
Hazar tertunduk bermenung, duduk sendirian di depan pintu ruang rawatan. Tampangnya tampak berantakan, menggambarkan ke kusutan dari pikirannya sekarang.
Hazar menegakkan kepalanya saat merasakan sentuhan seseorang di pundaknya. “Papa, bagaimana keadaan Mama?” Hazar hendak berdiri tapi pundaknya ditahan oleh Papa Adi.
“Mamamu sudah sadar. Dia hanya kelelahan, tidak usah dicemaskan.” Papa Adi ikut duduk di samping Hazar. “Lebih baik sekarang kamu pulang. Jangan menghindari Alin lagi, dia bisa saja salah faham dengan sikapmu yang seperti ini. Biar Papa saja yang menjaga Mama dan Kakekmu di sini.”
Hazar menghela napas dan menghembuskannya dengan gusar. “Aku tidak mau bertemu dengan Alin, sekarang. Papa tahu sendiri dia sangat keras kepala. Aku tidak mau bertengkar lagi dengannya, Pa. Jika aku pulang sekarang kami pasti akan bertengkar lagi.” Hazar mengusap wajahnya dengan kasar.
Papa Adi menghela napas panjang menatap prihatin pada anak semata wayangnya. Baru kali ini Hazar mau berkeluh kesah pada orang lain. Biasanya putranya itu selalu memendam dan berusaha menyelesaikan masalahnya sendirian.
Alin, memang sangat berpengaruh besar dalam hidup putranya.
Papa Adi menepuk pundak Hazar. “Pertengkaran dalam rumah tangga itu biasa, selama kamu tidak bermain kasar pada istrimu. Menghindar tidak akan menyelesaikan masalah kalian. Hadapi, dan jangan keluar dari kamar sebelum masalah kalian tuntas. Biasanya itu yang Papa lakukan saat bertengkar dengan Mamamu.”
“Bagaimana kalau Alin masih meminta aku, untuk menikah lagi? Apa yang harus aku lakukan, Pa?”
Papa Adi kembali menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, matanya tampak menerawang.
“Apa kamu pernah menyakiti istrimu?”
Hazar mengerutkan keningnya, menatap bingung pada Papanya. “Apa maksud Papa bertanya seperti itu?” tanya Hazar gusar.
“Entahlah! Mungkin ini hanya firasat Papa saja. Dan firasat Papa semakin kuat saat bertemu dengan Haris tadi siang.”
Hazar semakin bingung mendengar ungkapan Papanya barusan. “Memangnya kenapa dengan Papa Haris? Dan firasat apa yang Papa bicarakan?” Desak Hazar.
“Entahlah!” Papa adi mendesah, gusar. “Pertama, minta maaflah pada istrimu. Dan cari jalan keluar dari masalah kalian bersama-sama.”
“Alin pasti akan memaksa aku untuk menikah lagi, Pa. Aku masih tidak tahu harus bagaimana menolaknya!”
“Kamu paksakan pula, dia. Katakan kalau kamu tidak mau menikah lagi.” Papa Adi kembali menepuk pundak Hazar. “Ini hidup kamu, turuti kata hatimu. Tapi, tetap jaga perasaan istrimu. Yakinkan dia dengan cara baik-baik.” Papa Adi menghela napas berat. “Sekarang pulanglah. Masalah Mamamu, biar Papa yang coba meyakinkannya.”
Hazar kembali mendesah, bukan hanya Alin, sekarang Mamanya juga harus ia hadapi. Menghadapi satu wanita saja kepalanya terasa mau pecah, sekarang harus tambah satu lagi.
***
Hazar tidak langsung pulang saat Papa Adi kembali masuk ke kamar rawatan Mamanya. Dia masih termenung sendirian di tempatnya. Ingatannya kembali pada pertemuannya dengan Wira tadi pagi. Dimana Wira telah bercerita sekaligus memberi peringatan padanya.
Mengapa bocah itu seakan selalu tahu dengan segala masalah yang berhubungan dengan Alin.
__ADS_1
☆☆☆
“Saya sudah membaca beberapa artikel tentang Anda. Dari semua yang saya baca tidak sekali pun ada nama wanita yang muncul di sana. Orang sukses seperti Anda pastinya dikelilingi oleh banyak wanita, hampir mustahil orang seperti Anda tidak pernah memiliki kekasih. Atau mungkin saja Anda tidak mau wanita Anda menjadi konsumsi publik, seperti beberapa artis yang memilih merahasiakan hubungan asmaranya. Karna itu saya akan bertanya, Alin wanita ke berapa? Dan seberapa berharganya dia bagi, Anda? ” Wira bertanya mantap, tatapan matanya pun sudah berubah tajam.
