
Setelah berpakaian Alin langsung ke luar dari ruang ganti. Ia mengabaikan Hazar yang sejak tadi menunggunya. Ia langsung melangkah hendak ke luar dari kamar.
“Alin! Kau mau pergi ke mana!?” Hazar dengan cepat mengejar langkah Alin dan kembali menutup pintu yang baru terbuka sedikit. “Kita masih perlu bicara.” Lanjut Hazar.
Alin menghela napas panjang, sambil memijit kepalanya yang semakin terasa pening dan berdenyut. “Jangan halangi langkahku!” Alin menatap tajam pada Hazar, napasnya terdengar memburu. “Untuk kali ini saja, biarkan aku pergi ke luar, tanpa harus disidang terlebih dahulu, dan aku juga tidak mau ada orang yang membuntutiku!” Alin mendorong tubuh Hazar dengan kasar, hingga ia bisa lebih leluasa untuk membuka pintu kamar.
Hazar hanya bisa pasrah melihat kepergian istrinya. Istrinya terlihat begitu marah, dan itu semua memang wajar, ini telah terpikirkan olehnya tadi, bahwa istrinya pasti akan lari darinya. Hazar memacu langkahnya ke lantai bawah, sebab ia mendengar adanya keributan di sana, istrinya pasti di cegat oleh seseorang di luar sana.
Dan benar saja, saat ia baru mencapai pintu ia sudah mendengar suara istrinya yang sedang berdebat dengan Bobi.
“Berikan kuncinya!” perintah Hazar pada Bobi.
Semua mata di sana sontak terheran menatap pada Hazar. Bagaimana bisa Tuan mereka membiarkan Nona Alin keluar sendirian tanpa sopir dan pengawal lainnya.
Alin merampas paksa kunci mobil dari tangan Bobi. Tanpa membuang waktu ia langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan halaman rumah utama.
“Tuan!” Bobi berusaha menyadarkan Hazar dari lamunannya. Mata Tuannya itu terlihat kosong memandang ke titik tempat menghilangnya mobil yang membawa wanitanya pergi.
“Ikuti dia. Tapi jangan sampai ketahuan.” Dengan langkah gontainya Hazar kembali masuk ke dalam rumah. Semua sudah berakhir sekarang, tak ada satu pun yang tersisa untuknya. Istri dan anaknya telah pergi menjauh darinya. Ia memang pantas untuk ditinggalkan.
Hazar menyusut air matanya, keadaan rumah yang kosong dan sunyi membuat dukanya semakin bertambah dalam. Kakek Tomi belum pulang dari kantor sejak siang tadi. Papa Adi dan Mama Rosa juga kembali pergi ke luar setelah melihat keadaan Alin, dan masih belum pulang juga sampai sekarang. Ia benar-benar sendirian sekarang tidak ada lagi yang akan mendukungnya untuk mempertahan Alin dan bayinya untuk tetap tinggal di sisinya. Papa Haris sudah menyerah, begitu pula dengan Mama dan Papanya, Kakek Tomi bahkan mungkin mendukung perceraiannya dan Alin, karna Kakek Tomi sangat membenci laki-laki yang berbuat kasar pada seorang wanita. Kesalahan yang telah dibuatnya, telah menyisakan luka yang mendalam pada hati istrinya. Memang terlalu serakah jika ia masih berharap Alin bisa memaafkan dan melupakan kesalahannya di masa lalu. Ia memang seburuk yang diharapkan David, ia telah menyiksa batin dan raga istrinya selama pernikahan mereka. Ia memang lebih buruk dari Kakek Setyo, Amel, dan David.
“Minta maaflah padanya. Dan beritahu dia tentang kehamilannya. Lalu kau serahkan keputusan akhir padanya. Jika dia memutuskan untuk berpisah darimu! Maka terimalah, kau memang pantas untuk ditinggalkan!” kecam Kakek Tomi.
Hazar jatuh tersungkur ke lantai. Kata-kata Kakek Tomi sangat menghujam ulu hatinya. Ia menangis dan menjerit sambil memukul dadanya yang sesak. Tak akan ada lagi kesempatan baginya untuk memperbaiki hubungannya dengan Alin.
