Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 50


__ADS_3

Memiliki seorang anak tentu itu juga sangat diharapkan oleh Hazar. Tapi, ia tidak mau mendesak Alin. Ia hanya menginginkan hubungan rumah tangganya dan Alin mengalir dengan perlahan dan tenang. Tidak harus ada tuntutan dalam hubungan mereka.


Hazar merasa sangat tidak suka saat Kakek Tomi menuntut padanya dan Alin secara terang-terangan untuk segera memiliki anak. Mama Rosa juga sering menuntutnya. Tapi, hanya padanya seorang, Alin tidak pernah diikut sertakan oleh Mama Rosa.


Hazar tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya bisa menatap wajah Alin selama Kakek Tomi terus berbicara tentang mereka. Ekspresi dingin yang ditampilkan wajah Alin sekarang, membuat perasaan Hazar semakin tidak enak.


Hazar berkali-kali menghela napas, tidak tahu harus berbuat apa. Tidak mungkin dia meminta Kakek Tomi untuk segera menyudahi topik pembicaraannya. Itu pasti sangat tidak sopan.


Hazar membatin, mengapa dia harus setakut ini? Tidak ada salahnya bila seorang Kakek mengharapkan kehadiran seorang cicit dari cucunya yang sudah menikah. Tapi, mengapa ini sangat mengganggunya. Toh, tidak ada salahnya kan?


“Maaf, Tuan, Nyonya.” Bibi Yona datang dengan dua buah amplop cokelat di tangannya. “Ini... ada paket untuk Nyonya Rosa dan Tuan Hazar.”


“Dari siapa, Bi?” tanya Mama Rosa.


“Tidak ada nama pengirimnya, Nyonya.”


“Baiklah, Terimakasih, Bibi.”


Semua mata tertuju pada amplop yang dipegangi oleh Mama Rosa. Hazar pun menerima uluran amplop untuknya.


“Apa harus dibuka sekarang?” tanya Mama Rosa.


“Bukalah, siapa tahu penting.” Ujar Papa Adi sambil menggeser tempat duduknya mendekat pada Mama Rosa.


Hazar pun juga membuka amplop miliknya. Hazar mengerutkan kening. Di bagian teratas surat yang dipegangnya sekarang tertera nama lengkap Alin di sana. Hazar terus menelusuri isi dari surat yang dipegangnya.


Hazar memejamkan matanya. Kedua tangannya meremas dengan kasar surat yang ia pegang. Air mukanya langsung berubah, dengan rahang yang terlihat mengeras. Dia samasekali belum memahami isi dari surat yang dibacanya. Tapi, perasaannya mengatakan kalau ini bukanlah pertanda baik.


Hazar merebut surat yang dipegang oleh Mamanya.


“Hazar...” Mama Rosa dan Papa Adi dibuat terkejut olehnya.


“Bibi, bawa Alin ke kamar.” Perintah Hazar tiba-tiba.


Semua orang menatap bingung pada Hazar. Tapi, tidak ada yang bersuara. Alin pun hanya diam dan menuruti perintah Hazar. Tanpa pamit pada yang lainnya, Ia langsung bangkit dari duduknya dan melangkah menjauh, diikuti oleh Bibi Yona.


Hati Hazar terasa hampa saat memandangi punggung Alin yang makin menjauh. Dadanya terasa semakin sesak bagai diimpit oleh bongkahan batu besar. Batinnya terus berharap, bahwa sangkaannya saat ini tidaklah benar. Dan kalau pun prasangkanya benar, tidak bisakah ini hanya menjadi mimpi buruk untuknya.


Hazar menatap Papa Haris, Hatinya semakin nelangsa saat menatap wajah mertuanya itu. Dari raut wajah Papa Haris, Hazar seperti mendapatkan pembenaran dari prasangkanya.


Hazar kembali terduduk dengan lunglai, kepalanya tertunduk dalam sebelah tangannya yang bertopang pada lutut memijat keningnya yang terasa nyeri.


Kakek Setyo yang duduk tidak jauh dari Hazar, pun meraih surat dari genggaman Hazar. Mata Kakek Setyo langsung terbelalak saat mengetahui bahwa yang dipegangnya sekarang adalah rekam medik Alin.

__ADS_1


Semua orang di ruangan itu pun menjadi semakin bingung. Apa sebenarnya yang terjadi. Mengapa suasananya menjadi mencekam seperti ini.


“Hazar... ada apa ini?” Mama Rosa sudah tidak tahan dengan keheningan yang mencekam itu. “Hazar!” desaknya.


Papa Haris pun terpaksa bersuara. Karna, Hazar sepertinya samasekali tidak berniat untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Papa Haris terdengar menghela napas, sebelum membuka suara.


“Ini adalah rekam medik dari pemeriksaan kesehatan Alin.” Semua orang tampak tidak sabar mendengarkan penjelasan Haris. “Dari pemeriksaan terakhir. Dokter telah mendiagnosis bahwa Alin tidak akan bisa memiliki keturunan.”


Semua mata tampak terbelalak, menatap tak percaya dengan apa yang barus saja mereka dengarkan.


Kepala Hazar makin tertunduk dalam. Detik itu juga air matanya lolos begitu saja membasahi pipinya. Rasa hancur, sedih, takut dan ketidak berdayaan melebur menjadi satu.


Apa ia kecewa pada Alin?


Samasekali tidak!