“Tidak ada satu pun wanita yang aku sembunyikan dari publik. Adanya banyak wanita di sekelilingku bukan berarti mereka harus menjadi milikku. Dan tentang kesuksesan tidak pernah mengharuskan orang untuk memiliki kekasih. Alin wanita pertamaku, dan akan menjadi yang terakhir juga. Dia istriku, tentu dia sangat berharga bagiku!” Suara Hazar meninggi di penghujung kalimat. Ia balik menatap tajam pada Wira.
Wira mengangguk-angguk, wajahnya tampak tak terlalu yakin dengan ucapan Hazar barusan. Ia membuang pandangannya ke sembarang arah. “Dia juga yang pertama bagi saya.” Wira menatap tangan kiri Hazar di atas meja. Penglihatannya berpusat pada cincin pernikahan yang tersemat di jari manis Hazar. “Saya yang lebih dulu mengenalnya, dan saya juga yang lebih dahulu menyukainya. Sementara, Anda. Hanya mengenalnya selama satu minggu, dan langsung menikahinya.”
Hazar hendak membantah, namun urung. Karna Wira kembali bersuara.
“Sejak hari pertama saya kuliah, Alin selalu berhasil mengalihkan dunia saya. Karna dia terlihat terlalu mencolok dari kebanyakan wanita lainnya. Dia selalu sendiri, tapi tak pernah terlihat kesepian. Dia tidak memakai pakaian dan perhiasan mewah seperti wanita lainnya, tapi dia terlihat lebih menarik. Dia tidak terlalu peduli dengan dunia sekitarnya, tapi dia terlihat lebih ramah. Dia tidak pernah terlalu fokus saat di kelas, tapi dia adalah mahasiswi terpintar di sana, meski tanpa embel-embel keluarganya. Sebab itulah saya tidak berani mendekatinya, dia terlihat terlalu tinggi untuk saya raih. Padahal, saat itu saya hanya mengenalnya sebagai mahasiswa biasa seperti saya, yang kuliah hanya mengandalkan beasiswa.” Wira tergelak, menertawakan dirinya sendiri. “Untunglah saya masih menahan diri saat itu. Kalau tidak, saya akan terlihat menyedihkan di matanya.”
“Saya mengetahui kalau dia adalah cucu dari pemilik Yayasan dua hari sebelum kelulusan kami. Ternyata kehidupan keluarganya tidak seindah paras cantiknya. Keluarganya sangat mengerikan. Tapi hebatnya, dia adalah wanita yang kuat, dia memiliki mental sekuat karang. Dia tidak mudah untuk ditaklukan. Saya semakin merasa tidak pantas untuknya. Bukan karna keluarganya yang kaya, tapi karna saya merasa sangat kecil, saya tidak akan mampu melindunginya dari keluarganya. Pada malam itu juga, Alin diusir dari rumah. Dia diusir tanpa uang sepeser pun. Seharusnya saya mengasihaninya saat itu, tapi saya malah semakin kagum padanya. Dan itu membuat saya semakin merasa tidak pantas untuknya. Saya tidak akan mampu membahagiakannya.” Wira beralih menatap Hazar. “Malam itu juga saya memutuskan untuk mengubur segala perasaan saya pada Alin. Padahal saat itu adalah hari pertama saya bisa berbincang dan berdekatan dengannya.” Wira kembali menarik sudut bibirnya. Menambah kegetiran dalam cerita yang disampaikannya.
Hazar tetap diam menyimak cerita Wira. Alin pernah diusir! Dia samasekali belum pernah mendengar tentang itu. Ternyata masih banyak hal yang belum dia ketahui tentang Alin.
“Kau tidak lagi memperjuangkannya, sekarang?” tanya Hazar, jelas-jelas kemarin Wira berlagak seolah akan merebut Alin darinya.
