Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 69


__ADS_3

Sekarang Hazar, Papa Adi, dan Papa Haris sedang berkumpul di ruang tengah vila. Mereka sedang menunggu Mbok Siti, orang yang sudah dipercayai oleh Papa Haris untuk menjaga vila mendiang istrinya ini untuk mengemasi semua barang-barang Alin. Vila ini memang menjadi saksi dari cintanya pada mendiang istri tercintanya, tapi vila ini juga menyimpan beberapa kenangan buruk mereka. Di sinilah mereka berbulan madu, merancang masa depan untuk kebahagiaan keluarga kecilnya, dan di sini jualah kali terakhir ia melihat mendiang istrinya. Pertemuan dan perpisahan terakhir mereka yang sangat disesalinya sampai sekarang.


Selama dalam perjalanan menuju vila tadi, sebenarnya Haris sangat merasa ketakutan. Ia takut putrinya juga akan pergi seperti istrinya dulu. Ia sangat ketakutan akan kembali kehilangan orang terkasihnya di vila ini lagi.


“Mengapa harus mengemasi semua barang-barang Alin, Pa?” tanya Hazar bingung, sebab tadi Papa Haris berulang kali mengatakan kalimat yang sama. “Semua barang-barang Alin, jangan sampai ada yang tertinggal”


“Papa akan menutup vila ini. Dan jangan sampai Alin kembali lagi ke sini.” ujar Papa Haris.


“Iya, mengapa, Pa? Alin terlihat sangat betah tinggal di sini, dia mungkin saja tidak mau aku ajak pulang, dan aku juga berencana mau mengajanya tinggal di sini selama beberapa hari lagi.”


“Tidak boleh!” sergah Papa Haris cepat. “Kamu tidak lihat... di sini sangat berbahaya untuk Alin. Pokoknya Alin harus meninggalkan desa ini malam ini juga! Dan jangan pernah mengajaknya untuk kembali lagi ke sini!” Papa Haris berkata tegas, dan menatap tajam pada Hazar.


Papa Adi memang dibuat terheran-heran dengan perubahan sikap besannya ini. Tegas dan tak mau dibantah, brutal, dingin dan kejam. Ia baru tahu kalau besannya ini juga memiliki sisi lain seperti itu. Hazar bahkan dibuat tak berkutik olehnya.


*


Kejadian pada malam Alin mencoba bunuh diri dulu kembali terulang. Berita tentang cucu pemilik Yayasan yang masuk rumah sakit kembali tersebar dengan cepat. Saat rombongan Papa Haris sampai di rumah sakit mereka langsung disambut oleh petinggi-petinggi rumah sakit daerah itu.


Meskipun ini sudah jauh tengah malam, mereka masih sempat-sempatnya membuat sambutan.


Hazar yang sedang malas melayani basa basi para orang-orang itu lebih memilih masuk ke dalam ruangan istrinya. Ia meninggalkan Papa Adi dan Papa Haris yang sedang berbincang-bincang dengan beberapa orang berjas putih itu.


Hazar meminta Bobi untuk meninggalkan ruangannya. Kali ini Bobi telah menjalankan tugasnya dengan baik, sebab Alin masih terlihat tertidur pulas saat ia kembali lagi. Istrinya tidak keluyuran lagi seperti kejadian tadi sore.


Hazar terlihat enggan membangunkan tidur istrinya. Ia lebih memilih duduk di sofa yang paling dekat dengan ranjang istrinya. Tidak ada yang perlu ia siapkan seperti perintah Papa Haris, yang memintanya dan Alin untuk bersiap-siap pulang ke kota malam ini juga.

__ADS_1


Hazar terdengar menghela napas panjang. Pikirannya menjadi sangat kacau sekarang. Entah mengapa ia jadi kepikiran terus dengan perubahan sikap mertuanya malam ini. Sepertinya masih banyak yang belum diketahuinya tentang keluarga istrinya itu. Sejauh ini yang ia ketahui kalau Alin sangat membenci seluruh keluarganya, termasuk Papa Haris sendiri. Tentang alasannya ia masih belum mengetahuinya, mengapa istrinya sampai membenci papanya sendiri.


“Kakak!”


Hazar mengalihkan kepalanya, ternyata Alin sudah berdiri di sampingnya. “Kau sudah bangun?” Hazar merentangkan tangan kirinya menyambut Alin yang hendak duduk di sampingnya. Hazar menarik kepala Alin dan menyandarkan kepala istrinya di pundaknya. “Ada Papa Haris di luar.” Ujarnya.


Alin hanya diam, tak berkomentar tentang ucapan Hazar barusan.


