
Mama Diana & Papa Haris
Sama seperti laki-laki dan wanita yang berpacaran pada umumnya. Saling bertemu, bertukar kabar, berbagi cerita suka dan duka. Saling merindu saat berdekatan mau pun berjauhan, dan bercita-cita untuk menua bersama.
Cinta mereka tumbuh tanpa mereka sadari, berawal dari kisah persahabatan di lanjutkan oleh perjodohan oleh teman-teman satu kampus yang kurang kerjaan, dan berakhir di pelaminan.
Haris yang merasa risi saat Diana didekati oleh laki-laki lain. Terutama Fras, teman satu kampus mereka yang terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada Diana. Hingga suatu hari Haris memberanikan diri untuk menyatakan cintanya pada Diana.
Karna sama-sama memiliki prestasi yang gemilang, dan paras yang sama rupawan. Membuat banyak orang yang merasa iri dengan hubungan mereka. Terutama Amel. Dia dan Haris yang sudah berteman sejak kecil, dan dia juga sudah sejak lama menaruh hati pada Haris. Namun Haris tak pernah menganggapnya lebih dari sekedar teman. Amel tidak dapat berbuat apa pun kala Diana dan Haris telah resmi berpacaran.
Walau pun Diana dan Haris adalah pasangan favorit di kampus yayasan, dan hampir seluruh dosen disana pun tahu dengan hubungan mereka. Kakek Setyo tetap tidak merestui hubungan mereka, meski Diana sudah sah menjadi menantunya. Dikarenakan Diana hannyalah anak yatim piatu, yang dibesarkan di panti asuhan. Tidak jelas bebet dan bobotnya, dan samasekali tidak masuk dalam kriteria menantu idamannya.
Meski tanpa restu dari Setyo pernikahan Diana dan Haris tetap berlangsung harmonis. Hingga saat Diana dikabarkan hamil.
Pada bulan keempat kehamilan Diana, hal yang tak diinginkan Setyo pun kembali terjadi. Anak yang dikandung Diana berjenis kelamin perempuan. Sementara cucu yang diharapkannya adalah seorang anak laki-laki. Dalam silsilah keluarga mereka, tidak ada anak pertama yang berjenis kelamin perempuan, semuanya harus laki-laki. Karna anak pertamalah yang akan mewarisi seluruh harta warisan, dan menjadi penerus untuk yayasan keluarga.
Setyo meminta agar kandungan Diana digugurkan saat itu juga, karna dia takut anak itu akan membawa sial untuk keluarganya.
Tentu hal itu sangat tidak masuk akal menurut Haris dan Diana. Mereka tidak mau menuruti perintah Setyo, dan tetap mempertahankan anak mereka.
Kabar itu pun sampai pada Amel. Dia merasa ada peluang untuk kembali merebut hati Haris. Amel meminta papanya untuk mendekatinya pada Setyo. Ya! Dia harus membujuk papa Setyo terlebih dahulu. Jika dia langsung mendekati Haris tentu rencananya tidak akan berhasil.
Hanya seminggu waktu yang dibutuhkan Amel. Dia sudah berhasil mempengaruhi Setyo.
Setyo langsung bertindak, dia meminta Diana untuk menanda tangani surat izin poligami.
“Kalau kamu tidak ingin menggugurkan kandunganmu... tanda tangan surat ini!”
Diana tidak dapat menolak saat itu. Dia hanya sendirian di apartemen, suaminya sedang dinas keluar kota. Dengan berat hati pun dia bubuhkan tanda tangannya disurat itu.
Haris terpaksa menikahi Amel karna Diana memohon padanya hampir setiap hari.
“Ini demi anak kita juga sayang... papa tidak akan meminta kita untuk menggugurkannya lagi, jika kamu mau menikahi Amel.” Bujuk Diana saat memintanya untuk menikahi Amel.
Sudah hampir satu bulan lamanya Haris dan Amel menikah. Namun Haris terus bersama Diana. Dia samasekali tidak mau pulang ke rumah papanya tempat dimana Amel tinggal sekarang.
Itu pun membuat Setyo kembali mengancam Diana.
Haris yang tetap kekeh tidak ingin mendatangi Amel. Sementara Setyo terus mengancam Diana secara diam-diam. Hingga suatu hari Setyo kembali memaksa Diana untuk meminum jamu yang katanya untuk menggugurkan kandungan itu. Setyo tidak sendirian kali ini dia datang bersama dua anak buahnya. Tangan Diana diikat pada kursi. Mulutnya dibuka paksa oleh anak buah Setyo. Bibi Fatma yang menyaksikan penyiksaan itu tidak dapat berbuat apa-apa, dia hanya ikut menangis dan terisak di balik dinding dapur apartemen.
“Aku akan pergi...” pekik Diana, saat jamu pahit itu sudah terasa di ujung lidahnya.
Setyo mengangkat tangannya, tanda meminta anak buahnya untuk menghentikan tindakan mereka.
Setyo berdiri dan menghampiri Diana. “Sebelum pergi, kau harus membuat Haris membencimu terlebih dahulu... carilah laki-laki bayaran untuk kau jadikan selingkuhanmu. Kau sangat cocok menjadi wanita murahan.”
