Alin & Hazar

Alin & Hazar
90


__ADS_3

Alin melangkah dengan tergesa masuk ke dalam rumah. Perasaannya menjadi tak menentu setelah melihat adegan mesra Hazar dengan seorang gadis yang tak dikenalnya tadi. Rasa ini terlalu rumit untuk ia jelaskan. Namun satu yang pasti, ini adalah rasa sakit yang teramat perih yang pernah ia rasakan. Jantungnya bagai di hujam oleh banyak sembilu sekaligus. Otaknya buntu tak bisa berpikir jernih. Banyak pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Matanya berkabut, Ia bahkan tak menyadari keberadaan Bibi Yona yang menyambutnya di depan pintu.


Langkah Alin terhenti tepat di ruang tengah. Sepi, tidak ada seorang pun yang tampak di dalam rumah. Hazar dan si gadis menghilang entah kemana. Mata Alin menatap nanar pada pintu ruang kerja Hazar. Apa di sana? Seketika tubuh Alin menggigil, kakinya kehilangan tenaga saat mendengar tawa renyah si gadis yang berasal dari salah satu kamar. Kamar!Pandangan Alin pelan beralih. Pintu putih yang tertutup rapat itu berhasil membuat sembilu di dadanya terangkat secara bersamaan. Perih dengan menyisakan luka yang berdarah-darah.


Melihat Alin yang hampir jatuh Bibi Yona cepat menahan tubuh Alin yang sempoyongan. “Nona! Nona baik-baik saja?”


Alin tertegun, ia baru saja kembali pada dirinya. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya dari pintu kamar itu. “Aku, aku ke atas dulu.” Alin melangkah menjauh, meninggalkan Bibi Yona.


Bersamaan dengan pintu kamar yang tertutup, air mata Alin jatuh tak terbendung. Ia jatuh dan terduduk di lantai.


***


Karna makan teratur dan tepat waktu termasuk dalam kewajiban yang harus dipatuhi, Alin pun terpaksa turun ke bawah. Sebenarnya ia sangat takut dengan apa yang mungkin saja ia lihat nanti. Ia takut hatinya tidak akan kuat menahan sakit jika saja ada orang lain di meja makan nanti. Dengan langkah pasrah diseretnya jua kakinya yang lemas itu. Ia meyakinkan dirinya untuk tetap kuat dan tegar.


“Selamat malam, Nona.” Ternya Bibi Yona sudah menunggu di depan tangga.


“Malam, Bibi.” Jawab Alin dengan suara seraknya. Ia terus melangkah menuju ruang makan.


Yang Alin cemaskan memang tak terjadi. Hazar tidak membawa si gadis ke ruang makan. Tapi saat ia duduk dan menunggu kedatangan Hazar, ia malah mendapatkan kejutan yang lain dari Bibi Yona.


“Silakan, Nona. Anda, tidak perlu menunggu Tuan Hazar.”


“Mengapa?” tanya Alin bingung sebab tidak biasanya Hazar melewatkan jam makan jika ada di rumah. Atau... tubuh Alin langsung lemas. Pikirannya menerawang ke mana-mana. Apa Kak Hazar tadi makan malam bersama si gadis di sini? Apa keberadaannya di meja makan akan mengganggu, hingga Hazar dan si gadis harus makan malam dengan cepat?


“Tuan Hazar tadi sudah makan, Nona.”


Deg! Jawaban Bibi Yona bertepatan dengan masuknya dua orang pelayan melewati ruang makan dengan membawa dua nampan berisi dua piring makan dan dua gelas kotor berhasil membuat luka Alin makin terkoyak. Berarti benar, tadi Kak Hazar telah makan malam bersama si gadis.


*

__ADS_1


Tampilan Alin kian hari makin mengenaskan. Selain pucat dan kantung mata yang menghitam, sekarang sembab pun ikut serta menghiasi wajahnya yang mulai tirus. Semalaman ia menangis merapi kebodohan yang telah ia perbuat. Merutuki dirinya sendiri. Dan sekarang ia hanya bisa memasrahkan semuanya pada waktu. Hanya waktu yang bisa melepaskannya dari penderitaan ini. Dan hanya waktulah yang bisa mengakhiri semua.


Dengan langkah gontainya Alin berjalan ke ruang makan.


“Selamat pagi, Nona.” Sapa Seorang pelayan.


Alin tidak langsung menjawab, ia terdiam menatap nampan yang dibawa si pelayan. Kemudian meneruskan langkah. Sepertinya ia harus sarapan sendiri lagi pagi ini.


Langkah Alin langsung terhenti, matanya membulat saat mendapati Hazar Yang sedang duduk di ruang makan. Apa itu benar Kak Hazar? Lalu, di mana si gadis kemarin? Apa di kamar? Pasti iya, sarapan tadi pasti untuk si gadis? Alin terpaku. Apa yang terjadi semalam? Mengapa sarapan si gadis harus diantar segala! Banyaknya dugaan yang terpikirkan oleh Alin membuat dadanya semakin sesak.


