Alin & Hazar

Alin & Hazar
94


__ADS_3

Mama Rosa mengerutkan keningnya saat keluar dari mobil. Sebab tak ada satu pun orang yang berjaga di depan rumah utama. Sepi dan sunyi, entah kemana semua orang perginya.


Mama Rosa mendorong pintu, namun tak bisa terbuka. “Terkunci?” gumamnya. Ia pun berniat hendak mengetuk pintu, Tapi...


“Nyonya!”


Mama Rosa terlonjak kaget. Bibi Yona muncul dari arah samping rumah, dengan raut wajah cemas.


“Bibi! Ada apa?” sekarang wajah Mama Rosa tak kalah cemasnya dari Bibi Yona. “Di mana kunci rumah? Alin! Di mana Alin? Apa dia baik-baik saja?” Mama Rosa langsung memburu Bibi Yona dengan rentetan pertanyaan.


“Anu... Nyonya. Nona Alin baik-baik saja.”


Mama Rosa menatap satu persatu wajah anggota kepolisian yang berdiri di belakang Bibi Yona. Entah karena apa, raut wajah semua orang terlihat sama di mata Mama Rosa. “Lalu, kenapa? Ini, mengapa pintunya harus dikunci segala?” Mama Rosa kembali menatap Bibi Yona.


“Tuan Hazar yang menguncinya dari dalam, Nyonya.”


Mama Rosa berdecak kesal. Ia menerobos kerumunan anggota kepolisian, dengan langkah lebar menuju pintu samping rumah.


“Nyonya!” Bibi Yona mengejar langkah Mama Rosa. “Sebaiknya kita tunggu di depan saja, Nyonya.” Wajah Bibi Yona semakin pias.


“Memangnya kenapa, Bibi?” Mama Rosa akhirnya menghentikan langkahnya.


***


“Alin! Alin!” pelan Hazar memanggil-manggil nama Alin, sebab wanita yang berada di atasnya itu sudah tak bergerak lagi. Aktivitas panas yang tadi memancing adrenalin pun sudah berhenti sebelum mencapai puncak, menyisakan rasa panas di seluruh tubuhnya.


Tak lama kemudian terdengar suara dengkuran halus. Hazar sedikit menurunkan pandangannya. Pucuk kepala Alin, hanya itu yang terjangkau oleh pandangannya. Kepala itu sudah menempel, terlelap nyenyak di dadanya yang terbuka.


Hazar menghela napas panjang, yang terdengar seperti ******* keputus asaan. Ia seperti sedang dipermainkan oleh Alin, bagaimana bisa wanita itu tidur seenaknya setelah membuatnya panas dingin begini.


Mereka masih berbaring di lantai, tanpa beralas apa pun. Sementara kancing kemeja Hazar sudah terbuka semuanya.


Hazar memindahkan Alin ke kamar. Setelah membaringkan dan menyelimuti Alin, barulah ia bisa mengancingkan kemejanya. Hazar menatap sekeliling, ia sangat merindukan kamar ini, ranjang ini, dan aroma ini.


Hazar meninggalkan sebuah kecupan di bibir Alin, sebelum kemudian ia beranjak untuk melepas rindu dengan kamarnya. Ia melangkah ke arah balkon. Membuka pintu kaca itu sembari menghirup aroma taman yang menyegarkan. Dan...


Betapa terkejutnya ia saat mendapati Mama Rosa di bangku taman, duduk bersedekap, menatap tajam ke arahnya.


*


“Sangat tidak tahu malu!”


“Siapa? Aku?” Hazar menyeringai penuh kemenangan.


“Iya, kamu. Siapa lagi.” Mama Rosa menatap kesal pada Hazar. Melempar iPad ke pangkuan Hazar. “Apa otak sehatmu sudah tidak berfungsi lagi? Beraninya kamu memperlihat video m*s*m pada Mama.” Mama Rosa semakin dibuat kesal melihat raut wajah menyebalkan Hazar yang sekarang. Sejak pertama tadi, perdebatan yang terjadi di antara mereka selalu dimenangi Hazar. Anak kunyuk itu benar-benar berwajah pongah dan tidak tahu malu.