Hazar menghela napas panjang, sepertinya ia memang harus menyelidiki tentang hubungan istri dan Papa Mertuanya ini.


*


“Mengapa aku harus pulang malam ini juga? Aku tidak mau, aku masih mau tinggal di sini!” bantah Alin saat ia mengetahui kalau mereka akan pulang ke kota malam itu juga.


“Ini bukan tawaran, dan Papa samasekali tidak meminta pendapatmu! Kita pulang malam ini juga!” Papa Haris kembali bersikap tegas pada Alin.


“Papa tidak berhak mengatur hidupku!”


“Alin, hei, kau tidak boleh berbicara seperti itu.” Hazar menangkup wajah istrinya. “Kita pulang malam ini, di sini sangat tidak aman untukmu. Lagian Tami harus dirujuk juga ke kota. Kita semua harus pulang malam ini juga.” Hazar mencoba menengahi perdebatan Alin dan Papa Haris.


“Kalian saja yang pulang, aku tidak mau!” Alin melepaskan tangan Hazar dari wajahnya.


“Kita pulang semuanya!” Sekarang suara Hazar pun sudah dipertegas, tanda tidak mau lagi dibantah, raut mukanya pun sudah tak selembut tadi.


Alin berdecak malas, kalau suaminya sudah seperti ini ia pun tidak akan berani membantah lagi.

__ADS_1


Papa Adi dibuat terheran-heran menyaksikan perdebatan antara Papa Haris, Alin dan Hazar. Yang lebih mengejutkan, Hazar adalah pemenangnya dari perdebatan itu. Papa Adi sempat merasa khawatir saat melihat Hazar yang berani-beraninya bersikap keras pada Alin di depan mata Papa Haris. Bagaimana kalau Papa Haris kembali menggila seperti tadi, saat melihat Hazar bersikap begitu pada Alin. Tapi syukurlah yang dicemaskannya tak sampai terjadi.


Papa Adi menatap bangga pada putra semata wayangnya itu. Sebagai kepala keluarga, Hazar telah mampu mengendalikan istrinya yang keras kepala itu.


***


Saat dini hari mereka baru sampai di rumah utama, Papa Haris pun ikut mengantarkan Alin ke rumah Hazar. Ternyata kedatangan mereka sudah ditunggu-tunggu oleh Mama Rosa. Saat mereka baru sampai di pintu mereka langsung disambut dengan antusiasnya oleh Mama Rosa.


“Alin! Kamu tidak apa-apa, sayang?” Mama Rosa langsung memeluk Alin, beberapa detik kemudian ia sudah mulai meneliti seluruh tubuh Alin, dari atas hingga ke bawah. Mama Rosa terdengar menghela napas lega, sebab Alin pulang tak kekurangan satu apa pun. “Mengapa ponsel kalian susah sekali dihubungi!” sembur Mama Rosa pada kaum laki-laki yang baru saja masuk ke dalam rumah.


“Ponsel kami harus dimatikan, Ma. Dan lagian kami tidak punya waktu untuk sekedar mengecek ponsel.” jawab Papa Adi dengan santainya, ia samasekali tidak merasa bersalah pada Mama Rosa. Setelah tadi sebelum berangkat ia hanya menyampaikan sepotong berita tak lengkap pada istrinya, yang mana berita itu berhasil membuat kepala istrinya cenat-cenut selama dalam masa penantian tadi.


Mama Rosa menatap sengit pada Papa Adi. Ingin rasanya dia menjitak kepala suaminya itu. Tapi beruntung akal sehatnya masih bisa beroperasi dengan baik. Akan tidak etis jika ia menjitak kepala suaminya di depan besannya. “Kamu, juga!” Mama Rosa memukul lengan kanan Hazar dengan kuat, melampiaskan kekesalannya pada Hazar, Hingga Hazar menjerit histeris olehnya, dan ia pun juga ikut kaget mendengar pekikan Hazar.


“AUWW!!!” Hazar menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan mamanya.


“Mama!” pekik Alin terkejut. “Kakak tidak kenapa-napa!?” Alin dengan cepat memeriksa lengan Hazar. Ia membuka sweater Hazar dan benar saja, luka di lengan Hazar telah kembali mengeluarkan darah.


Mata Mama Rosa sontak terbelalak melihat lengan Hazar yang sudah bergelimang darah. "Ka-kamu terluka!?"


Dini hari itu juga Hazar terpaksa harus kembali dilarikan ke rumah sakit. Sebab luka di lengannya tak henti-hentinya mengeluarkan darah.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2