Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 31


__ADS_3

Wira dan Mamanya terlihat sedang membersihkan taman di depan rumahnya. Tiba-tiba seorang laki-laki berpakaian serba hitam dengan jas yang terlihat rapi menyapa mereka dari balik pagar.


Mama Wira berdiri menghampiri Si laki-laki. “Ada yang bisa saya bantu?” tanya Mama.


“Saya datang untuk menjemput Anda Nyonya!”


“Saya! Nyonya! Hei..” Mama cengengesan, baru kali ini dia dipanggil dengan sebutan Nyonya. “Anda salah alamat mungkin.” Mama mengibaskan tangannya dengan senyuman yang masih terkembang di bibirnya.


“Saya Bobi, sopir pribadinya Nona Alin.” Jawab Bobi, masih dengan wajah datarnya.


“Sopirnya Nak Alin!” Mama bertanya seperti tidak yakin.


“Iya Nyonya. Saya di perintahkan oleh Tuan Hazar suaminya Nona Alin untuk menjemput Anda.”


Mama tampak masih bingung. “Kemarin Nak Alin bilang, dia yang akan kesini.” Ujar Mama lagi.


“Nona Alin sedang tidak di perbolehkan untuk keluar rumah saat ini Nyonya. Jadi sebaiknya Anda bersiaplah. Nona Alin sudah menunggu Anda.”


“Siapa Ma?”


Wira yang sedari tadi hanya memperhatikan Mamanya dari jauh pun mendekat, karna ia dapat melihat ekspresi Mamanya yang tampak kebingungan.


“Ini sopirnya Nak Alin. Katanya disuruh sama Nak Alin untuk menjemput Mama.” Jawab Mama.


Wira memperhatikan Bobi. Sepertinya dia memang pernah melihat sopir Alin itu di rumah sakit.


“Mama telepon saja dia.” Ujar Wira.


“Oh iya. Sebentar saya telepon dulu Nak Alinnya.” Ujar Mama pada Bobi. “Ra kamu bukain pagar suruh sopirnya masuk dulu.” Mama melangkah masuk ke dalam rumah.


Setelah beberapa menit Mama kembali keluar, dengan pakaian yang sudah rapi.


“Mengapa tidak di suruh duduk tamunya Wira.” Ujar Mama saat melihat Bobi hanya berdiri di samping mobil.


“Sudah aku tawarin Mama, dianya saja yang tidak mau.” Jawab Wira yang sedang mencuci tangannya di air keran.


“Mama mau pergi sebentar. Kamu beresin sisanya ya! Nanti Mama bawain oleh-oleh untuk kamu.”


*


“Bibi...!!!”


Alin berteriak dari lantai atas. Semua pelayan yang mendengar teriakannya berhambur mendekati asal suara.


“Ada apa Nona!.” Pekik Bibi Fatma. Raut wajahnya tampak cemas, dia adalah orang pertama yang mencapai lantai atas, disusul oleh Bibi Yona dan pelayan lain, yang juga terengah-engah mengambil napas.


Alin mematung, ia bingung dengan apa yang terjadi sekarang. Mengapa semua orang menghampirinya, perasaan dia hanya memanggil Bibi Fatma.

__ADS_1


“Anda baik-baik saja Nona?” Bibi Yona bertanya setelah bisa mengatur napasnya.


Alin tidak menjawab, dia malah menghampiri Bibi Yona. Mengusap-usap punggung Bibi Yona yang terlihat masih agak kesusahan mengatur napasnya.


“Aku baik-baik saja Bibi. Memangnya apa yang terjadi?!” Alin malah semakin bingung.


Bibi Fatma terdengar menghela napas. “Lalu mengapa Anda berteriak Nona.” Ujarnya.


“Aku berteriak karna memanggil Bibi.” Jawab Alin dengan entengnya.


“Teriakan Anda seperti sedang dicekik beruang saja!” Bibi Fatma menyandarkan punggungnya ke pegangan tangga.


“Hehehe...” Alin cengengesan. Ia baru sadar sekarang. “Maaf Bibi.” kepala Alin sedikit mengaguk pada Bibi Yona. Ia merasa tidak enak dengan wajah piasnya Bibi Yona sekarang.


“Aku cuma lagi bahagia saja Bibi. Soalnya Mamanya Wira bakal kesini. Bisakah Bibi memasak untuk menjamu tamu saya.”


“baik Nona, saya akan meminta Angel untuk kembali kesini.” Jawab Bibi Yona.


“Eh, tidak usah Bibi. Jangan telepon Angel. Biar Bibi Fatma dan saya saja yang masak.”


“Tapi Nona!”


