
*
*