
“Ke sinilah!” Tangan kiri Hazar menepuk-nepuk kasur di sebelahnya. Ia benar-benar menjadi pasien sekarang, dengan tangan kanan memakai armsling dan tangan kiri yang terikat dengan selang infus. Berbaring di ranjang dengan status pasien rawat inap.
“Tidak mau, aku tidur di sini saja.” Alin menolak ajakan Hazar untuk ikut tidur di ranjang pasien. Ia lebih memilih tidur di sofa.
“Kau mau ke sini sekarang, atau mau aku menjemputmu ke sana?”
Alin berdecak malas, menatap sebal pada Hazar. “Kasur itu hanya muat untuk satu orang, akan sangat sempit jika aku juga tidur di sana. Dan akan sangat berbahaya jika luka Kakak tersenggol lagi olehku nanti.” Alin beralasan.
“Satu!” Hazar mulai berhitung.
Sambil berdecak malas, dan dengan menghentakan kakinya Alin pun berpindah ke atas kasur. “Geser!” rutuknya sebal.
Hazar menarik sudut bibirnya, dan sedikit bergeser ke kanan memberi ruang untuk Alin berbaring di sampingnya. “Kau sangat manis jika jadi anak penurut seperti ini.” Hazar membelai kepala istrinya yang sudah berbaring di sampingnya.
“Ck, jangan pegang-pegang!” Alin sedikit menjauh, mengubah posisi tidurnya membelakangi Hazar.
“Kau tidak mau memberikanku kecupan selamat malam?” tanya Hazar sambil mengulum senyumannya. Entah sejak kapan ia suka sekali menggoda istrinya.
Alin bergeming, tetap diam dengan posisinya. Mungkin dia sedang pura-pura tidur.
“Kau, mau aku yang memberikannya untukmu? Jika iya, aku tidak bisa janji hanya kecupan yang akan terjadi nanti.”
“Arrgghh...” Alin menatap marah pada Hazar.
Bibir Hazar makin terkembang sempurna melihat wajah kesal istrinya. Kecupan memang tak akan bisa melampiaskan rasa senangnya saat ini. Pada akhirnya ia pun berhasil membuat Alin kelimpungan, karna tak ia beri celah sedikit pun untuk istrinya itu mengambil napas.
***
“Ada perlu apa kau ke sini?” tanya Kakek Setyo.
Pagi ini Papa Haris mendatangi kantor Kakek Setyo, karna ada urusan penting yang harus ia bicarakan sesegera mungkin pada Kakek Setyo.
“Apa Alin baik-baik saja? Aku dengar dia dirampok kemarin, apa kau sudah menemui anakmu itu?”
Papa Haris tidak menjawab, ia tahu Kakek Setyo bertanya hanya untuk sekedar basa basi, papanya itu juga tidak pernah peduli dengan Alin. Papa Haris meletakan sebuah amplop di atas meja kerja Kakek Setyo. “Aku akan menceraikan Amel. Agar saham perusahaan Papa tidak jatuh, Papa bisa mengarang cerita apa pun untuk alasan perceraian ini. Sebarkan di media, buat cerita sedramatis mungkin dan selamatkan saham perusahaan Papa,”
Mata Kakek Setyo sontak terbelalak. “Kau sudah berani melawanku!?” geram Kakek Setyo. Berita perceraian Haris tentu akan berpengaruh besar pada harga sahamnya. Karna selama ini yang sering diberitakan di media adalah tentang keharmonisan keluarga mereka.
“Aku akan tetap bekerja di rumah sakit, jika Papa masih mengizinkannya.” ujar Papa Haris dengan santainya, ia samasekali tidak peduli dengan kemarahan Kakek Setyo.
“Apa kau sudah tidak peduli lagi dengan keselamatan putrimu?” Ancaman lama Kakek Setyo kembali keluar. Memang di saat seperti ini Kakek Setyo selalu menggunakan keselamatan Alin sebagai ancamannya.
PLAK! Papa Haris memukul meja kerja Kakek Setyo, dengan mata membulat penuh ia menatap tajam pada Kakek Setyo. “Jangan pernah lagi Papa menjadikan keselamatan Alin sebagai taruhan! Tidak akan sulit bagiku untuk menghancurkan Yayasan ini!” geram Papa Haris sambil menunjuk muka Kakek Setyo.
