
“Halo, Wira!?”
Hazar langsung mengalihkan kepalanya saat mendengar Alin menyebutkan nama Wira. Ia menatap tajam pada Alin.
“Oh, Mama! Iya, ada apa, Ma?” Alin kembali bersuara. Suaranya lebih terdengar senang dari pada tadi.
“Iya, aku ke sana sekarang!” Alin langsung memutuskan panggilan telepon.
“Kakak, aku ke bawah dulu, ada Mama Wira di bawah.”
“Siapa yang mengizinkanmu pergi?”
“Kakak yang akan mengizinkanku,” Bibir Alin terkembang sempurna. Matanya mengerjap manja, tangannya merayap dengan pelan di atas paha Hazar. “Penyembuhan luka Kakak ini akan memakan waktu cukup lama.” Tangan Alin berpindah memainkan kancing baju Hazar. “Aku akan mengambil Alih pekerjaan malam, Kakak. Biar aku yang pegang kendali sampai Kakak sembuh.” Mata Alin kembali mengerjap manja.
“Buahahaha...” Hazar tergelak, tidak tahan melihat tingkah istrinya.
Alin mengernyit sebal, karna Hazar malah menertawakannya. Alin menggeser duduknya menjauh dari Hazar, sepertinya ia kembali gagal. “Ya sudah kalau tidak mau!” rutuk Alin.
“Pergilah!” jawab Hazar cepat. Senyuman menyebalkan masih tersisa di wajahnya.
***
“Mama...!” seru Alin dari atas tangga. Ia berlari menuruni anak tangga kemudian menghambur memeluk Mama Wira.
“Nak Alin,”
“Hmmm... Sudah lama sekali.” Gumam Alin dalam pelukan Mama Wira.
Mama Wira mengusap-usap punggung Alin. “Iya, sudah lama sekali. Nak Alin, sehat?”
“Hmmm.” Alin mengangguk-anggukan kepalanya.
“Apa kita bisa makan sekarang?” ujar Wira, keberadaannya di sana malah diabaikan oleh Alin dan mamanya. “Aku masih ada pekerjaan.” Sambunya lagi.
“Waw... Ada dua!” seru Alin saat melihat ada dua bekal di tangan Wira. “Apa yang satunya untukku, Ma?”
“Iya, Nak Alin, sudah makan?”
“Belum.” Jawab Alin cepat. “Ayo, kita kemon...” Alin menggandeng tangan Mama Wira. Meninggalkan Wira di belakang begitu saja.
Wira menghela napas, tanpa berkomentar ia mengekori kedua wanita di depannya, sambil membawa kedua bekal miliknya dan Alin.
“Nak Alin, tidak makan?” tanya Mama Wira bingung, sebab Alin malah menyimpan bekal miliknya.
“Aku makan punya Wira saja, Ma. Yang ini untuk bekal aku nanti.” Alin tersenyum simpul sambil bertopang dagu. Matanya fokus pada bekal milik Wira.
“Siapa yang mengizinkanmu makan bekal milikku?” Wira menatap Alin dengan heran.
“Katanya, lo masih punya banyak urusan. Agar makanan lo cepat habis, biar gue bantu.” Alin sudah bersiap dengan sendok di tangannya.
“Kamu tidak perlu membantuku.” Wira menjauhkan kotak-kotak bekal miliknya dari Alin. “Makan punyamu sendiri.” Lanjutnya.
PLAK! Alin memukul pundak Wira. “Pelit amat, lu.”
Wira hendak protes, namun urung karna ponsel di sakunya tiba-tiba berdering. Ia lebih memilih menjauh dan mengangkat panggilan telepon.
Mama Wira hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kedua anak manusia di sepannya. Sudah seperti tikus dan kucing, Alin dan Wira memang tidak pernah terlihat akur di depan matanya.
“Di rumah masih banyak, nanti Mama bawain lagi untuk, Nak Alin.”
