Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 46


__ADS_3

Lama Hazar terdiam setelah kepergian Wira. Kata-kata Wira tadi terus terngiang di benaknya. Tentang pernikahannya yang dianggap orang lain hanya sebuah kontrak kerja sama, dan tentang pabrik yang akan dibuang. Pertanyaan Wira tadi terasa menjanggal dibenanya.


Apa ada sesuatu yang terlewatkan olehnya?


Hazar menghela napas, kembali masuk ke dalam kamar. Hazar duduk disisi ranjang menatap wajah Alin. Perasaannya masih saja tak tenang. Ia kembali mengingat kata-kata Alin saat ia pertama kali membuatkan susu untuk istrinya itu.


“Bagaimana jika aku tidak bisa hamil, apa yang akan Kakak perbuat?”


Pertanyaan Wira memang berbeda tapi mengapa terasa memiliki arti dan tujuan yang sama olehnya. Hazar kembali menghela napas kepalanya kini terasa agak pusing.


Hazar lebih memilih mengistirahatkan tubuhnya di sofa panjang yang terletak tidak jauh dari ranjang, dari pada berbaring di kasur di samping Alin. Tubuhnya terasa sangat lelah sekarang, ia memang belum tidur sekejap pun setelah kepulangannya dari luar kota kemarin.


Hazar kembali mendesah, matanya samasekali tak mau terpejam. Segala hal yang bersangkutan dengan Alin selalu membuatnya pusing. Dan hanya Alin yang mampu membuatnya sekacau ini. Mengurus dua perusahaan sekaligus terasa lebih mudah dari pada mengurus seorang Alin, satu-satunya wanita yang mengusik hidupnya sejak lima tahun yang lalu.


***


Alin mengerjapkan matanya, gelap, itulah yang ia lihat sekarang. Alin meraba kasur di sampingnya, kosong tidak ada siapa pun di sana.


“Kakak!” Alin memanggil Hazar berkali-kali namun tidak ada sahutan.


Alin berjalan meraba-raba sekeliling mencari kontak lampu. Saat lampu telah menyala dan membuat terang seisi kamar, ternyata dia hanya sendirian di kamar itu, ia tidak menemui keberadaan Hazar di sana.


Alin melangkah keluar kamar. Terlihat beberapa orang tengah sibuk di rumah itu.


“Selamat malam, Nona.” sapa Pak Naf.


“Malam Pak Naf. Dimana Kak Hazar?” tanya Alin.


“Tuan sudah pergi Nona, dan dia menitipkan ini untuk Nona.” Pak Naf menyerahkan secarik kertas kepada Alin.


“Pergi kemana Pak?”


“Keluar kota, Nona.”


“Lagi!” ujar Alin dengan kening berkerut.


“Iya, Nona. Perusahaan Tuan Hazar berhasil menjalin kerja sama dengan sebuah perusahaan besar dari luar negeri. Dan Tuan Hazar harus menghadiri pertemuan penting malam ini juga. Karna itu, Tuan menyerahkan kepada saya untuk mengurus rumah singgah ini sementara waktu.” Jelas Pak Naf panjang lebar.


Raut wajah Alin tampak kecewa, ia tampak memaksakan senyumannya. “Baiklah Pak Naf. Maaf merepotkan Anda.” ujar Alin.


“Tidak Nona, ini memang sudah tugas saya.”


*

__ADS_1


Alin kembali masuk ke kamar. Ia membuang sembarangan kertas yang diberikan oleh Pak Naf tadi tanpa membacanya terlebih dahulu. Alin menghempaskan tubuhnya ke sofa. Matanya terpejam rapat hingga menimbulkan beberapa kerutan di sekeliling mayanya, tangannya terangkat untuk memberi berupa pijatan kecil di keningnya.


Alin kembali menghela napas. Keraguan kembali menyelimuti hatinya.


