Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 35


__ADS_3

Alin mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Memandangi jalanan yang mulai ramai. Karna sekarang sudah waktunya para pekerja kembali ke kediamannya. Lampu-lampu jalanan sudah menyala menerangi jalan kota yang semakin bertambah padat.


Saat mobil yang dikendarai Hazar telah keluar dari keramaian, menyisakan jalanan yang sepi, di apit oleh luasnya Pesawahan yang hanya diterangi oleh remangnya lampu jalanan, di tambah kesunyian yang tercipta di dalam mobil, membuat Alin tak kuasa menahan kantuknya. Perlahan namun pasti matanya pun mulai terpejam.


Hazar memarkirkan mobilnya di halaman Villa keluarganya. Mang Iman yang tadi membukakan pintu pagar pun menyusul mendekati mobil Hazar.


“Selamat Malam Tuan.” Sapanya saat melihat Hazar telah keluar dari mobil.


“Selamat malam Mang.”


“Apa ada barang yang bisa saya bantu bawakan ke dalam Tuan?”


“Tidak ada Mang. Tapi apa disini ada laptop?”


“Ada Tuan, laptopnya Tuan Adi. ada di kamar beliau Tuan, biar saya antarkan ke kamar Tuan.”


“Tidak usah biar saya saja yang ambil.” Ujar Hazar. Kemudian membukakan pintu di samping Alin. Alin hanya sedikit menggeliat dan bergumam saat Hazar mengendongnya keluar dari mobil.


“Oh Nonanya ikut juga! Saya kira Tuan sendirian tadi.” Mang Iman berjalan dengan langkah lebar menghampiri pintu Villa. Mendahului langkah Hazar, untuk membuka pintu lebar-lebar agar Hazar yang menggendong istrinya itu bisa lewat dengan leluasa.


Setelah menidurkan dan menyelimuti tubuh Alin Hazar kembali keluar dari kamar, menghampiri Mang Iman dan Bik Ratih. Pasangan paruh baya yang ditugaskan oleh Mamanya untuk menjaga Villa keluarganya ini.


“Makan malamnya sudah saya siapkan Tuan.” Ujar Bik Ratih.


“Saya makanya nanti saja Bik. Bibik dan Mamang istirahat saja.”


“Baik Tuan.”


Hazar masuk ke dalam kamar Mama dan Papanya untuk mencari laptop. Karna kepergian mendadak yang tanpa ia rencanakan. Ia sampai lupa membawa laptop dan tab, barang-barang yang seharusnya selalu ada dimana pun dia berada.


Setelah menemukan barang yang ia cari Hazar pun kembali ke kamarnya. Dilihatnya Alin masih tertidur lelap. Hazar menghampiri jendela membukanya lebar-lebar, membiarkan aroma alami khas pedesaan masuk ke dalam kamarnya itu. Karna udara luar yang cukup dingin dan berangin, Hazar membiarkan tirai jendela tetap terbentang agar tidak terlalu dingin udara yang masuk ke kamarnya. Hazar membenahi selimut Alin agar istrinya itu tidak terlalu kedinginan, kemudian ia berlalu masuk ke kamar mandi.


Selesai mandi dan membersihkan dirinya, Hazar kembali keluar menuju dapur, untuk membuat segelas kopi. Sepertinya dia harus bergadang malam ini, membereskan segala urusan pekerjaannya dan mengambil cuti untuk beberapa hari ke depan. Hazar kembali ke kamar dengan membawa secangkir kopi dan sepiring nasi dengan beberapa lauk di atasnya.


Tepat pukul dua belas malam Hazar menghubungi Pak Naf dan Karin. Mengabarkan untuk mengosongkan jadwalnya untuk beberapa hari kedepan, dan hanya menghubunginya kalau ada sesuatu yang mendesak saja.


*

__ADS_1


Alin mengerjapkan matanya, sekarang dia tengah berbaring berbantalkah lengan Hazar. Alin memandangi sekeliling, terasa sangat asing. Ia turun dari ranjang dengan gerakan halus takut jika pergerakannya akan membangunkan tidur Hazar. Alin menyingkap kain tirai. Langit masih terlihat gelap saat ia menengok dari jendela yang masih terbuka. Karna hawa pagi yang sangat dingin, Alin pun menutup jendela kaca dengan rapat, dan menyingkap lebar-lebar tirai jendela.


“Selamat pagi Bibi!” sapa Alin, saat mendapati seorang wanita paruh baya di dapur.