“Mama sendiri yang minta bukti, dan tidak mau percaya pada omonganku.” Jawab Hazar dengan entengnya.


Ya, sejak awal tadi, memang Mama Rosa selalu menyalahkan Hazar. Menuduh Hazar berbuat yang tidak-tidak kepada Alin. Hingga Mama Rosa mengancam akan mengadukan Hazar pada Papa Haris. Jadilah, Hazar memperlihatkan rekaman CCTV, guna membuktikan ketidak bersalahan dirinya.

__ADS_1


“Terimakasih, Mama!” ujar Hazar, saat Mama Rosa telah berdiri.


Langkah Mama Rosa terhenti, ia berbalik menatap Hazar. Sekarang tak ada lagi raut kesombongan pada wajah putranya itu.


“Aku tidak tahu... apa jadinya rumah tanggaku, kalau tidak ada Mama.” Hazar menatap dalam kedua bola mata mamanya. Ia tahu kalau tadi mamanya sempat tersenyum dengan mata berair. “Maafkan aku, sampai sekarang, aku hanya bisa menyusahkan Mama,” Hazar berdiri, berjalan menghampiri mamanya.


Mama Rosa tertegun, melihat wajah sendu Hazar. Suara lirih itu berhasil membuat kedua bola matanya memanas, hingga air matanya jatuh tak terbendung. Hazar merentangkan kedua tangan dan mendekap erat tubuhnya. Tangisannya makin menjadi, rasanya sudah terlalu lama ia tak mendekap putra kesayangannya ini. Rasa haru biru menyelimuti relung hatinya. Apa kebahagiaan ini akan bertahan lama?


Mama Rosa membalas dekapan Hazar. Ini adalah sisi lain putra yang belum pernah ia ketahui.


“Maafkan aku, karna dulu pernah menyalahkan Mama atas kepergian Alin.” Hazar kembali bersuara lirih.


“Tidak!” Mama Rosa menggeleng. “Itu memang salah Mama.”


“Mama tidak bersalah, lagi.” Hazar melepaskan dekapannya, mengusap air mata mamanya. Bibirnya tersenyum. “Mama sudah menebusnya dengan mengirim Mala ke sini.”


Mama Rosa masih menggeleng dalam tangisannya. Kesalahan yang ia perbuat dulu, tidak akan mudah ter maafkan. Ia sendiri menyaksikan bagaimana Hancur dan marahnya Hazar saat itu. Karna kesalahannya yang itu juga, Alin sampai kabur dari rumah, hingga hampir diperkosa oleh preman-preman kampung.


Hazar kembali mengusap air mata mamanya yang kian menderas. “Alin menjadi marah dan cemburu karna mengira Mala adalah wanita haramku. Mama lihat sendiri, rencana Mama berhasil. Alin tidak jadi meminta cerai, dia bahkan sudah menyatakan perasaannya padaku.”


“Apa lagi yang Mama khawatirkan? Semua akan baik-baik saja, sekarang.” Hazar kembali memeluk mamanya. “Cucu dan menantu Mama, akan tetap di sini. Tinggal bersama kita, selamanya.”


*


Alin mengerjapkan matanya yang terasa sembab dan lengket, menatap sekeliling. Gelap, hanya ada satu lilin yang menjadi penerang kamarnya.


Alin duduk di sisi ranjang, dengan Kedua kakinya menjuntai ke atas lantai. Matanya kembali terpejam, ia menghirup napas panjang. Kepalanya terasa sedikit pusing.