Setelah berucap seperti itu Papa Haris langsung membalikkan badan hendak keluar dari ruangan. Namun baru tiga langkah ia berjalan ia kembali membalikkan badannya. “Perceraian ini harus selesai bulan ini juga. Kalau Papa tidak bisa mengurusnya, aku sendiri yang akan turun tangan. Tapi tidak akan ada penyelamatan untuk perusahaan Papa.”
*
TOK! TOK! TOK!
“Masuk!” jawab Alin sambil terus fokus pada ponsel di tangannya. Saat itu ia sedang bermain games di ponsel Hazar.
__ADS_1
“Selamat pagi, Nona!”
Alin langsung mengangkat kepalanya, bibirnya langsung terkembang saat mengetahui siapa yang datang ke ruang rawatan suaminya itu. “Hey, Sekretaris Jon!” seru Alin dengan girangnya. Ia langsung berdiri dari duduknya dan melangkah mendekat pada Sekretaris Kakeknya itu. “Apa kabar, Sekretaris Jon?” Alin mengulurkan tangannya hendak bersalaman dengan Sekretaris Jon.
“Saya baik, Nona.” Bukanya membalas uluran tangan Alin, Sekretaris Jon malah meletakkan buket bunga yang dibawanya pada tangan Alin yang terulur.
Alin memonyongkan bibirnya, Sekretaris kaku ini masih saja menjaga jarak darinya. Tapi sikap kaku Sekretaris Jon tak pernah membuat Alin jera. Ia masih saja suka mengganggu Sekretaris kakeknya itu.
Alin kembali tersenyum, sambil memeluk buket bunga di tangannya. “Kau makin tampan saja, Sekretaris Jon,” puji Alin. “Apa kau sudah punya pacar?”
“Apa Tuan Hazar ada, Nona?” Sekretaris Jon malah balik bertanya pada Alin.
“Kau belum menjawabku!”
“Saya akan ke sini lagi, nanti.” Karna tahu ia tak akan mendapat jawaban dari Alin, Sekretaris Jon pun ingin pergi dari sana, namun ia dicegat oleh Alin.
“Hey, mengapa kau terburu-buru sekali, Sekretaris Jon? Tunggulah di sini, Kak Hazar sedang di kamar mandi!” ujar Alin, akan sangat disayangkan jika Sekretaris Jon pergi begitu saja. Mengganggu Sekretaris Jon adalah hal yang paling menyenangkan baginya.
“Duduklah!” ujar Alin mempersilakan Sekretaris Jon untuk duduk di sofa.
“Terimakasih, Nona. Saya berdiri saja.”
“Ei... Ayolah, Sekretaris Jon. Kita bisa bercerita sedikit tentang masa lalu, duduklah!”
“Tidak ada yang perlu diceritakan, Nona.”
“Apa kau dengan mudahnya melupakan masa lalu kita, Sekretaris Jon? Banyak yang bisa kita ceritakan tentang masa lalu kita!” Alin terlihat memasang raut kecewa, tapi Sekretaris Jon masih juga mengabaikannya. Ia masih belum kehilangan topik pembicaraan. “Kau bisa menceritakan tentang sudah berapa kali kau menolak lamaranku! Dan sudah berapa banyak laporan yang kau terima tentangku dari anak buahmu! Apa sampai sekarang masih ada anak buahmu yang mengikutiku? Dan mengapa kau masih betah membujang sampai kini?” Alin mencerca banyak pertanyaan pada Sekretaris Jon. Alin menarik sudut bibirnya, ada sesuatu yang melintas di benaknya. “Apa kau sedang menunggu jandaku, Sekretaris Jon!” seru Alin dengan riangnya.
“Ehem,”
Sekretaris Jon langsung menengok ke arah suara. Ternyata Hazar sudah berdiri tidak jauh dari tempatnya.
Sekretaris Jon mendekat pada Hazar yang baru keluar dari kamar mandi, ia melewati Alin dengan begitu saja.
“Selamat pagi, Tuan.” Sekretaris Jon sedikit membungkuk. “Saya ke sini ingin menyampaikan salam dari Tuan Setyo. Beliau meminta maaf karna belum bisa menjenguk Anda saat ini.”
