
Hazar pulang agak cepat hari ini. Ia menyerahkan segala urusannya pada Pak Naf dan Karin. Dia ingin segera pulang dan menemui istrinya.
“Dimana dia?” tanya Hazar pada Bibi Yona yang datang menyambutnya di pintu.
“Nona sedang di kamar Anda Tuan.”
Hazar langsung melangkah masuk, menuju lantai atas tempat istrinya berada. Saat memasuki kamar ia mendapati Alin sedang tertidur terlentang di atas kasur. Masih dengan pakaian lengkap seperti dia melihatnya pagi tadi, sepatu pun masih melekat di kakinya yang terjuntai menyentuh lantai. Hazar mendekati tubuh Alin, membuka sepatu, dan membenarkan posisi tidur Alin dengan pelan dan hati-hati.
Di pandanginya pipi Alin yang terluka, sudah tertutup oleh plester bening. Di sentuhnya dengan lembut kemudian meninggalkan sebuah kecupan disana. Kemudian melangkah masuk ke kamar mandi.
Deringan ponsel di dalam saku celana mengganggu tidur Alin. Dengan mata yang masih terpejam. Diraihnya ponsel disaku celananya.
“Halo!” suara serak khas bangun tidur. Alin mengangkat panggilan telepon dengan mata yang masih terpejam.
“Nak Alin!” terdengar seruan dari seberang ponsel. Mata Alin langsung terbuka sempurna. Dia refleks langsung bangun dan duduk.
“Mama!” pekik Alin.
“Iya. Nak Alin lagi sibuk ya sekarang?”
“Tidak. Mama di mana sekarang?”
“Mama baru saja sampai di rumah Wira. Nak Alin bisa kesini? Mama bawa banyak oleh-oleh untuk Nak Alin.”
“Bisa! Aku ke sana sekarang. Dah Mama!” Alin langsung mematikan panggilan telepon. Hendak menghambur turun dari ranjang, namun urung. Saat melihat Hazar telah berdiri di depan pintu kamar mandi, menatap tajam ke arahnya.
Alin turun dari ranjang dengan gerakan halus. Ia sedang menata pikiran. Harus ada alasan penting untuk bisa keluar dari rumah kalau Si Suami sudah berada di rumah. “Kakak sudah pulang?”
“Pertanyaan bodoh, tentu dia sudah pulang dan sekarang tengah berdiri setengah telanjang di depanku” batin Alin.
“Menurutmu!” Hazar menjawab ketus.
Alin berjalan mendekat. “Akan aku siapkan pakaian Kakak.”
“Tidak perlu! Aku bisa mengambilnya sendiri.” Muka Hazar masih terlihat dingin.
“Kalau begitu, aku akan keluar sekarang.” Alin berucap dengan pelan dan hati-hati.
“Apa kau masih mau keluar!” suara Hazar terdengar makin dalam.
“Kakak!” Alin meraih tangan Hazar. “Aku hanya keluar sebentar saja! Aku akan kembali jam delapan nanti malam.” Wajah Alin tampak memohon.
Hazar tak bergeming, ia berbalik badan dan masuk ke ruang ganti. Alin masih mengekorinya di belakang. “Aku akan pulang sebelum jam delapan, ayolah Kakak! ini hanya sebentar.” Alin masih mendesak di balik punggung Hazar. Hazar masih diam dan tak menggubris keberadaan Alin.
Alin sudah kehabisan cara. Dia membalikkan badan Hazar dengan satu kali sentakan, mendorong pundak Hazar hingga punggungnya menyentuh pintu lemari. Alin sedikit berjinjit membenamkan bibirnya pada bibir Hazar.
__ADS_1
“Apa kau sudah selesai?” tanya Hazar saat Alin melepaskan pagutannya. Hazar menyarungkan baju kaos yang sudah di ambilnya dari lemari sebelum Alin mendorongnya tadi.
Alin mematung. “Apa tidak berhasil!” gumamnya.
Hazar menyeringai, menyentuh bibir Alin yang masih basah. “Kau sangat tidak cocok jadi penyerang.” Hazar tergelak, keluar dari ruang ganti.
Alin berlari mengejar Hazar. “Kakak aku pergi hanya sebentar! Tolonglah hemm...” Alin mengerjapkan matanya.
“Kembalilah sebelum jam tujuh.” Ujar Hazar sambil merapikan rambutnya di depan cermin.
“Jam tujuh! Apa yang bisa aku lakukan diluar, jika kakak hanya memberiku waktu dua jam!”
“Kalau begitu, kau tidak usah keluar sama sekali.”
“Tidak! Aku akan pergi.” Alin mencibir di balik punggung Hazar. Kemudian meraih tasnya di atas kasur.
“Apa kau tidak mandi terlebih dahulu?”
“Waktuku akan terbuang sia-sia, jika aku mandi terlebih dahulu.” Alin menjawab kesal. Lalu Keluar dari kamar.
