Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 14


__ADS_3

Mata Hazar masih terpejam saat sinar matahari menembus jendela ruang kerjanya. Ya semalam setelah meninggalkan Alin di kamar mereka ia tidak kembali lagi, lebih memilih mengistirahatkan badannya di ruang kerjanya. Ia belum tidur samasekali.


Tok tok tok!!!


Terdengar seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya. Hazar tak bergeming dari duduknya, masih memejamkan matanya. Tak lama setelah itu terdengar seseorang membuka pintu ruang kerjanya di susul dengan derap langkah kaki yang mendekat.


“Selamat pagi Tuan” Sapa Karin.


“Jam barapa sekarang?” Tanya Hazar, matanya masih tertutup rapat.


“Jam delapan tuan”


Hazar membuka matanya, matanya merah, raut wajahnya tampak lelah. Dia berdiri dari duduknya, keluar dari ruang kerjanya, mengabaikan Karin yang berdiri di depan meja kerjanya.


“Selamat pagi Tuan” Ternyata Bibi Yona sudah menunggunya di pintu.


“Apa istriku sudah bangun?”


“Belum Tuan”


Hazar memejamkan matanya, menghela napas, kemudian berjalan menuju tangga. Hazar mendapati Alin masih meringkuk di atas kasur, lama Hazar mematung di tempatnya memandang punggung Alin yang membelakanginya. Hazar kembali menghela napas.


Saat Hazar telah keluar dari ruang ganti, ia sudah siap dengan pakaian kerjanya, istrinya masih seperti tadi bahkan tak merubah posisi tidurnya. Hazar mendekati tempat tidur, memandangi wajah pucat istrinya, jejak air mata yang mengering masih tampak oleh matanya.


Hazar turun ke bawah, seperti biasa Bibi Yona, Karin dan beberapa pelayan telah menantinya untuk sarapan.


“Beri tahu aku saat istriku bangun”


“Baik Tuan” Jawab Bibi Yona.


Hazar melangkah menuju pintu.


“Anda tidak sarapan dulu Tuan?” Tanya Bibi Yona, karna Tuan mudanya tak pernah melewati sarapan.


“Tidak”


Saat sampai di teras rumah Hazar mendapati Bobi sedang berbincang dengan tukang kebun. Hazar memanggilnya menyuruhnya mendekat.


“Ada yang bisa saya bantu Tuan?” Tanya Bobi saat dia telah berdiri di dekat Hazar.


“Kau pergilah ke rumah sakit, jemput Bibi pengasuh istriku”


“Bagai mana dengan Nona Tuan”


“Dia tidak akan kemana-mana hari ini”


“Tuan sepertinya ada seseorang yang menghubungi ponsel Nona” Bibi Yona muncul dari balik pintu, menyerahkan tas tangan Alin kepada Hazar. Sepertinya tas istrinya terlempar saat dia menarik tangan istrinya dengan kasar semalam.

__ADS_1


Hazar menerima uluran tas, merogoh isinya mencari ponsel istrinya yang sejak tadi terus berbunyi. Tertera nama Wira di layar ponsel, Hazar menggeser tombol hijau kemudian mendekatkan ponsel ke telinganya. Hazar tak langsung menyahuti sapaan Wira di seberang telepon, dia hanya diam saja.


“Halo! Kamu mendengarku? Aku tidak bisa ke rumah sakit hari ini untuk menjemput Bibi Fatma, kamu bisakan menjemputnya sendirian saja? Halo. Alin, kamu masih disana?”


“Ya” Jawab Hazar singkat, kemudian langsung memutuskan panggilan telepon Wira.


“Pergilah ke rumah sakit, jemput Bibi itu sekarang” Perintah Hazar pada Bobi.


“Tidak perlu!” Tiba-tiba Alin merampas tasnya dari tangan Hazar dengan sentakan kasar, lalu kembali masuk ke dalam rumah.


Semua orang yang melihat kejadian itu sontak terkejut. Keadaan Alin yang tampak kacau, dengan rambut yang berantakan, bajunya yang tak beraturan dan wajah yang sembab.


Hazar hendak mengejar Alin ke kamar, namun ia urungkan saat kembali mengingat wajah pucat yang berlinangan air mata itu.


“Kau hanya perlu mengikutinya seperti kemarin. Biarkan dia berbuat semaunya” Ujar Hazar pada Bobi.


“Baik Tuan”


“Siapkan mobil untuknya” Hazar melangkah masuk ke dalam mobil. Hazar kembali menghela napas, kepalanya terasa agak pening.


***


Alin keluar dari kamar masih dengan muka sembabnya, hanya saja rambut dan pakaiannya sudah terlihat rapi.


