
Hari-hari pun terus berganti. Meski berat Hazar masih harus mematuhi petuah-petuah mamanya. Dilihatnya Alin sering menangis sendirian di kamar. Dan itu malah memuatnya semakin gundah dan gelisah.
Ingin rasanya ia ikut berbaring di ranjang itu. Mendekap tubuh yang bergetar itu dengan kuat. Menghapus air mata yang tak kunjung berhenti itu.
Serta membisikkan kata-kata maaf dan rindu pada si pemilik hatinya itu. Namun, ia malah berbaring di ranjang yang lain, di kamar yang berbeda, memangku laptop dan bersikap seperti pengecut yang takut untuk bertindak.
“Ma, Alin menangis lagi.” adunya pada Mama Rosa. Di saat ia sudah tak sanggup menatap layar komputer yang menayangkan gambar istrinya yang sedang menangis. Ia selalu menelepon dan mengadu pada mamanya. Ia tak tahu lagi pada siapa ia akan berbagi kisah ini.
“Hazar... kamu masih mengaktifkan CCTV di kamar Alin!”
“Ma, dia semakin kurus. Tadi dia juga muntah-muntah setelah makan malam. Apa dia baik-baik saja?” Hazar terus saja bercerita walau pun Mama Rosa tak menanggapinya. Dengan suara lirih ia kembali berbicara panjang lebar. “Coba Mama tanyakan pada Bibi Fatma, selain makan pedas apa lagi yang disukai Alin. Apa aku juga harus mengganti koki di dapur? Mungkin Alin muntah-muntah karna mereka tak becus bekerja. Tidak bisakah Mama mengirim Bibi Fatma kembali ke sini. Jika Bibi Fatma yang masak, Alin pasti akan suka apa pun itu jenis makanannya.”
Terdengar Mama Rosa menghela napas panjang di seberang sana. “Kamu cuma punya waktu dua hari lagi. Papa mertuamu juga akan kembali dua hari lagi. Ingat! Kalau sampai kau bercerai, anak kalian akan diasuh oleh Papa mertuamu. Kita sudah terlanjur menyetujui dan menanda tangani surat perjanjian Hak asuh itu. ”
***
“Dua hari lagi, dua hari lagi.”
Kata-kata Mama Rosa itu terus saja terngiang di telinga Hazar. Mau dua hari, seminggu, sebulan, atau pun setahun jika ia tetap diam dan tidak bertindak, hubungannya dengan Alin akan tetap begini-begini terus, tidak akan ada kemajuan. Tapi, tindakan apa yang harus ia perbuat?
Hazar menghela napas panjang sambil memijat kepalanya yang kembali terasa pening. Sejak pagi ia hanya duduk bermenung di kantornya. Ia sedang tidak bertenaga untuk melakukan hal apa pun. Tepat jam empat sore Mama Rosa meneleponnya. Setelah hampir satu minggu baru hari ini mamanya mau bertemu dengannya.
“Mengapa harus di mol, Ma?” protes Hazar tidak setuju saat mamanya membuat janji bertemu di mol. “Biar aku ke apartemen mama saja.”
“Tidak boleh!” sergah Mama Rosa cepat. “Kalau tidak mau, ya... sudah.”
Dua puluh menit kemudian...
“Kamu datangnya sendirian?” Mama Rosa celingak-celinguk kan melirik orang-orang di balik punggung Hazar.
“Iya.” Jawab Hazar singkat. Mukanya tampak lempeng dan tak bersemangat. Mol adalah tempat yang sangat malas untuk ia kunjungi. Namun karna keterpaksaan ia pun berada di sini sekarang. Duduk di gerai makanan cepat saji yang hampir penuh. “Apa Mama menunggu seseorang?” tanya Hazar sebab mamanya masih terus saja menatap ke arah pintu.
Bukanya menjawab pertanyaan Hazar, Mama Rosa malah melambai-lambaikan tangannya. Dengan raut wajah semringah. “Mala! Sini Sayang."
“Tante.”
“Duduk, Sayang.” Mama Rosa menunjuk bangku kosong di samping Hazar.
Hazar berdecak malas, ternyata mamanya juga mengundang orang lain.
“Hai, Kak!”
Hazar hanya diam dengan muka lempengnya, tak berniat membalas sapaan Mala. “Aku tunggu Mama di parkiran saja.” Hazar hendak berdiri.
__ADS_1
“Duduk!”
Tanpa diperintahkan untuk yang kedua kalinya, Hazar kembali duduk.
“Ngga ada yang mau kamu bicarakan?” tanya Mama Rosa pada Hazar, setelah hampir lima menit ia mengobrol ria dengan Mala. Mengacuhkan Hazar yang terlihat marah.