Dengan gerakan hati-hati Alin ikut duduk. Ia makan seperti biasa, mengunyah dan menelan makanan yang terasa hambar itu dengan susah payah. Ia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara apa pun. Berusaha untuk menahan sesak di dadanya. Mungkin ia harus bersyukur, karna kehamilannya tidak lagi mempermasalahkan bau-bau ruangan atau makanan. Ia jadi tak perlu merepotkan orang-orang di sekitarnya.


Seperti biasa Hazar adalah orang pertama yang meninggalkan meja makan.


“Aku mau bicara,” lirih Alin, suaranya nyaris tak terdengar oleh Hazar.


“Aku mau tinggal di apartemen.”


Kening Hazar berkerut. Ia diam, tak berkomentar apa pun.


Kedua tangan Alin saling menggenggam, kepalanya tertunduk ketakutan. Diamnya Hazar membuat pikirannya makin kosong. Karna tak mendapat jawaban dari Hazar, ia pun mengangkat kepalanya dengan perlahan, namun kepalanya kembali tertunduk sedetik kemudian. Sebenarnya sekarang ia sangat tidak mau pergi meninggalkan rumah itu. Sebab hanya beberapa bulan lagi saja ia memiliki kesempatan untuk tinggal di sana. Namun, ini terlalu berat untuk ia tahan. Ia harus berani meminta izin Hazar untuk pergi sebentar.


“Aku, aku akan tinggal di apartemen Papa Haris untuk beberapa hari saja,”


Lima detik...


Sepuluh detik berlalu...


“Kau, tahu di mana apartemen Papa?”

__ADS_1


“Eh!” Alin terkejut, kepalanya terangkat, tidak disangkanya Hazar akan bertanya seperti itu. Tubuh Alin makin menggigil saat Hazar melangkah mendekat padanya.


“Kau, punya kuncinya?”


“Apa Papa mengizinkanmu untuk tinggal?”


“Apa kau tahu Papa sekarang di mana?”


Mata Alin terpejam, ia menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Hazar makin mencercanya dengan banyak pertanyaan yang membuatnya makin tersudut. Ia tak tahu harus menjawab apa. Kepalanya makin tertunduk dalam, tak berani menatap Hazar yang hanya berjarak beberapa senti di depannya.


“Masih mau pergi?”


Pertanyaan Hazar barusan terdengar sumbang di telinga Alin. Banyak makna yang terkandung dalam pertanyaan terakhir itu. Hazar mengusirnya, Hazar meremehkannya, atau Hazar memang menginginkan kepergiannya?


“Iya,” Entah dari mana datangnya keberanian Alin. Sekarang matanya menatap tajam pada Hazar. Napasnya terbuang cepat dan pendek. Kalimat terakhir Hazar berhasil membangkitkan api kemarahannya yang sudah lama padam. Sekarang hatinya yang sakit ini sangat marah terhadap Hazar. Sikap Hazar sudah sangat keterlaluan. Setelah menunda perceraian, suaminya itu malah berani membawa wanita lain pulang ke rumah. Meski pun mereka akan segera bercerai. Tetap saja perbuatan suaminya itu salah.


“Iya! Aku mau pergi! Bukan beberapa hari, tapi untuk selamanya! Yang kalian inginkan hanya anak ini, kan? Akan aku berikan saat dia lahir nanti.” Alin menghembuskan napasnya dengan kasar. Api kemarahan terpancar jelas di matanya.


Alin berbalik badan, dengan gerakan kasar ia meraih tas jinjingnya yang tadi ia letakan di atas meja makan. “Ambil semua ini!” Alin menjatuhkan semua isi tasnya ke lantai, menyisakan ponselnya yang kemarin diberikan oleh Dina. Matanya yang menyala kembali menghujam ke arah Hazar. Rasanya sangat ingin ia mengumpat terhadap laki-laki yang sekarang berdiri di depannya ini. Namun pikirannya malah berpikiran lain. Mulutnya terkunci, tak ada satu kata umpatan pun yang keluar untuk melampiaskan rasa ini.


“Minggir!” Alin mendorong dada Hazar agar menyingkir dari hadapannya. Hingga ia bisa dengan leluasa pergi dari ruang makan yang pengap itu. Bisa-bisa ia menjadi gila jika berlama-lama di sana.


Sesampainya di ruang tengah Alin menghubungi nomer seseorang.


“Jemput aku sekara_” kata-kata Alin tergantung di udara. Ia terkejut saat ponselnya direbut paksa oleh Hazar dari samping. Dan... PLAK! Alin terlonjak kaget. Benda pipih miliknya itu melayang membentur dinding dan berakhir di lantai.


“Siapa bilang kau boleh pergi!”


………………

__ADS_1


__ADS_2