*
Setelah kepergian Sekretaris Jon, Alin kembali bermain games di ponsel suaminya. Menunggui orang sakit ternya sangat membosankan. Andai saja Sekretaris Jon masih di sana, mungkin Alin tak akan sebosan ini.
Saat ini Alin sedang duduk di sofa dengan kepala yang disandarkan pada dada Hazar yang duduk di sampingnya. Alin terdengar menghela napas panjang untuk yang kesekian kalinya, itu berhasil membuat Hazar merasa terganggu.
“Apa kau, bosan?”
“Ya!” Alin menjatuhkan tangannya yang sedang sibuk dengan ponsel, kepalanya terangkat untuk menatap wajah Hazar yang tepat berada di atasnya. “Apa aku boleh keluar sebentar?” Alin mengerjap-ngerjapkan matanya. Berharap itu bisa membuatnya mendapatkan izin untuk pergi keluar.
“Tidak boleh,”
Seketika itu Alin langsung merosot, kemurungan langsung menghiasi wajahnya.
“Masa lalu apa yang kau miliki dengan Sekretaris Kakekmu?” tanya Hazar tiba-tiba.
__ADS_1
“Kakak, tadi menguping?” tuduh Alin.
“Bukan menguping.” Ralat Hazar. “Siapa yang tidak bisa mendengar suaramu yang tadi, kau terlihat sangat bahagia sampai tidak bisa mengontrol suaramu sendiri. Mungkin perawat di luar sana juga bisa mendengar suaramu!” geram Hazar.
Alin berdecak sebal, ia kembali sibuk dengan gamesnya.
“Apa kau pernah pacaran dengannya?” Hazar masih penasaran dengan pertanyaannya tadi.
“Bukan pacaran. Aku pernah melamarnya, dan dia selalu menolak lamaranku.”
“Kau melamarnya!?”
“Ya! Bahkan tujuh hari sebelum pernikahan kita, aku kembali melamarnya.” Jawab Alin dengan santainya. Ia sama sekali tidak menyadari raut wajah Hazar sudah berubah. Bahkan suara Hazar yang sudah meninggi pun tak di hiraukannya.
Hazar merampas ponselnya dari tangan Alin.
“Kakak!” seru Alin marah. Dia hampir saja mengalahkan musuhnya, tapi gagal karna Hazar telah merampas benda pipih itu dari tangannya.
Detik itu juga Hazar langsung membenamkan bibirnya pada bibir Alin. Hanya ini satu-satunya jalan pelampiasan kemarahan yang terpikir olehnya.
“Hmmm...” Alin memukul-mukul dada Hazar, ia sudah kehabisan oksigen sekarang. “Hmmm... Kak_” Alin berusaha sekuat tenaga untuk menjauhkan wajah Hazar darinya, tapi hanya sepersekian detik kemudian, ia kembali dibungkam Hazar.
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu berhasil membuat Alin lolos dari terkaman suaminya. Dengan napas yang masih tersenggal-senggal, ia mengusap bibirnya yang terasa membengkak. Kemudian hendak berdiri membuka pintu.
“Mau kemana, kau?” Hazar menahan tangan Alin.
“Buka pintu.” Jawab Alin ketus. Matanya masih menatap sebal pada Hazar.
“Masuk!” teriak Hazar. Kemudian pintu terbuka dari luar, dan Bobi muncul dari sana.
Alin menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia kembali gagal melarikan diri.
“Ada apa?” tanya Hazar pada Bobi yang sudah berdiri di depannya.
“Ini barang-barang Nona Alin yang Anda minta, Tuan.” Bobi menyerahkan tas jinjing Alin yang tertinggal di cafe dulu.
“Terimakasih,” ujar Alin sambil mengambil tas yang diulurkan Bobi. Raut wajah Alin masih tampak kesal. Ia langsung merogoh isi tasnya, mengambil ponsel dan langsung menyalakannya.
“Saya permisi, Tuan, Nona.”
“Ya,” jawab Hazar.
Baru saja Alin menyalakan ponselnya, sebuah notifikasi panggilan masuk langsung tertera di layar ponsel, dan nama Wira terpampang di tengah-tengah layar.
*
*
*
__ADS_1