
PLAK!!!
Bobi kembali tersungkur, entah berapa kali Hazar menampar wajahnya. Hidung dan sudut bibirnya sudah pecah dan berdarah. Namun ia dengan cepat kembali berdiri tegak di depan Hazar.
Hazar membalikkan badan, sekarang ia berhadapan dengan Karin. Hazar merampas tas jinjing Alin yang dipegang oleh Karin. Ia langsung menguras isi tas, memindahkannya ke atas meja cafe tempat Alin duduk tadi. Ponsel, dompet , dan black card Alin semua ada di sana. Bagaimana bisa istrinya kabur tanpa membawa uang sepeser pun. Di mana istrinya itu akan menginap, sekarang hari sudah hampir gelap, namun Alin masih juga belum ditemukan.
Hazar sudah menghubungi Papa Haris, menanyakan keberadaan istrinya pada Papa mertuanya itu. Tapi, sayangnya Papa Haris malah memberinya jawaban yang tak memuaskan sekaligus tak mengenakkan.
“Dari dulu Alin juga sering kabur dari rumah. Tapi, dia akan kembali lagi jika merasa sudah baikkan. Kamu tenang saja, Alin hanya membutuhkan waktu untuk sendiri. Papa juga sudah meminta Sekretaris Jon untuk mencari Alin ke tempat yang sekiranya Alin kunjungi jika kabur dari rumah dulu.”
Hazar masih termenung memandangi barang-barang Alin yang berserakan di atas meja. Bola matanya sudah memerah sejak tadi, namun ia masih berusaha untuk kuat dan tidak menangis.
Sudah hampir dua jam Hazar bermenung di dalam cafe. Bobi dan Karin tetap setia berdiri di samping meja sejak tadi. Mereka bahkan tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya. Luka di wajah Bobi sudah tampak menghitam, darah di hidung dan bibirnya sudah mengering.
Hazar mendengar keributan di lantai satu cafe. Ia dapat mengenali suara orang-orang yang berseteru di bawah. Hazar mengangkat wajahnya menatap Karin.
“Jangan biarkan Mamaku naik ke sini! Dan jangan sampai aku bertemu dengannya!”
“Baik, Tuan.”
Karin berjalan setengah berlari ke lantai bawah. Ia melihat Nyonya Rosa sedang dipegangi oleh Tuan Adi di sana. Sepertinya Tuan Adi tahu apa yang sedang di inginkan oleh Tuan Hazar putranya.
“Mama harus menemui Hazar, Pa! Sebentar, Mama hanya butuh waktu sebentar saja untuk menemui Hazar,” Mama Rosa sudah berderai air mata, memohon untuk bertemu dengan dan melihat putranya.
“Jangan sekarang, Hazar tidakkan mampu menahan emosinya jika bertemu denganmu sekarang. Kita tunggu kabar Alin dari rumah saja. Kata Haris ini bukanlah masalah besar, Alin hanya butuh waktu untuk sendiri, dia pasti akan pulang secepatnya pada kita. Hazar juga sedang butuh waktu, sekarang kita pulang saja.” Papa Adi mengusap-usap punggung Mama Rosa, berharap itu bisa menenangkan hati istrinya. Ia tahu bahwa istrinya telah menyesali perbuatannya yang sudah nekat menjodohkan bahkan sudah menetukan hari pernikahan putra mereka dengan wanita lain.
***
__ADS_1
Satu jam setelah kepergian Mama Rosa dan Papa Adi, Wira pun muncul di pintu cafe, namun langkah dicegat oleh dua orang pria berpakaian serba hitam.
Wajah Wira tampak tak bersahabat, rahangnya bahkan sudah mengeras sebelum langkahnya dicegat tadi. Matanya menatap tajam pada dua orang pria di depannya.
“Maaf, cafe ini sudah tutup. Silakan cari tempat lain saja. ” ujar salah seorang pria berbaju serba hitam itu.
“Bilang dengan Tuan Hazar, kalau saya ingin bertemu!” Berang Wira.
“Biarkan dia masuk!”
Semua mata mengarah pada Bobi dan Karin yang baru turun dari lantai dua. Dua orang pria berpakaian serba hitam pun membuka jalan, membiarkan Wira masuk ke dalam cafe.
“Tuan Hazar sudah menunggu Anda, Tuan.” ujar Karin mempersilakan Wira untuk naik ke lantai dua, sementara ia dan Bobi menunggu di lantai bawah, sesuai perintah Hazar untuk meninggalkannya dan Wira di lantai atas.
Dengan langkah lebarnya Wira naik ke lantai dua. Posisi duduk Hazar yang membelakanginya membuat emosi Wira kembali tersulut mendapati punggung kekar itu. Wira menghampiri Hazar, dengan sentakan kuat di tariknya kerah kemeja Hazar dan menghadiahkan sebuah pukulan keras pada wajah Hazar.
PRENKK!!!...