“Selamat pagi Nona” Sapa Bibi Yona, dia sudah menunggu Alin di depan tangga.


“Pagi Bibi, Aku tidak akan sarapan hari ini” Tolak Alin sebelum Bibi Yona menawarkan sarapan padanya. Alin langsung melangkah ke luar.


“Pagi, aku akan berangkat sendiri” Kembali Alin menolak sebelum di tawarkan.


“Mobil Anda suda saya siapkan Nona” Ujar Bobi.


Alin mengerutkan keningnya, heran “Mengapa mobil ini bisa sampai di sini?” Tanya Alin, perasaan kemarin mobil itu ia tinggalkan di parkiran rumah sakit.


“Tuan Hazar menyuruh sopir kantornya menjemput mobil ini Nona” Jawab Bobi.


Alin tak bertanya lagi, ia memilih untuk segara pergi ke rumah sakit untuk menjemput Bibi Fatma.


***


“Apa Bibi sudah lama menungguku?” Tanya Alin pada Bibi Fatma, ia terlambat sampai di rumah sakit karna jalanan yang macet.


“Tidak Nona” Jawab Bibi Fatma.


“Ayo kita ke kantin, aku sangat lapar!” Ajak Alin, sambil memegang perutnya yang keroncongan.


Bibi Fatma menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Alin yang tak pernah berubah, sering telat makan, namun kalau sudah makan akan sulit berhenti.

__ADS_1


Saat sampai di kantin Alin hanya memesan sedikit makanan. Bibi Fatma di buat heran olehnya.


“Apa Nona sakit?” Bibi Yona memperhatikan wajah Alin dengan saksama.


Alin menggelengkan kepalanya “Tidak Bibi, aku hanya sedang tidak nafsu saja” Jawab Alin.


“Apa Nona mau Bibi buatkan makanan?” Tanya Bibi.


“Aku mau, sangat mau. Tapi, tidak sekarang Bibi baru saja keluar dari rumah sakit” Jawab Alin.


“Tidak apa-apa Nona. Bibi bahkan sudah bisa ikut lomba maraton sekarang” Ujar Bibi.


“Banarkah!” Mata Alin berbinar, sebuah ide berlian muncul di kepalanya “Bagaimana kalau kita pulang ke apartemenku saja? Kita bisa menghabisi hari kita bersama di sana, tanpa gangguan dari orang lain” Seru Alin.


“Tidak Nona” Jawab Bibi Fatma cepat “Tuan Hazar akan marah bila Nona tidak pulang ke rumah” Terang Bibi Fatma.


“Kita akan pulang nanti malam. Jam delapan”


“Tidak Nona” Bibi Fatma masih menolak “Nona adalah orang pembohong yang pernah Bibi kenal” Bibi Fatma terkekeh.


Alin memanyunkan bibirnya. Kalau di ingat-ingat dia memanglah orang yang sering mengingkari perkataannya sendiri.


“Tapi, kepala Koki di rumah itu, sepertinya tidak menyukaiku Bibi” Ujar Alin.


“Apa Nona merasa terganggu olehnya?”


“Tidak”


“Apa Nona membencinya?”


“Tidak juga, dengan membenci Papa dan Kakek saja aku merasa kekurangan, apalagi rasa benciku harus aku bagi lagi pada Angel, nanti bagian Papa dan Kakek akan berkurang Bibi, aku tidak mau itu terjadi” Terang Alin panjang lebar.


Bibi Fatma kembali terkekeh mendengar kata-kata Alin barusan “Apa rasa benci Nona seperti kue ulang tahun?” Tanya Bibi Fatma.


“Ya!. Kurang lebih seperti itu” Alin menyeringai.


“Kalau begitu seberapa besar bagian untuk Tuan Hazar” Tanya Bibi lagi.


Alin tidak langsung menjawab, kejadian tadi malam kembali terbayang olehnya. Kata-kata Hazar masih terekam jelas di otaknya.


“Aku sedang memikirkan bagian untuknya” Wajah Alin terlihat murung “Aku rasa, aku harus kembali membeli kue Bibi. Karna tamu yang datang sepertinya akan bertambah”


Obrolan mereka terhenti, sebab pesanan mereka telah datang. Alin menatap kosong makanan di depannya, ia hanya mengaduk-aduk makanan tanpa memakannya.


“Baiklah, kita akan pulang ke apartemen Nona” Ujar Bibi Fatma tiba-tiba.


Alin langsung tersenyum senang, cepat-cepat menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Tapi Nona Harus minta izin Tuan Hazar dulu!" Ujar Bibi Fatma.


"Ck! Itu tidak perlu Bibi"


__ADS_2