“Tidak apa-apa Bibi. Bibi dan yang lainnya mendingan istirahat lagi aja.”


“Saya akan meminta pelayan yang biasanya membantu Angel untuk membantu Anda Nona!”


*


Saat Bibi Fatma dan empat pelayan lainya sedang sibuk di dapur, Alin malah sibuk dengan ponselnya.


“Bibi apa lebih baik kita masak ini saja!”


Alin mengarahkan layar ponselnya pada Bibi Fatma yang sedang mencuci sayur.


“Ini lobster?”


“Iya Bibi. Bukankah ini sepertinya enak!” Mata Alin tampak berbinar, membayangkan lobster besar yang di lumuri saus pedas.


“Kalau kita memasak ini. Mungkin tamu Anda harus menginap di sini Nona.”


“Baguslah kalau begitu!” Alin bertambah senang membayangkannya.


“Tadi Anda bilang kalau Mamanya dokter Wira akan kembali ke kampungnya siang ini Nona!”


Seketika raut wajah Alin menciut. “Aku akan ke kamar sebentar.” Alin telah kehilangan semangatnya.


*

__ADS_1


Baru saja Alin sampai di kamar ponsel di tangannya tiba-tiba berdering. Tanda ada sebuah panggilan masuk. Alin semakin merengut saat melihat siapa yang meneleponnya.


“Halo!” jawabnya malas.


“Apa kau masih tidur?” Tanya Hazar.


“Iya!”


“Bersiaplah sebentar lagi kau akan di jemput oleh Karin.”


“Dijemput! Mau kemana? Kakak, bukanya Kakak sendiri yang meminta Bobi untuk menjemput Mamanya Wira!” Alin sudah tampak kesal sekarang. Suaminya itu memang selalu saja berbuat seenaknya.


“Bisa tidak kau menurut saja apa kataku! Tanpa harus membantah!” Suara Hazar pun juga terdengar kesal di seberang sana. Hazar langsung memutuskan panggilan teleponnya setelah berucap begitu.


“Cih! Lihatlah dia selalu berbuat semaunya.” Alin melempar ponselnya ke atas kasur.


Alin dengan malasnya masuk ke ruang ganti, tidak ada pilihan lain selain menuruti kemauan Si Tuan Muda. Alin membolak-balikan pakaian di dalam lemari. Karna moodnya sedang tidak bagus semua pakaian terlihat tidak ada yang bisa dia kenakan.


Saat memperhatikan setiap pakaian yang disediakan untuknya, Alin merasa ada yang aneh. “Mengapa semua pakaianku berlengan panjang semua, dan.” Alin membuka lemari bagian celana dan pakaian bawahnya. “Ini juga! Apa Hazar tidak menyukai pakaian seksi!” Wajah Alin seketika berbinar. Ia seperti menemukan cara untuk membalas Hazar. “Dimana dia menaruh barang-barang lamaku?” Alin menyusuri setiap sudut ruang ganti untuk mencari barang-barangnya yang di bawa Hazar dari apartemennya.


“Apa ini!” Alin melihat beberapa Kotak besar di sudut ruangan. Ia berjongkok untuk membuka dan melihat isi dari kotak itu. “Ah, benar.” Alin tampak senang menemukan barang yang ia cari. Isi dari kotak itu ternyata koleksi gaunnya dulu. “Apa dia benar-benar tidak suka kalau aku memakai gaun dan pakaian seksi? Lihatlah dia menyembunyikan semua gaunku.” Gumam Alin.


*


Alin melenggok dengan manjanya melewati beberapa pelayan yang menyapanya.


“Dimana Bibi Fatma?”


“Bibi Fatma masih di dapur Nona.”


“Terimakasih.” Alin kembali melenggok ke dapur.


Di dapur Alin juga mendapati Bibi Yona yang sedang membantu Bibi Fatma. Bibi Yona tampak terkejut melihat penampilan Alin, tapi dia tidak berkomentar.


“Bibi aku akan keluar sebentar. Bisakah Bibi menjamu dan menemani Mama Wira sementara aku pergi!” ujar Alin pada Bibi Yona.


“Baik Nona!”


“Bibi aku keluar sebentar.” Alin menyentuh punggung Bibi Fatma yang sedang sibuk menumis bumbu.


“Iya Nona” jawab Bibi Fatma. Masih sibuk dengan urusannya membolak balikan bumbu-bumbu di dalam kuali.


“Anda sudah siap Nona?”


Karin sudah menunggu Alin di ruang tengah.


“Sudah, ayo kita kemon Mbak Karin!” seru Alin.

__ADS_1


__ADS_2