
“Apa sekarang aku juga harus memberi laporan keuanganku padamu sekretaris Jon” Alin sudah mulai terlihat kesal. Ia kira akan mudah jika ia meminta kartu itu melalu sekretaris Jon.
“Saya akan meminta izin pada Tuan Haris sebentar Nona” Sekretaris Jon meraih ponselnya dari saku jas bagian dalamnya.
“Tidak perlu” Jawab Alin cepat “Bawa sini kunci mobilmu! Beserta surat lengkapnya” Sambung Alin.
Sekretaris Jon makin di buat bingung dengan permintaan Alin “Untuk apa surat-surat mobil Nona?”
“Apa kau, juga baru menjalani operasi ginjal sekretaris Jon!” Alin terlihat semakin kesal “Kau sama cerewetnya dengan Bibi Fatma sekarang” Alin menghentakan kakinya berjalan keluar, sekretaris Jon mengekorinya dari belakang.
*
“Berikan padaku semua uang cas yang ada di dompetmu” Ujar Alin saat mobil yang dikendarai oleh sekretaris Jon telah meninggalkan parkiran restoran.
“Akan saya serahkan saat kita tiba nanti Nona”
“Aku mau sekarang!”
“Akan bahaya Nona, kedua tangan saya sedang menyetir”
“Biar aku yang ambil” Alin meraba jas sekretaris Jon dari kursi belakang.
“Nona! Apa yang Anda lakukan!” sekretaris Jon langsung menepikan mobilnya.
“Mencari uang” Alin kembali duduk saat mobil telah berhenti.
Sekretaris Jon menghela napas, ternyata dia masih belum terbebas dari Alin meski si Nona muda sudah menikah.
“Ini uangnya Nona” Mengulurkan uang dari bangku depan.
Alin menyambarnya dengan cepat “Mengapa uangmu sangat sedikit, untung kau menolak untukku jadikan suami” Oceh Alin. Sekretaris Jon tidak menanggapi ocehan Alin, ia kembali menjalankan mobilnya.
***
“Ada perlu apa Papa memanggilku?” Tanya Alin saat di sudah sampai di ruang kerja Papanya, tempat ia pernah melakukan percobaan bunuh diri.
“Duduklah” Ujar Papa.
__ADS_1
“Aku sedang sibuk. Jadi cepat sebutkan apa tujuan Papa memanggilku” Alin masih berdiri di depan meja kerja papanya.
“Ini jadwal kunjunganmu ke psikiater” Papa meletakan selebar kertas di meja.
“Jadwal psikoterapi!? Untuk apa?”
“Kau harus di rehab pasca percobaan bunuh diri”
Alin tertawa sumbang “Apa Papa mencoba peduli padaku sekarang? Kalau iya aku merasa sangat geli akan itu” Alin berbalik badan hendak pergi.
“Aku dengar kau pingsan kemarin karna gejala depresi, kau harus konsultasi dengan psikiater , ini juga untuk kebaikanmu”
“Aku baik-baik saja sekarang, dan akan lebih baik lagi jika Papa dan Kakek tidak mencampuri urusanku lagi” Alin menghempaskan pintu dengan keras.
Haris menghela napas, sudah ia duga Alin pasti akan menolak. Haris meraih ponselnya, menghubungi nomer Hazar.
“Halo Papa!”
“Apa kamu sedang sibuk sekarang?”
“Tidak Pa, bicaralah!”
Hazar terdengar menghela napas di seberang sana “Lalu apa yang harus aku lakukan Pa?” Tanyanya.
“Alin masih bisa mengatasi emosinya, ini tidak terlalu buruk. Seperti yang kamu ceritakan kemarin, dia pingsan karna menduga Fatma telah kamu usir. Dia juga mencoba bunuh diri saat Fatma tidak di izinkan untuk di operasi. Jadi Fatma lah pemicu emosinya, selama Fatma masih baik-baik saja dan masih berada di sisinya Alin pasti akan baik-baik saja” Haris berhenti sejenak “Alin sudah menganggap Fatma sebagai Ibunya sendiri. Karna Fatma lah yang merawatnya sejak ia masih bayi hingga besar sekarang. Biarkan Fatma tetap di sisinya, dia akan baik-baik saja” Ujar haris, ada nada kegetiran dalam suaranya. Haris langsung memutuskan panggilan telepon. Tiba-tiba dadanya terasak sesak, dan ada sesuatu yang tercekat di tenggorokannya, hingga tangisannya pecah.
