
Papa Haris menghela napas panjang, kembali melanjutkan ceritanya.
“Sampai usianya lima tahun, Alin tumbuh menjadi anak yang manis dan manja. Ia selalu membutuhkan bantuan Fatma untuk melakukan apa pun. Dia selalu menangis jika dijahati oleh David, dan dia juga selalu ketakutan jika bertemu dengan semua penghuni rumah, bahkan dengan saya sekalipun.”
“Dia tidak boleh menjadi anak yang manja dan cengeng. Karna itu saya mulai mendidiknya dengan keras. Saya memisahkannya dari Fatma. Saya mulai membatasi semua waktunya. Saya mengganti semua guru kesayangannya. Pada saat satu bulan pertama. Dia sangat sering dilarikan ke rumah sakit, karna dia menolak untuk makan dan minum. Pada bulan kedua dia sudah mulai terbiasa. Namun ia masih sering menangis dan mengadu pada Fatma. Dan bulan berikutnya dia benar-benar sudah terbiasa. Dia tidak lagi memberontak, dia sudah mulai menyadari kalau apa pun yang dilakukannya tidak akan merubah suatu ketetapan yang sudah saya rubah. Pada akhirnya dia tumbuh seperti sekarang. Dia menjadi anak kuat dan tidak mudah untuk dikendalikan. Bahkan saya, dan Papa Setyo pun sudah tidak bisa mengendalikannya kalau tidak ada Fatma.
Amel dan David pun sudah tak mampu melawannya.”
“Maafkan saya... Karna kekacauan yang dibuat keluarga saya... Papa, Adi, Rosa dan Hazar, kalian semua jadi ikut terjebak dalam situasi seperti ini. Maafkan saya!” lirih Papa Haris tertunduk, ia menyeka ujung matanya, entah sejak kapan air matanya sudah mengalir di pipinya.
“Kekacauan ini memang berasa dari saya. Saya dan Papa Setyo yang memaksa Alin untuk menerima perjodohannya dengan Hazar dulu. Sejak Awal Alin sudah salah sangka pada pernikahan ini.”
Hazar mendesah, ia sadar ini bukan sepenuhnya salah Papa Haris. Kepala Hazar makin tertunduk dalam.
“Pada hari pertama kami membicarakan tentang perjodohan. Alin langsung menolak, dan dia lebih memilih terusir dari rumah tanpa membawa uang sepeser pun. Selama seminggu dia menumpang tinggal di rumah Wira. Dan selama seminggu itu pula Papa Setyo mencari Fatma, karna ia tahu hanya Fatma lah senjata ampuh untuk menaklukkan Alin. Papa Setyo berhasil, dia menemukan Fatma dalam keadaan kritis, dan itu makin membuatnya mudah untuk membawa Alin kembali dalam genggamannya.”
“Papa Setyo sangat bersemangat mendengar perjodohan Alin dan Hazar. Karna dia sangat menyukai orang-orang kaya seperti kalian. Dia melakukan berbagai macam cara agar Alin mau menerima perjodohan ini. Dan jujur salah satu hal yang membuat saya mau menerima Hazar waktu itu juga karna kekayaan kalian. Saya sangat berharap Alin bisa terbebas dari kakeknya. Dan hanya orang yang lebih kayalah yang bisa membebaskannya. Karna itu saya ikut serta mengancam dan memaksa Alin untuk mau menikah dengan Hazar.” Papa Haris kembali menyeka ujung matanya. Sebelum kemudian ia kembali meneruskan ceritanya.
“Karna kami terlalu menekan dan mengancamnya, Alin sampai mencoba mengakhiri hidupnya malam itu. Mungkin karna itu semua Alin menjadi salah faham dengan pernikahan kalian.” Papa Haris menatap pada Hazar yang duduk di sampingnya. “Maafkan Papa. Tapi kamu harus melihat ini!” Papa Haris mengulurkan sebuah USB pada Hazar.
Hazar terlihat ragu untuk menerima benda yang diulurkan oleh Papa Haris. Ia terlebih dahulu menatap wajah mertuanya itu.