Menua bersama Alin meski tanpa kehadiran seorang anak samasekali bukan masalah baginya. Tapi, mengapa harus sekarang, setelah Kakek Tomi mengatakan sangat menginginkan kehadiran seorang anak dari pernikahan mereka berdua. Dan ia baru tahu tentang kemandulan istrinya sesaat setelah itu.


“Apa Alin sudah tahu tentang ini?” lirih Hazar. Ia mengangkat wajahnya sambil mengusap bekas air matanya. Mata merahnya menatap sayu pada Papa Haris. Hazar sangat berharap Papa Haris mengatakan “Belum.” Tapi, lagi-lagi ia harus kembali jatuh dan hancur, saat Papa Haris menganggukkan kepala.


Bukan hanya Hazar yang menangis. Mama Rosa bahkan sudah terisak dalam dekapan Papa Adi.


Kecewa dan marah. Hanya Kakek Setyo yang merasakan itu.


Bahagia, adalah rasa yang sedang memenuhi hati Amel sekarang. Bagaimana tidak, semua kejadian hari ini lebih indah dari rencana yang sudah ia susun bersama Angel.


***


Dengan pelan dan sangat hati-hati Hazar merebahkan badannya di samping Alin. Lampu kamar sudah mati saat dia masuk tadi. Hanya ada cahaya temaram yang menerangi penglihatannya. Biasanya dia akan sangat senang memandangi pemandangan ini. Pulang dari kantor dalam keadaan capek dan lelah. Semua terobati saat ia disambut oleh pemandangan temaram yang menerangi kamarnya dengan Alin yang berbaring tenang di atas kasurnya.


Semua masih indah dipandang mata. Hanya perasaannya yang membuat semua terasa berbeda. Hatinya tengah dipenuhi oleh rasa takut. Tidak ada lagi perasaan lega saat ini.


Takut?


Ya!


Karna tiba-tiba saja ia bisa menjadi paranormal sekarang. Ia seperti sudah bisa melihat hujung dari hubungannya dengan Alin.


Berakhir?


Tidak!

__ADS_1


Hazar memandangi wajah Alin lekat-lekat. Apa pun yang terjadi, wanita ini akan selama-lamanya menjadi miliknya. Ya, Hubungannya dengan Alin tidak akan pernah berakhir. Alin tidak akan pernah bisa lepas dari genggamannya. Kapan pun, itu! Batin Hazar.


Sementara itu...


Hanya berjarak beberapa meter dari tempat Hazar dan Alin berbaring.


Sebuah tangisan yang tak berkesudahan masih saja terdengar.


Sambil memandangi pintu kamar Nonanya, Bibi Fatma terisak sejadi-jadinya. Bibi Fatma menggigit bibir bawahnya sambil membekap mulutnya sendiri. Takut kalau tangisannya akan terdengar oleh orang lain.


Jadi, inilah jawaban dari kekawatirannya selama beberapa minggu ini. Bibi Fatma memukul-mukul dadanya, ia merasa sangat sesak. Udara di sekelilingnya terasa berubah pekat. Ia berseru dalam hatinya. Meminta kebahagiaan untuk Nona Mudanya.


*


“Bagaimana bisa rekam medik Alin sampai pada keluar Hazar!?” Bentak Kakek saat sudah sampai di rumahnya.


Papa Haris hanya diam, dengan santainya duduk di sofa sambil melepaskan kancing kemeja teratasnya.


“Apa ini perbuatanmu?” geram Kakek.


“Bukan.” jawab Papa Haris singkat.


Melihat sikap acuh Papa Haris membuat Kakek Setyo semakin geram dan marah.


“Kau akan menyesal telah berbuat seperti ini. Apa kau masih tidak suka pada Hazar? Setelah dia buatkan rumah singgah untuk mending istrimu, dan dia bahkan telah membuat anak kesayanganmu itu menjadi pemilik saham terbesar dari perusahaan yang dia rintis sendiri. Dimana lagi kekurangan Hazar dimatamu!?” seru Kakek Setyo. Ia masih saja curiga bahwa Papa Harislah yang telah membocorkan rekam medik Alin.


Papa Haris menatap tajam pada Kakek. “Hazar memang sempurna, dan dia ternyata memanglah sosok seorang menantu yang bisa aku banggakan.”


“Tapi, semua ini sudah terjadi, dan ini di luar kendaliku. Dan bagiku semua masih sama seperti yang dulu aku katakan kepada Papa. Yang aku inginkan hannyalah kebahagiaan putriku.” Lanjut Papa Haris.


Kakek Setyo menyeringai mendengar pernyataan Papa Haris barusan. “Kebahagiaan kau bilang! Apa menurutmu Alin akan bahagia setelah ini? Dia pasti akan dicampakkan oleh Hazar, dan putrimu yang mandul itu akan hidup seorang diri sampai hari kematiannya!” seru Kakek berapi-api.


“Tidak akanku biarkan itu terjadi pada Alin.” Ujar Papa Haris sambil berlalu ke luar rumah meninggalkan Kakek Setyo.


*


Amel sudah tidak sabar untuk memberitahu David tentang kabar gembira itu. Sesampainya di rumah ia langsung berhambur masuk ke dalam kamarnya, tak lupa pula ia mengunci pintu. Ia harus ekstra hati-hati sekarang agar euforianya tak ada yang mengganggu. Ia bahkan melewati perdebatan Kakek Setyo dan Papa Haris begitu saja.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2