“Mama, tidak perlu repot-repot. Lihatlah nanti, Wira tidak akan sempat memakan ini semua.” Alin sudah mulai menyantap bekal milik Wira.
Benar saja, usai menerima telepon Wira langsung pamit hendak pergi. “Ma, aku harus pergi sekarang. Mama, bisa pulang sendirikan?” Wira terlihat sedikit tergesa-gesa.
__ADS_1
“A...” Alin langsung menyumbat sesuap makanan ke dalam mulut Wira. “Makan dulu sedikit. Tidak baik meninggalkan makanan yang sudah terhidang.” ujar Alin tanpa rasa berdosa.
Mata Mama dan Wira sontak terbelalak melihat apa yang baru saja Alin lakukan.
“Tidak usah cemas. Ini sendok milik lo, bukan milik gue.” Alin menyengir, ia kira Wira terkejut karna mengira dia menyendokkan makanan dengan sendok miliknya. Karna yang ia tahu Wira adalah orang yang cukup sensitif dengan kebersihan.
Tapi bukan itu yang membuat Wira tercengang sekarang.
“Minum juga.” Alin menyodorkan botol air mineral pada Wira.
*
Usai menghabiskan bekal milik Wira, Alin dan Mama Wira pun beranjak dari meja. Mereka berjalan di lorong rumah sakit, hendak pergi ke ruang kerja Alin.
Alin membawa kotak bekal miliknya dan juga jas putih Wira yang tadi tertinggal, karna tadi Wira pergi tergesa-gesa. Alin menolak memberikan barang bawaannya, saat Mama Wira menawarkan diri untuk membantu.
“Apa suami Nak Alin, baik-baik saja? Mama dengar dia sedang dirawat di sini sekarang.” Tanya Mama Wira.
Alin menghentikan langkahnya. Ia tegak lurus menghadap Mama Wira. “Mengapa cara bicara, Mama, terasa kaku begini?” Alin menatap Mama Wira penuh sidik.
“Eh,” Mama Wira terlihat makin gugup mendapat tatapan Alin. Sebenarnya dia memang sedikit kikuk berdekatan dengan Alin sejak terakhir kali mereka bertemu di restoran dulu. Wibawa Hazar telah membuatnya merasa takut untuk bersikap santai pada Alin. Mama Wira menyentuh pipinya sendiri untuk menghilangkan kegugupannya. “Apa ada yang aneh dengan wajah Mama?”
Alin menggelengkan kepalanya. “Sudahlah tidak usah, Mama, pikirkan. Ayo, kita ke ruanganku. Nanti aku ceritakan mengapa suamiku bisa dirawat di sini.”
Langkah Alin dan Mama Wira tiba-tiba terhenti, karna ada sorang gadis menghalangi jalan mereka.
“Apa kamu yang bernama Alin?” Si gadis melipat kedua tangannya yang tadi terbentang untuk menghalangi jalan Alin dan Mama Wira. Ia menyibakkan rambutnya dengan sombongnya kemudian menatap tajam pada Alin.
Alin dan Mama Wira saling pandang, kemudian kembali beralih menatap si gadis. “Ya, aku Alin, ada apa?”
“Heh,” Si gadis makin menatap sinis pada Alin. “Aku Mala!” ujarnya kemudian.
“Mala?” Kening Alin berkerut, perasaan ia tidak tahu dengan nama itu.
“Siapa lagi itu Luna!”
Mala berdecak malas, menatap sebal pada Alin. “Luna calon istri keduanya Kak Hazar!” Nada suara Mala makin ketus.
Mata Mama Wira terbelalak saat mendengar ucapan Mala, “Istri kedua Tuan Hazar!” gumamnya.
“O...” Alin ber oh panjang, kepalanya mengangguk-angguk.
“O!” Mala makin terlihat kesal melihat ekspresi Alin.
Begitu pun Mama Wira, dia makin terlihat terkejut dengan jawaban Alin.
“Ingin menjenguk Kak Hazar? Dia ada di lantai atas. Kau datang sendirian?” tanya Alin dengan tersenyum ramah, sambil celingak-celinguk melihat sekeliling.