“Aarrrgghhh!!!” Hazar kembali menjerit histeris. Hatinya benar-benar sakit sekarang. Dadanya terasa amat sesak, ia memukul dadanya lebih keras lagi, berharap sesak ini akan sedikit berkurang.
Bibi Yona, Bibi Fatma dan seluruh pelayan lainnya hanya bisa ikut meneteskan air mata mendengar jeritan keputus asaan Tuan mereka dari kejauhan. Jeritan itu seakan mengoyak hati siapa pun yang mendengarnya. Pria nan gagah, pintar, dan berwibawa yang selama ini mereka segani dalam sekejap mata telah berubah menjadi laki-laki rapuh yang menyedihkan karna ditinggalkan oleh wanitanya.
***
__ADS_1
PRENKK!!!
Kakek Setyo menjatuhkan semua benda yang tersimpan di atas meja kerjanya. “Siapa yang berani-berani mencuri para investorku! Lihat saja mereka. Mereka akan aku hancurkan dengan tanganku sendiri!” geramnya. “Kau.” Kakek Setyo menunjuk Staf Sekretaris yang sedang berdiri di depannya. “Cepat cari tahu siapa dalang di balik masalah ini. Temukan segera!” teriak Kakek Tomi.
“Ba-baik, Tuan.”
Si staf Sekretaris tampak sedikit kelimpungan menjawab Kakek Setyo. Dan itu berhasil membuat si Kakek Tua bertambah Marah. “Ke mana perginya Sekretaris Jon? Mengapa di saat banyak masalah seperti ini dia malah menghilang!” seru Kakek Setyo marah.
“Sekretaris Jon sedang dipanggil Tuan Haris ke rumah sakit, Tuan.”
“Minta dia kembali ke sini, sekarang juga!”
“Baik, Tuan.”
Kakek Setyo memukul meja dengan kesal. Napasnya terbuang dengan cepat dan pendek. Matanya tampak memancarkan api kemarahan. “Kurang ajar, siapa yang berani-beraninya mengusik Yayasanku!”
***
Alin menepikan mobilnya di pinggiran jalan yang sepi. Ia benar-benar kacau sekarang, otaknya tak bisa berpikiran dengan jernih. “Hamil!” bagaimana bisa ia hamil? Ia sudah mengonsumsi pil kb secara teratur sesuai dengan anjuran Dokter Qori. “Pasti ada yang salah, aku tidak mungkin hamil!” Alin merogoh isi tasnya dengan tergesa-gesa, mencari ponsel untuk menghubungi Dokter Qori. Tangan Alin bergetar, ia sangat kesulitan untuk mencari nomer Dokter Qori, matanya sudah mulai berkaca-kaca, penglihatannya menjadi buram dan tidak jelas.
Hari semakin gelap, dan Alin pun masih tenggelam dalam tangisan dan pikiran kacaunya. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa pada janin yang dikandungnya. Jika semua ini terbongkar Mama Rosa pasti akan menjadi orang yang paling membencinya. Sebab, karna kebohongan yang ia buat telah membuat Kakek Tomi berbulan-bulan harus dirawat di rumah sakit. Kesalahan yang telah ia perbuat sangat tidak ter maafkan.
***
Tok! Tok! Tok!
“Ini laporannya, Tuan.” Sekretaris Marvin, si pengganti Pak Naf. Meletakkan sebuah map di atas meja di depan Kakek Tomi. “Semua orang di daftar itu telah menarik semua investasi mereka di Yayasan SH. Hanya tersisa Anda, dan Tuan Hazar yang belum.”
