
Hazar duduk dengan tertunduk di sisi ranjang Alin. Kedua tangannya menggenggam tangan dingin Alin yang terkulai lemas. Sementara di sisi lainnya Dokter dan perawat tengah sibuk memasang infus dan mengambil sampel darah Alin untuk di periksa ke laboratorium.
“Apa kalian sudah selesai mengambil darahnya?” tanya Papa Haris dengan napas yang terengah-engah, keringat tampak membasahi kening dan kerah baju kaos yang dikenakannya. Ia baru saja muncul dari balik pintu.
“Sudah, Tuan.”
“Jika hasilnya sudah keluar, segera kirim padaku.”
“Baik, Tuan.”
Papa Haris menghampiri ranjang Alin. Ia menghela napas panjang saat mendapati wajah pucat putrinya. Papa Haris menempelkan telapak tangannya pada kening Alin, kemudian ia meninggalkan sebuah kecupan di sana. “Dia akan baik-baik saja.” Ujar Papa Haris kemudian, sambil menatap Hazar yang telah berdiri di samping Alin berseberangan dengan tempatnya sekarang.
“Lalu, kenapa dia sampai pingsan?” Mama Rosa yang sejak tadi hanya diam dalam kecemasan pun turut bersuara.
“Kit_”
“Papa! Bisa kita bicara berdua?” Belum sempat Papa Haris menjawab, Hazar sudah memotong ucapannya.
“Ya,” jawab Papa Haris sambil menatap Hazar penuh keheranan. Ia pun mengajak Hazar untuk pergi ke ruangannya di lantai atas.
Saat mereka telah sampai di ruangan Direktur, dan telah sama-sama duduk di sofa ruangan itu. Hazar malah tertunduk diam, dengan kedua tangan menopang kepalanya yang pening.
“Ada apa?” Akhirnya Papa Harislah yang duluan bertanya. Ia bisa melihat dengan jelas kecemasan Hazar.
Hazar menghela napas panjang, sambil menegakkan kepalanya. “Berapa lama lagi, hasil lab Alin keluar?”
“Mungkin sebentar lagi,” Papa Haris melirik jam di pergelangan tangannya. “Seharusnya sudah keluar sekarang.” Papa Haris meraih telfon yang tersimpan di atas meja kecil di sampingnya. Ia terlihat menelepon seseorang dari sana.
“Kirimkan padaku, sekarang!” Ini adalah kalimat penutup Papa Haris pada orang di seberang telfon. Papa Haris terlihat mengambil tab dari laci meja kerjanya. Kemudian kembali duduk ke tempatnya tadi.
“Apa hasilnya sudah keluar, Pa?” tanya Hazar, wajahnya semakin tampak cemas.
“Sudah.” jawab Papa Haris tanpa mengalihkan matanya dari tab di tangannya.
“Apa Alin hamil?” tanya Hazar lirih.
__ADS_1
Tangan Papa Haris yang semulanya sedang sibuk menggeser-geser layar tab langsung terhenti. Ia pun menatap Hazar penuh keheranan. Mengapa nada suara Hazar seperti tidak enak didengar telinganya.
“Kau, sudah tahu itu?” Sekarang Papa Haris menatap tajam pada Hazar. Ada sedikit rasa ketidak sukaan yang tersirat dari pancaran matanya itu.
“Jadi, benar?”
“Kau, tidak suka!?”
Hazar memejamkan matanya dan menghela napas panjang, ia tampak sangat putus asa sekarang.
Emosi Papa Haris langsung tersulut saat melihat ketidak sukaan Hazar pada berita kehamilan Alin. Ia langsung bangkit dari duduknya, menyambar kerah baju Hazar dengan kasar.
Hazar tersentak kaget, namun ia tak melawan saat Papa Haris menarik kerah bajunya.
“Kau, yang membuatnya hamil, dan sekarang kau tidak senang dengan kehamilannya!?” geram Papa Haris dengan rahang mengeras. Bola matanya membesar seakan ingin menelan Hazar hidup-hidup.
Muka Hazar memerah, karna kencangnya cekaman Papa Haris pada kerah bajunya, hingga membuatnya tercekik dan kesusahan untuk bernapas. Namun ia samasekali tidak berniat melawan ataupun meloloskan dari.
“Aku sudah bahagia dengan keadaan kami saat ini. Aku memang menginginkan anak darinya, tapi aku lebih membutuhkan dirinya, lebih dari apa pun.” Ujar Hazar lirih, tiba-tiba saja rasa panas langsung menjalari hidung dan mata Hazar, membuat cairan bening berkumpul di pelupuk matanya. Ia berusaha untuk mengambil napas dengan kesulitan. Kemudian kembali bersuara. “Alin masih belum tahu kalau kebohongannya sudah terbongkar, dia masih berpura-pura mandul di depanku. Aku melihatnya meminum pil kb setiap pagi. Itu karna dia masih belum bisa menerimaku sepenuhnya. Dan aku samasekali tidak keberatan akan itu. Hanya dia yang aku butuhkan. Hanya dia. Tak masalah selama apa dia membohongiku. Aku sudah bahagia dengan keadaan kami sekarang.” Air mata Hazar lolos tak terbendung, semua bayangan buruk beterbangan di benaknya. “Tapi, sekarang dia hamil, sementara dia masih belum siap. Aku takut dia akan menyakiti dirinya sendiri hanya untuk mengakhiri kehamilannya.” Tubuh Hazar terkulai lemas saat Papa Haris melepaskan cekamannya. Ia kembali terduduk di atas sofa dengan segala kegundahan hatinya. Ia tidak meminta banyak, yang ia inginkan hannyalah kebahagiaan dan keselamatan istrinya. Apa kedamaian yang baru saja dirasakannya bersama Alin akan ter renggut kembali? Bukan karna ia tak sayang pada calon bayi mereka. Ia hanya tidak sanggup untuk kehilangan. Apa yang harus ia lakukan sekarang, agar ia bisa menyelamatkan istri dan anaknya yang masih berada dalam kandungan, tanpa harus mengorbankan kebahagiaan istrinya.