“Selamat pagi Nona!” Bibik Ratih langsung menghentikan pekerjaannya. Berjalan menghampiri Alin. “Ada yang bisa saya bantu Nona?”


“Tidak Bibi, aku hanya sedang berkeliling saja. Apa Bibi sendirian di sini?”


“Tidak Nona. Saya tinggal disini dengan suami saya, Mang Iman. Dia sekarang sedang di belakang.”


“Hmmm... Bibi sudah tahu denganku? Aku Alin istrinya Kak Hazar.” Alin mengulurkan tangannya pada Bik Ratih.


Bik Ratih tampak gelagapan, merasa tidak pantas untuk menyambut tangan istri dari Tuannya itu.


“Apa Bibi akan membiarkan tanganku terulur terus seperti ini?”


“Ma-maaf Nona!” Bik Ratih langsung menjabat tangan Alin. “Saya Ratih.” Ujarnya.


“Apa yang sedang Bibi masak?” Alin duduk di meja makan. Disana ruang makan dan dapur menyatu tanpa ada sekat. Jadi, Alin masih bisa melihat kesibukan Bik Ratih dari meja makan.


“Apa masih lama? Aku sudah lapar Bibi.”


“Sebentar Nona, ini hampir siap.” Jawab Bik Ratih cepat.


“Apa Bibi sibuk setelah ini?” tanya Alin saat Bik Ratih telah selesai menghidangkan nasi goreng ke atas meja.


“Tidak Nona. Ada yang bisa saya bantu?”


“Ada Bibi. Temani aku jalan-jalan!” seru Alin.


“Baiklah Nona.”


“Kalau begitu, Bibi juga harus sarapan sekarang. Duduklah! Ayo kita sarapan bersama!”


Alin menarik tangan Bik Ratih memaksanya untuk ikut duduk.


“Saya sarapan di belakang saja Nona.” Tolaknya.

__ADS_1


“Disini dan di belakang sama saja.” Alin tetap memaksa.


*


Alin sangat bersemangat untuk berkeliling desa bersama Bik Ratih. Selesai sarap ia langsung menghambur masuk kamar.


Alin sedang membolak balikan isi lemari pakaian Hazar. Ia mencari baju Hazar yang sekiranya bisa ia gunakan. Pilihannya jatuh pada baju kaos hitam berlengan panjang dan celana pendek berwarna putih. Alin sedang mematut dirinya di depan cermin. Baju kaos Hazar terlihat seperti jaket ditubuhnya.


Alin duduk di sisi ranjang. Membangunkan Hazar dengan menggoyang-goyangkan bahunya.


“Kakak! Bangunlah. Aku butuh uang cash, apa Kakak memilikinya?”


Alin baru saja mendapat informasi dari Bik Ratih, bahwa di desa ini hanya bisa berbelanja dengan uang tunai. Hanya ada satu ATM di daerah itu, itu pun cukup jauh dari desa, menempuh perjalanan sekitar setengah jam untuk sampai di ATM itu.


“Hemm... carilah di dompet.” Gumam Hazar, dengan mata yang masih tertutup rapat.


“Dimana dompet Kakak?” kini Alin telah menepuk-nepuk pipi Hazar.


Hazar menghela napas, dan membuka matanya. “Apa kau tidak bisa mencarinya?”


“Akan lebih cepat jika Kakak memberitahuku di mana letaknya.” Alin menyengir mendapati tatapan sebal dari Hazar.


Hazar kembali tertidur setelah menunjukkan dimana dia meletakan dompetnya pada Alin. Namun tidurnya kembali terusik. Karna, Alin kembali duduk di sisi ranjang dan menepuk pipinya kembali.


“Mengapa uangnya sangat sedikit? Ini tidak akan cukup untuk membeli baju Kakak!” seru Alin.


“Nanti akanku tambahkan.” Hazar masih malas membuka matanya.


“Aku maunya sekarang!”


Hazar langsung membuka matanya menatap geram pada istrinya itu.


“Aku rasa ini akan cukup. Aku akan berhemat.” Alin cengengesan sendiri. “Kakak tidurlah lagi.”


Cup! Alin menghadiahkan sebuah kecupan di bibir Hazar, berharap tindakannya itu dapat meredakan kegeraman suaminya itu. Karna ia masih mendapati raut kekesalan di wajah Hazar.


“Aku pergi!” Alin langsung turun dari ranjang dan keluar dari kamar, masih diiringi oleh plototan mata Hazar.

__ADS_1


__ADS_2