Dari awal pernikahannya dengan Hazar, dia tidak pernah menganggap pernikahan itu sungguhan. Pernikahan itu ia anggap hannyalah sebuah kontrak kerja sama antara Kakeknya dan Hazar. Namun, belakangan ini dia sempat merasa bimbang dengan perasaannya sendiri. Hazar yang selalu memperlakukannya dengan baik dan hangat, sering membuatnya merasa paling berharga. Namun tak jarang pula Hazar berbuat sebaliknya. Seperti sekarang, setelah tadi Hazar berhasil meluluhkan hati dan perasaannya, namun suaminya itu kembali meninggalkannya hanya demi sebuah kontrak kerja sama.


Alin dibuat semakin yakin kalau Hazar adalah sama seperti Papa Haris. Yang selalu mengutamakan pekerjaan, dan menganggap wanita hannyalah sebatas penghasil keturunan, seperti yang dikatakan David saat di rumah sakit dulu.


Alin memang menemukan banyak kesamaan antara papanya dan Hazar. Keduanya sama oper protektif padanya. Selalu mengekang dirinya, dan menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya. Dan selalu suka berbuat semau mereka. Karna itulah Alin tidak pernah tahu dan tidak pernah ingin tahu tentang arti sebuah cinta dan kasih sebuah keluarga. Ia hanya merasa hidupnya akan aman dan bebas bila ia bisa hidup sendirian dan jauh dari kekangan siapa pun.


Lamunan Alin langsung buyar saat seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar.


“Masuk!” teriak Alin. Dia sangat malas untuk sekedar berdiri dan membuka pintu.


“Nona!” Bibi Fatma kembali menutup pintu dan duduk di samping Alin. Wajahnya terlihat sangat bahagia sekarang.


Alin hanya diam dengan muka datarnya dan tidak berkomentar dengan wajah ceria Bibi Fatma. Membuat Bibi Fatma bingung olehnya.


“Nona kenapa, apa Nona tidak senang dengan hadiah Tuan Hazar ini?” tanya Bibi Fatma.


“Biasa saja. Ada apa Bibi kemari?”


“Nona tidak senang dengan rumah singgah ini?”


Bibi Fatma membenarkan posisi duduknya sempurna menghadap Alin. Meraih tangan Alin dan digenggamnya dengan erat. Mata Bibi Fatma menatap ke dalam bola mata Alin.


“Nona, Tuan Hazar tulus membuatkan rumah singgah ini untuk almarhum Nona Diana, untuk mertuanya, ibu dari seorang wanita yang sangat dicintainya.” ujar Bibi Fatma.


Alin membuang muka. “Berhentilah membahas ini Bibi. Sudah aku bilang aku akan membuatkan rumah singgah untuk Mamaku dengan uangku sendiri.”


“Uang Tuan Hazar juga uang Anda, Nona.”


“Bibi, aku lapar.” ucap Alin cepat sebelum Bibi Fatma kembali berbicara panjang lebar.


Bibi Fatma hanya bisa menghela napas. Nonanya itu memang tidak pernah mau membahas sebuah ketulusan dan cinta. Karna itu Nonanya tidak pernah tahu sebesar apa cinta Tuan Haris padanya dan Nona Diana. Nonanya itu selalu mengambil kesimpulan dengan apa yang dia lihat tanpa mau mencari sebab.


“Baiklah, akan saya siapkan makan malam Anda.”


“Tidak usah Bibi, kita pergi ke tempat ibu Bibi saja sekarang,” Alin langsung berdiri dari duduknya.


“Ini sudah malam Nona. Ibu saya mungkin sudah beristirahat saat kita sampai nanti, kita ke sana besok saja. Tadi, saya sudah berbicara lewat telepon dengan ibu saya,” ujar Bibi Fatma sambil menarik tangan Alin untuk kembali duduk. “Akan saya siapkan makan malam Anda.” Bibi Fatma berlalu keluar.


***

__ADS_1


Hazar keluar dari restoran tempat ia membuat jamuan makan malam untuk kliennya. Ia merasa sangat pening sekarang, hingga ia memilih untuk pergi duluan dan meminta Karin untuk menemani kliennya.


