
“Kakak bolehkah aku pergi ke Mol? Aku harus membelikan hadiah untuk Mama Wira.” Ujar Alin saat mereka berjalan keluar dari restoran.
“Apa kau mau pergi dengan pakaianmu ini?” Hazar menatap tajam pada Alin.
“Aku akan terlihat normal jika melepaskan ini dan ini.” Alin menunjuk Jas dan kain selimut yang menutupi pinggang dan kakinya.
“Lepaskanlah! Sini biar aku bantu.” Tangan Hazar sudah terulur ke arah Alin.
“Tidak usah!” Alin berdecak menepis tangan Hazar yang hampir menyentuh tubuhnya.
Kemudian mendekati Mama dan menggandeng tangan Mama untuk berjalan berdampingan.
“Jam berapa Mama berangkat?”
“Jam empat sore nanti.”
“Mama mau main ke tempatku sebentar?”
“Tidak usah Nak Alin. Mungkin lain waktu saja.” Mama terlihat masih tidak nyaman dengan keberadaan Hazar di dekat mereka, Alin pun menyadari itu.
“Apa Kakak akan kembali ke kantor lagi?”
tanya Alin pada Hazar.
“Iya!” jawab Hazar singkat.
“Baguslah!” Alin berseru riang. “Mama tidak keberatan kan, ikut aku pulang? Kak Hazar akan kembali ke kantornya, jadi kita bisa bergerak bebas!.”
Hazar yang dapat mendengar ucapan Alin tadi pun menghentikan langkahnya yang sudah sampai di depan mobil.
Mama pun bertambah tidak enak dengan kepolosan Alin saat ini yang terang-terangan mengatai Hazar.
“Baikalah mobil yang mana yang akan membawa kami pulang!” seru Alin saat melihat dua mobil telah terparkir di depannya.
“Masuk!” perintah Hazar, dia sudah membukakan pintu untuk Alin.
“Ayo Mama!” Alin menarik tangan Mama hendak masuk ke dalam mobil. Namun Mama malah melepaskan tangannya.
“Nak Alin pergi saja dulu Mama akan ikut mobil itu.” Mama menunjuk mobil yang satu lagi.
“Mobil itu akan mengantarkan Kak Hazar ke kantornya Mama! Apa Mama mau ikut Kak Hazar?” Alin terkekeh.
“Kau yang akan ikut aku ke kantor!” ujar Hazar.
“Mengapa? Aku tidak mau!” Alin hendak pergi namun tangannya kembali dicekat Hazar. Alin kembali merasa gelagat tidak enak. Dia harus menjauh dari Hazar secepatnya. “Kakak! Aku mau pulang dan beristirahat. Bukankah Kakak sedang menghukumku dan tidak boleh keluar dari rumah. Aku hanya sedang ingin menjalankan masa hukumanku dengan baik sekarang.”
__ADS_1
“Masuk!”
“Kakak aku hanya ingin memberikan Mama oleh-oleh. Kemarin Mama sangat banyak memberiku.”
“Oleh-olehnya sudah saya siapkan Nona!” Karin memberi kode kepada Bobi untuk membuka bagasi mobil.
Mata Alin langsung terbelalak. “Mengapa bisa sebanyak itu!” seru Alin.
*
Alin pun terpaksa ikut dengan Hazar ke kantor, karna tidak ada lagi alasannya untuk bisa kabur dari Hazar. Ruangan kerja Hazar di kantor sama membosankan dengan ruangan kerjanya di rumah, itu menurut Alin.
Sudah dua jam lamanya Alin menunggu Hazar yang terlihat masih sibuk di meja kerjanya, melihat layar komputer lalu beralih melihat dokumen yang baru saja diantarkan oleh Pak Naf. Ya sekarang mereka sedang berada di perusahaan keluarga Hazar, bukan perusahaan yang Hazar rintis sendiri. Alin pun mulai bosan dengan ponselnya. Ia pun berdiri menghampiri meja Hazar.
“Aku bosan.” Ujar Alin.
“Kau bisa tidur dulu.” Jawab Hazar tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.
“Aku tidak mengantuk.”
“Mau aku yang menidurkanmu!” Hazar mengalihkan pandangannya pada Alin.