***
Alin telah sampai di depan rumah Wira. Rumah yang di berikan oleh Kakeknya sebagai imbalan atas kesediaan Wira untuk tutup mulut. Karna selain Alin, hanya Wira lah yang tahu tentang jenjang prestasi mereka. Rumah itu tidak terlalu besar. Rumah dua tingkat, dengan halaman dan taman kecil yang tidak terlalu luas.
“Mama...!!!” Alin langsung menerobos masuk ke rumah Wira, saat mendapati pintu yang sedikit terbuka. Suasana rumah masih terlihat kosong. Sebab Wira masih belum menempati rumah itu, karna dia masih sibuk bekerja.
“Mama...!” Alin berlari menghampiri, dan memeluk Mama Wira. “hmm... kangen...” ujarnya.
“Sama, Mama juga.” Mama menepuk-nepuk punggung Alin. “duduk dulu.” Mama menarik angan Alin untuk ikut duduk di sofa ruang tamu yang masih terbungkus plastik, dan belum tertata dengan benar.
“Mama sudah mulai menetap disini?” tanya Alin.
“Belum. Masih banyak yang harus Mama urus di kampung.”
“Terus Mama disini berapa lama?”
“Besok Mama harus balik lagi.”
“Loh kok besok!” Alin mengerutkan dahinya. “cepat banget Ma!” Seru Alin.
“Ya mau gimana lagi. Mungkin bulan depan Mama baru bisa menetap disini.” ujar Mama. “Oh iya! Oleh-oleh untuk Nak Alin ada di belakang. Mengapa tidak bawa suami nak Alin kesini? Mama kan belum kenal sama dia.” Lanjut Mama.
“Ngga penting dianya Ma!” Alin terlihat kesal saat membicarakan suaminya.
“Mengapa begitu?” Mama wira tampak mengulum senyum. “pengantin baru kok sudah mulai ngambekan.”
__ADS_1
“Suka ngatur-ngatur dianya Ma. Sudah kaya pembina upacara saja!” ketus Alin. Sekarang mereka sudah duduk di meja makan. Terlihat banyak kotak-kotak di atas meja.
“Kamu sudah datang!” Wira muncul dari balik pintu. Kedua tangannya menjinjing kantong plastik besar.
“Apa ini?” Alin membongkar isi kantong bawaan Wira. “Mama mau masak!” Alin berseru riang.
“Iya. Katanya Nak Alin paling rindu masakan Mama, bukan Mamanya.” Ujar Mama.
“Siapa yang bilang begitu!” Alin mengerlingkan matanya menatap Wira. “dia sangat benar akan itu.” Alin dan Mama terkekeh. Kecuali Wira, dia kembali pergi dengan muka lempengnya.
Selesai berkutat di dapur, dengan berbagai macam makanan telah tertata rapi di atas meja. Akhirnya Alin bisa duduk dan melepas penatnya. Alin pun meregangkan otot-ototnya.
“Nak Alin mau pulang sekarang? Makan dulu sebentar, sambil Mama bungkuskan untuk Nak Alin bawa pulang.” Ujar Mama.
“Aku mau menginap disini Mama.”
“Tidak boleh.” Mama menjawab cepat. “tidak ada nasib baik untuk istri yang durhaka pada suaminya.” Ujar Mama lagi.
“Dia juga durhaka padaku Mama. Dia bahkan sering berbuat seenaknya, mengurungku, dan mengatur hidupku semaunya!” seru Alin kesal.
“Mengocehnya sambil makan saja.” Mama meletakan sendok ke tagan Alin. Kembali sibuk dengan kotak-kotak bekal.
“Besok Mama berangkat jam berapa?” Alin bertanya sambil memindahkan beberapa makanan ke dalam piringnya.
“Agak siangan mungkin. Mama harus merapikan dulu rumah bujang lapuk ini!” ujar Mama.
“Biar aku bantu besok. Akan aku ajak Bibi Fatma juga. Mama harus mengenal Bibi pengasuhku, dia sangat cerewet dan mata duitan sekarang.” Alin berbicara dengan mulut penuhnya.
“Mengapa begitu!” Mama bertanya bingung, tetap sibuk dengan kotak-kotak bekalnya.
“Dia menghianati aku saat aku jatuh bangkrut, dan berpihak pada Hazar yang kaya saat ini!”
“Apa Hazar itu nama suamimu?”
“Iya”
“Apa dia sangat kaya!” mata Mama tampak berbinar.
“Mengapa ekspresi Mama seperti itu.” Alin bergidik ngeri.
“Mama juga akan memihaknya!.” Mama berseru riang.
“Apa semua ibu-ibu seperti ini?” Alin menatap Mama dengan mengerutkan keningnya.
“Tidak, hanya ibu-ibu bijaklah yang seperti ini.” Jawab Mama terkekeh.
__ADS_1
“Bijak dari mananya!” rutu Alin.