Bagaimana bisa Fatma yang hanya orang asing bagi keluarga mereka, bisa menjadi ketergantungan untuk emosi putrinya. Dia yang sebagai ayah kandung merasa sanksi akan itu.
***
Alin kembali uring-uringan di atas kasur, dia baru selesai makan malam di bawah, di temani dengan tatapan beberapa pelayan dan Karin. Tidak ada satu pun pelayan yang mau mendengarkan perkataannya sekarang, bahkan Bibi Fatma lebih banyak memihak Hazar.
Tok tok tok!!!
“Masuk!” Ujar Alin, ia masih berbaring di tempat tidur.
“Perut Nona akan sakit jika berbaring di saat kenyang Nona” Ujar Bibi Fatma, meletakan segelas susu coklat panas di atas nakas samping ranjang Alin.
__ADS_1
“Apa aku harus menunggu lapar dulu untuk berbaring dan tidur” Ujar Alin dia masih terlihat kesal dengan perubahan sikap Bibi Fatma. Namun dia tetap menurut dan bangun.
“Apa hari pertama Nona bekerja sangat menyenangkan?” Bibi Fatma duduk di samping Alin.
“Tidak ada yang menyenangkan” Jawab Alin ketus. Dia membuka laci di sampingnya “Aku hanya mendapatkan uang dua juta hari ini Bibi” Alin menyerahkan uang pemberian sekretaris Jon pada Bibi Fatma.
“Dua juta! Apa gaji Nona dua juta per harinya Nona!?” Mata Bibi Fatma terbelalak.
“Bukan. Itu uang sekretaris Jon. Aku merampoknya tadi siang” Alin menyengir.
Bibi Fatma menggelengkan kepala “Mau sampai kapan Nona merampok? Lebih baik Nona minta kembali kartu Nona pada Tuan Hazar”
“Tidak mau!” Alin kembali berbaring, ia memutarkan badanya hingga ia berada di sisi belakang Bibi Fatma, lalu melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Bibi Fatma yang duduk di depanya.
“Bangunlah, perut Nona akan sakit jika begini” Bibi Fatma membelai tangan Alin yang melingkar di pinggangnya.
“Mau sampai kapan Bibi memihak Hazar” Alin menghela napas.
“Tuan Hazar adalah orang yang baik Nona. Tidak ada salahnya jika Nona mencoba berteman dengannya” Ujar Bibi Fatma.
“Papa dulu juga pernah bersikap baik dan mencintai Mama, serta memperlakukan Mama dengan manis. Tapi Bibi lihat sendiri, dia bahkan menikahi wanita lain saat Mama sedang mengandungku, dan mengasingkan Mama ke tempat yang jauh” Alin bangkit dan duduk menghadap Bibi Fatma.
“Tuan Haris memang bersalah terhadap Nona Diana. Tapi cintanya Hanya milik Nona Diana saja. Nona bisa lihat sendiri, Tuan Haris tidak pernah bersikap manis terhadap Nyonya Amel. Dan terlepas dari semua itu, Papa Nona Hanya terpaksa menuruti kehendak Kakek Nona saat itu” Ujar Bibi Fatma.
“Aku tidak mau membahas masalah itu sekarang” Alin melangkah ke kamar mandi, meninggalkan Bibi Fatma yang menatap sendu ke arahnya.
“Apa Nona sudah menggosok gigi?” Tanya Bibi Fatma saat Alin keluar dari ruang ganti sudah memakai baju tidur.
“Belum. Aku lupa belum meminum susu yang Bibi bawa” Alin meraih gelas susu yang tadi di taruh Bibi Fatma, meminumnya dalam satu tarikan napas “Ayo Bibi kita tidur” Alin menarik tangan Bibi Fatma.
“Kalau mau tidur mengapa Nona keluar?” Tanya Bibi Fatma heran, sebab Alin sekarang mengikutinya ke lantai bawah.
“Aku akan tidur di kamar Bibi mulai sekarang”
“Tidak bisa Nona. Sebaiknya Nona kembali ke kamar Nona”
Alin mengerlingkan matanya “Aku hanya ingin tidur di kamar Bibi! Apa Hazar juga melarangku untuk tidur di sana?” Alin sudah terlihat kesal.
__ADS_1
“Sebaiknya Nona tidurlah di kamar Nona. Siapa tahu Tuan Hazar akan kembali nanti malam, jadi Nona bisa merayunya untuk mengembalikan kartu magic yang Nona lempar dengan sombongnya kemarin” Bibi Fatma terkekeh sembari menurunkan anak tangga.