Tidak ada rasa belas kasih Setyo sedikit pun saat melihat wanita yang sedang mengandung cucunya itu menangis dengan badan yang terikat.
Diana meminta bantuan pada Fras. Karna Fras seoranglah temannya yang bisa ia mintai bantuan, dan hanya Fras yang terpikir olehnya.
Fras yang juga tahu dengan ketidak sukaan Setyo pada Diana, pun mau membatu Diana untuk lepas dari Kakek bejat itu.
Mereka membuat janji untuk bertemu di sebuah restoran siang itu, dengan seorang mata-mata suruhan Setyo yang terus mengikuti mereka. Mengambil beberapa foto sebagai barang bukti nantinya.
Manusia selalu percaya dengan apa yang mereka lihat. Itu pun berlaku bagi Haris.
__ADS_1
Sebuah kebetulan yang sangat mengejutkan. Saat Diana dan Fras sedang makan di sebuah restoran. Diana tidak sengaja menumpahkan minumannya hingga membasahi celananya. Fras berniat membantu membersihkan sisa tumpahan air di celana Diana. Posisi Diana yang sedang duduk di kursi dan Fras yang berjongkok tampak seperti sedang mencium perut Diana yang sedikit membuncit.
Haris merasa bagai terbakar melihat kejadian di depan matanya. Ia melangkah dengan langkah lebarnya. Menarik kasar tangan Fras untuk menjauh dari Diana, dan...
BUG!
Tidak sekali, atau pun dua kali. Haris menghadiahkan pukulan bertubi-tubi pada wajah Fras.
Malam itu juga Haris memindahkan Diana ke Villa mereka yang ada di sebuah desa di perbukitan. Villa itu adalah kado pernikahan dari Haris untuk Diana. Tempat mereka berbulan madu dulu.
Haris langsung pergi malam itu juga tanpa berbicara sepatah pun pada Diana. Dia meminta Bibi Fatma dan Mang Bakri untuk menjaga istrinya selama dia tidak ada.
Haris tidak pernah marah atau berbuat kasar pada Diana. Dia bahkan tidak menanyakan tentang pertemuan Diana dan Fras di restoran saat itu. Dia hanya mendiami Diana selama dua minggu, dengan cara tidak memberi kabar atau bertanya tentang kabar istrinya, setelah memindahkan istrinya itu ke Villa.
Selama masa mendiami Diana, Haris tampak seperti kehilangan gairah untuk hidup. Dia mengurung diri di apartemen selama beberapa hari. Saat itulah Amel menjebak Haris untuk mau mendatanginya.
*
Keharmonisan rumah tangga Haris dan Diana tetap terjaga meski mereka hanya bertemu dua kali dalam sebulan. Menjalani hubungan LDR membuat cinta mereka semakin bertambah, dengan seringnya rasa rindu yang memenuhi hati mereka.
Namun, dua minggu sebelum kelahiran Alin hal yang tak mengenakkan pun kembali terjadi.
Saat Haris menemani Diana untuk melakukan pemeriksaan kehamilan di rumah sakit terdekat. Hanya ada satu rumah sakit di sekitar Villa, itu pun memerlukan waktu satu jam untuk sampai di rumah sakit itu.
Saat menunggu antrean Haris dan Diana sedang berdebat tentang rencana persalinan. Haris meminta operasi SC saja, dan Diana tetap keras ingin bersalin normal. Perdebatan mereka terhenti sebab perawat telah memanggil nama Diana.
Haris dan Diana sontak terbelalak saat tahu siapa dokter kandungan yang menunggu mereka di dalam ruangan. Bukan hanya mereka sang dokter pun juga ikut terkejut.
“Fras!”
“Sayang...!” Diana terlihat kesulitan mengimbangi langkah lebar Haris, ditambah perutnya yang membuncit membuat Diana kewalahan. “Sayang perut aku sakit.” ujar Diana.
Haris baru tersadar. Dia langsung menghentikan langkahnya.
“Di...!” Ternyata dokter Fras mengikuti langkah mereka. “Kamu tidak apa-apa?” tanya dokter Fras, wajahnya tampak cemas menatap perut Diana.
*
Haris kembali mendiami Diana, dia tidak berbicara apa pun setelah mereka pergi begitu saja dari rumah sakit. Haris langsung mengemasi pakaiannya saat sampai di villa. Dia masih saja mendiami Diana.
“Sayang kamu mau kemana?” tanya Diana sambil memegang lengan Haris yang sibuk mengepak pakaian.
Haris menepis tangan Diana dari lengannya. Dan berlalu pergi keluar kamar.
“Sayang...”
Diana hanya bisa menghela napas sambil memandang mobil Haris yang semakin menjauh dan menghilang di kejauhan. Sejak hari itu Diana tidak bisa lagi menghubungi nomer Haris.
*
Sudah seminggu berlalu, Haris masih saja tidak mau menerima telepon dari Diana. Sebenarnya dia sangat percaya dengan kesetiaan cinta Diana padanya, tapi hatinya terlalu takut untuk menanyakan langsung tentang kejadian di restoran waktu itu, ditambahlagi papanya sangat sering menuduh Diana telah berselingkuh dengan Fras. Dan bukti pun sudah diperlihatkan oleh papanya.