“Saya memang sedang tidak memperjuangkannya. Sekarang saya hanya ingin tetap berada di dekatnya, dan menjadi orang terdekatnya. Semenjak dia menikah dengan Anda, pandangan saya selalu berubah-ubah terhadapnya. Dia terkadang terlihat sangat berharga, dan terkadang terlihat seperti orang yang diabaikan. Jika sewaktu-waktu dia kembali terusir, saya akan kembali membawanya ke rumah ibu saya. Dan jika itu benar terjadi, saya tidak akan pernah melepaskannya lagi.”
Telinga Hazar terasa memanas mendengar kalimat terakhir Wira.
Wira menyeringai. “Kita tidak bisa melihat masa depan, saya hanya sedang berjaga-jaga. Dan jika itu nyata terjadi nantinya, mungkin saya tidak akan merasa bersalah pada Anda. Sebab saya sudah memperingati Anda sejak awal.” Wira menjawab cepat.
Tatapan sengit keduanya harus terputus, sebab seseorang baru saja mengetuk pintu ruangan tempat mereka berada.
Wira harus pergi saat itu, karna ada urusan yang sangat mendesak. Sebelum pergi ia terlebih dahulu mengantar Hazar ke kamar Alin.
“Anda, terlihat tidak baik-baik saja, Tuan. Lebih baik Anda istirahatlah di sini. Kamar Anda akan saya siapkan.” Tanpa menunggu persetujuan dari Hazar, Wira langsung ke luar dari ruangan untuk meminta seseorang menyiapkan kamar untuk Hazar.
☆☆☆
***
Dengan berat hati Hazar pun terpaksa pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan dia terus saja mendesah, gusar. Pikirannya buntu, dan kacau. Tapi ia telah bertekat akan menyelesaikan masalahnya malam ini juga. Keadaan ini sangat menyiksanya, ia juga tidak ingin lagi berlarut-larut dalam masalah ini.
Hazar langsung menuju kamarnya di lantai dua. Dia sudah mengetahui keberadaan istrinya dari Bibi Yona yang menyambutnya tadi.
Hazar menghela napas sesaat sebelum membuka pintu kamar. Ia tidak menemukan Alin disana. Hazar menghela napas lega, masih ada waktu baginya untuk menenangkan diri sejenak.
__ADS_1
Hazar duduk di sisi ranjang, ia dapat mendengar suara pintu lemari yang digeser menandakan kalau Alin tengah berada di ruang ganti. Tapi ia tidak berniat untuk menyusul, ia tetap diam di tempatnya.
Waktu seolah berjalan lambat. Berkali-kali Hazar melirik jam di atas nakas, Alin masih juga belum keluar dari ruang ganti. Hazar menatap pintu ruang ganti, tidak ada tanda-tanda kalau Alin akan ke luar dari sana.
*
Karna Alin tak kunjung keluar dari ruang ganti, Hazar pun akhirnya berdiri menghampiri ruang ganti.
Hazar berdiri bawah bingkai pintu ruang ganti. Ia tampak tertegun mendapati Alin yang duduk dengan mata terpejam. Sebuah botol air mineral dan sebotol obat tersimpan di atas meja di samping istrinya itu.
Alin masih belum menyadari kehadiran Hazar.
Dengan langkah pelan Hazar mendekati tempat Alin. Ia meraih botol obat dan memerhatikannya dengan teliti.
“Obat apa, ini?”
Mata Alin langsung terbelalak, ia samasekali tidak menyangka kalau Hazar sudah pulang dan berdiri di depannya. Ali berdiri dan merampas botol obat dari tangan Hazar. Wajahnya tampak cemas.
“I-ini, ini hanya obat pereda nyeri.” jawab Alin tergagap.
“Pereda nyeri!” Hazar mengerutkan keningnya, menatap Alin penuh sidik. “Kau, sakit?”
Alin tampak salah tingkah. Karna kehadiran Hazar yang mendadak membuatnya menjadi lupa akan segala hal. Pikirannya terasa kosong dan buyar.
“Tidak, aku hanya sedang datang bulan.”
Hup! Alin langsung membekap mulutnya. Ia baru saja keceplosan.
“Datang bulan?” Hazar semakin mendekat pada Alin. “Bukankah kau mengatakan kepada dokter kalau kau tidak pernah lagi datang bulan sejak dua tahun yang lalu!?”
Hazar menahan pinggang Alin saat istrinya itu nyaris hendak menjauh darinya.
Alin tampak kelimpungan, tidak tahu harus berbuat apa.
Hazar menahan dagu Alin, memaksakan istrinya itu untuk menjawab dan menatap matanya.
*
*
__ADS_1
*