Kepala Hazar makin tertunduk dalam mendengar pengakuan Papa Haris. Kepalanya semakin terasa pening.
***
Hazar meminta Papa Haris untuk merahasiakan berita kehamilan Alin dari siapa pun. Ia meminta waktu untuk menyiapkan hatinya. Dan ia ingin, ia sendiri yang akan memberitahu Alin tentang ini.
Papa Haris menyanggupi permintaan Hazar. Ia yang paling bersalah dalam kasus ini. Ia samasekali tak menduga akibat perbuatannya akan sebesar ini. Ia hanya ingin putrinya menjalani hidup seperti kebanyakan orang lain. Menikah, memiliki anak, dan hidup bahagia bersama orang-orang yang dicintai dan mencintainya. Ia semakin merasa kalah dari Hazar. Sebab Hazar lebih memahami dan mengenal Alin daripada dirinya. Mungkin rasa sayang Hazar juga telah jauh mengalahkan rasa sayangnya pada Alin. Ia benar-benar Ayah terburuk di dunia ini.
*
Mama Rosa langsung menghampiri Hazar saat anaknya itu baru saja muncul dari balik pintu.
Raut wajah Mama Rosa langsung tampak cemas saat melihat keruhnya air muka Hazar. “Alin, baik-baik saja, kan?” Suara Mama Rosa tercekat di tenggorokannya, rasa panas menjalari tenggorokan, mata dan hidungnya. Penglihatannya mengabur karna cairan bening telah berkumpul di kelopak matanya.
“Ya, Alin, baik-baik saja. Dia hanya kecapean. Mama tidak perlu khawatir, dia akan baik-baik saja setelah beristirahat.”
__ADS_1
Hazar menghela napas panjang, dadanya terasa makin sesak saat menatap wajah istrinya. Dadanya bagaikan terimpit oleh sebuah batu besar. Benar-benar menyakitkan dan menyesakkan.
“Alin kenapa?” Desak Mama Rosa, ia tak percaya dengan jawaban Hazar barusan. Ia tahu kalau ada yang sedang disembunyikan Hazar darinya. “Mama berhak tahu, Hazar!” Seketika itu juga tangisan Mama Rosa pecah. Rasa takut dan cemas menggerogoti hatinya.
Hazar tak kuasa menahan gemuruh di dadanya saat melihat Mama Rosa menangis. Seketika itu juga ia berhambur memeluk mamanya.
*
“Katakan. Alin, kenapa?” tanya Mama Rosa, saat ia dan Hazar telah duduk di ruang tunggu di depan ruangan Alin. Tangisannya telah reda, hanya saja air matanya tak henti-hentinya bercucuran, hingga setiap waktu ia harus menyeka matanya.
“Alin baik-baik saja.” Jawab Hazar dengan kepala yang masih tertunduk.
“Hazar!” Sergah Mama Rosa.
“ Alin, hamil.”
Hening, tak ada suara apa pun yang terdengar, bahkan helaan napas berat keduanya pun menghilang.
Mama Rosa meraih wajah Hazar yang tertunduk. Dengan bibir bergetar ia kembali bertanya pada Hazar. “Alin... Hamil!?” ulangnya.
Hazar mengangguk. Tanpa permisi setetes air matanya pun ikut tersapu menyertai anggukannya.
Mama Rosa kembali menarik Hazar ke dalam dekapannya. Kesejukan seketika menyirami relung hatinya yang terbakar. Perasaannya terasa plong, batu besar yang tadi menghimpit dadanya telah terangkat dan menghilang entah ke mana. Ia sangat bersyukur, tidak ada hal buruk yang terjadi pada Alin. Malahan kabar baik yang ia dapatkan.
Mama Rosa tersadar, jika Alin memang hamil, lalu kenapa wajah Hazar sekusut ini. Apa ada yang terlewatkan? Mama Rosa melepaskan dekapannya. Ia menatap Hazar penuh sidik.
Hazar menghela napas pasrah, memang tak ada yang bisa ia sembunyikan dari mamanya. Manusia super yang dipanggil orang-orang dengan sebutan “Mama” adalah sosok terhebat di buka bumi ini, mereka selalu tahu kalau ada yang disembunyikan oleh anaknya. Mereka juga tahu kalau anak-anak mereka sedang dirundung masalah.
Pada akhirnya Hazar pun menceritakan segala hal yang mengganjal dalam hatinya pada Mama Rosa.
*
*
*
__ADS_1