“Besok saja, aku mau pulang.”
“Ya sudah, kamu ke bawah saja dulu. Nanti Mama nyusul.”
Hazar semakin terlihat jengah mendengar ucapan mamanya barusan. Tanpa berkata-kata lagi, ia pun langsung pergi ke luar.
Setelah punggung Hazar tak lagi terlihat, wajah Mama Rosa berubah semringah, menatap pada Mala.
“Sungguh, Sayang. Kamu mau membantu Tante?” Mama Rosa meraih tangan Mala.
“Iya, Tante.” Mala menjawab yakin. “Tante lihat, aku sudah bersiap.” Mala menunjuk pakaian dan riasan wajahnya. “Aku terlihat sudah dewasa, bukan?”
Mama Rosa meneliti, memperhatikan cara berpakaian dan riasan Mala. “Iya, perfek! Kamu cantik.” Puji Mama Rosa.
Rencana Mama Rosa kali ini adalah ingin membuat Alin cemburu. Tadinya ia ingin meminta bantuan Luna, tapi urung, sebab ia sudah merasa tidak enak karna sudah pernah mengecewakan Luna, keponakannya yang satu itu. Jadilah ia meminta bantuan pada Mala, keponakan centil dan cerewet yang pernah ia miliki.
“Kamu mau Tante beliin apa?”
Kening Mama Rosa berkerut, tidak biasanya Mala menolak hadiah darinya. “Benaran?” Mama Rosa masih tak percaya.
“Iya, Tante. Udah, ayo kita ke bawah, Kak Hazar pasti sedang marah sekarang, kelamaan menunggu kita.” Mala berdiri menarik tangan Mama Rosa untuk ikut berdiri.
“Sebentar, Tante telfon dulu sopirnya Alin. Biar kalian sampai rumahnya bersamaan.”
“Hmmm...” Mala mengaguk setuju.
“Tante, apa sebaiknya aku pura-pura pincang saja.” Mala menemukan sebuah ide.
Tanpa dijelaskan oleh Mala, Mama Rosa langsung faham apa yang sedang Mala rencanakan.
Benar saja, saat mereka sampai di parkiran, mereka disambut oleh wajah marah Hazar.
“Hati-hati, Sayang.” Mama Rosa memapah Mala untuk masuk ke dalam mobil Hazar.
Hazar langsung protes tak terima.
Seumur-umur belum ada satu pun wanita yang bisa duduk di sampingnya, kecuali mamanya dan Alin.
__ADS_1
“Biarkan Mala pulang bersamamu. Kasihan dia, tadi dia terjatuh di toilet.”
“Aku tidak punya waktu, Ma. Alin pasti sudah di rumah sekarang!” protes Hazar masih tak terima.
“Waktu untuk apa, lagian Mala juga pulang ke rumah kita. Dia tidak akan membuang-buang waktumu. ”
“Apa! Untuk apa dia ke rumah?”
“Mama minta bantuan dia untuk mengambil barang Mama.”
"Mama bisa minta bantuan Bibi Yona atau Karin."
"Sudah cepat, sana." Mama Rosa mendorong Hazar untuk masuk ke dalam mobil, kemudian meminta Pak Rozak untuk segera meninggalkan parkiran mol.
*
"Kakak, bantu aku," Mala mengulurkan tangannya meminta Hazar untuk membantunya keluar dari mobil.
Hazar berdecak malas, namun akan terlalu kejam jika ia mengabaikan adik sepupunya yang sedang pincang itu.
Sesampainya di depan pintu, Hazar langsung melepaskan tangan Mala. "Bibi, bantu dia." Hazar langsung berlalu naik ke lantai atas. mengabaikan seruan Mala.
*
Tok! Tok! Tok!
Bibi Yona muncul dari balik pintu bersama seorang pelayan lainnya, dengan membawa dua nampan berisi makanan.
Kening Hazar berkerut, perasaan dia tidak meminta dibawakan makanan.
"Nyonya Rosa yang memintanya, Tuan." terang Bibi Yona pada Hazar yang mengajukan protes.
Jika nama Mama Rosa sudah disebutkan Hazar pun tak bisa lagi berkutik. Ia terpaksa makan malam sendirian di kamar barunya.
*
Pagi harinya Hazar kembali dibuat bingung.
"Apa itu untuk Alin?" tanya Hazar pada pelayan, yang membawa sebuah nampan berisikan menu sarapan lengkap.
"Tidak, Tuan. Ini untuk Mbak Karin."
Kening Hazar berkerut, tidak biasanya Karin sarapan di sini.
__ADS_1
Belum lama si pelayan pergi, Alin pun muncul dengan muka pucatnya. Cepat-cepat Hazar kembali ke mode cuek.