Selama hampir dalam waktu enam jam, Kakek Tomi telah berhasil membuat bangkrut Yayasan kebanggaan Kakek Setyo. Ya! Setlah mengetahui kebusukan Setyo, si Kakek tua nan keji itu. Kakek Tomi langsung menyusun rencana Pembalasan saat itu juga. Setelah kepergian anak, menantu, dan cucunya tadi siang, Ia mengumpulkan semua investor Yayasan SH dan meminta mereka untuk menarik semua investasi mereka. Sebagai imbalannya Kakek Tomi menjanjikan kerja sama yang untungnya berkali-kali lipat untuk mereka. Sangat mudah bagi Kakek Tomi untuk menghancurkan kekayaan Kakek Setyo.
Papa Adi dan Mama Rosa hanya bisa diam menyaksikan semua yang dilakukan Kakek Tomi. Tadi, Mama Rosa sempat protes, aksi pembalasan Kakek Tomi terlalu terang-terangan menurutnya, dan itu membuatnya sedikit takut. Bagaimana kalau si Kakek Setyo nekat dan mengancam akan mengambil Alin dari mereka, ini pasti akan gawat.
__ADS_1
“Perketat penjagaan Alin. Minta Bobi menambahkan personilnya, dan kalau bisa jangan biarkan Alin keluar dari utama sebelum Setyo aku jebloskan ke penjara.” Ujar kakek Tomi.
“Papa!” pekik Mama Rosa. “Tadi aku sudah bilang pada Papa. Kita balas dendamnya diam-diam saja, sekarang Papa sendiri tahukan betapa bahayanya Kakek Tua itu bagi Alin.” Mama Rosa memberi pijatan pada kepalanya yang pening. Urusan balas dendam pada Kakek Setyo tentu berbeda level dengan balas dendamnya pada Angel dan Amel. Kakek Setyo tentu lebih berbahaya dari kedua wanita j*lang itu. Mama Rosa berdiri dari duduknya. “Aku akan pulang sekarang. Aku harus memastikan kalau menantuku akan baik-baik saja, dan terhindar dari kemurkaan Kakek S*alan itu.”
Belum sampai langkah Mama Rosa mencapai pintu, ponsel Papa Adi tiba-tiba saja berdering. Mama Rosa pun menghentikan langkahnya, ia sangat waswas sekarang. Takut-takut kalau ada masalah baru yang akan timbul.
“Papa Setyo!” ujar Papa Adi menunjukkan layar ponselnya pada Mama Rosa.
Mama Rosa menghela napas panjang, hatinya begitu tidak tenang sekarang.
“Halo!” jawab Papa Adi mengangkat panggilan telepon Kakek Setyo.
“Apa Tuan Tomi ada di sana?”
Papa Adi menatap Kakek Tomi, seperti meminta pendapat apa yang harus ia jawab pada Kakek Setyo.
Kakek Tomi mengangguk, “Bawa sini,” Kakek Tomi meraih ponsel yang diulurkan Papa Adi. “Ada apa kau mencariku?”
“Anda pasti sudah tahu. Saya menelepon cuma mau memberi penawaran pada, Anda.”
“Tidak ada lagi yang bisa kau tawarkan padaku. Kau sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Terima saja kenyataan itu, sekarang lebih baik kau bertobat dan menualah dengan baik layaknya seorang manusia, bukan binatang.” Geram Kakek Tomi. Setelah situasi seperti ini bagaimana bisa si Setyo masih berani memberinya sebuah penawaran.
“Hahahaha...” Terdengar tawa lepas Kakek Setyo dari seberang telepon. “Anda, benar, saya sudah tidak punya apa-apa lagi karna Anda sudah mengambil semuanya dari saya. Tapi saya masih beruntung, sebab saya juga diberi kesempatan untuk mengambil sesuatu dari cucu Anda!”
Kakek Tomi menjauhkan ponsel dari telinganya, sebab ia baru saja menerima sebuah pesan masuk di sana.
Mata Kakek Tomi sontak terbelalak, pesan yang baru saja diterimanya adalah sebuah foto Alin yang bergelimangan darah di sekitar wajahnya. Alin tampak tidak sadarkan diri, terlelap di atas kemudi mobil yang ringsek.
Mama Rosa yang saat itu berdiri di belakang Kakek Tomi langsung jatuh pingsan.
*
__ADS_1
*
*