Mata Alin menyipit, melihat banyaknya lilin yang bersusun rapi di lantai. Tanpa sadar kakinya malah menuntunnya untuk mengikuti jejeran lilin. Rasa penasarannya telah menghilangkan dahaganya, hingga ia urung melangkah ke dapur.


Alin terus melangkah mengikuti jejeran lilin, hingga membawanya ke suatu pintu ruangan. Langkah Alin terhenti, ia tampak ragu untuk meneruskan langkahnya. Ini masih berada di lantai dua rumah Hazar. Tapi perasaan ia belum pernah masuk ke ruangan itu, dan ia pun juga tidak tahu itu ruangan apa.


Tiba-tiba saja raut wajah Alin berubah sendu. Apa Kak Hazar sedang dengan wanita kemarin di dalam?


Perlahan Alin berbalik badan, melangkah menjauhi pintu itu. Namun, baru lima langkah ia menjauh, dengan gerakan cepat ia kembali berbalik badan, melangkah dengan langkah lebarnya, dan mendorong pintu ruangan itu dengan kasar.


Air mata yang tadinya terlanjur menggenang, tumpah tanpa Alin sadari. Ia menghembuskan napas lega. Sebab tak ada satu pun orang di ruangan itu. Meski tidak ada lampu atau pun lilin yang menerangi, ruangan itu tetap saja terang. Sebab ada pantulan cahaya dari proyektor mini yang sepertinya disengajakan hidup.


Alin melangkah masuk, semakin dekat menatap gambar yang terpantul di dinding. Keningnya berkerut, gambar ini terasa tidak asing. Rumah Kakek Setyo! Ya, ini adalah pintu belakang rumah Kakek Setyo.


Alin terlonjak kaget, nyaris saja ia berteriak. Untung saja otaknya bekerja cepat, ia langsung tahu siapa pemilik lengan yang sekarang tengah melingkar di perutnya ini. Aroma maskulin ini sangat menenangkan. Tubuhnya terasa menghangat didekap Hazar dari belakang.


Alin hendak menengok ke belakang, namun Hazar keburu mencegahnya. “Lihat ke depan,” Hazar kembali memutar kepala Alin untuk melihat ke depan. “Kau tahu, itu gambar, apa?” Hazar kembali memeluk Alin dari belakang.


Alin mengangguk. “Rumah Kakek,” jawabnya polos.


Tubuh Alin makin merinding, sebab hembusan napas Hazar menerpa kulit lehernya yang terbuka, disertai dengan makin kuatnya dekapan Hazar di tubuhnya.


“Apa kau, tidak ingat ada momen indah yang terjadi di sana,” bisik Hazar di telinga Alin.

__ADS_1


Alin langsung menggeleng. Momen idah? Rumah itu adalah neraka baginya. Tak pernah ada satu pun momen indah di sana.


“Apa kau tidak ingat, di sana kau pernah diselamatkan oleh sorang laki-laki?”


Sekarang Alin tak langsung menjawab. Ia terlihat sedang berpikir. Namun beberapa detik kemudian ia kembali menggeleng. “Aku tidak ingat.” Jawabnya.


“Di sana, adalah tempat pertama kali kita bertemu.” Akhirnya Hazar langsung menjelaskan. Sebab, sepertinya hanya dia yang mengenang masa itu.


Kening Alin mengerut. “Bukannya, di rumah sakit?” Seingat Alin, mereka pertama kali bertemu adalah waktu ia dirawat di rumah sakit. Saat itu Hazar datang bersama Mama Rosa dan Papa Adi. Dan di saat itu pula mereka baru saling berkenalan.


“Bukan,” Hazar sedikit menunduk, menempelkan dagunya ke pundak Alin. “Saat itu, hari rabu tanggal...” Hazar menyebutkan tanggal, bulan dan tahun saat kejadian itu. “Kau pulang ke rumah dengan memanjat pagar, jalan mengendap-endap sampai menabrak tubuhku_”


“Ah! Aku ingat!” jawab Alin, memotong cerita Hazar. “Apa itu, Kakak?”