Karna hari persalinan yang makin dekat, Haris mengirim seorang bidan untuk selalu siaga menjaga Diana di villa. Tanpa meminta persetujuan dari Diana dia juga sudah mendaftarkan jadwal untuk operasi SC Diana di rumah sakit lain, yang agak jauh dari villa itu.
Haris masih memilih tinggal di apartemen, meski Diana sudah tidak tinggal di sana lagi. Dia terus saja menolak saat papanya memaksa agar dia kembali tinggal di rumah. Haris bahkan pernah mengusir Amel dari apartemennya saat Amel memaksa ingin ikut tinggal bersamanya. Haris bahkan samasekali tidak memedulikan Amel yang juga sedang mengandung anaknya saat itu.
__ADS_1
*
“Fatma...!” Diana mencoba berteriak sekuat tenaga. “Tolong...!”
Bibi Fatma yang saat itu sedang berada di lantai bawah langsung berlari tergopoh-gopoh saat mendengar teriakan majikannya.
“Ya ampun Nona...,” Bibi Fatma langsung menghambur memeluk Diana yang sudah terkulai di lantai kamar mandi dengan darah yang terus mengalir di pahanya.
“Mas... mas!” Bibi Fatma kembali berteriak untuk ke sekian kalinya. Mencoba memanggil suaminya.
Bibi Fatma membenahi letak kepala Diana di pangkuannya. Disibaknya rambut yang menutupi wajah dan kening Diana. “Nona jangan tidur... yang kuat Nona!” isaknya sambil menepuk-nepuk pipi Diana. Air matanya sudah jatuh bercucuran melihat darah yang terus mengalir dari paha Diana.
“Ya ampun buk!” Mang Bakri suami Bibi Fatma tak kalah terkejutnya melihat kondisi Diana saat itu.
“Mas cepat panggil bidan dan telepon ambulans juga!” desak Bibi Fatma sambil terus menggosok-gosok lengan Diana agar tetap terjaga. “Nona jangan tidur dulu... Nona harus tetap sadar. Jangan tidur dulu.” Bibi Fatma terus meracau disela isakannya.
Mang Bakri langsung menghubungi nomer Bidan yang ditugaskan Haris untuk menjaga Diana. Kebetulan yang sangat sial saat itu Si Bidan sedang izin keluar sebentar.
“Mas... Nona, mas!” Bibi Fatma kembali berteriak. “Nona Diana udah ngga sadar Mas!” ratap Bibi Fatma, sambil mengencangkan dekapannya pada tubuh Diana.
*
“Tapi Tuan... Nona Diana sudah tidak sadarkan diri sejak satu jam yang lalu.” Bidan Ismi sedang berbicara dengan Haris ditelepon, saat dia hendak merujuk Diana ke rumah sakit terdekat.
“Turuti apa kataku! Bawa dia ke rumah sakit yang sudah aku sebutkan tadi, tim dokter yang akan mengoperasinya sudah menunggu di sana.” Haris langsung memutuskan panggilan telepon.
“Buk, lakukan sesuatu. Tolong Nona Diana buk!” Bibi Fatma yang ikut dengan ambulans yang membawa Diana kembali menangis. Sejak tadi dia selalu memohon agar bidan Ismi segera melakukan tindakan pada Nonanya.
“Maafkan saya Bi... saya tidak bisa berbuat apa-apa sekarang.” Bidan Ismi menepuk-nepuk punggung Bibi Fatma yang bergerak naik turun karna isakannya.
***
Oowek... owekk...!
Terdengar pekikan keras dari ruang operasi. Bayi kecil Diana yang di dalam boks bayi didorong oleh seorang perawat untuk diantar ke ruang perinatologi.
“Tunggu, buk...” Bibi Fatma berlari menghampiri boks bayi. “Apa ini bayinya Nona Diana?” tanyanya dengan deraian air mata, bibirnya tersenyum melihat bayi merah itu.
“Iya...” jawab perawat itu lirih.
Bibi Fatma yang menyadari ada kejanggalan dari nada suara Si perawat dengan cepat menyambar tangan Si perawat. “Ba-bagaimana keadaan Nona Diana?” Suara Bibi Fatma tercekat di tenggorokannya, tiba-tiba kerongkongannya terasa kering dan panas bagai terbakar.
Si perawat menatap prihatin dan menggelengkan kepalanya. Tubuh Bibi Fatma merosot, dadanya menjadi sesak. Bug... bug... bug... ia memukul dadanya. Dengan terengah-engah mengambil napas. Air matanya tak henti-hentinya mengalir.
*
*
*
Terimakasih untuk para pembaca 🙏😘
Maaf jika susunan katanya masih kacau balau 😄 Kalau ada mata pembaca yang sakit akibat tulisan saya yang kacau ini silakan berobat, tapi biayaanya tanggung sendiri yah... 😄😄😄
🙏Semoga kita semua sehat selalu dan dimudahkan rizkinya... Aminn..🤲
__ADS_1