Papa Haris mengangguk, ia seperti tahu kalau Hazar sedang ragu untuk menerima USB itu. “Ambillah, mungkin setelah ini kau akan tahu mengapa Alin berpura-pura mandul. Maafkan Papa, dan maafkan Alin juga. Maaf kami hanya bisa menimbulkan kekacauan pada keluarga kalian.” Papa Haris menatap satu-satu muka yang ada di ruangan itu. Tanpa menjelaskan isi dari USB itu ia langsung pamit dan ke luar dari ruangan itu.
Karna Papa Haris yang pergi begitu saja membuat Hazar dan yang lainya menjadi penasaran sekaligus takut untuk mengetahui isi dari USB itu. Terlebih Hazar. Ia menatap USB di tangannya. Berbagai praduga berkecamuk dalam benaknya. Ia sedikit takut untuk mengetahui apa penyebab Alin tidak bisa menerima pernikahan mereka. Ia begitu takut mengetahui jika karna dirinya lah Alin berbuat sejauh ini. Apa karna dia terlalu mengekang istrinya, hingga istrinya itu mencoba lari darinya. Atau karna Alin memang sudah memiliki pria lain dihatinya! Tidak, ia belum siap menerima kenyataan ini. Alin sedang hamil sekarang. Alin sedang mengandung buah hati mereka. Mereka sudah terikat dengan kehadiran calon bayi mereka. Tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka sekarang. Ia akan lebih berusaha untuk membuat Alin bisa menerima dirinya. Ia akan membuat Alin merasa aman dan nyaman selama bersamanya. Ya, ia bisa melakukan itu, ia hanya harus menuruti apa pun kemauan istrinya, dulu Alin pernah bilang kalau dia hanya menginginkan kebebasan. Ia akan memberikan itu kepada istrinya. Tidak akan sulit memberi kebebasan pada Alin. Ia hanya harus memperketat penjagaan jarak jauh untuk Alin. Hazar kembali mendesah, ia memijit pelipisnya. Kepalanya benar-benar terasa pening sekarang.
Mama Rosa menyeka sudut matanya. Ia menatap sendu pada Hazar. Ia juga sedikit takut untuk mengetahui mengapa Alin sampai tega ingin mengakhiri kandungannya. Apa putranya juga terlibat dalam alasan itu? Jika memang perjodohan paksa yang membuat Alin seperti ini, maka bukan hanya Papa Haris dan Kakek Setyo yang bersalah. Dia dan Hazar juga terlibat di sini. Mereka juga ikut serta dalam mewujudkan perjodohan itu. Mama Rosa berpindah duduk di samping Hazar. Ia membelai punggung putranya.
__ADS_1
“Kita bisa membahagiakan Alin. Sampai kapan pun dia akan tetap menjadi bagian dari keluarga kita. Jika memang perjodohan yang menjadi masalah di sini. Kamu bisa berterus terang padanya, serahkan semua keputusan akhir padanya.”
“Apa maksud, Mama!” Hazar langsung menatap tidak suka pada Mama Rosa. Menyerahkan keputusan akhir pada Alin? Apa maksudnya dia harus pasrah dan menerima saja jika Alin lebih memilih pergi darinya saat semua kebenaran ini terungkap?
Kakek Tomi menghela napas panjang. “Jadi maksud kalian, Alin sedang hamil sekarang? Dan dia tidak menyadari itu, karna dia sedang mengonsumsi pil kb yang sebenarnya adalah vitamin penyubur kandungan. Dan jika dia mengetahui kehamilannya, kalian semua takut jika dia akan menggugurkan kandungannya.”
Semua kepala kembali tertunduk, tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Kakek Tomi.
Kakek Tomi menatap ke arah Hazar. “Alin berhak tahu tentang kehamilannya, dan bisa bahaya jika dia tidak tahu tentang kehamilannya sendiri. Kau tidak boleh merahasiakan ini darinya.”
Hazar tetap diam, tidak memberi respons apa pun.