Mata merah Wira menyala menatap tajam pada Hazar yang terlihat tak berdaya di depannya. “Bukankah sudah berkali-kali aku bilang, jangan pernah membuat Alin terlihat seperti barang yang tak berharga. Apalagi hingga kau mencampakkan seperti sampah!” Wira menambah tekanan lengannya pada dada Hazar. “Apa salah Alin hingga kau dan keluarga kau memperlakukannya seperti ini? Jika kau ingin menikah lagi, ceraikan dia secara baik-baik. Dia juga manusia! Dia berhak diperlakukan dengan layak!” Wira berteriak di depan wajah Hazar. Cengkramannya pada kerah baju Hazar semakin erat dan kuat, membuat wajah Hazar semakin memerah.
Hazar yang mulanya hanya diam dan pasrah dengan apa saja yang dilakukan Wira terhadap tubuhnya, langsung bangkit saat mendengar kata “cerai” yang diucapkan oleh Wira. Hazar menepis lengan Wira yang menghimpit dadanya. Mata merahnya balik menatap Wira dengan tajam. Detik itu juga Hazar membalas pukulan Wira. Perkelahian di antara mereka pun kembali terjadi.
Bobi, Karin dan beberapa orang di lantai bawah tak seorang pun yang berani naik ke lantai dua, mereka hanya bisa mendengar suara pecahan serta gesekan meja dan kursi dari lantai atas.
***
Dua hari telah berlalu sejak menghilangnya Alin.
__ADS_1
Bobi dan anak buahnya masih terus berlanjut mencari Alin, bahkan tim kepolisian juga sudah ikut serta membantu mereka sejak hari pertama Alin menghilang. Selama itu pula Hazar tidak pernah bisa dihubungi. Sejak perkelahian dengan Wira di cafe tempo hari, Hazar langsung pergi dengan mobilnya sendirian dalam keadaan babak belur.
Malam itu Papa Adi dan Mama Rosa tidak langsung pulang, mereka tetap menunggu Hazar di parkiran cafe.
Mama Rosa menyaksikan sendiri keadaan putranya yang keluar dari cafe dalam keadaan babak belur. Ia tidak pernah menyangka kalau anak semata wayangnya itu akan sehancur ini jika ditinggalkan oleh Alin. Ia semakin merasa bersalah dan berdosa. Ditambah lagi tadi Luna telah mengaku padanya, jika dia sudah memberitahu Alin kalau dia dan Hazar akan menikah minggu besok.
Sejak hari itu pula Mama Rosa tidak pernah bisa bertemu dengan Hazar, ia jadi jatuh sakit. Ia harus dirawat dan diinfus karna tak ada sedikit pun makanan yang masuk ke perutnya. Kondisinya sekarang sangat memprihatinkan, ia jadi susah tidur dan hanya bisa menangis jika terbangun, hingga Papa Adi pun menyetujui kalau istrinya itu diberi obat tidur jangka panjang oleh dokter.
Kakek Tomi sudah dipindahkan ke rumah sakit Papa Haris. Tapi Kakek Tomi masih belum diberitahu oleh Papa Adi tentang kejadian itu. Jika Papa Mertuanya itu menanyakan ke mana istri dan anaknya, Papa Adi selalu berbohong, ia mengatakan kalau Rosa, Hazar, dan Alin sedang pergi berobat ke luar kota.
Papa Adi adalah orang yang paling disibukkan dengan menghilangnya Alin. Selain mengurus Papa Mertua dan istrinya, dia juga harus mengurus dua perusahaan yang diabaikan oleh Hazar. Untunglah besannya (Haris) masih mau membantunya, hingga bebannya sedikit berkurang.
Sementara Papa Haris terlihat tenang-tenang saja. Mungkin karna ia sudah terlalu sering kehilangan putrinya itu waktu remaja dulu. Ya! Alin sering kabur dari rumah dan selalu berhasil lari dari penjaga yang ditugaskannya untuk membuntuti kemana pun putrinya itu pergi.
***
“Apa Alin masih belum ditemukan?” tanya Angel saat Papanya baru pulang dini hari itu.
“Mengapa kau belum tidur?” Bukannya menjawab, Pak Naf malah balik bertanya pada Angel. Sambil terus berlalu ke arah dapur.
Angel mengejar langkah papanya. “Apa Tuan Hazar sudah bisa dihubungi?”
Pak Naf menghentikan langkahnya. Ia terdengar menghela napas panjang. “Carilah laki-laki lain yang juga mencintaimu. Seperti Tuan Hazar yang mencintai Nona Alin, carilah laki-laki yang juga mencintai dan menginginkanmu.” Pak Naf menatap prihatin pada putrinya. “Kau hanya akan lelah sendirian, jika terus mengharapkan sesuatu yang tak akan pernah kau dapatkan.”
Angel menatap sebal pada papanya, kemudian berlalu meninggalkan dapur.
*
__ADS_1
*
*