Dengan diantarkan oleh Pak Rozak, Hazar meninggalkan restoran dan menuju hotel tempatnya menginap malam ini. Tadi sebelum sore dia hanya sempat tertidur kurang dari satu jam, dan didalam perjalanan matanya tidak mau tertidur lagi. Membuat kepalanya terasa sangat pening dan harus dihilangkan dengan bantuan obat agar tidak mengganggu pekerjaannya . Sekarang rasa pening itu kembali menyerangnya, tapi ia lebih memilih membiarkan rasa peningnya itu.


Hazar langsung menghubungi Papa Haris saat ia sampai dikamar Hotelnya. Ia harus memastikan sesuatu yang sejak tadi siang mengganggunya. Hazar meminta Papa Haris untuk mengatur pertemuannya dengan dokter Qori secepatnya.


Hazar sudah merasa curiga pada Alin saat Papa Haris mengatakan kepadanya, kalau dokter yang dipilih Alin adalah dokter pemula yang belum cukup berpengalaman, ditambah pertanyaan Alin malam itu, dan ia semakin curiga saat Wira bertanya tentang pabrik padanya.


Apa yang sebenarnya Alin sembunyikan darinya?


Hazar membaringkan tubuhnya memaksakan matanya untuk tertidur, dengan hati yang terus berharap bawa prasangkanya adalah salah.


*


“Apa Anda tidak ingin menginap disini dulu Nona? Tuan Hazar sudah mengizinkan Anda untuk menginap malam ini.” ujar Bibi Fatma saat Alin meminta Pak Naf untuk menyiapkan mobil untuknya.


“Tidak... kita pulang saja,” Alin langsung melangkah keluar rumah.


Tiga mobil yang tadinya ditutupi dengan body cover telah terbuka dan berjejer rapi di samping rumah, dua mobil ambulans dan satu mini bus untuk memfasilitasi rumah singgah itu.


Alin masih saja terlihat dingin. Ia sendiri tidak tahu mengapa perasaannya jadi tidak menentu seperti ini. Padahal tadi ia merasa sangat senang dan terharu.


Bibi Fatma pun juga bingung dengan keadaan Alin sekarang. Padahal tadi sore dia dapat melihat Nonanya itu menangis tersedu-sedu di pelukan Tuan Hazar. Tapi, mengapa reaksinya Nonanya terlihat dingin saja saat ini. Bibi Fatma hanya bisa menghela napas menatap Alin yang duduk di sampingnya, yang hanya terlihat diam sambil memandang keluar jendela mobil.


***


“Dimana Haris?” tanya Kakek saat sudah duduk di meja makan ia hanya mendapati Amel dan David disana.


“Tuan Haris masih di rumah sakit, Tuan.” Sekretaris Jon yang menjawab.


Kakek beralih menatap Sekretarisnya yang berdiri di sampingnya. “Apa benar Hazar membuatkan rumah singgah untuk Alin?” tannya Kakek.


“Benar, Tuan.”


“Baguslah, berarti mereka baik-baik saja. Aku tidak perlu menghawatirkan hubungan mereka lagi.” ujar Kakek.


“Papa, tidak bisakah papa menunda keberangkatan David, setidaknya tunggulah sampai Alin hamil,”


Setyo mengerutkan keningnya, menatap tajam pada Amel. “Memang apa hubungannya keberangkatan David dengan kehamilan Alin?” tanya Kakek.


Amel tampak kebingungan untuk menjawab.


“Bagaimana kalau Alin tidak bisa hamil,” David yang menjawab.

__ADS_1


Mata Amel tampak membelalak mendengar jawaban David yang terdengar terlalu mencolok. Bagaimana jika rencana jahat mereka terbongkar. Amel langsung menendang kaki David, dan meminta putranya itu untuk tutup mulut dengan menggerakkan mulutnya tanpa suara.


__ADS_2