“Mana berani aku bertemu dengan Kak Hazar!” gumaman Mala tapi masih bisa didengar oleh Alin. Mala kembali menatap tajam pada Alin. “Bukan urusanmu, terserah aku mau ngapain ke sini!”
Alin mengangkat bahunya, “Ya, terserah kau saja. Itu memang bukan urusanku. Aku permisi, ayo, Ma!” Alin menggandeng tangan Mama Wira pergi dari sana.
“Dasar wanita jalang!”
Langkah Alin langsung terhenti. Ia menghela napas sebelum kemudian meminta Mama Wira untuk pergi terlebih dahulu. “Mama, pergilah ke ruanganku terlebih dahulu, aku akan menyusul, Mama, nanti.” Ujar Alin pada Mama Wira.
Mama Wira terlihat ragu untuk meninggalkan Alin.
“Tidak apa-apa, Ma, Hanya sebentar. Aku akan meminta Bobi bersiap untuk mengantar Mama pulang, tunggulah di ruanganku.”
Akhirnya Mama Wira bersedia pergi dari sana, dengan membawa kotak bekal milik Alin.
Setelah punggung Mama Wira tak terlihat lagi, Alin kemudian berbalik dan menyejajarkan badannya dengan Mala. “Sepertinya ada yang ingin kau bicarakan padaku,” Alin melipat tangannya kemudian menyandarkan punggungnya pada dinding. “Bicaralah, akan aku dengarkan.”
__ADS_1
Sudah cukup lama rasanya Alin tidak bertengkar dan berdebat dengan wanita lain. Biasanya ada Amel dan David yang menghiasi hari-harinya, bagai ditelan bumi, kedua manusia itu sudah tak pernah lagi dijumpainya. Dan sekarang saat ia butuh penghibur malah gadis kecil ini yang datang. Dari gelagat dan mata Mala, Alin sudah bisa melihat genderang perang di sana. Ini akan sedikit menghibur hari-harinya yang telah suram tanpa Amel dan David.
“Kau berani berselingkuh dari Kak Hazar?”
Alin mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan ucapan Mala barusan. Kemana arah tujuan pembicaraan mereka sekarang.
“Jauhi Dokter Wira, kalau tidak akan aku kadukan kau pada Kak Hazar!” ancam Mala berapi-api.
“Tadi Kak Hazar dan sekarang Wira!” batin Alin. Ia masih berusaha membaca situasi. “Dokter Wira! Maksudmu dia?” Alin menunjuk name tag (tanda pengenal) Wira yang tertinggal di saku jas.
Mala merampas name tag Wira dari tangan Alin. “Mengapa ini bisa ada padamu?” Mata Mala menatap Alin dan jas Wira yang berada di pangkuan Alin dengan bergantian.
Alin tersenyum simpul. Ia sepertinya sudah faham dengan situasi saat ini.
“Kami baru saja selesai makan siang, dan Wira menitipkan jasnya padaku. Apa ada masalah?” tanya Alin.
“Kau makan siang dengan laki-laki lain, sementara suamimu sendiri kau tinggalkan di ruangannya!”
“Akan kacau jika aku mengajak Kak Hazar dan Wira makan siang bersama.” Alin berlagak memasang wajah serius. “Pertemuan mereka selalu dihiasi dengan perkelahian, dan aku sedang tidak ingin melihat wajah babak belur suamiku, dan lagi dia sedang sakit sekarang. Sudah bisa dipastikan Wira yang akan memenangkan perkelahian, jika mereka aku pertemukan sekarang.”
Mendengar jawaban Alin barusan, kuping Mala langsung terasa panas. “Kau benar-benar gila! Akan aku kadukan kau pada Kak Hazar!” seru Mala marah.
“Kau berani!?” Alin tersenyum mengejek. “Menjenguknya saja, kau, tidak punya keberanian.”