“Hmmm...”


“Benarkah? Anak laki-laki itu samasekali tidak mirip dengan Kakak.” Alin menatap lamat gambar yang terpantul di dinding, ia seperti sedang mengenang kejadian hari itu. Hari dimana ia hampir saja ketahuan kabur oleh papanya, dan beruntung ia diselamatkan oleh seseorang.


“Tidak mirip, apanya?”


Alin menggeleng, ia memang sudah ingat dengan kejadian hari itu. Namun ia tidak ingat dengan wajah orang yang menyelamatkannya. Dan tak pernah menyangka kalau orang itu adalah Hazar, suaminya.


“Setelah hari itu, masih dalam bulan yang sama kita pernah dua kali bertemu...” Hazar meneruskan ceritanya.


Alin dibuat tercengang, tak percaya. Hazar menceritakan semuanya detail cerita padanya, tanpa ada satu hal pun yang terlewatkan. Mulai dari Hazar mengenalkan fotonya pada Mama Rosa dan Papa Adi. Sampai pada ribuan deretan foto dirinya yang diambil secara diam-diam oleh orang suruhan Mama Rosa.


“Mama menyuruh orang untuk membuntuti aku!” Mata Alin terbelalak melihat banyaknya foto dirinya yang terpantul di dinding secara bergantian.


“Bukan membuntuti. Mama hanya ingin memastikan calon menantunya dalam keadaan aman dan baik-baik saja.”


“Kakak, sudah tahu ini dari awal? Kalau Mama menyuruh orang untuk membuntuti aku!”


“Hmmm...”


Alin menatap berang pada Hazar.


“Jangan marah dulu,” Hazar akhirnya melepaskan dekapannya. Ia memutar tubuh Alin untuk sempurna menghadapnya. “Mama melakukan semua itu, karna dia sudah terlanjur sayang padamu.” Hazar membelai kepala Alin. “Karna Mama sudah sejak lama memintaku untuk menikah, dia sangat berharap untuk memiliki menantu. Namun aku sangat tidak tertarik untuk memiliki hubungan dengan wanita mana pun.”


Hazar menangkup wajah Alin dengan kedua tangannya. Menatap dalam pada dua manik mata Alin. “Hingga akhirnya kita bertemu malam itu. Dan sejak kejadian malam itu, aku selalu teringat dengan wajah ini. Awalnya aku mencoba mengabaikan. Namun, aku tidak bisa. Karna, kau selalu muncul di saat aku sedang berusaha.”


“Akhirnya aku menceritakan semuanya pada Mama, dan memutuskan untuk menikahimu. Aku meminta bantuan Mama untuk menjagamu hingga lulus kuliah. Dan akhirnya aku berhasil menikahimu. kau, adalah wanita pertama yang aku cintai.”


Seperti orang bo doh, Alin terdiam mendengarkan ucapan Hazar. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Matanya bahkan tak berkedip menatap wajah Hazar. Hazar baru saja mengungkapkan perasaan padanya. Ini memang bukan yang pertama. Dulu Hazar juga pernah mengatakan kalau ia adalah wanita pertama bagi Hazar. Namun kali ini terasa berbeda, suasana ini, getaran ini, dan perasaan ini. Apa yang harus ia lakukan di saat-saat seperti ini?


Karna tidak mendapat respons dari Alin, akhirnya Hazar yang kembali harus bertindak. Ia menarik wajah Alin, meninggalkan kecupan di kening, mata, pipi, hidung dan...


Ggrrrkk!!!


“Hiks...” Alin menyembunyikan wajahnya dari Hazar. Di saat romantis-romantis begini, bagaimana bisa perutnya keroncongan.

__ADS_1


Hazar tergelak tanpa suara. “Ayo kita ke bawah. Bibi Fatma sudah menyiapkan banyak makanan untukmu.”


__ADS_2