Alin berdecak, kembali duduk ke tempatnya semula. Di atas meja sudah terhidang dua gelas minuman. Kopi milik Hazar dan jus mangga miliknya. Namun Alin sedang malas untuk minum jus sore itu dia pun penasaran ingin mencicipi kopi milik Hazar.
Hazar hanya melirik Alin dengan sudut matanya sebentar, bibirnya tampak terkembang saat mendapati wajah meregut istrinya yang kepahitan. Lalu kembali sibuk dengan urusannya.
***
Pagi ini Alin kembali bangun terlambat, namun itu tidak membuat Hazar marah, mungkin dia sadar karna ulah dialah istrinya itu terlambat bangun pagi.
“Untuk siapa ini?” Hazar menunjuk gelas jus di depannya. Perasaan hanya dia sendiri di meja makan sekarang, dan dia samasekali tidak meminta dibuatkan jus.
Angel yang menyiapkan jus pun terlihat gelagapan. Dia tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Hazar.
Hazar kembali bertanya karna belum mendapat jawaban.
“I-itu untuk Nona Alin Tuan.” Jawab Angel terbata.
“Untuk istriku! Dia harusnya minum susu saat pagi hari, bukan jus buah!” Hazar menatap tidak suka pada Angel. “apa kau tidak tahu itu!” suara Hazar terdengar mengeras.
“Sa-saya tahu Tuan. Ta-tapi kemarin Mamanya Nona Alin berkunjung kesini, dan katanya dulu Nona Alin sangat suka sarapan dengan jus buah.” Kepala Angel makin tertunduk ketakutan.
“Singkirkan jus itu!”
Bibi Yona langsung bergerak hendak menyingkirkan gelas jus.
__ADS_1
“Mengapa Kakak suka sekali membuat keributan, apa Kakak tahu ini masih sangat pagi, kecilkanlah suara Kakak!” seru Alin, ia baru muncul dari balik pintu. Dia sudah terlihat rapi dan segar.
“Mau kemana kau berpakaian rapi seperti itu?”
“Tidak kemana-mana, aku hanya di rumah saja. Memang Kakak akan mengizinkan jika aku pergi keluar?”
Hazar tidak menjawab dia hanya menatap Alin dengan tatapan tajamnya.
Alin menghela napas. “Apa ini Bibi?” Alin menahan gelas jus yang nyaris dijangkau Bibi Yona.
“Ini jus buah Nona.”
“Iya aku tahu ini jus buah. Maksudku mau Bibi bawa kemana?”
“Tuan Hazar menyuruh saya untuk menyingkirkannya Nona.”
“Mengapa di singkirkan? Ini bahkan tidak mengganggu Kakak.” Alin menggeser gelas jus untuk lebih dekat dengannya. “Aku akan meminumnya.”
Angel terlihat tersenyum senang namun tidak ada yang tahu itu. Tapi senyumannya hanya bertahan sebentar. Karna, kini Hazar telah memasukkan sendok bekas nasi gorengnya ke dalam gelas jus.
“Kakak!” pekik Alin. Ia menatap sengit pada Hazar.
“Akanku buatkan susu untukmu.” Ujar Hazar, dengan muka datarnya.
“Aku mau jus buah bukan susu!” seru Alin.
Alin berdecak sebal, karna Hazar sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan kini punggung suaminya itu telah menghilang di balik dinding ruang makan.
“Aku tidak mau meminumnya.” Alin menjauhkan gelas susu yang baru saja di letakan Hazar di dekanya.
“Aku sudah menghubungi Papa Haris tadi pagi. Kau boleh kembali bekerja mulai besok.”
“Benarkah!” mata Alin tampak berbinar. “apa masa hukumanku telah selesai?”
“Jika kau menghabiskan susunya.” Jawab Hazar.
“Akan aku habiskan!” seru Alin. “Tentang jus buah aku bisa meminumnya saat sore.” lanjut Alin.
“Akan saya siapkan jus Anda setiap sore Nona!”
Semua mata terarah pada Angel yang terlihat sangat bersemangat. Namun tidak ada yang terlalu memedulikannya lagi, tidak ada yang menaruh curiga sedikit pun.
“Baiklah Terimakasih Angel.” Ujar Alin.
“Iya Nona. Akan saya siapkan mulai sore nanti.” Jawab Angel. Bibirnya terkembang sempurna.
__ADS_1