Wajah Mala langsung memerah, “Kau benar berselingkuh dari Kak Hazar?” tanyanya, Mala sudah kehabisan akal untuk berhadapan dengan Alin, karna kelemahannya sudah diketahui oleh Alin.
“Ya!” Alin tersenyum senang melihat wajah kesal gadis remaja di depannya. Sudah menjadi hobinya membuat orang lain jengkel.
“Kak Hazar sudah memiliki semuanya, apa lagi kau harapkan dari laki-laki lain!” seru Mala kesal. “Kak Hazar bahkan tak pernah membiarkan wanita lain menyentuhnya. Sedangkan kau!” Mala menunjuk wajah Alin dengan mata berapi-api.
Alin sempat tertegun mendengar ucapan Mala, suaminya memang tidak suka berdekatan dengan wanita lain. Ia bahkan sudah mendengar pengakuan Hazar, bahwa dia adalah wanita pertama dalam hidup suaminya itu. Alin menggelengkan kepalanya, ini bukan saatnya dia untuk terlihat lemah.
“Aku hanya menyukai semua pria tampan.” Bisik Alin di telinga Mala. Tujuannya berbisik adalah untuk menyembunyikan perubahan air mukanya.
Mala mundur dua langkah, untuk menjauh dari Alin. Matanya masih menatap tajam pada Alin. “Ada banyak pria tampan di luar sana. Mengapa harus Dokter Wira yang kau jadikan selingkuhanmu!”
Alin tergelak, bocah yang dihadapinya sekarang ternyata masih terlalu polos. Beruntung Mala tidak melihat perubahan pada raut mukanya. Alin menatap Mala sambil geleng-geleng kepala. Isi hati dan pikiran Mala terlalu mudah untuk dibacanya. Bocah ini ternyata hanya menghawatirkan Wira, si laki-laki yang sedang disukainya. Bukan menghawatirkan Hazar, si Kakak sepupu yang sedang diselingkuhi. Alin memang tertawa, tapi perasaannya tidak setenang tadi. Ia tiba-tiba saja merindukan suaminya.
“Alin!”
Wira tiba-tiba saja sudah ada di sana, raut wajahnya tampak sedang menghawatirkan sesuatu. Wira menangkup kedua pundak Alin, membuat Alin sempurna menghadapnya. “Kamu tidak kenapa-napa?”
Alin mengerjapkan matanya, ia sangat bingung sekarang. Alin makin terkesiap karna detik berikutnya Wira langsung menubruk tubuhnya, Wira memeluknya dengan sangat erat.
Bukan hanya Alin, mata Mala pun ikut terbelalak menyaksikan adegan itu.
“Kamu baik-baik saja? Mengapa tidak bilang kalau kamu hampir saja celaka kemarin!” Wira kembali memegang pundak Alin, menuntut jawaban dari pertanyaannya barusan.
“Seperti yang lo liat, gue baik-baik saja. Hanya Mbak Tami dan Kak Hazar yang terluka.” Jawab Alin masih dengan ekspresi kebingungan.
Wira kembali menarik tubuh Alin ke dalam dekapannya. Ia terdengar bernapas lega. “Syukurlah, kamu tidak kenapa-kenapa.” Gumamnya sambil mengencangkan dekapannya pada tubuh Alin.
Tangan Alin terangkat dengan sendirinya, mengusap-usap punggung Wira. Dan saat itu ia baru teringat bukan hanya mereka berdua saja di sana. Mala masih melongo memandanginya dan Wira yang sedang berpelukan. Bibir Alin terkembang, ia baru saja mengingat sesuatu. Masih berada dalam dekapan Wira, Alin mengedipkan sebelah matanya, dan satu tangannya yang berada di balik punggung Wira mengacungkan jempol pada Mala.
Melihat itu, dengan wajah tanpa ekspresi Mala langsung berlari dan pergi dari sana.
Seiring kepergian Mala, senyuman di wajah Alin pun menyurut. Ia pun melepaskan diri dari dekapan Wira.
*
*
*
__ADS_1