“Lihat apa yang diberikan Haris tadi padamu! Kebenaran harus cepat diungkapkan agar kau bisa mengambil langkah yang tepat untuk mempertahankan istrimu di sisimu.” Lanjut Kakek Tomi.
***
Layar televisi menampilkan gambar Alin yang sedang terikat di ranjang pasien. Dia tampak berteriak-teriak meminta dibukakan ikatannya. Tapi dokter dan perawat yang ada di sana malah pergi begitu saja.
Mama Rosa kembali menangis. Ia sungguh tidak tega melihat Alin di perlakukan seperti itu. Ia langsung memalingkan wajahnya.
Tak lama setelah itu David muncul dari balik pintu, dia tampak menyunggingkan senyuman licik pada Alin.
Berbeda dengan Mama Rosa. Kakek Tomi, Papa Adi, dan Hazar malah semakin mempertajam mata mereka ke arah TV. Tangan ketiganya tampak terkepal dengan erat. Rahang Hazar bahkan tampak mengeras. Mengapa mereka tega memperlakukan Alin seperti itu.
“Oh, ternyata Tuan putri berhati mulia kita telah siuman.” David terlihat duduk di atas kursi di samping ranjang Alin, menyilangkan kakinya, bibirnya masih menyunggingkan seringai licik. “Apa lo perlu bantuan gue untuk melepaskan ikatan di tubuh lo?”
Alin tidak langsung menjawab, ia malah memperhatikan wajah David dengan saksama. “Ah, luka di wajah lo, masih memar. Berarti gue belum cukup lama tertidur.” Alin terlihat membalas seringai David dengan senyuman kemenangan.
__ADS_1
“Ya, lo terlalu cepat bangun.” David berdiri.
“Mau gue bantu agar lo, tertidur lagi?” David terlihat mendekati ranjang Alin, membungkukkan badanya, meletakan kedua telapak tangannya pada leher Alin. Kemudian wajah Alin tampak memerah, namun Alin malah tampak tersenyum. “Katakan, lo mau tidur sementara atau selamanya? Gue akan membantu mewujudkannya.” Sepertinya David semakin menekan leher Alin, karna wajah Alin makin tampak memerah, dia bahkan terlihat kesusahan untuk bernapas.
Kakek Tomi mengalihkan wajahnya. Namun hanya sebentar, ia kembali melihat ke arah televisi.
Dengan wajah memerahnya, Alin tampak tersenyum pada David. “Apa kau berani?” Suara Alin terdengar parau nyaris tak terdengar, seringai mengejek masih tampak pada wajahnya yang memerah.
Alin semakin tampak kesusahan untuk bernapas. Tangannya tampak terkepal dengan erat.
Tangisan Mama Rosa semakin terdengar memilukan. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana bisa menantunya itu masih bisa tersenyum, dan malah menantang David yang mungkin saja bisa berbuat nekat padanya.
Mata ketiga laki-laki itu pun sudah berkaca-kaca sekarang. Disertai dengan rahang mereka yang mengeras.
Tiba-tiba saja David terlihat melepaskan tangannya pada leher Alin.
Alin tampak terbatuk-batuk. Namun dia tetap bersuara, dan terus mempropokasi David. “Sebagai seorang laki-laki, lo sangat pengecut.”
“Sekarang hanya belum saatnya. gue masih ingin melihat lo tersiksa. Perlahan terlupakan dan mati dengan cara mengenaskan, sama seperti Ibu lo.”
“Lo sebentar lagi akan masuk ke neraka lain. Lo akan di nikahkan dengan laki-laki yang sama dengan Papa dan Kakek. Yang menganggap wanita hanya sebatas rumah produksi untuk menghasilkan pewaris harta selanjutnya. Gue harap dia lebih buruk dari Papa, agar lo makin tersiksa, LEBIH! dari Ibu lo yang sudah mati.”
“BANGSAT!” Papa Adi langsung mengumpat.
PLAK!
PRENKK!
__ADS_1
Sebuah gelas melayang menghantam layar televisi.